Tampilkan postingan dengan label Kelaparan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kelaparan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Agustus 2011

Kelaparan di Somalia, 10 Persen Balita Meninggal Setiap 11 Pekan

Kamis, 11/08/2011 14:08 WIB

Kelaparan di Somalia, 10 Persen Balita Meninggal Setiap 11 Pekan

Rita Uli Hutapea - detikNews
Kelaparan di Somalia, 10 Persen Balita Meninggal Setiap 11 Pekan
Reuters
Jakarta - Kondisi Somalia yang dilanda kelaparan kian memprihatinkan. Satu per satu anak-anak yang kekurangan gizi menemui ajal. Bahkan menurut PBB, 10 persen anak berumur di bawah lima tahun (balita) meninggal setiap 11 pekan di Somalia.

Kelaparan di Somalia menyebar lebih cepat dari yang bisa ditanggulangi badan-badan kemanusiaan internasional.

Perwakilan PBB untuk Somalia, Augustine Mahiga mengatakan, separuh penduduk Somalia atau sekitar 3,7 juta orang saat ini terancam akibat kelaparan. PBB bahkan memperkirakan lebih dari 12 juta orang terkena dampak kelaparan di Afrika Timur.

Dikatakan Mahiga, seperti diberitakan
AFP, Kamis (11/8/2011), di zona kelaparan tersebut, lebih dari 13 anak per 10 ribu anak di bawah lima tahun meninggal setiap harinya.

"Ini artinya 10 persen anak-anak di bawah lima tahun meninggal setiap 11 pekan. Angka ini benar-benar memilukan hati," ujarnya kepada Dewan Keamanan PBB seraya mengimbau adanya bantuan internasional yang lebih besar.

Pejabat PBB lainnya, Catherine Bragg, mengatakan, sekitar 1,2 juta anak memerlukan bantuan mendesak," tuturnya. "Ratusan ribu anak telah tewas dan banyak lainnya yang akan tewas dalam beberapa hari mendatang kecuali bantuan diberikan pada mereka," imbuhnya.

PBB menganggap kelaparan di Somalia tersebut sebagai yang terparah di Afrika sejak tahun 1991-1992 silam. Saat itu sekitar 500 ribu orang tewas di Somalia akibat kekurangan makanan.

(ita/ita)

Kamis, 04 Agustus 2011

Jutaan Orang Terancam Kelaparan di Afrika

Jutaan Orang Terancam Kelaparan di Afrika

Oxam menilai komunitas internasional gagal mengatasi krisis yang makin tak terkontrol ini.

KAMIS, 4 AGUSTUS 2011, 00:09 WIB
Renne R.A Kawilarang, Arfi Bambani Amri

VIVAnews - Ibu Hassan, begitu dia dipanggil, baru saja tiba di kamp pengungsi setelah berjalan kaki dua minggu dari rumahnya. Dia satu dari puluhan ribu orang Somalia yang menyelamatkan diri ke Kenya dari bencana kelaparan.

Masalahnya, Ibu Hassan itu baru saja melahirkan sehingga menderita pendarahan. Dia perlu segera dilarikan ke rumah sakit untuk menerima pengobatan yang layak.

Dalam artikelnya di Majalah Time, jurnalis Samuel Loewenberg menceritakan secara dramatis Ibu Hassan beserta para pengungsi Somalia lainnya dalam menyelamatkan diri untuk mendapat makanan.

Kondisi mereka pun mengenaskan "Mereka menempuh perjalanan yang begitu jauh dan berbahaya," demikian laporan Loewenberg. Penuturannya itu diperkuat data dari lembaga bantuan Medecins Sans Frontieres bahwa satu dari tiga anak Somalia yang baru tiba di kamp pengungsian di Kenya menderita kekurangan gizi akut akibat tiadanya asupan pangan yang layak.

Setiap hari, kamp itu didatangi 1.400 pendatang baru. Itulah sebabnya, sejak 2008 kamp pengungsi itu tidak mampu lagi menerima para pendatang secara layak. Jumlah pengungsi kini empat kali lipat lebih banyak dari daya tampung. Mereka yang baru datang terpaksa harus tinggal di luar kamp dengan fasilitas seadanya.

