Tampilkan postingan dengan label Reaktor Nuklir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Reaktor Nuklir. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Maret 2011

14 Reaktor Nuklir di Zona Gempa Besar

14 Reaktor Nuklir di Zona Gempa Besar
Banyak reaktor nuklir di dunia yang berdiri di atas daerah rawan gempa.
MINGGU, 20 MARET 2011, 06:07 WIB
Ismoko Widjaya, Febry Abbdinnah

VIVAnews - Lusinan reaktor nuklir di seluruh dunia ternyata beroperasi di daerah rawan gempa. Diantarnya adalah 14 reaktor nuklir yang berada di zona paling rawan bencana gempa.

Seperti dilansir Wall Street Journal, Sabtu 19 Maret 2010, Jepang dan Taiwan mengalami krisis energi akibat gempa 9 skala richter yang mengguncang Jepang pada Jumat 11 Maret 2011 lalu.

Setelah gempa yang menimbulkan gelombang tsunami itu, Jepang dan Taiwan dipaksa melakukan perhitungan ulang atas energi nuklir yang tersisa untuk menunjang kehidupan masyarakat. Pada sebuah jajak pendapat di Taiwan yang dilakukan empat hari setelah gempa bumi, sebanyak 55 persen responden merasa tidak yakin atas fasilitas nuklir yang ada di pulau itu.

Berdasarkan data yang tesedia dari Asosiasi Nuklir Dunia yang berbasis di London, The Wall Street Journal, di seluruh dunia terdapat 400 reaktor nuklir, 100 reaktor yang dalam tahap perencanaan.

Berdasarkan analisa dalam laporan itu, terdapat 48 reaktor atau sekitar 11 persen dari reaktor di seluruh dunia, berdiri di daerah gempa, dengan aktivitas gempa skala sedang. Daerah itu termasuk daerah tempat reaktor Fukushima Daiichi yang saat ini sedang mengalami krisis.

Lalu, terdapat 14 reaktor atau sekitar 3 persennya berada di daerah yang tinggi atas aktivitas gempa. Sepuluh diantaranya terletak di dekat garis pantai yang sangat beresiko terjadinya gempa dan tsunami.

Jepang dan Taiwan termasuk dalam 10 dari 14 reaktor yang memiliki aktivitas gempa tertinggi. Sedangkan Amerika Serikat memiliki dua reaktor nuklir yang berbahaya. Slovenia dan Armenia masing-masing memiliki satu reaktor.

Reaktor nuklir di seluruh dunia diklaim telah dibangun dengan daya tahan terhadap gempa berkekuatan tinggi dan sudah dilengkapi dengan faktor keamanan jika terjadi kesalahan perkiraan. Termasuk reaktor Fukushima Daiichi di Jepang yang kini bocor.

Jumat kemarin, the US Nuclear Regulatory Commission menginformasikan bahwa, akan memastikan reaktor-reaktornya tahan bencana alam atau kejadian luar biasa. Persiapan ini termasuk pemulihan air pendingin reaktor dan kolam bahan bakar yang ternyata gagal di Fukushima Jepang.

Lebih dari 100 reaktor nuklir milik AS, dan hanya dua reaktor yang terletak di pabrik Diablo Canyon Power, Pantai California, yang masuk di dalam zona aktivitas gempa tinggi. Namun, reaktor nuklir ini telah dibangun dengan daya tahan gempa berkekuatan 7.5 skala richter.

Peneliti terkadang menganggap remeh kekuatan gempa. Gempa yang menimpa Jepang lebih besar dibandingkan gempa yang telah diujikan pada reaktor Daiichi. Pada tahun 2007, pabrik nuklir terbesar di Jepang, Kashiwazaki-Kariwa, rusak akibat gempa berkekuatan lebih besar dibanding antisipasi desainer.

Aktivis anti nuklir telah mengingatkan bahwa reaktor nuklir di Jepang lebih lemah terhadap gempa dibandinkan aturan pemerintah. "Menurut para penyedia tenaga nuklir, bencana nuklir tidak akan terjadi di Jepang," ujar pusat informasi nuklir, kelompok anti nuklir berbasis di Tokyo.

Energi nuklir juga menjadi isu kontroversial di Taiwan, di mana terdapat empat reaktor yang dibangun dekat patahan utama. Lebih dari dua reaktor yang sedang dalam perbaikan terletak dekat denagn pemukiman penduduk di Taipe dan New Taipe.

Dewan Energi Atom yang mengatur undang-undang mengenai nuklir di Taiwan mengatakan, bahwa pabrik nuklir telah dibangun dengan daya tahan gempa berkekuatan 7 skala richter atau lebih dan hantaman tsunami 12 sampai 15 meter.

Ahli energi mengatakan, akan sangat sulit bagi Jepang dan Taiwan untuk beralih dari energi nuklir. Mengingat kedua negara ini tidak memiliki sumber energi lain dari alam. "Pengembangan nuklir adalah cara terbaik untuk mengurangi ketergantungan impor migas dan batubara," ujar Jone-Lin Wang, seorang konsultan energi Taiwan.

Namun yang pasti, banyak negara telah mencoba memindahkan pabrik nuklir jauh dari zona gempa. "Tidak banyak reaktor yang dibangun di patahan utama, dan Jepang mungkin masih kekanakan," ujar Ben van der Pluijm, ahli geologi dari Universitas Michigan.

