Jumat, 02 Juli 2010

The Downside to the Recovery of the Ozone Hole

The Downside to the Recovery of the Ozone Hole

Earth's protective ozone layer and hole. (Photo by Newsmakers)

While the hole in the Earth's protective ozone layer is slowly healing, its recovery might have a downside, scientists say: Climate change could change wind patterns and send ozone from high in the atmosphere down to the surface, where it is a major component ofsmog.

The discovery of a hole in the ozone layer above Antarctica was announced by a team of British scientists in 1985. The cause of the hole was attributed to ozone-depleting chemicals like chlorofluorocarbons (CFCs), which were primarily used in cooling units and propellants. When CFCs reach the ozone layer, they release chlorine atoms that rip ozone apart and peel away layers of Earth's natural sunscreen.

Simulations of life without the ozone layer, which is located in the Earth's stratosphere, are not pretty. The stratosphere (the second layer of the Earth's atmosphere, just above the one in which we dwell, the troposphere) contains 90 percent of the Earth's ozone at altitudes between 6 and 31 miles (9.6 and 50 kilometers) above us, where it traps most of the sun's harmful ultraviolet (UV) rays before they can reach the Earth's surface.

Without this shield, we'd be sunburned within 5 minutes of exposure, according to NASA's Earth Observatory.

The Antarctic ozone hole is the closest real-life glimpse at a world without UV protection. Since its discovery in the 1980s, it has spread over parts of Australia, New Zealand, Chile and South Africa where the threats of skin cancer, cataracts, and damage to have raised concerns.

Major efforts have been initiated to speed up the ozone hole's recovery, including the 1987 Montreal Protocoland the phasing out of CFCs. Even so, a study by Guang Zeng and her colleagues from New Zealand's National Institute of Water and Atmospheric Research shows that that the recovery, in concert with climate change, may do harm as well as good.

The study, detailed in the May edition of Geophysical Research Letters, revealed that variations in atmospheric circulation due to climate change will cause a 43-percent increase in gas exchange between the stratosphere and the troposphere, the layer of Earth's air at the surface and our air supply. As more and more ozone is replenished in the stratosphere it will also have more opportunities to seep into the air we breathe.

Some ozone is currently present in the troposphere, though mostly as smog from car emissions and other pollutants. It can be harmful to human respiratory systems and the environment.

If carbon dioxide levels in the atmosphere increase as expected from unabated emission, Zeng said the ozone layer will cool off, blurring the temperature boundary that separates it from the troposphere. Within the next century, more ozone than ever before will surge into our air, her computer model study predicts.

Zeng hopes that future studies of the impacts of climate change will account for the atmospheric composition of both the stratosphere and troposphere, as well as the movement of ozone between the two, to paint a better, more accurate picture of the Earth's environmental future.

This article was provided by OurAmazingPlanet, a sister site to LiveScience.

LiveScience.com chronicles the daily advances and innovations made in science and technology. We take on the misconceptions that often pop up around scientific discoveries and deliver short, provocative explanations with a certain wit and style. Check out our science videos, Trivia & Quizzes and Top 10s. Join our communityto debate hot-button issues like stem cells, climate change and evolution. You can also sign up for freenewsletters, register for RSS feeds and get cool gadgets at the LiveScience Store.

Seismic Hazard HOKKAIDO, JAPAN REGION

Seismic Hazard Map

Magnitude 4.9 HOKKAIDO, JAPAN REGION
Friday, July 02, 2010 at 12:30:04 UTC

Seismic Hazard MapWorld Location
Major Tectonic Boundaries: Subduction Zones -purple, Ridges -red and Transform Faults -green

Global Seismic Hazard Assessment Program -GSHAP

Preliminary Earthquake Report
U.S. Geological Survey, National Earthquake Information Center
World Data Center for Seismology, Denver

http://neic.usgs.gov/neis/bulletin/neic_yfa4_w.html

Magnitude 4.9 - HOKKAIDO, JAPAN REGION

Magnitude 4.9 - HOKKAIDO, JAPAN REGION

2010 July 02 12:30:04 UTC

  • This event has been reviewed by a seismologist.
Magnitude4.9
Date-Time
  • Friday, July 02, 2010 at 12:30:04 UTC
  • Friday, July 02, 2010 at 09:30:04 PM at epicenter
Location41.656°N, 142.431°E
Depth44.3 km (27.5 miles)
RegionHOKKAIDO, JAPAN REGION
Distances130 km (80 miles) SSE of Tomakomai, Hokkaido, Japan
140 km (90 miles) E of Hakodate, Hokkaido, Japan
150 km (95 miles) NNE of Hachinohe, Honshu, Japan
705 km (435 miles) NNE of TOKYO, Japan
Location Uncertaintyhorizontal +/- 15.2 km (9.4 miles); depth +/- 11 km (6.8 miles)
ParametersNST= 33, Nph= 33, Dmin=72.5 km, Rmss=0.95 sec, Gp=158°,
M-type=body wave magnitude (Mb), Version=7
Source
  • USGS NEIC (WDCS-D)
Event IDus2010yfa4
http://earthquake.usgs.gov/earthquakes/recenteqsww/Quakes/us2010yfa4.php

