Tampilkan postingan dengan label Merapi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Merapi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Mei 2012

Merapi Sudah Mulai Melembung


Merapi Sudah Mulai "Melembung"
Yunanto Wiji Utomo | Tri Wahono | Selasa, 1 Mei 2012 | 18:52 WIB


KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKOSetahun Pascaerupsi Merapi - Gunung Merapi terlihat dari bekas obyek wisata Kaliadem di Desa Kepuharjo, Cangkringan, Sleman, DI Yogyakarta, yang masih tertimbun material sisa erupsi, Selasa (25/10/2011). Setahun pascaerupsi Merapi, Pemerintah belum melakukan pembenahan secara signifikan pada berbagai kawasan yang terkena dampak erupsi.
JAKARTA, KOMPAS.com — Gunung Merapi yang terletak di utara Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sudah mulai menggemuk.
Inilah salah satu temuan hasil riset kerja sama antara Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Kementerian Riset dan Teknologi, Japan Science and Technology (JST), dan Japan International Cooperation Agency (JICA) yang dipaparkan pada Selasa (1/5/2012) di Kantor COREMAP LIPI, Jakarta.
"Tahun 2010 Merapi meletus. Ternyata tahun 2011 itu Merapi sudah mengalami deformasi. Magma sudah mengisi Merapi," ungkap Surono, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

Menurut Surono, deformasi terjadi ketika magma sudah mengisi gunung berapi dan gunung mulai melembung. Deformasi bisa diamati dengan melakukan observasi kembang kempis gunung, getaran, dan panas dinginnya uap air.

"Saat ini Merapi sudah mulai melembung. Dalam waktu 2 bulan, Merapi sudah melembung 3 meter," kata Surono.
Menurut Surono, melembungnya Merapi sudah harus diikuti dengan pengamatan aktivitas vulkanik secara terus-menerus. Harus dicermati kecepatan suplai magma dan apakah magma sudah hampir dikeluarkan.
Pengamatan bisa dilakukan dengan melihat aktivitas kegempaan. Bila gempa terdeteksi pada 1 km, maka perlu diwaspadai. Saat ini kegempaan masih pada 5 km.
Surono mengatakan, waktu letusan Merapi belum bisa diprediksi. Namun, aktivitas vulkanik Merapi diketahui mengalami perubahan.
"Tidak ada kubah. Jadi benar-benar bolong," kata Surono.
Ia mengatakan, kewaspadaan dan kesiapsiagaan perlu ditingkatkan. Persoalan peralatan dan sumber daya manusia yang memantau aktivitas gunung berapi perlu diselesaikan.
United States Geological Survey (USGS) memprediksi, jika antisipasi letusan Merapi tak dipersiapkan, maka jumlah korban bisa mencapai puluhan ribu jiwa.


http://sains.kompas.com/read/2012/05/01/18525191/Merapi.Sudah.Mulai.Melembung

Jumat, 04 November 2011

BVMKG: Merapi Sudah Seperti Jalan Tol


BVMKG: Merapi Sudah Seperti Jalan Tol

Jika erupsi kembali terjadi, tidak ada lagi yang menghambat awan panas dan lahar.

RABU, 2 NOVEMBER 2011, 09:48 WIB
Aries Setiawan
VIVAnews - Efek erupsi Gunung Merapi akhir tahun lalu belum mengembalikan kondisi kawasan lereng Merapi seperti semula.

Hutan dan tumbuhan belum kembali tumbuh, yang bisa menahan laju awan panas dan lahar. Begitu juga dengan jurang serta sungai-sungai untuk menampung muntahan material merapi. Sehingga bisa menimbulkan ancaman yang lebih besar jika terjadi erupsi berikutnya.

"Letusan berikutnya awan panas itu akan tertampung dimana? Itu (kawasan merapi) sudah seperti jalan tol saja," kata Surono, Kepala Badan Vulkanologi Mitigasi Klimatologi dan Geologi (BVMKG), saat ditemui
VIVAnews.com, Yogyakarta, Selasa 1 November 2011.

Menurut dia, pada saat erupsi Merapi akhir tahun 2010 lalu masih ada hutan-hutan yang bisa menghambat luncuran awan panas. Kecepatan luncur awan panas dan lahar yang seharusnya 7 kilometer menjadi 5 kilometer. Begitupun dengan jurang-jurang yang berfungsi menampung material, sekarang jurang dan sungai telah terisi penuh.

