Tampilkan postingan dengan label dusun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dusun. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Desember 2010

3 Dusun di Lereng Merapi Masih Kepulkan Asap

3 Dusun di Lereng Merapi Masih Kepulkan Asap
Asap juga masih mengepul dari dua kali yang dipenuhi material merapi.
JUM'AT, 24 DESEMBER 2010, 12:20 WIB
Antique

VIVAnews - Muntahan material Merapi hasil erupsi yang sudah dua bulan memenuhi sungai-sungai yang berhulu di gunung Merapi hingga saat ini masih menyisakan titik-titik panas dan terkadang memunculkan asap tebal. Titik-titik ini juga mengandung bau belerang yang menyengat.

Titik-titik asap yang disertai bau menyengat belerang dapat ditemukan di Kali Gendol, Kali Opak, Dusun Kaliadem, Dusun Jambu dan Dusun Petung di kawasan lereng Merapi.

"Asap yang keluar adalah uap air, karena material erupsi Merapi masih sangat panas, meski telah diguyur hujan hampir dua bulan," kata Sri Sumarti, Kepala Seksi Gunung Merapi, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta, Jumat 24 Desember 2010

Endapan material Merapi di sejumlah sungai itu, kata Sri Sumartini, berdasarkan laporan tim BPPTK di beberapa titik yang jika digali dengan kedalaman 10 sentimeter panasnya masih mencapai 100 derajat celcius. Sedangkan jika digali hingga kedalaman 60 sentimeter, panasnya mencapai 300 derajat celcius.

"Guyuran hujan ke material erupsi Merapi yang masih punya suhu tinggi menyebabkansecondary explotion," tuturnya.

Lebih lanjut, Sri Sumartini mengatakan, dengan adanya ledakan sekunder dari material merapi tersebut, wisatawan yang akan melihat material Merapi harus lebih berhati-hati.

"Wisatawan perlu hati-hati jika melintasi titik yang mengeluarkan asap berbau belerang," kata dia.

Sementara itu, status Gunung Merapi hingga saat ini masih Siaga. Sebab, bahaya yang ditimbulkan Merapi masih ada yaitu secondary explotion dan banjir lahar dingin, sehingga di lokasi-lokasi aliran awan panas dan lahar dingin belum ada kegiatan apapun.

"Namun, rekomendasi BPPTK itu kebanyakan tidak diindahkan oleh warga dan wisatawan," ujarnya. (Laporan: Juna Sanbawa, Yogyakarta / umi)

• VIVAnews

Selasa, 21 Desember 2010

Empat Dusun di Situbondo Dikagetkan Hujan Abu

Selasa, 21/12/2010 16:47 WIB
Empat Dusun di Situbondo Dikagetkan Hujan Abu
Irwan Yulianto - detikSurabaya


Situbondo - Warga empat dusun di Desa Bantal Kecamatan Asembagus, Situbondo dihebohkan dengan turunnya hujan abu, Selasa (21/12/2010). Belum diketahui dari mana datangnya hujan abu tersebut.

Empat dusun yang terkena imbas hujan abu meliputi Dusun Curah Malang, Dusun Pariopo, Dusun Lowah dan Dusun Panggulan. Hujan terakhir terjadi sekitar pukul 04.00 Wib pagi tadi.

Warga sendiri mengaku tidak tahu darimana datangnya abu tersebut. Diduga abu
merupakan abu vilkanik Gunung Raung. Secara geografis empat dusun yang diguyur hujan abu ini memang berada di sekitar bukit jika ditarik garis lurus sengat berdekatan dengan Gunung Ijen di Bondowoso dan Gunung Raung di Banyuwangi, kedua gunung itu diketahui adalah gunung berapi.

Meski hingga sore ini pukul 16.00 WIB hujan abu tidak terjadi lagi, yang ada hanya bekas abu menempel pekat di atap rumah warga. Abu itu juga tampak jelas masih menempel di tumbuh-tumbuhan.

Sejumlah warga membenarkan jika empat dusun itu memang diguyur hujan abu. Bahkan warga menyatakan jika hujan abu tersebut sudah terjadi sejak 5 hari lalu. Sayang, tidak ada satu orangpun warga yang tahu dari mana asal abu yang menghiasi atap rumah warga tersebut.

Salah satu warga Desa Bantal, Edi Wahyudi, juga mengaku mendapatkan laporan dari sejumlah kerabat dekatnya yang berada di Dusun Curah Malang, yang menyatakan adanya hujan abu.

