Tampilkan postingan dengan label Banten. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Banten. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 Januari 2011

Anak Krakatau Berpijar, Warga Anyer Terkejut

Anak Krakatau Berpijar, Warga Anyer Terkejut


Liputan6.com, Serang: Warga pesisir Anyer, Kabupaten Serang, Banten, dikejutkan kembali oleh pijaran api yang keluar dari perut Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, selama tiga kali. "Tadi subuh pukul 04.00 WIB, saya melihat pijaran api tiga kali, dan pijarannya sangat tinggi," kata Wawan Krista, warga Anyer, Ahad (23/1).

Dia mengemukakan, pijaran yang dilihatnya kali kedua, setelah sebelumnya pada pertengahan Desember 2010. "Pijaran api yang sekarang memamg tidak sejelas dan setinggi pijaran api yang pertama kali saya lihat," katanya.

Pijaran api yang keluar pada dini hari itu, menurut Wawan, diperkirakan setinggi 50 meter. Sedangkan pijaran api yang pertama dilihatnya lebih tinggi dari sebelumnya.

"Rasa khawatir itu ada kalau melihat fenomena alam Krakatau semakin menjadi-jadi, seperti tadi saya melihat ada pijaran api Gunung Anak Krakatau (GAK) ke atas berkali-kali," katanya.

Penjelasan senada diungkapkan warga Paku, Anyer, Kabupaten Serang, Dudi Rahmadi. Menurut dia, pijaran api dari Gunung Anak Krakatau terlihat sebanyak dua kali sejak pukul 01.00 WIB sampai 02.00 WIB. "Selama satu jam saya berada di pesisir Pantai Paku Anyer, dan mungkin kalau saya berdiri sampai pagi di pinggir pantai, lebih dari itu," ujarnya.

Sedangkan Kepala Pos Pemantau Gunung Anak Krakatau (GAK) di Desa Pasauran, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Anton S. Pambudi menjelaskan, status gunung tersebut masih pada level II atau waspada. "Pusat Vulkanalogi dan Mitigasi Bencana Geologi masih belum menurunkan status GAK," kata Anton.

Saat ini, pihaknya masih belum bisa memantau aktivitas kegempaan GAK, begitupun dengan fisik gunungnya. "Alat Seismograf di pos tidak bisa merekam aktivitas kegempaan, karena alat penangkap gempa di GAK sampai sekarang belum berfungsi," katanya.(ANS/Ant)

http://id.news.yahoo.com/lptn/20110123/tid-anak-krakatau-berpijar-warga-anyer-t-e390447.html

Minggu, 29 November 2009

30.000 Hektar Sawah Terendam Banjir

30.000 Hektar Sawah Terendam Banjir
MINGGU, 29 NOVEMBER 2009 | 08:36 WIB

LEBAK, KOMPAS.com - Sawah Seluas 30.000 hektare di 10 kecamatan di Kabupaten Lebak, Banten, terendam banjir akibat guyuran hujan lebat sejak Selasa hingga Kamis lalu.

"Diperkirakan akibat banjir ini warga mengalami kerugian hingga ratusan juta rupiah," kata Kepala Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana Kabupaten Lebak, Kaprawi.

Banjir di Kabupaten Lebak melanda 10 kecamatan yakni Wanasalam, Malingping, Banjarsari, Cijaku, Cileles, Leuwidamar, Cimarga, Rangkasbitung, Cibadak, dan Kalanganyar.

Sebagian besar sawah yang terendam banjir rata-rata usia tanam antara 20-25 setelah hari tanam (HST). Kemungkinan tanaman padi mati dan batangnya membusuk karena terendam air.

"Bila tanaman padi terendam banjir dipastikan tanaman itu mati, karena telah membusuk," katanya.

Banjir juga mengakibatkan sekitar 4.500 rumah terendam dan jembatan roboh akibat derasnya air banjir. Tahun ini merupakan siklus lima tahunan, ketinggian air 60 centimeter sampai dua meter.

"Saat ini kondisi sudah normal karena sejak Idul Adha hingga hari ini daerah itu tidak diguyur hujan lebat," katanya.

Banjir yang melanda Kabupaten Lebak akibat meluapnya sejumlah sungai yakni Ciujung, Cibeurang, Cisimeut, Cibinuangeun, dan Ciliman.

"Memang, Lebak merupakan wilayah rawan banjir karena memiliki delapan daerah aliran sungai (DAS)," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kabupaten Lebak, Enang Hidayat mengatakan, saat ini korban akibat banjir tercatat seorang meninggal dunia.

Korban meninggal dunia bernama Aris. Warga Kota Baru, Kelurahan Muara Ciujung Timur Rangkasbitung, Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak. "Aris tewas Rabu lalu setelah terseret Sungai Cisimeut," katanya.


