Tampilkan postingan dengan label Jawa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jawa. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 Agustus 2011

Jawa-Sumatera Tempat Paling Bahaya di Dunia

Jawa-Sumatera Tempat Paling Bahaya di Dunia

Ada tujuh lokasi di Bumi yang mendapat predikat paling rentan bencana alam.

KAMIS, 28 JULI 2011, 12:34 WIB
Elin Yunita Kristanti

VIVAnews -- Dari putarannya, badai di atmosfir, sampai pergeseran lempeng tektonik, Bumi bisa jadi sangat berbahaya. Menurut data sekretariat UN International Strategy for Disaster Reduction, ribuan bencana dari gempa bumi, banjir, dan lainnya telah menewaskan lebih dari 780 ribu orang sejak tahun 2000 hingga 2009. Jutaan lainnya terluka atau terpaksa mengungsi.

Tidak ada yang tahu apa yang bakal terjadi satu dekade mendatang, namun beberapa daerah memiliki banyak alasan untuk lebih berhati-hati. Berikut 7 lokasi di dunia yang masuk kategori paling rentan bencana alam.

1. Istanbul, Turki

Tidak ada yang tahu atau bisa memperkirakan kapan patahan Anatolia Utara akan pecah. Namun yang pasti: itu sebuah keniscayaan. Gempa bumi yang diakibatkan pecahan itu bisa menjadi berita yang sangat buruk bagi 12,8 juta penduduk Istanbul.

Sejak berabad-abad lalu, gempa Bumi dari patahan Anatolia Utara telah merayap ke arah barat. Gempa besar terakhir terjadi pada 1999, saat lindu berkekuatan 7,6 skala Richter memporakporandakan Kota Izmit. Pemerintah mengumumkan, jumlah korban sekitar 17.000. Namun, pada 2004 peneliti dari Unibersity Brasilia, Vasile Marza menyebut angka lebih dari dua kali lipat. Yakni 45.000 orang.

Jika bumi kembali berguncang di masa mendatang, para ilmuwan memperkirakan, efeknya bakal lebih ke Barat, ke selatan Istanbul. Pada Januari 2010, sebuah studi di jurnal
Nature Geosciences menemukan, ketegangan di sepanjang patahan dapat memicu gempa kecil sampai sedang. Atau lebih parah. Maret 2010 lalu, ahli geofisika USGS, Tom Parson mengatakan, peluang Istanbul diguncang gempa dengan skala 7 SR atau lebih, antara 30 sampai 60 persen, dalam kurun waktu 25 tahun.

Istanbul paling tidak sudah 15 kali diguncang gempa hebat sejak abad ke-4 Masehi. Menurut catatan sejarah, gempa hebat terakhir yang mengguncang kota yang dulu bernama Konstantinopel itu terjadi pada tahun 1894.

2. Jawa dan Sumatera, Indonesia

Dua pulau di Indonesia itu mungkin menghadapi lebih banyak bencana alam dari tempat manapun di dunia. Kekeringan, banjir, gempa bumi, longsor, gunung meletus, dan tsunami silih berganti datang. Menurut Pusat Penelitian Bencana Columbia Unoversity, Jawa dan Sumatera memiliki risiko tertinggi.

Bencana yang paling terkenal adalah gempa dan tsunami 2004 yang menewaskan setidaknya 227.898 orang -- yang terjebak gelombang raksasa yang menyusul gempa dahsyat 9,1 skala Richter. Dampaknya hingga ke sejumlah negara. Namun, korban terbanyak jatuh di Indonesia yakni lebih dari 130 ribu orang.

Belum lagi bencana kecil yang terus datang dan menciptakan penderitaan. Antara tahun 1907 dan 2004 -- sebelum tsunami terjadi -- bencana kekeringan telah membunuh 9.329 orang Indonesia. Letusan gunung berapi menewaskan 17.945 orang pada periode waktu yang sama, dan gempa bumi menewaskan 21.856 jiwa. Baru-baru ini, akir 2010, Gunung Merapi yang biasanya hanya mengeluarkan awan panas 'wedhus gembel', meletus dahsyat. Ratusan jiwa meninggal.

3. Guatemala

Amerika Tengah terancam tiga bencana alam sekaligus: gempa bumi, badai, dan tanah longsor. Wilayah ini juga terletak di
Ring of Fire (Cincin Api) -- kawasan seismik aktif yang mengelilingi Samudera Pasifik. Guatemala tak hanya terdampak, tapi juga menderita pukulan hebat. Pada 1976, gempa berkekuatan 7,5 skala Richter menewaskan 23 ribu orang. Gempa juga membuat tanah longsor yang menghambat transportasi dan upaya penyelamatan.