"Nah sekarang tidak ada lagi yang harus di isi, tidak ada lagi yang harus dirobohkan, jadi meluncur dengan tanpa halang. Apakah itu bisa dihalangi oleh kita, tidak ada," ungkapnya.

Jika merapi ke depan menepati janjinya (erupsi kembali), kata Surono, bisa mengakibatkan jarak luncur yang lebih jauh dibandingkan tahun lalu.

"Kalau erupsi tanggal 5 November tahun lalu sampai 15 kilometer, jika terjadi lagi seperti tanggal 5 November dengan kondisi merapi seperti sekarang, o la-la, mungkin bisa sampai 20 kilometer (luncuran awan panas). Itu minimal," terangnya.

Surono menambahkan, magma dalam tubuh Merapi terisi penuh bisa dalam orde bulanan, bisa 3 tahun atau 4 tahun.
Sementara itu, hingga saat ini magma yang ada dalam tubuh merapi belum tampak signifikan, tapi sudah mengisi. "Untuk awan panas itu hanya satu, menghindar sebelum terjadi. Kalau sudah terjadi saya tidak tahu bagaimana cara menghindar," tandasnya. Laporan: Erick Tandjung | DIY
• VIVAnews

Banjir Lahar Dingin Merapi, 700 KK Diungsikan


Banjir Lahar Dingin Merapi, 700 KK Diungsikan

Masih ada sekitar 40 unit hunian sementara yang kosong dan bisa ditempati oleh lansia.

KAMIS, 3 NOVEMBER 2011, 20:10 WIB
Muhammad Firman

Saat ini masih ada sekitar 40 unit hunian sementara yang kosong dan bisa ditempati oleh lansia. Satu unit hunian tersebut bisa digunakan untuk menampung antara 2 sampai 3 orang. (BMKG)
VIVAnews - Hujan yang terjadi di kawasan puncak gunung Merapi sejak sekitar pukul 15.00 WIB menggelontorkan banjir lahar dingin di sekitar kali Jumoyo, khususnya di kawasan Desa Jumoyo, Kecamatan Salem, Kabupaten Magelang.


Menurut Sungkono, kepala desa Jumoyo, mulai pukul 16.00 sore tadi, terjadi luapan besar di kali Jumoyo, kali yang berhulu di gunung Merapi.


“Hujan mulai turun di puncak sekitar jam 3 sore. Jam 4, banjir kiriman mulai turun disertai lahar dingin,” kata Sungkono pada VIVAnews, 3 November 2011. “Selain itu, terjadi pula penggerusan di sekitar kali Jumoyo,” ucapnya.


Saat ini, Sungkono menyebutkan, kondisi air cukup tinggi di kali tersebut. Meski banjir tidak memakan korban, namun sejumlah warga sudah diungsikan di titik aman. Jembatan Jumoyo, yang menghubungkan antara Yogyakarta dan Magelang juga dalam kondisi aman. “Tadi sempat ditutup, namun kini sudah kembali dibuka dan dapat dipergunakan warga,” ucapnya.


Sungkono menyebutkan, ada 4 dusun yang warganya diungsikan ke titik aman. Dusun-dusun tersebut antara lain adalah Dewakan, Kemburan, Selo Iring, dan Kalirogo.


“Ada sekitar 700 kepala keluarga yang diungsikan ke titik aman. Berhubung banjir belum terlalu berbahaya, banyak warga yang masih kembali ke rumah masing-masing,” kata Sungkono. “Rencananya, besok akan dilakukan evakuasi bagi warga lansia. Mereka akan diungsikan di hunian sementara yang kosong,” ucapnya.


Menurut Sungkono, saat ini masih ada sekitar 40 unit hunian sementara yang kosong dan bisa ditempati oleh lansia. “Satu unit hunian tersebut bisa digunakan untuk menampung antara 2 sampai 3 orang,” ucapnya. “Mereka akan diungsikan ke sana agar ketika ada banjir besar melanda, mereka tidak sulit untuk dievakuasi,” ucapnya.
Laporan: Erick Tanjung | Yogyakarta, umi
• VIVAnews

Kamis, 25 November 2010

Setelah Merapi, Kini Bromo Mengancam

Setelah Merapi, Kini Bromo Mengancam
Status Gunung Bromo naik dari Siaga ke Awas dalam tempo kurang dari 24 jam.
RABU, 24 NOVEMBER 2010, 19:36 WIB
Elin Yunita Kristanti

VIVAnews – Dalam waktu kurang dari 24 jam, status Bromo naik dua tingkat, Waspada jadi Siaga, lalu naik ke level tertinggi, Awas, pada Selasa 23 November 2010 pukul 23.00 WIB. Kenaikan status Bromo lebih cepat dibandingkan Merapi. Butuh empat hari bagi Merapi sebelum mencapai level Awas, pada 25 Oktober 2010.