• VIVAnews

Minggu, 13 Maret 2011

Reaktor Nuklir di Fukushima Kembali Bermasalah

Minggu, 13/03/2011 05:15 WIB
Reaktor Nuklir di Fukushima Kembali Bermasalah
Elvan Dany Sutrisno - detikNews
Reaktor Nuklir di Fukushima Kembali Bermasalah
Foto: Reuters/Kyodo
Jakarta - Operator reaktor nuklir di Fukushima, Jepang, mengalami masalah baru. Satu lagi pendingin reaktor nuklir tidak bekerja. Untuk membantu mengatasi itu, Amerika Serikat mengirim dua ahli nuklir ke Jepang.

Seperti dikutip detikcom dari AFP, Minggu (13/3/2011), operator reaktor nuklir mengeluhkan tidak bekerjanya sistem pendingin reaktor di Fukushima, Jepang. Kejadian ini sebelumnya telah mengakibatkan ledakan di reaktor nuklir nomor 1 di tempat yang sama.

"Semua fungsi untuk menjaga kadar air pendingin di reaktor nomor 3 di pembangkit Fukushima 1 telah gagal ," kata juru bicara Tokyo Electric Power.

Karenanya Komisi Pengaturan Nuklir AS (NRC) telah mengirim dua pakar ke Jepang. Para ahli mencoba menyelesaikan krisis reaktor yang sempat meledak setelah terjadinya gempa dan tsunami di Jepang.

"Kami memiliki beberapa orang yang paling ahli di bidang ini, kami siap untuk membantu dengan cara apapun," kata NRC, Gregory Jaczko, dalam sebuah konferensi pers.

NRC adalah sebuah lembaga independen yang diamanatkan oleh Kongres AS untuk mengatur pembangkit listrik komersial nuklir dan bahan nuklir lainnya. Dua ahli yang dikirm merupakan bagian dari tim bantuan AS untuk mengatasi bencana tsunami di Jepang.

Sebelumnya diberitakan reaktor nuklir nomor 1 telah meledak kemarin Sabtu (12/3) karena masalah serupa. Akibatnya terjadi kebocoran 'kecil' , zat caesium radioaktif mulai terdeteksi di lingkungan sekitar reaktor Fukushima.

Semua warga dievakuasi ke tempat yang aman. Hal ini karena peningkatan tingkat radiasi menjadi 1.000 kali skala normal. Sampai saat ini lebih dari 100 ribu warga sudah dievakuasi.


(van/van)

Jepang Berjuang Keras Mengamankan Reaktor Nuklir

Minggu, 13/03/2011 08:35 WIB
Jepang Berjuang Keras Mengamankan Reaktor Nuklir
Elvan Dany Sutrisno - detikNews
Jepang Berjuang Keras Mengamankan Reaktor Nuklir
Foto: Reuters/Kyodo
Jakarta - Upaya untuk mengendalikan reaktor nuklir yang meledak setelah gempa bumi dan tsunami di Jepang terus dilakukan. Operator reaktor nuklir menggunakan air dan uap untuk mendinginkan reaktor yang kian memanas.

Seperti dikutip detikcom dari Reuters, Minggu (13/3/2011), segala upaya dilakukan Pemerintah Jepang untuk menguasai keadaan. Kenaikan temperatur diakibatkan sistem pendingin yang mengalami kerusakan setelah meledaknya sistem pompa reaktor nuklir nomor 1 di kawasan pembangkit Fukushima, Jepang.

"Kami sedang melakukan dua hal sekaligus. Memanfaatkan ventilasi udara untuk mengeluarkan panas dari reaktor dan menyediakan air ke dalam reaktor," kata Kepala Sekretaris Kabinet Jepang, Yukio Edano, dalam konferensi pers.

Edano menuturkan, sejauh ini tidak ada pengaruh berbahaya akibat ledakan pompa reaktor nuklir nomor 1 tersebut. "Radiasi dalam tataran cukup rendah sehingga tidak mempengaruhi kesehatan masyarakat," tuturnya.

Kepada stasiun televisi NHK, Edano mengatakan diperlukan konsentrasi penuh dalam mengatasi masalah ini. Apalagi bencana kali ini tergolong cukup besar.

"Menghadapi bencana akan membutuhkan fokus besar dan upaya oleh seluruh komponen bangsa karena merupakan bencana yang besarnya belum pernah terjadi sebelumnya," imbaunya.

"Prioritas kami adalah untuk menyelamatkan nyawa dan kami berharap 200 milyar yen (USD 2,4 milyar) cadangan anggaran untuk tahun fiskal mencukupi. Kami tidak dapat memberikan komentar ukuran anggaran tambahan yang diperlukan untuk tahun fiskal berikutnya untuk sekarang, perlu musyawarah di parlemen," tutupnya.

Sebelumnya diberitakan reaktor nuklir nomor 1 telah meledak kemarin Sabtu (12/3) karena masalah serupa. Akibatnya terjadi kebocoran 'kecil' , zat caesium radioaktif mulai terdeteksi di lingkungan sekitar reaktor Fukushima.

Semua warga dievakuasi ke tempat yang aman. Hal ini karena peningkatan tingkat radiasi menjadi 1.000 kali skala normal. Sampai saat ini lebih dari 100 ribu warga sudah dievakuasi.


(van/van)