Tampilkan postingan dengan label Lereng Merapi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lereng Merapi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 November 2011

Diterjang Angin Kencang dan Hujan Es, 127 Rumah Rusak di Lereng Merapi

Sabtu, 12/11/2011 20:04 WIB 

Diterjang Angin Kencang dan Hujan Es, 127 Rumah Rusak di Lereng Merapi

Parwito - detikNews
Magelang - Sebanyak 127 rumah rusak akibat diterjang angin puting beliung dan hujan es di lereng Gunung Merapi. Luas wilayah yang mengalami kerusakan meliputi enam dusun, 2 desa di Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Kelima dusun itu adalah Dusun Sudimoro (70 rumah), Dusun Wates (28), Dusun Pucanganom, Dusun Nglampu (13), Dusun Nggejukan (1)dan 1 rumah di Dusun Dadapan, Desa Beringin, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang. 

Informasi yang dihimpun detikcom, Sabtu (12/11/2011), sekitar pukul 14.45 WIB hujan deras melanda kawasan puncak hingga radius 15 Km dari puncak Merapi. Hujan disertai angin menyapu sekitar lereng Merapi di sebelah barat tepatnya di Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang.

"Sekitar jam tiga kurang seperempat waktu itu hujan deras. Kemudian angin kencang setinggi kurang lebih tujuh meter menerjang dari arah timur kearah barat. Berputar-putar. Saat itu warga yang masih di sekitar luar rumah langsung pada berlarian panik," jelas Mursidah (66) warga Dusun Sudimoro saat ditemui detikcom usai kejadian.

Setelah satu jam hujan bersama dengan angin kencang menerjang, tiba-tiba hujan es turun. Warga yang panik langsung berhamburan masuk ke rumah masing-masing untuk menyelamatkan diri.

"Esnya sebesar kelereng. Saya takut langsung bersembunyi di dalam rumah. Tapi sekarang esnya sudah hilang karena mencair," jelas Mursidah.

Kepala Desa Pucanganom Sujarwanta (48) menjelaskan, hujan es yang disertai angin ini mengakibatkan ratusan rumah yang ada di desanya rusak ringan. Kerusakan hanya pada bagian atap rumah seperti genting dan asbes ratusan rumah berterbangan.

Selain itu sebanyak lima pohon pinus dan kapas randu roboh. Salah satunya menimpa rumah salah satu warga di Desa Pucanganom. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini.

Sampai sore tadi, ratusan penduduk bersama petugas TNI-Polri bahu membahu memperbaiki atap rumah. Anggota tim SAR dan para relawan juga ikut memperbaiki rumah serta mengevakuasi lima pohon yang tumbang.

(mok/mok)


Jumat, 24 Desember 2010

3 Dusun di Lereng Merapi Masih Kepulkan Asap

3 Dusun di Lereng Merapi Masih Kepulkan Asap
Asap juga masih mengepul dari dua kali yang dipenuhi material merapi.
JUM'AT, 24 DESEMBER 2010, 12:20 WIB
Antique

VIVAnews - Muntahan material Merapi hasil erupsi yang sudah dua bulan memenuhi sungai-sungai yang berhulu di gunung Merapi hingga saat ini masih menyisakan titik-titik panas dan terkadang memunculkan asap tebal. Titik-titik ini juga mengandung bau belerang yang menyengat.

Titik-titik asap yang disertai bau menyengat belerang dapat ditemukan di Kali Gendol, Kali Opak, Dusun Kaliadem, Dusun Jambu dan Dusun Petung di kawasan lereng Merapi.

"Asap yang keluar adalah uap air, karena material erupsi Merapi masih sangat panas, meski telah diguyur hujan hampir dua bulan," kata Sri Sumarti, Kepala Seksi Gunung Merapi, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta, Jumat 24 Desember 2010

Endapan material Merapi di sejumlah sungai itu, kata Sri Sumartini, berdasarkan laporan tim BPPTK di beberapa titik yang jika digali dengan kedalaman 10 sentimeter panasnya masih mencapai 100 derajat celcius. Sedangkan jika digali hingga kedalaman 60 sentimeter, panasnya mencapai 300 derajat celcius.

"Guyuran hujan ke material erupsi Merapi yang masih punya suhu tinggi menyebabkansecondary explotion," tuturnya.

Lebih lanjut, Sri Sumartini mengatakan, dengan adanya ledakan sekunder dari material merapi tersebut, wisatawan yang akan melihat material Merapi harus lebih berhati-hati.