Tak ingin mengulang tragedi Merapi, tindakan antisipatif Bromo segera dilakukan. Wilayah radius 3 kilometer dari kawah disterilkan dari warga, juga wisatawan. Kepala Dinas ESDM Pemprov Jatim, Dewi J. Putriatni mengatakan, sterilisasi kaldera lautan pasir dilakukan untuk menghindari jatuhnya korban.

Apalagi, berdasarkan pantauan, Bromo saat ini mengeluarkan asap putih setinggi 300 meter yang mengarah ke utara. Kata Dewi, asap itu mengandung racun yang bisa membahayakan manusia.

Pemerintah Malang juga siap siaga. Terutama di Kecamatan Poncokusumo yang paling dekat dengan Bromo. Evakuasi disiapkan bila Bromo meletus. Masker siap dibagikan, sementara dapur umum lengkap dengan beras 100 ton siap dioperasikan.

Dalam hal pendanaan, Pemerintah Jawa Timur bergerak cepat. Anggaran bencana dinaikkan menjadi Rp50 miliar untuk antisipasi hal-hal tak diinginkan. Posko utama didirikan, sejumlah relawan ditarik dari Merapi. Masyarakat diminta mengemas barang-barang berharga, bersiap untuk mengungsi.

Tanpa wedhus gembel

Berdasarkan pantauan seismik di pos pengamatan Gunung Bromo, Cemoro Lawang, Ngadisari Kecamatan Sukapura Probolinggo Rabu (24/11) pukul 09.45, ketinggian asap mencapai kisaran 150 hingga 200 meter. Kondisi ini jauh menurun dibandingkan dengan kondisi pagi hari yakni 200 hingga 350 meter.

Sedangkan gempa tremor Rabu siang hanya 2 hingga 3 milimeter. Menurun dibanding hari sebelumnya mencapai 5 hingga 30 milimeter. "Kondisinya saat ini kondisinya cenderung menurun. Baik secara visual maupun seismik," kata salah satu petugas pos pengamatan Gunung Bromo, Ahmad Subhan.

Ada dua kemungkinan. Aktivitas Bromo turun, atau justru gunung ini sedang menabung energi. "Yang patut diwaspadai adalah kemungkinan kedua. Karena ditakutkan sewaktu-waktu energi yang dikumpulkan dimuntahkan secara tiba-tiba," jelasnya.

Sementara, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Surono meminta masyarakat tak panik, namun waspada.

Dijelaskan dia, Gunung Bromo tidak sebahaya ancaman erupsi Merapi. Sebab, karakternya beda. Letusan Bromo bersifat freatik (semburan uap air dan gas bercampur abu halus), bukan eksplosif (letusan) seperti Merapi.

“Paling-paling hanya pasir dan abu yang mengganggu kenyamanan. Tidak ada pengungsian, hotel-hotel di sekitar Bromo juga dipersilakan tetap buka," ujar Surono saat ditanyai terkait peningkatan status Bromo di kantor BPPTK Yogyakarta, Selasa malam.

Bromo, dikatakan Surono, juga tidak mengeluarkan bahaya primer awan panas ‘wedhus gembel’ yang suhunya bisa mencapai 600 derajat celsius seperti halnya Merapi. "Biasanya, erupsi Bromo berlangsung cepat. Mudah-mudahan kali ini tidak tinggi," kata dia.

Bagaimanapun, antisipasi tetap dilakukan. Apalagi Bromo telah merenggut nyawa ketika erupsi kali terakhir pada 2004. Saat itu, Bromo meletus pada Selasa 8 Juni 2004 sekitar pukul 15.20 WIB. Gunung itu memuntahkan asap hitam bercampur kerikil dan abu setinggi 3 kilometer ke angkasa.

