Tampilkan postingan dengan label Nusa Tenggara Barat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nusa Tenggara Barat. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 Februari 2011

Pencarian Korban Air Bah Terus Dilakukan

Pencarian Korban Air Bah Terus Dilakukan


Pencarian Korban Air Bah Terus Dilakukan

Liputan6.com, Sumbawa: Pencarian enam orang yang hilang terseret air bah saat mandi di air terjun Bombo, di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, masih terus dilakukan. Keenam korban masih satu keluarga.

Pencarian yang tak kenal lelah akhirnya tidak sia-sia. Dua korban ditemukan sudah dalam keadaan tewas, dan satu selamat tersangkut di pepohonan. Tiga lainya hingga Sabtu (5/2) pagi masih terus dicari. Namun proses pencarian korban tidak mudah. Keluarga korban hanya bisa berharap cemas [baca: Tujuh Orang Terseret Air Bah, Dua Tewas].

Cuaca buruk yang masih melanda sebagian besar wilayah di Indonesia membuat semua pihak harus waspada. Bukan hanya bagi mereka yang akan berwisata, namun juga buat yang berlayar.(IAN)


http://id.news.yahoo.com/lptn/20110205/tid-pencarian-korban-air-bah-terus-dilak-a485cad.html

Sabtu, 24 April 2010

Kuda-kuda di Gili Trawangan yang Hidup Sengsara

Sabtu, 24/04/2010 06:30 WIB
Kuda-kuda di Gili Trawangan yang Hidup Sengsara
Reza Yunanto - detikNews

Foto: Ilustrasi
Jakarta - Kuda-kuda yang digunakan sebagai alat transportasi di Gili Trawangan, Nusa Tenggara Barat hidup dalam kondisi memprihatinkan. Kuda-kuda tersebut tidak mendapatkan perawatan yang baik. Kondisi demikian pun mengundang kritik para wisatawan asing yang mengunjungi salah satu pulau tujuan wisata itu.

Jumlah kunjungan wisatawan ke kepulauan yang terdiri dari tiga pulau yakni Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air itu terancam menurun jika pemerintah tidak segera menyikapi.

Organisasi Jakarta Animal Aid Network (JAAN) mengaku pada tahun lalu menerima banyak komplain dari para wisatawan tentang perlakuan buruk terhadap kuda yang menjadi satu-satunya alat transportasi di Kepulauan Gili. Hal yang sama juga didapatkan People for the Ethical Treatment of Animals (PETA) yang menyebut Kuda-kuda yang harus tinggal dan bekerja di pulau-pulau menjalani hidup sengsara.

Karena banyaknya komplain itulah kemudian JAAN memutuskan untuk melakukan survei guna mengetahui kondisi kehidupan kuda-kuda di Gili Trawangan.

"Karena jumlah dan tingkat keparahan komplain itu mengejutkan, JAAN memutuskan untuk melakukan survey awal April 2010," demikian rilis JAAN, Sabtu (24/4/2010).

Hasil Survey pun menemukan kondisi yang menyedihkan. Kuda-kuda di Gili Trawangan terpaksa bekerja berjam-jam tanpa batas berat. Kuda tidak mendapat tempat perlindungan dari matahari selama jam kerja. Tidak ada dokter hewan dan tidak ada tukang besi di pulau tersebut.

Beberapa pemilik tidak memotong kuku kudanya menjadi lebih baik dan ini menyebabkan sebuah kondisi yang sangat menyakitkan bagi kuda karena harus menempatkan begitu banyak berat pada kaki mereka.

Yang menyedihkan, kuda-kuda di Gili Trawangan disediakan air asin dari sumur saja. Para pemilik kuda tidak membeli air bersih untuk kuda-kuda mereka.

"Masa hidup rata-rata kuda di Gili Trawangan hanya 3 tahun saja, sementara kuda biasanya dapat mencapai usia empat puluh tahun lebih. Pemilik kuda menggunakan terapi kuno dan mengerikan untuk kuda yang sakit-sakitan," lanjut JAAN dalam rilisnya.

Kondisi menyedihkan kuda-kuda di Gili Trawangan itu membuat turis yang berkunjung mengakhiri liburan mereka karena melihat perlakuan tidak manusiawi terhadap kuda-kuda itu. Jika ini dibiarkan saja, akan berdampak negatif pada pariwisata Gili tersebut ketika para turis memilih menghabiskan dolar mereka di tujuan wisata lainnya.

Kementerian Pariwisata diminta segera bertindak atas kondisi ini jika tidak ingin kehilangan kunjungan turis.

"Jumlah pengunjung di Gili Trawangan akan berkurang jika tidak ada tindakan yang dilakukan untuk memperbaiki kondisi kuda-kuda. Pemerintah daerah seyogyanya menegakkan suatu Standar Operasional Prosedur untuk semua pemilik kuda tentang manajemen dan perawatan," harap JAAN.
(Rez/Rez)

Kamis, 26 November 2009

Dua Buah Feri Kandas di Pelabuhan Lembar

Dua Buah Feri Kandas di Pelabuhan Lembar
KAMIS, 26 NOVEMBER 2009 | 06:55 WIB

MATARAM, KOMPAS.com — Dua kapal motor penyeberangan atau feri, masing-masing KMP Sindu dan KMP Rodita, kandas di sekitar jalur masuk-keluar Pelabuhan Lembar, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, Rabu (25/11) pukul 04.25 Wita. Semua 164 penumpangnya selamat. Mereka dievakuasi kapal dan perahu nelayan setempat.

Kedua feri yang kandas hingga kemarin petang belum bisa ditarik ke dermaga. Rencananya, penarikan dilakukan saat air laut pasang naik.