Bencana kelaparan di Somalia dan negara-negara di sekitarnya tampak sudah menjadi masalah global. Kondisi di tanduk Afrika semakin memprihatinkan. Kemarau yang memicu kelaparan ini diperkirakan akan terus memburuk sampai akhir tahun ini.

"Sungguh tragis, lebih buruk dari yang disangka banyak orang," kata Kepala Badan Bantuan Amerika Serikat (USAID), Rajiv Shah, kepada stasiun berita PBS, ketika ditanya kesannya setelah mengunjungi kamp pengungsi bagi warga Somalia di Kenya.

Lembaga bantuan asal Inggris, Oxfam, mendata bahwa lebih dari 500.000 orang mengalami kelaparan dan diperkirakan akan meningkat ke angka 3 juta orang. Kondisi ini juga berdampak pada 15 juta orang di Ethiopia, Somalia dan Kenya.

Dalam rilis yang disebar 2 Agustus 2011, Oxfam meminta pemerintah dan lembaga donor segera bertindak dengan segera untuk mencegah krisis semakin memburuk di timur Afrika ini. Lembaga ini menyatakan, komunitas internasional gagal mengatasi krisis yang makin tak terkontrol ini.

Perserikatan Bangsa-bangsa memperkirakan jumlah orang yang membutuhkan bantuan lebih dari 15 juta. Mereka butuh makanan, air dan tempat tinggal.

Jumlah uang yang dibutuhkan pun meningkat. Pekan lalu, PBB meningkatkan anggaran untuk Somalia dan Kenya sampai US$600 juta, sehingga anggaran total mencapai US$1,47 miliar.

“Afrika Timur berada di titik penting krisis kemanusiaan. Ratusan ribu orang menghadapi kelaparan kecuali jika donor melangkah maju, mencegah bencana," kata Juru Bicara Oxfam, Elise Ford.

Oxfam sendiri sudah meningkatkan programnya untuk menjangkau masyarakat yang membutuhkan. Oxfam menargetkan kerjanya menjangkau 3 juta orang di Somalia, selatan Ethiopia dan utara Kenya. Untuk itu, Oxfam butuh US$91 juta dan baru memperoleh US$36 juta.

Lembaga tersebut memperingatkan, kondisi 3-4 bulan mendatang semakin memburuk di tiga kawasan itu. Situasi tetap "darurat" sampai akhir tahun. Seluruh Somalia Selatan sepertinya akan dideklarasikan kelaparan terkait kombinasi keadaan alam, kenaikan harga makanan dan buruknya hasil panen.

Di Somalia, Oxfam menyediakan air dan sanitasi untuk lebih dari 230.000 orang di pinggiran Mogadishu. Lembaga juga membantu lebih dari 60.000 orang keluar dari zona kekeringan di Somalia Selatan.

Tidak Berdaya

Pemerintah Somalia sendiri sudah tidak berdaya. Mereka justru terus menyerukan "campur tangan internasional" untuk membantu mengatasi bencana kekeringan dan kelaparan. Bencana itu telah menyebabkan ribuan warga Somalia mengungsi ke negara-negara tetangga.

"Situasi sekarang sangat parah dan tindakan kami sangat terbatas akibat kekeringan yang ekstrem," kata juru bicara pemerintah Somalia, Omar Osman, yang dikutip stasiun berita Voice of America akhir Juli lalu.

"Pemerintah kami telah berbuat banyak dengan memobilisasi sumber-sumber yang dapat dikerahkan untuk mengamankan pasokan dari badan-badan bantuan kemanusiaan internasional ke Ibukota Mogadishu dan berharap kepada masyarakat internasional untuk membantu dan Perdana Menteri secara pribadi telah mengambil inisiatif itu," kata Omar.