BNJ

Editor: bnj

http://regional.kompas.com/read/xml/2009/11/29/08364179/30.000.Hektar.Sawah.Terendam.Banjir

Sumber : ANT

Sabtu, 17 Oktober 2009

Gempa, Warga Lampung Pun Panik

Gempa, Warga Lampung Pun Panik
JUMAT, 16 OKTOBER 2009 | 17:47 WIB
Laporan wartawan KOMPAS Helena Fransisca

BANDAR LAMPUNG, KOMPAS.com — Gempa bumi yang terjadi di 50 kilometer barat laut Ujung Kulon, Banten, atau 148 kilometer sebelah barat daya Bandar Lampung, Jumat (16/10) pukul 16.52, dirasakan sampai ke wilayah Lampung. Gempa berkekuatan 6,4 skala Richter tersebut sempat membuat warga panik.

Lilik Prastowo, warga Wonosobo, Tanggamus, Lampung, Jumat (16/10), mengatakan, gempa dirasakan sebagai goyangan. Warga yang tengah berkumpul atau beraktivitas di Pasar Wonosobo sempat panik dan berlari meninggalkan sambil berteriak, "Gempa, gempa!"

Lilik mengatakan, warga berlarian keluar ruangan untuk melarikan diri. Ia tidak melihat adanya kerusakan bangunan.

Pemantauan di Bandar Lampung menunjukkan hal yang sama. Pengunjung pusat perbelanjaan Central Plaza dan Chandra Tanjungkarang terpantau panik dan terburu-buru keluar dari dalam gedung.

Sunardi, satpam Central Plaza, mengatakan, ia merasakan goyangan. "Setelah saya sadar itu gempa dan melihat pengunjung mulai berlarian keluar saya mengatur pengunjung untuk keluar gedung," ujar Sunardi.

Editor: Abd

Warga Sempat Berjatuhan Akibat Digoyang Gempa Deden Gunawan - detikNews

Jumat, 16/10/2009 19:45 WIB
Gempa 6,4 SR
Warga Sempat Berjatuhan Akibat Digoyang Gempa
Deden Gunawan - detikNews

Jakarta - Gempa berkekuatan 6,4 Skala Richter (SR) yang berpusat di Ujung Kulon, Banten, sempat membuat warga di Kecamatan Sumur, Ujung Kulon panik. Bahkan saat terjadi gempa, warga yang sedang berjalan kaki di wilayah itu banyak yang berjatuhan.

"Saya dan beberapa warga yang mau pulang ke rumah sempat terjatuh akibat gempa. Kami merasakan goncangan yang kuat selama sekitar 1 menit," jelas warga Tamanjaya, Sumur, Ujung Kulon, Kamaludin saat dihubungi detikcom, Jumat (16/10/2009).

Namun Kamaludin mengaku di desanya tidak ada kerusakan berarti akibat gempa
tersebut. Hanya beberapa rumah warga yang mengalami retak-retak.

Sementara Endang, warga Cibaliung, Sumur, saat dihubungi detikcom mengatakan, gempa yang terjadi sekitar pukul 17.00 WIB tersebut, mengakibatkan banyak rumah yang tak beratap karena gentingnya ambrol ke tanah.

"Genting rumah di desa kami banyak yang ambrol. Saat ini saya sedang membereskan sambil jaga-jaga rumah," jelas Endang yang menjabat sebagai Ketua Persatuan Guru Repubik Indonesia (PGRI) Kecamatan Sumur.

(ddg/ape)

Rasakan Gempa Kuat, Warga Merak Berhamburan Keluar Rumah

Jumat, 16/10/2009 17:22 WIB
Rasakan Gempa Kuat, Warga Merak Berhamburan Keluar Rumah
Irwan Nugroho - detikNews


Jakarta
- Gempa 6,4 SR yang berpusat di laut Ujung Kulon dirasakan cukup kuat oleh warga yang tinggal di Merak, Cilegon, Banten. Mereka berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri.

"Ini orang-orang masih di jalan-jalan karena ada gempa tadi," kata Dyah Purwanti, warga Kampung Sawah, Lebak Gede, Merak, kepada
detikcom, Jumat (16/10/2009) pukul 17.15 WIB.

Lokasi tempat tinggal Dyah hanya berjarak kurang dari 1 km dari Pelabuhan Merak.

Saat gempa terjadi, Dyah mengaku sedang berada di rumah bersama suami dan seorang anaknya. Tiba-tiba dia merasakan bumi bergetar sekitar 30 detik.

"Tanaman-tanaman pada bergoyang. Pot-pot juga, tapi tidak sampai terjatuh," lanjutnya.

Hingga kini, imbuh Dyah, situasi sudah mulai tenang. Namun, banyak warga yang masih berada di jalan-jalan, karena takut terjadinya gempa susulan. Dyah menyatakan tidak ada kerusakan yang terjadi di daerah sekitarnya.
(irw/nrl)