Kepala Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan Lembar Kaimudin M, yang ditemui di Pelabuhan Lembar, menjelaskan, pagi itu KMP Sindu dalam pelayaran dari Padangbai (Bali). Posisinya 300 meter-400 meter sebelum dermaga Lembar (Lombok). Feri kandas diduga karena nakhodanya salah mengambil haluan sehingga memasuki perairan dangkal dan berlumpur. ”Saat kejadian, air laut sedang surut,” ujarnya.

Mengenai kandasnya KMP Rodita, Kaimudin menceritakan, saat itu feri tersebut sebenarnya tengah sandar di dermaga. Feri terjebak dalam perairan dangkal dan kandas ketika bermaksud menarik KMP Sindu. ”Ini insiden kecil. Kandasnya masih di area kolam dermaga,” ujarnya.

Kendaraan bermotor

Selain 164 penumpang yang sudah dievakuasi, KMP Sindu mengangkut 49 kendaraan bermotor, yakni 19 kendaraan roda empat dan 30 sepeda motor. Kemarin petang, semua kendaraan bermotor itu juga masih di atas kapal.

Kejadian itu tak mengganggu aktivitas bongkar muat dan hilir mudik angkutan laut di Pelabuhan Lembar. Posisi kedua feri tidak menghalangi jalur pelayaran.

Masih soal kelautan, dari Manado, Sulawesi Utara, dilaporkan, gelombang tinggi dan angin kencang yang disertai hujan selama dua hari terakhir melanda perairan Teluk Manado. Akibatnya, sejumlah fasilitas usaha di kawasan Boulevard rusak.

Terkait kondisi yang demikian, Dinas Perhubungan Sulawesi Utara melarang seluruh kapal motor penumpang melakukan pelayaran ke Sangihe, Talaud, dan Sitaro.

Kepala Dinas Perhubungan R Kenap di Manado, kemarin, mengatakan, larangan berlayar dari Pelabuhan Manado diberlakukan selama tiga hari, terhitung sejak Rabu. ”Belasan kapal motor yang menuju ke Sangihe, Talaud, dan Sitaro, sejak Selasa lalu bahkan tidak diperkenankan berlayar,” katanya.

”Kami menerima peringatan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bahwa cuaca buruk selama seminggu,” kata Kenap.

BMKG memprakirakan, tinggi gelombang laut mencapai 5 meter dengan kecepatan angin sekitar 45 km per jam selama pekan ini.

Akibat adanya larangan itu, kemarin ratusan calon penumpang yang akan bepergian ke Sangihe, Talaud, dan Sitaro tertahan di Pelabuhan Manado. Sebagian di antara mereka terpaksa menginap di terminal penumpang, menunggu keberangkatan.

Rugi miliaran rupiah

Menurut sejumlah pengusaha di kawasan Bahu Mall dan Manado Town Square, yang berada di kawasan jalan pantai Boulevard, mereka mengalami kerugian miliaran rupiah akibat terjangan gelombang tinggi laut. ”Tiga kapal bernilai Rp 1,2 miliar yang biasa dijadikan sebagai rumah makan terapung rusak dihantam ombak setinggi empat meter. Satu kapal lainnya bahkan terbelah dua. Sebagian puingnya hanyut terbawa air laut,” kata seorang pengusaha yang tak bersedia disebutkan namanya.

Hengky Wijaya, pemilik Manado Town Square, menambahkan, penangkal ombak yang dibangunnya senilai Rp 1 miliar, di sekitar lokasi malnya, kini rusak sepanjang 100 meter. (rul/zal)

Editor: tof

Sumber : Kompas Cetak

http://regional.kompas.com/read/xml/2009/11/26/0655549/Dua.Buah.Feri.Kandas.di.Pelabuhan.Lembar


Senin, 09 November 2009

Gempa 6,7 SR di NTB Gempa Dirasa Sampai Makasar dan Denpasar

Senin, 09/11/2009 03:50 WIB
Gempa 6,7 SR di NTB
Gempa Dirasa Sampai Makasar dan Denpasar
Didi Syafirdi - detikNews


Jakarta
- Gempa berkekuatan 6,7 SR mengguncang Nusa Tenggara Barat (NTB). Kekuatan gempa cukup besar dirasa sampai Makasar dan Denpasar.

"Cukup besar dirasa sampai Denpasar dan Bali," ujar Hardi Petugas Analis pusat Gempa Nasional kepada detikcom, Senin (9/11/20009).

Berdasarkan situs Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG), Senin (9/11/2009), pusat gempa berada di Barat laut pada kedalaman 25 Km di 8.24 LS - 118.65 BT.

Hingga saat ini belum ada laporan kerusakan maupun korban jiwa akibat peristiwa ini.
(did/mad)

Gempa 6,7 SR di NTB Warga Panik Berhamburan keluar

Senin, 09/11/2009 03:53 WIB
Gempa 6,7 SR di NTB
Warga Panik Berhamburan keluar
Didi Syafirdi - detikNews

Jakarta - Gempa berkekuatan 6,7 SR mengguncang Nusa Tenggara Barat (NTB). Warga sempat panik berhamburan keluar.

"Kita dapat laporan warga panik berhamburan keluar," ujar Hardi Petugas Analis pusat Gempa Nasional kepada detikcom, Senin (9/11/20009).

Berdasarkan situs Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) Senin (9/11/2009), pusat gempa berada di Barat laut pada kedalaman 25 Km di 8.24 LS - 118.65 BT.

Hingga saat ini belum ada laporan kerusakan maupun korban jiwa akibat peristiwa ini.
(did/mad)