Presiden Somalia dan PBB sebelumnya telah menyatakan bahwa kelaparan menyerang dua kawasan, yaitu Bakool dan Lower Shabelle. Omar juga menuding bahwa milisi pemberontak garis keras, al-Shabab, justru menghalang-halangi misi bantuan kemanusiaan ke wilayah yang dilanda bencana kelaparan.

"Kami telah menyaksikan banyak pengungsi maupun mereka yang tidak punya tempat tinggal ramai-ramai keluar dari wilayah yang dikuasai al-Shabab ke tempat yang dikendalikan pemerintah," kata Omar.

Al-Shabab, yang digolongkan AS sebagai kelompok teroris terkait al-Qaida, mengendalikan banyak tempat di sebelah selatan dan tengah Somalia. Pemerintah hanya menguasai beberapa bagian di Ibukota Mogadishu.

Di sisi lain, al-Shahab menuding PBB telah memanfaatkan isu kelaparan sebagai alat propaganda untuk tujuan politik mereka. Kelompok itu bertekad tidak akan mengizinkan kelompok-kelompok bantuan yang dicurigai punya misi politik tertentu.

• VIVAnews

Rabu, 15 September 2010

FAO: Terlalu banyak orang kelaparan

Selasa, 14/09/2010 08:41 WIB
FAO: Terlalu banyak orang kelaparan
BBCIndonesia.com - detikNews
Kelaparan
Badan pangan PBB, FAO, mengatakan tingkat kelaparan dunia masih terlalu tinggi meski sudah turun dibanding tahun lalu.

Organisasi Pangan dan Pertanian dunia, FAO, memperkirakan jumlah manusia yang kekurangan gizi pada tahun 2010 berjumlah 925 juta jiwa, turun dari 1,02 miliar tahun lalu.

Namun FAO memperkirakan perjuangan untuk mengurangi kelaparan di dunia akan semakin berat bila harga pangan terus naik.

Sementara dalam laporan terpisah, organisasi bantuan Action Aid memperkirakan negara-negara berkembang mengalami kerugian sebesar US$450 miliar (Rp4000 triliun) karena kelaparan.

Menurut laporan Action Aid, 90% kerugian itu disebabkan oleh produktivitas yang turun akibat kekurangan gizi, sementara 10% lainnya disebabkan oleh kenaikan biaya layanan kesehatan.

Action Aid berpendapat kerugian ini 10 kali lipat lebih besar dari dana yang diperlukan untuk mengurangi tingkat kelaparan sebesar 50 persen pada tahun 2015, salah satu dari delapan Millennium Development Goals, MDG, yang ditetapkan PBB.

MDG merupakan komitmen anggota-anggota PBB untuk mengurangi kemiskinan dan memperbaiki taraf hidup pada tahun 2015.

GANDUM NAIK

Belakangan ini harga makanan pokok, terutama gandum, mencapai tingkat tertinggi dalam dua tahun terakhir akibat kemarau panjang dan kebakaran yang melanda Rusia.

Peningkatan harga gandum juga menyebabkan harga biji-bijian lain meningkat.

Kenaikan harga biji-bijian ini membuat harga daging dan produk susu meningkat seiring dengan peningkatan biaya pemeliharaan ternak.

FAO memperingatkan bahwa target untuk mengurangi tingkat kelaparan dunia terancam gagal karena berbagai kenaikan ini.

Menurut FAO jumlah warga kurang gizi masih lebih tinggi dibanding dengan masa sebelum krisis ekonomi 2008-2009.

Sementara itu Kepala bagian kebijakan Action Aid Meredith Alexander mengatakan jumlah orang kelaparan masih lebih banyak daripada sebelum krisis ekonomi dan sasaran untuk mengurangi jumlah orang miskin menjadi separuh dari tingkat sekarang, bisa meleset puluhan tahun.

FAO mengukur kurang gizi berdasarkan kalori yang dikonsumsi seseorang, menurut definisi ini seseorang dinyatakan kurang gizi apabila mengkonsumsi kurang dari 1800 kalori per hari.

Sementara Action Aid menggunakan istilah malnutrisi dalam pengertian luas yang mencakup kekurangan kalori dan nutrisi yang tidak memadai.

(bbc/bbc)