VIVAnews - Erupsi Gunung Bromo di Jawa Timur belum menunjukkan tanda-tanda berhenti meski tak berstatus Awas. Kini, warga yang tinggal di sekitar gunung diminta waspada atas ancaman banjir lahar saat memasuki musim hujan.
"Peluang terjadinya banjir lahar yang lebih besar dapat terjadi akibat curah hujan di atas normal, dampak penyimpangan iklim global La Nina yang masih berlangsung hingga sat ini," kata Peneliti Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Daryono seperti dilansir dari laman BMKG.
Kewaspadaan harus ditingkatkan terutama bagi warga yang tinggal di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Kaldera Bromo. Menurut Daryono, pada beberapa kasus letusan gunung api, dampak banjir lahar terkadang lebih berbahaya daripada letusan gunung api itu sendiri.
Dia lantas mencontohkan letusan kecil Gunungapi Nevado del Ruiz di Columbia tahun 1985 menewaskan lebih dari 23.000 orang tewas. "Korban tewas ini tidak disebabkan oleh letusan gunung api tetapi karena tersapu banjir lahar."
Contoh lain adalah peristiwa letusan Gunung api Pinatubo di Filipina tahun 1991. Sebanyak 100.000 rumah rusak berat bukan disebabkan oleh letusan gunung tetapi hanyut akibat banjir lahar.
Dia mengakui resiko letusan Gunung Bromo dinilai lebih rendah dibandingkan Gunung Merapi. Namun, sambungnya, dengan aktivitasnya yang masih terus menyemburkan hujan abu tebal dapat menyebabkan potensi bahaya sekunder berupa banjir lahar yang semakin besar di puncak musim hujan ini.
Puncak musim hujan di kawasan Bromo terjadi pada bulan Januari pada setiap tahunnya. Berdasarkan data rata-rata curah hujan bulanan di stasiun pengamatan hujan di Daerah Sapih yang lokasinya paling dekat dengan puncak Bromo, diketahui kawasan Bromo mengalami curah hujan tertinggi pada bulan Januari, sekitar 421 milimeter.
Selain itu, Daryono juga menjelaskan perbedaan karakteristik erupsi antara Gunung Bromo dengan Gunung Merapi. Jika Gunung Bromo memiliki tingkat eksplosifitas rendah karena karakteristik magmanya yang cair, maka Gunung Merapi dinilai lebih berbahaya karena karakteristik magmanya yang lebih kental sehingga menghasilkan letusan eksplosif yang lebih kuat.
Merapi juga dinilai lebih berbahaya karena memiliki bentuk pelepasan energi magma berupa awan panas atau wedhus gembel yang mematikan, sementara Gunung Bromo tidak memiliki bentuk pelepasan energi berupa luncuran awan panas. (hs)
Bencana#BC# silih berganti tidak saja terjadi di Indonesia tetapi juga di berbagai belahan dunia. Ummat manusia perlu berkaca diri atas apa yang sudah dan akan dilakukan....
Sabtu, 15 Januari 2011
Waspada! Banjir Lahar di Bromo
Selasa, 04 Januari 2011
Banjir Lahar Lumpuhkan Jalur Yogya-Magelang
VIVAnews - Luapan banjir lahar dingin Kali Putih yang berlangsung sejak kemarin malam hingga Selasa pagi ini, 4 Januari 2011, masih menyebabkan jalur Magelang-Yogyakarta terputus.
Berdasarkan pantauan VIVAnews, di jembatan Gempol, Jumoyo, Kecamatan Salam, Magelang, hamparan lahar menimbun rumah warga baik yang ada di utara maupun selatan Jalan Magelang-Yogyakarta di Km 23. Lahar juga menimbun pemakaman umum Giriloyo Gempol dan sejumlah kendaraan.
Fauzan, salah seorang petugas dari Komunikasi Peduli Aktivitas Merapi, mengatakan banjir lahar dingin itu sangatlah besar sampai-sampai aliran sungai sempat berpindah jalur melalui perkampungan Gempol. Luapan material banjir juga menyebabkan pendangkalan dasar sungai sekitar dua meter.
"Sekarang talud sungai saja sudah tidak terlihat dan rata dengan material. Ini merupakan banjir yang paling besar," ujar dia kepadaVIVAnews.com.
Luapan banjir tersebut menyebabkan 160 warga Gempol yang terisolir dievakuasi ke posko pengungsian balai desa Jumoyo. "Warga Gempol sudah dievakuasii semua. Nanti warga Candi yang terletak di selatan Gempol juga akan dievakuasi karena terisolasi," dia menerangkan.
Banjir lahar dingin di Kali Putih menyebabkan aliran sungai berbelok dan pindah ke arah Timur sekitar 200 meter dari aliran sungai yang lama. Bahkan, batu-batu dengan ukuran cukup besar juga terlihat memenuhi Dusun Gempol.
Mengenai jumlah rumah warga yang tertimbun material banjir lahar dingin, Fauzan mengatakan hingga saat ini belum dilakukan pendataan. "Kami belum tahu jumlahnya berapa yang rusak terkena banjir," katanya
Hingga saat ini arus lalu lintas kendaraan, baik dari Magelang menuju Yogyakarta, maupun sebaliknya, dialihkan melalui jalur Kalibawang melewati Dekso dan Godean. (Laporan: Fajar Sodiq, Magelang | kd)
• VIVAnewsSabtu, 06 November 2010
Yogya Diguyur Hujan, Kali Code Kembali Meluap
Yogya Diguyur Hujan, Kali Code Kembali Meluap
Hery Winarno - detikNews
Kali Code (Foto: detikcom)
Pantauan detikcom di jembatan Gondolayu, Jl Jenderal Sudirman, Yogyakarta, Sabtu (6/11/2010), pukul 19.45 WIB, kali tampak meluap. Meski demikian volumenya sudah tidak setinggi saat pukul 17.00 WIB tadi, dimana rumah warga sempat terendam hingga selutut.
"Mboten tinggi, enggak kayak kemarin. Paling sekitar 50 cm atau sedengkul. Nek kemarin sampai 2 meter," ujar salah seorang warga bantaran Kali Code, Darsono kepada detikcom. Darsono bertempat tinggal di RT 1 RW 1 Kelurahan Kota Baru, Yogyakarta
Meski demikian, sekitar pukul 15.00 WIB, aparat desa setempat telah memperingatkan warga untuk mengungsi ke tempat aman. Warga diungsikan ke pendopo bekas Gedung P dan K (Pendidikan dan Kebudayaan) yang lokasinya tidak jauh dari pemukiman warga bantaran Kali Code.
"Tadi dari aparat desa sudah kasih tahu ke penduduk, warga harus mengungsi. Mereka juga mengecek ke rumah-rumah warga, biar enggak ada yang tertinggal," tambah Darsono.
Sebelumnya Sri Sultan Hamengkubuwono X meminta agar Kali Code dikeruk oleh warga dan Pemda. Hal ini dikarenakan timbunan lumpur dan pasir menyebabkan pendangkalan di sungai. Apabila hujan, air di kali pun meluap dan menyebabkan banjir.
(nvc/rdf)