"Wisatawan perlu hati-hati jika melintasi titik yang mengeluarkan asap berbau belerang," kata dia.

Sementara itu, status Gunung Merapi hingga saat ini masih Siaga. Sebab, bahaya yang ditimbulkan Merapi masih ada yaitu secondary explotion dan banjir lahar dingin, sehingga di lokasi-lokasi aliran awan panas dan lahar dingin belum ada kegiatan apapun.

"Namun, rekomendasi BPPTK itu kebanyakan tidak diindahkan oleh warga dan wisatawan," ujarnya. (Laporan: Juna Sanbawa, Yogyakarta / umi)

• VIVAnews

Kamis, 11 November 2010

Manisnya Salak Pondoh Akan Hilang Sejenak dari Lereng Merapi

Rabu, 10/11/2010 17:24 WIB
Manisnya Salak Pondoh Akan Hilang Sejenak dari Lereng Merapi video foto
Hery Winarno - detikNews





Jakarta - Selain berada di bawah kaki Gunung Merapi, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, terkenal dengan buah lokalnya yakni salak Pondoh. Perkebunan salak Pondoh kini rusak akibat letusan Gunung Merapi.

Rasanya yang manis, renyah serta tidak sepet membuat Salak Pondok menjadi buah tangan yang wajib dibawa dari Kota Gudeg. Sepanjang Jalan Kaliurang, para warga yang menjajakan salak Pondoh tidak terhitung jumlahnya.

Namun sejak Merapi meletus beberapa hari ini, para petani salak mulai resah akan keberadaan icon kota Sleman ini. Perkebunan salak yang berada di lereng Merapi semuanya rusak. Pohon-pohon salak patah, petani pun terpaksa memanen buah berduri ini sebelum waktunya.

"Bulan November memang musimnya, tapi masih satu dua minggu lagi. Tapi karena rusak semua harus segera dipetik daripada busuk," kata Pramono, warga Dusun Sedogan, Desa Merdikorejo, Kecamatan Tempel, Sleman, Yogyakarta, Rabu (10/11/2010).

Panen dini ini membuat para petani salak di lereng Merapi merugi. Sebab, harga salak yang belum matang turun drastis di pasaran.

"Per kilo kalau besar-besar dan matang bisa sampai Rp 3.500, tetapi nek masih muda kayak gini paling Rp 2.500. Ini masih krenyes-krenyes (renyah) agak asem dikit," kata Pramono saat memanen salak di kebun seluas 3.000 meter.

Namun bagi para petani, bukan sekadar harga panen salak yang membuat mereka khawatir, melainkan keberadaan salak pondok dalam setahun ke depan mungkin akan menjadi barang langka. Pohon yang tumbang terpaksa harus dipangkas semua menyisakan tunas-tunas muda yang tidak patah.

"Kalau pangkas salak tidak akan berbuah sebelum dahan atau batangnya tumbuh. Untuk tumbuh itu makan waktu sekitar 1 sampai 1,5 tahun. Itu berarti tidak panen salak lagi selama itu," papar dia.

Para petani salak seharusnya bulan ini panen melimpah, musim hujan di bulan Oktober dan September adalah jaminan bila pohon salak akan berbuah lebat dan besar-besar. Namun akibat daun dan batang tertimbun pasir dan abu, harapan itu justru berganti musibah.

"Besok-besok harga salak pasti mahal, karena cuma kebun yang tidak rusak yang bisa panen. Padahal di desa ini semua orang tanam salak dan rusak semua," kata dia.

Kecamatan Tempel, Pakem, Turi, dan Cangkringan memang penghasil salak paling besar di Kabupaten Sleman. Buah bersisik ini menjadi tanaman unggulan warga di lereng Merapi yang terkenal subur karena abu vulkanik ini.

"Kecamatan Tempel bagian utara, itu penduduknya mengandalkan perkebunan salak. Di sana hampir semua kebun ditanami salak, tapi kondisinya sekarang rusak semua," kata Camat Tempet, Heri Sutopo, saat berbincang dengan detikcom di kantornya.

Heri belum memiliki data berapa luas perkebunan yang rusak dan kerugian petani akibat erupsi Merapi terbesar sejak lebih dari seratus tahun terakhir ini. Namun dari data yang dimiliki di kecamatan, tidak kurang 3.000 Ha perkebunan baik besar maupun kecil milik warga dipastikan rusak.

"Ya gimana lagi, namanya juga musibah. Untuk satu dua tahun mungkin warga tidak bisa panen, tapi setelah itu biasanya panen meningkat karena tanah jadi subur," kata Heri.

(her/aan)