Musim Hujan Berpeluang Maju

CUACA
Musim Hujan Berpeluang Maju
Senin, 28 Juni 2010 | 07:58 WIB
KOMPAS/WAWAN H PRABOWO
Para ibu pedagang Pasar Pleret menembus rintik hujan dengan mengayuh sepeda onthel yang ditautkan dengan beronjong (keranjang bambu) di atas Jembatan Imogiri, Bantul, DI Yogyakarta, Selasa (13/1/2009).

JAKARTA, KOMPAS.com — Anomali cuaca pada musim kemarau ini diperkirakan terus berlangsung. Hal ini ditandai dengan semakin naiknya suhu muka laut. Suhu pada Juni 2010, misalnya, rata-rata mencapai 29,56 derajat celsius atau suhu tertinggi tahun ini dan melampaui Mei yang rata-rata 29,2 derajat celsius.

Peningkatan suhu muka laut mengindikasikan makin tingginya penguapan air laut yang membentuk awan-awan hujan.

”Intensitas hujan di musim kemarau sekarang ini berpeluang meningkat. Musim hujan pun berpeluang maju,” kata Kepala Pusat Iklim, Agroklimat, dan Iklim Maritim pada Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Nurhayati, Jumat (25/6/2010) di Jakarta.

Secara terpisah, Ketua Umum Perhimpunan Meteorologi Pertanian Indonesia (Perhimpi) Rizaldi Boer mengatakan, sekarang ini masa menjelang fenomena La Nina yang meningkatkan intensitas hujan di berbagai wilayah di Indonesia. Meski intensitas hujan meningkat saat La Nina, tidak otomatis produktivitas pertanian juga akan meningkat. ”Justru saat La Nina seperti tahun 1998 dan 2005, serangan hama wereng cokelat meningkat,” kata Rizaldi.

Gelombang tinggi

Menurut Nurhayati, sebagian besar wilayah perairan suhu muka lautnya meningkat, kecuali di perairan Arafuru hingga Laut Banda yang relatif lebih rendah. Suhu muka laut di wilayah perairan Indonesia saat ini pun lebih tinggi dibandingkan suhu muka laut di sekitar Pasifik ekuator.

Hal tersebut mengakibatkan pergerakan massa udara yang mengandung uap air dari Pasifik mengalir ke arah barat menuju wilayah Indonesia. Sementara di wilayah Pasifik timur seperti di pantai Ekuador, saat ini mengalami kekeringan.

Menurut Nurhayati, saat ini berlangsung musim angin timur. Jika terjadi perubahan tekanan antara perairan di Indonesia dan wilayah Pasifik bisa berdampak pada tingginya gelombang laut, terutama di wilayah Indonesia timur.

BMKG memperingatkan kemungkinan gelombang tinggi mencapai 3 hingga 5 meter di beberapa perairan, meliputi Laut Andaman, perairan selatan Jawa hingga Bali, dan Laut Banda hingga selatan Merauke. (NAW)

Editor: wsn | Sumber : Kompas Cetak

http://sains.kompas.com/read/2010/06/28/07584390/Musim.Hujan.Berpeluang.Maju

Cuma 2,5 Juta Hektar Mangrove yang Baik

LINGKUNGAN HIDUP
Cuma 2,5 Juta Hektar Mangrove yang Baik
Laporan wartawan KOMPAS Haryo Damardono
Senin, 28 Juni 2010 | 10:23 WIB
KOMPAS/ HARYO DAMARDONO
Dari 9,3 juta hektar hamparan mangrove di Indonesia, ternyata kini hanya tersisa 2,5 juta hektar mangrove yang berkondisi baik.

DENPASAR, KOMPAS.com - Dari 9,3 juta hektar hamparan mangrove di Indonesia, ternyata kini hanya tersisa 2,5 juta hektar mangrove yang berkondisi baik. Tantangan terhadap keberadaan mangrove, di antaranya adalah pembukaan tambak udang maupun ikan.