Dua wisatawan tewas tertimbun pasir. Mereka ditemukan tergeletak di bawah anak tangga menuju kawah Bromo. Lima lainnya mengalami luka-luka.

Hujan pasir berwarna cokelat turun di Probolinggo dan Malang yang nampak gelap hari itu. Letusan besar Bromo di abad ke-20 terjadi pada 1974.

‘Gunung Brahma’ yang disucikan

Serupa dengan arti Merapi bagi masyarakat di sekitarnya, Bromo juga bukan sekedar gunung – permukaan tanah yang menonjol. Bagi masyarakat Tengger, Bromo yang berasal dari nama Brahma, dewa utama Hindu, adalah gunung suci.

Setahun sekali masyarakat Tengger mengadakan upacara Yadnya Kasada atau Kasodo. Upacara ini bertempat di sebuah pura yang berada di bawah kaki Gunung Bromo utara dan dilanjutkan ke puncaknya.

Upacara diadakan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan Kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa.

Keyakinan pada Bromo juga membuat masyarakat setempat memilih bertahan, apapun kondisi ‘Gunung Brahma’ itu. Menurut Wati (35), warga Dusun Ngadisari, Sukapura, ini kondisi biasa terjadi. “Tidak akan berdampak bagi kami. Dan kami tidak takut, pasti aman," katanya.

Hal senada juga diungkapkan Suroto, pengemudi angkot. Kata dia, tak perlu khawatir. "Kemarin kan diumumkan status Awas, ya cuma diumumkan saja. Buktinya kondisi aman dan dampaknya tidak akan ke sini tetapi ke daerah lain. kalau hanya hujan abu, itu sudah biasa. Kami percaya pada yang maha kuasa, disini pasti akan aman," ujar Suroto.

Turis masih datang

Status Awas Bromo tak membuat surut wisatawan yang ingin menikmati keindahannya. Foto satelit kalderanya dinobatkan sebagai salah satu paling cantik dari seluruh gunung di dunia.

Kemampuannya menarik turis juga masih mumpuni. Hari Rabu, setelah Bromo berstatus Awas, masih banyak turis datang dan mengamati Gunung Bromo dari Penanjakan, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo. Ada dari Jakarta, Kalimantan, bahkan jauh-jauh datang dari luar negeri.

Bahkan, empat turis asal Belgia harus dihalau turun. Mereka nekat menaiki tangga ke arah bibir kawah.

Dari Jakarta, Menteri Pariwisata, Jero Wacik mengeluarkan imbauan. "Sekarang jangan pergi dulu, jangan kesana dulu, jangan dekat-dekat. Tapi kalau melihat dari jauh, dari 3 kilometer lebih boleh, mau mengambil foto itu masih boleh," kata Jero Wacik di Kantor Kepresidenan, Rabu 24 November 2010.

Wisatawan juga diminta mengikuti anjuran. "Kalau diminta 3 kilometer kosong, yadikosongkan," kata dia.(SP|np)

Penampilan cantik Bromo diambil dari satelit ESA Earth Observation

• VIVAnews

Kamis, 18 November 2010

Frekuensi Gempa Vulkanik di Merapi Meninggi

Kamis, 18/11/2010 22:14 WIB
Frekuensi Gempa Vulkanik di Merapi Meninggi
Fajar Pratama - detikNews



Yogyakarta - Aktivitas Gunung Merapi terpantau menunjukkan pergerakan yang cenderung meningkat pada malam hari ini. Salah satu indikatornya adalah bertambahnya jumlah gempa vulkanik di gunung tersebut.

Berdasarkan data seismograf Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta Kamis (18/11/2010) pukul 00.00-18.00 WIB terjadi gempa vulkanik sebanyak 45 kali.

Jumlah dalam rentang waktu 18 jam tersebut di atas terbilang cukup besar karena pada dua hari sebelumnya hanya terjadi gempa vulkanik sebanyak 31 kali dan 22 kali, masing-masing dalam rentang 24 jam.

Sedangkan tremor masih terus terjadi secara beruntun. Guguran terjadi lima kali dan gempa tektonik terjadi satu kali.

Peningkatan aktivitas Merapi juga tampak dari munculnya awan panas pada pukul 03.34 WIB dinihari tadi. Meski besaran awan panas cukup kecil, namun itu merupakan awan panas pertama setelah Merapi tidak mengeluarkannya selama tiga hari terakhir.