"Keluarga saya yang berada di Curah Malang mengatakan jika di rumahnya terrjadi hujan abu, setelah saya mencoba mengecek ternyata memang benar," ujar Edi kepada detiksurabaya.com.

Empat dusun itu berada sekitar 20 Km dari Jalan Raya Asembagus. Untuk mencapai ke dusun itu juga sangat sulit, karena akses jalan masih belum diaspal, bahkan ada yang hanya jalan setapak. Kejadian langka itu tidak menyebabkan warga ketakutan, karena warga masih tetap menjalankan aktivitas seperti biasa.

"Ini emmang baru kali ini pak terjadi, tapi kami biasa saja dan tidak khawatir,? ujar Samawi, salah satu warga Dusun Curah Malang.

(fat/fat)


Jumat, 02 Oktober 2009

Empat Dusun Tertimbun, 300 Orang Terkubur

Empat Dusun Tertimbun, 300 Orang Terkubur
Petugas penolong mengevakuasi korban tewas yang ditemukan di reruntuhan bangunan pascagempa tektonik di Padang, Sumbar, Kamis (/10).


    JUMAT, 2 OKTOBER 2009 | 21:16 WIB

    PADANG, KOMPAS.com - Empat dusun di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatra Barat (Sumbar), tertimbun tanah longsor akibat gempa, Rabu (30/9) sore dan diperkirakan ada 300 orang yang ikut tertimbun. Pantauan di lokasi, Jumat (2/10), empat dusun tertimbun tanah itu hanya nampak tanah memerah dan tidak ada nampak rumah dan bangunan lainnya karena telah tertimbun.

    Empat dusun itu yakni, Pulau Koto, Lubuk Laweh, Sumanak, dan Tandikek. Upaya evakuasi dari tim SAR belum dapat dilakukan dan pencarian serta penggalian hanya dilakukan warga setempat yang luput dari bencana tersebut.

    Informasi di lokasi menyebutkan, upaya pencarian dilakukan warga setempat baru menemukan sembilan jasad korban dari sekitar 62 warga di Sumanak yang tertimbun. Kemudian di dusun Lubuk Laweh baru ditemukan empat jasad korban dari 100 warga yang diduga tertimbun.
    Di empat dusun itu disebutkan sekitar 300 warga masih tertimbun, sedangkan tim SAR dan alat-alat berat belum masuk ke daerah itu untuk membantu evakuasi.

    Data Sarkorlak Penangulangan Bencana Sumbar, menyebutkan, di Kabupaten Padang Pariaman, sampai Jumat siang telah ditemukan 184 korban tewas, 175 korban luka berat dan 500 luka ringan. Selain itu, 10.017 unit rumah di Kabupaten itu terdata rusak berat.

    Informasi dari salah seorang guru SMP Negeri Tandikek, Asmanidar mengatakan, sedikitnya ada 200 orang yang tewas dari dusun Tandikek akibat tertimbun tanah. Warga Balah Air, Kecamatan VII Koto, Pariaman itu mengatakan, gempa yang melanda Sumbar dengan kekuatan besar itu membawa penderitaan yang mendalam bagi masyarakat Pariaman.

    Dari empat rumah keluarga besarnya hanya satu yang tersisa, itu pun sudah retak-retak. "Sejak terjadinya gempa hingga kini kami tidur di sebuah tenda kecil," katanya dengan nada sedih.
    Namun demikian ia masih merasa bersyukur kepada Allah SWT karena semua anggota keluarga besar yang terdiri lima kepala keluarga termasuk yang berada di Kota Padang semuanya selamat.

    "Keponakan saya (anak kakak-Red) bernama Ined selamat dari runtuhan bangunan kantor leasing kendaraan di Padang karena minta izin pulang lebih awal untuk mengobat anaknya yang sakit," kata Asmanidar.

    Ia mengatakan rekan sekantor Ined banyak yang tewas akibat tertimbun runtuhan gedung.
    "Rasanya gempa Rabu sore itu kekuatannya bukan 7,6 Skala Richter mungkin lebih dari itu karena getarannya kuat sekali," katanya dan menambahkan banyak sekali bangunan rumah yang runtuh di Pariaman.

    WAH
    Sumber : ANT

    http://regional.kompas.com/read/xml/2009/10/02/21163781/empat.dusun.tertimbun.300.orang.terkubur