Dibutuhkan koordinasi antar instansi dan penyadaran masyarakat terhadap pentingnya mangrove. Bila tidak, masyarakat akan cenderung menebangi vegetasi mangrove untuk kepentingan ekonomi sesaat, tapi segera diterjang oleh bencana akibat menghilangnya mangrove.

Demikian dikatakan oleh Sasmitohadi, Kepala Balai Pengelolaan Hutan Mangrove Wilayah I, akhir pekan lalu di Pusat Informasi Mangrove di Suwung Kauh, Denpasar. Sasmitohadi berbicara di hadapan peserta International Training on Integrated Water Resources Management (IWRM). IWRM sendiri pun, diinisiasi oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS), SIDA, Stockholm International Water Institute, dan lembaga RAMBOLL.

"Kami sama sekali tidak melarang aktivitas ekonomi di pantai seperti tambak. Namun sebenarnya, tambak juga dapat diintegrasikan dengan mangrove. Caranya, dengan menanam pada pematang tambak," kata Sasmitohadi.

"Mangrove sendiri pun, juga bernilai ekonomis. Kayu dari tanaman mangrove dapat dimanfaatkan bagi bahan baku bangunan, perahu, kayu bakar dan arang. Ada komunitas masyarakat di Alas Purwo, di Banyuwangi sedang kami bantu untuk membiakkan lebah madu di kawasan mangrove," ujar dia.

Keberadaan mangrove, sesungguhnya juga kian penting utamanya di kota-kota besar berpenduduk padat karena mencegah intrusi air laut. Belum lagi, keterkaitan dengan upaya-upaya meredam global warming.

Belum Terintegrasi

Dalam konteks integrasi antarsektor di Indonesia, ternyata penanaman dan penanganan mangrove belum dilakukan dengan baik. Dukungan terhadap Balai Pengelolaan Hutan Mangrove, masih minim.

Beberapa waktu lalu, sampah yang dikumpulkan di Mangrove Information Center saja, dapat mencapai delapan truk sehari. Nah, kini sudah turun menjadi satu truk sehari. Tapi pekerjaan kami kan sebenarnya bukan untuk membersihkan sampah, dikeluhk an oleh Sasmitohadi.

Balai Pengelolaan Hutan Mangrove di Sanur, memang kekurangan sumber daya baik manusia maupun dana, katakanlah untuk mengembangkan bibit mangrove . Padahal, wilayah jangkauannya sangat luas, yakni lebih dari separuh kepulauan di Indonesia.

Editor: Glo

http://sains.kompas.com/read/2010/06/28/10234776/Cuma.2.5.Juta.Hektar.Mangrove.yang.Baik

Ibu Bunuh Bayi, Telinganya Dijual

Zimbabwe
Ibu Bunuh Bayi, Telinganya Dijual
Jumat, 2 Juli 2010 | 13:09 WIB
Shutterstock
Ilustrasi

HARARE, KOMPAS.com — Seorang wanita Zimbabwe membunuh bayi laki-lakinya lalu menjual salah satu telinganya seharga 20 dollar AS ke seorang tukang dukun yang dicari karena melakukan pembunuhan ritual di negara tetangga, Mozambik.

"Kami bisa memastikan bahwa perempuan itu, Christine Hofisi, dari Chipinge (dekat perbatasan Mozambik) mencekik anaknya yang berusia 18 bulan sampai tewas dan memotong telinga kirinya," kata wakil juru bicara polisi nasional, Oliver Mandipaka, Kamis (1/7/2010), kepada AFP.

"Hofisi menjual telinga itu ke seorang tukang dukun yang terkenal karena melakukan pembunuhan ritual di Mozambik. Dia menjual telinga itu senilai 20 dollar, tapi dia baru diberikan 10 dollar dengan janji bahwa sisanya akan dibayarkan kemudian," kata Mandipaka. Dia saat ini ditahan di Chipinge. Kami masih menyelidiki kasus pembunuhan itu dan investigasi akan diperluas ke Mozambik, di mana dukun itu tinggal," kata Mandipaka.

Ia mengatakan, dukun tradisional itu, yang dikenal sebagai Maheza, sedang menghadapi tuduhan pidana di negara asalnya setelah ditemukan bahwa ia memiliki 11 tengkorak manusia. Namun, dia bebas dengan jaminan dan sekarang diyakini tinggal di wilayah perbatasan.

Ritual pembunuhan, meskipun tidak umum di Zimbabwe, sering melibatkan dukun dan para pengusaha yang percaya bahwa penggunaan ramuan sihir yang dicampur dengan organ manusia dapat memberi mereka nasib baik.

Penulis: EGP | Editor: aegi

http://internasional.kompas.com/read/2010/07/02/13090556/Ibu.Bunuh.Bayi..Telinganya.Dijual-5