Tampilkan postingan dengan label Relawan Tagana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Relawan Tagana. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 November 2010

Detik-detik Saat 4 Relawan Tagana Tewas Terkena Wedhus Gembel

Minggu, 07/11/2010 22:42 WIB
Detik-detik Saat 4 Relawan Tagana Tewas Terkena Wedhus Gembel
Irwan Nugroho - detikNews

(Foto: dok detikcom)
Jakarta - "Keempat orang ini anak-anak Glagaharjo. Mereka mempunyai motivasi yang sama
untuk menyelamatkan para pengungsi di desanya. Kinerjanya bagus sekali. Tapi
Tuhan berkehendak lain. Kami merasa sangat kehilangan."

Itulah kesan yang disampaikan oleh Komandan relawan Taruna Siaga Bencana
(Tagana) Andi Anindito, terhadap 4 relawan Tagana yang gugur saat bertugas di Gunung Merapi. Dua jenazah, Ariatno dan Samiyo, kini telah dievakuasi ke Rumah Sakit Dr Sardjito, Yogyakarta. Sedangkan dua lainnya, Supriyadi dan Supriyanto, masih terkubur material panas Gunung Merapi sedalam 3 meter.

"Keluarga sudah meminta agar segera ditemukan. Tapi bagaimana lagi. Jenazah
tertimbun 3 meter oleh material merapi. Lagi pula material itu masih sangat
panas," kata Andi ketika dihubungi detikcom, Minggu (7/11/2010).

Andi menceritakan, pada saat terjadi letusan terdahsyat Merapi pada Kamis 4 November 2010 hingga Jumat keesokan harinya, keempat relawan itu berjaga di dusunnya, Glagaharjo, Desa Umbulharjo, Cangkringan, Sleman. Lokasi itu berjarak sekitar 12 Km dari puncak Merapi.

Supriyadi dan Supriyanto menjaga gudang logistik bantuan. Sementara Ariatno dan Samiyo berjaga di tempat lain, namun masih berada di wilayah Glagaharjo.

Ketika Merapi menunjukkan tanda-tanda memburuk pada Jumat pukul 01.00 WIB,
Supriyadi dan Supriyanto mendengar adanya sejumlah penduduk yang terancam oleh awan panas. Di sini lain, keduanya harus menjaga logistik pengungsi.

"Namun, mereka tetap mendekati para pengungsi dan membujuk turun. Akhirnya malah nggak selamat," ucapnya.

Sebelum wedhus gembel turun menggulung, menurut Andi, Supriyadi dan Supriyanto sempat menelepon posko yang berada di bawah. Komandan lapangan saat itu meminta agar keduanya segera turun dan menyelamatkan diri. Namun, mereka memilih untuk menjemput para pengungsi.

Begitu pula dengan Ariatno dan Samiyo. Kedua relawan ini tetap bertahan untuk mengevakuasi warga meski wedhus gembel kian dekat. Mereka sebenarnya menunggu kendaraan susulan yang akan melarikannya ke tempat aman, namun terlambat.

Menurut Andi, keempat relawan yang meninggal itu adalah orang-orang terakhir
yang berada di zona bahaya ketika Merapi meletus. Sebagai warga setempat, mereka mempunyai tingkat emosional dan rasa pengorbanan yang besar bagi para warga Glagaharjo.

Sebagai relawan, mereka tidak hanya mengenal peta Gunung Merapi secara detil. Mereka memiliki kompetensi untuk penanggulangan bencana. Setiap anggota tim Tagana juga dibekali dengan latihan, rencana aksi, dan kemampuan untuk tanggap darurat.

"Tapi situasi seperti kemarin memang tidak kita duga sebelumnya. Sangat cepat. Semua orang tidak mengira," tutupnya.


(irw/nwk)

Minggu, 07 November 2010

2 Jenazah Relawan Tagana Tertimbun Material Merapi Sedalam 3 Meter

Minggu, 07/11/2010 19:53 WIB
2 Jenazah Relawan Tagana Tertimbun Material Merapi Sedalam 3 Meter video foto
Irwan Nugroho - detikNews





Jakarta - Dua jenazah relawan Taruna Siaga Bencana (Tagana), Supriyadi dan Supriyanto, belum berhasil dievakuasi dari Dusun Glagaharjo, Desa Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta. Tim mengalami kendala untuk mengangkat jenazah korban karena tertimbun material Gunung Merapi sedalam 3 meter.

"Keluarga sudah meminta kepada kami untuk ditemukan. Tapi bagaimana lagi. Mereka tertimbun material hingga 3 meter dalamnya," kata Komandan Tagana, Andi Anindito, kepada detikcom, Minggu (7/11/2010).

Menurut Andi, timnya hampir merasa apatis untuk menembus ke lokasi di mana jenazah kedua relawan itu diperkirakan berada, yakni sekitar 12-14 km dari puncak Merapi. Selain karena dalam, material yang disemburkan gunung itu hingga kini masih sangat panas.

Andi menceritakan, Supriyadi dan Supriyanto tewas dalam letusan dahsyat Merapi pada Kamis (4/11) hingga Jumat keesokan harinya, yang lalu. Sebelumnya, keduanya mendapat tugas untuk menjaga logistik bagi para pengungsi di Glagaharjo.

Ketika situasi Merapi makin memburuk, baik Supriyadi maupun Supriyanto, mencium gelagat mencurigakan akan adanya penjarahan bantuan bagi pengungsi. Namun, mereka juga melihat sejumlah pengungsi yang terancam nyawanya oleh awan panas atau wedhus gembel.

"Jadi ada keraguan menjaga logistik sama menyelamatkan pengungsi. Tapi mereka memilih untuk menyelamatkan pengungsi itu. Akhirnya mereka harus mengalamai nasib seperti sekarang," ungkapnya.

Andi mengatakan, sebelum awan panas menggulung, Supriyadi dan Supriyanto menelepon ke rekan-rekannya yang berada di posko bawah. Komandan meminta agar turun, namun mereka memilih menyelamatkan warga. "Situasi seperti kemarin memang tidak kita duga. Sangat cepat. Semua tidak mengira," tutup Andi.

(irw/nrl)