4. wilayah Sahel, Afrika

Kekeringan seringkali tidak mendapatkan perhatian sebanyak bencana alam lainnya. Tapi ia bisa jadi pembunuh. Menurut Program Lingkungan PBB, lebih dari 100.000 orang meninggal karena kekeringan di wilayah Sahel Afrika tahun 1972-1984. Sebanyak 750.000 lainnya sepenuhnya bergantung pada bantuan pangan.

Wilayah Sahel berbatasan dengan Gurun Sahara, Afrika yang membentang sepanjang Mauritania, Senegal, Mali, Niger, Burkina Faso, Nigeria, Chad, Sudan, Aljazair, Ethiopia dan Eritrea.

5. Miami, Florida

Tak ada seorang pun yang bisa memprediksi di mana badai akan menerjang. Namun, Florida selatan memiliki peluang lebih besar. USGS memperkirakan, lebih dari 60 badai besar menerjang dalam kurun waktu 100 tahun.

6. Naples, Italia

Pada Abad 79 Masehi, Gunung Vesuvius meletus dan mengubur kota kuno, Pompeii dan Herculaneum. Ribuan tahun berselang, sebuah kota justru dibangun di dasar gunung : Naples. Bahkan, diperkirakan lebih dari dari 650 ribu warga tinggal di lerengnya.

Menurut Guido Bertolaso, kepala badan perlindungan sipil Italia, letusa berikutnya bisa membuat pemerintah terpaksa mengungsikan lebih dari sejuta orang.

7. Danau Nyos, Kamerun

Maut mengintai dari bawah permukaan danau ini. Sebuah kantong magma berada jauh di kedalaman bisa membocorkan karbon dioksida hingga ke permukaan. Pada 21 Agustus 1986, air danau tiba-tiba bergolak, karbon diosida tiba-tiba muncrat ke atas seperti botol berisi soda yang dikocok kuat. Karbon dioksida lalu turun dengan cepat ke lembah di bawah danau. Sebanyak 1.700 orang dan ribuan binatang tewas seketika. Di radius 24 kilomegter dari danau, tak ada satupun yang selamat.

Saat ini, pipa dipasang untuk menyedot air kaya karbon dioksida dari dasar danau, untuk mencegah penumpukan gas. Namun, itu tak lantas membuat Danau Nyos sepenuhnya aman. Bahaya masih mengancam. (
Our Amazing Planet)


• VIVAnews

Jumat, 26 Maret 2010

Sumatera dan Jawa Jadi Objek Penelitian Gempa

Sumatera dan Jawa Jadi Objek Penelitian Gempa
Senin, 22 Maret 2010 | 19:50 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerja sama dengan Japan International Cooporation Agency (JICA) melakukan sebuah upaya untuk mereduksi bahaya gempa bumi dan gunung api di Indonesia. Wilayah Indonesia yang dipilih oleh para peneliti Indonesia dan Jepang ini adalah Sumatera dan Jawa.

Selain banyak patahan di kedua wilayah tersebut, jumlah penduduk di wilayah tersebut juga relatif padat.
-- Hery Harjono

Menurut Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian, Hery Harjono, Sumatera menjadi pilihan karena banyak patahan yang masih aktif sedangkan Jawa dipilih karena banyak patahan yang belum sempat dipetakan oleh LIPI. "Selain banyak patahan di kedua wilayah tersebut, jumlah penduduk di wilayah tersebut juga relatif padat. Dengan adanya riset ini, diharapkan dapat membantu masyarakat di daerah tersebut untuk lebih waspada akan bencana yang mungkin menimpa," ujar Hery yang juga merupakan Ketua Penelitian Program Multi-Disiplin dalam Pengurangan Bahaya Gempa Bumi dan Gunung Api di Indonesia ketika jumpa pers di Kantor LIPI, Jakarta, Senin (22/3/2010).

Patahan bumi atau sesar merupakan retakan pada kerak bumi yang dapat mengakibatkan gempa dan tsunami. Patahan di wilayah Jawa belum teridentifikasi sepenuhnya sehingga LIPI masih terus menerus melakukan riset dan pemetaan patahan.

Pemetaan ini nantinya dapat dijadikan sumber prakiraan gempa pada suatu daerah yang terletak di sekitar patahan ataupun daerah yang berkemungkinan terkena dampaknya. "Program riset ini mencoba mendahulukan wilayah yang memang rentan terhadap bencana tsunami, gempa bumi dan gunung berapi. Jadi, tidak serta merta meneliti begitu saja." ungkap Hery.

Sejauh ini, LIPI telah melakukan survei sesar aktif di daerah Jawa Barat, yaitu sesar Cimandiri, sesar Lembang dan sesar Baribis. Nantinya, LIPI diharapkan dapat memberikan peta atau gambaran daerah yang memang rentan terhadap bencana sehingga penanggulangan dapat segera diupayakan.


Penulis: C8-10 | Editor: made