Untuk pantauan secara visual, seperti hari kemarin, Merapi masih tertutup kabut sampai malam ini. Hal ini membuat para petugas pengamatan di sejumlah pos tidak bisa melakukan pemantauan.

"Yang terdengar hanya sedikit gluduk-gluduk (suara gemuruh). Visualisasi tidak tampak," ujar petugas pengamatan di pos Balerante, Klaten, via handytalky di frekuensi 149.070.

Kabut juga membuat pengamatan melalui CCTV BPPTK tidak dapat dilakukan. Di CCTV yang ada di Kaliurang, Sleman sama sekali tidak bisa mendapatkan gambaran tentang kondisi puncak Merapi. Sedangkan CCTV yang ada di Deles, Klaten hanya secara samar mendapatkan visualisasi.



(fjr/lrn)

Sabtu, 13 November 2010

Misteri Keberadaan Macan Tutul Merapi

Misteri Keberadaan Macan Tutul Merapi
Hewan pemanjat pohon ulung ini bukan merupakan salah satu kelompok satwa liar di Merapi.
SABTU, 13 NOVEMBER 2010, 06:48 WIB
Arinto Tri Wibowo, Ismoko Widjaya

VIVAnews - Macan tutul atau Panthera pardus terlihat melintas di Dusun Quaron, Kelurahan Candibinangun, Kecamatan Pakem, Sleman, DIY, pada Kamis 10 November 2010, sekitar pukul 13.00 WIB.

Lokasi ini berjarak sekitar 12 kilometer dari puncak Merapi. Kondisinya mengkhawatirkan. Kaki penuh luka bakar dan sekujur tubuh dipenuhi abu vulkanik Merapi.

Pemunculan macan tutul ini menjadi tanda tanya. Karena, hewan pemanjat pohon ulung ini bukan merupakan salah satu kelompok satwa liar di Taman Nasional Gunung Merapi. Tetapi, memang sejak 2004 disebutkan bahwa macan tutul dan elang Jawa merupakan salah satu penghuni Merapi. Keberadaan macan tutul memang diakui, tetapi hingga kini jumlahnya tidak pernah diketahui.

"Saya yakin macan tutul ada di Merapi. Tetapi, hingga kini tidak pernah ada data jumlah hewan itu," kata Manajer Kebun Binatang Gembiraloka Joko Tirtono kepada VIVAnews.com.

Untuk menghitung jumlah mereka harus menggunakan alat khusus dengan fasilitas inframerah. Alat itu akan menghitung secara otomatis ketika dilewati hewan buas yang lincah ini. Tetapi sayangnya,"Kami tidak pernah punya alat itu," kata Joko.

Kepastian bahwa itu adalah macan tutul baru diperoleh Jumat 12 November 2010, siang kemarin. Saat mendengar ada kabar macan terlihat di lereng Merapi, Joko langsung menuju daerah yang masih masuk zona bahaya itu.

Di sana ada Solkidi, saksi mata yang juga pekerja peternak ayam. Solkidi mengaku hanya sekali melihat hewan langka yang dilindungi undang-undang itu. Joko pun memperlihatkan foto-foto kucing-kucing raksasa buas kepada Solkidi. Saat ditunjukkan foto macan tutul, Solkidi mengiyakan.

Joko pun menelusuri jejak-jejak macan tutul yang menuju Kali Gendol. Tetapi anehnya, saat diikuti jejak itu terputus. Hilang begitu saja tanpa diketahui sebabnya. Salah satu dugaan, hewan itu hinggap di atas pohon yang rindang. Sesuai karakternya.

Tetapi, di lokasi Candibinangun itu tidak ada pohon lebat yang menjadi favorit si macan. Bila tidak ada umpan yang dilahap, ada kemungkinan si kucing besar itu akan pindah ke lokasi lain. "Tapi jangan khawatir, jarak jelajah macan itu paling jauh sekitar lima kilometer," kata dia menenangkan.

Akhirnya, petugas memasang jebakan dengan umpan ayam dan kambing muda. "Menggunakan kambing muda diharapkan bisa meningkatkan rangsang si macan tutul. Karena, kambing muda itu selalu menjerit tak pernah berhenti. Bisa juga dirangsang dengan darah ayam," ujar dia.

Sejak penampakan itu, tidak ada hewan ternak atau warga yang menjadi korban. Mudah-mudahan hari ini ada hasil.

• VIVAnews