Kamis, 07 Oktober 2010

Warga Korban Banjir di Wasior Butuh Bantuan Obat dan Makanan

Rabu, 06/10/2010 13:06 WIB

Warga Korban Banjir di Wasior Butuh Bantuan Obat dan Makanan
Indra Subagja - detikNews



Jakarta - Warga Wasior, Papua Barat, membutuhkan bantuan. Banjir bandang yang melanda kawasan itu membuat daerah itu luluh lantak. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan 59 orang tewas dan 27 orang hilang.


"Kebutuhan mendesak berupa tenda, obat-obatan, sembako, dapur umum dan selimut," kata Kepala Pusat Data dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Priyadi Kardono saat dihubungi detikcom, Rabu (6/10/2010).

Dia menjelaskan upaya penanganan kini masih dilakukan pemerintah provinsi bersama TNI dan Polri, dengan mengirimkan bantuan ke lokasi dengan menggunakan kapal TNI AL KRI Kalakay dengan membawa peralatan evakuasi dan membersihkan lumpur.

Kementerian Kesehatan dan BNPB juga telah mengirim bantuan logistik dan perlengkapan dengan pesawat Boeing 737 Cardig Air seberat 13,075 ton antara lain 3 tenda peleton, 80 tenda, tenda gulung 200 lembar, velbed 60 buah, dan sandang 500 paket.

"Selimut 100 lembar, tikar 100 lembar, Kidware 150 paket, Familykit 150 paket, makanan siap saji
2.250 paket, obat-obatan 2.500 kg. Kementerian Kesehatan juga akan mengirimkan tim medis, 7 orang," terangnya.

Bantuan BNPB Rp 200 juta juga telah diserahkan kepada Gubernur Papua Barat yang telah meninjau lokasi kejadian. Aparat BPBD Papua Barat juga telah menuju ke lokasi untuk melakukan pendataan sementara.

"Sampai saat ini data masih terus mengikuti perkembangan. Bupati dan wakil bupati beserta Muspida menjenguk pasien di RSUD Nabire. Armada heli dari Nabire masih melakukan evakuasi korban di tempat kejadian," tutupnya.

Bencana banjir bandang yang diduga akibat penggundulan hutan ini, terjadi pada Senin 4 Oktober. Penyebab banjir diperkirakan dari meluapnya air danau yang berada tepat di atas gunung Kota Wasior. Hujan deras memang turun sejak pukul 20.00 WIT, Minggu 3 Oktober hingga Senin dini hari.

(ndr/nrl)


Bandara Wasior Penuh Lumpur, Bantuan Dikirim Menggunakan Kapal & Heli

Rabu, 06/10/2010 14:09 WIB

Bandara Wasior Penuh Lumpur, Bantuan Dikirim Menggunakan Kapal & Heli
Gunawan Mashar - detikNews



Jakarta - Banjir bandang yang terjadi di Distrik Wasior dan Wondiwoi, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat menyebabkan bandara di Wasior terendam lumpur. Bantuan pun dikirim dengan menggunakan kapal laut dan helikopter.


"Bandara di Wasior terendam lumpur, bantuan dikirim melalui kapal laut dan helikopter. Jika melalui kapal laut, jarak tempuhnya sekitar 7 jam dari Manokwari. Pakai Heli sekitar 35 menit," ujar Kepala Sub Divisi Respons Bencana Markas Besar PMI, Muhammad Rukman ketika dihubungi detikcom, Rabu (6/10/2010).

Rukman mengatakan, banjir bandang memang menyebabkan jalan darat menuju lokasi putus. Bahkan, bantuan dari daerah lain dikirim melalui Manokwari dan Nabire.

Berdasarkan pendataan PMI Papua Barat, para korban banjir membutuhkan bantuan dengan segera. Sejumlah bantuan yang mendesak dipenuhi berupa kantong jenazah, pakaian balita, pakaian layak pakai untuk dewasa, makanan siap saji, susu, obat-obatan dan bahan bakar.

Rukman menjelaskan, korban tewas akibat banjir pun terus bertambah. Berdasarkan data sementara PMI, korban tewas telah mencapai 64 orang. Sementara korban luka-luka sekitar 300 orang, dan warga yang hilang sekitar 100 orang.

Data ini berbeda dengan yang dilaporkan tim Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di lapangan. Data BNPB, saat ini jumlah korban tewas mencapai 59 jiwa. Sedangkan korban hilang sementara tercatat 27 orang.

"Korban terus bertambah. Untuk sementara korban tewas sudah 60-an lebih," tuturnya.

Di hari pertama banjir, PMI juga telah mengirim 5 dokter, dan mengirim 500 paket higiene kit. 5 Dokter ini melayani 300 orang lebih warga yang mengalami luka. Selain itu, sekitar 10 relawan dari PMI Papua Barat telah berada di lokasi.

Banjir bandang melanda kota Wasior, Papua Barat, pada Senin 4 Oktober lalu. Sejumlah korban tewas dan selamat yang ditemukan oleh Tim SAR gabungan dari Polda dan Kodam Papua terapung di laut akibat terseret air bah.

(gun/vit)

http://www.detiknews.com/read/2010/10/06/140937/1456989/10/bandara-wasior-penuh-lumpur-bantuan-dikirim-menggunakan-kapal-heli?nd993303605

3 Ribu Warga Masih Mengungsi Akibat Banjir di Wasior, Papua Barat

Rabu, 06/10/2010 18:10 WIB

3 Ribu Warga Masih Mengungsi Akibat Banjir di Wasior, Papua Barat
Andi Saputra - detikNews



Jakarta - 3 Ribu warga masih mengungsi akibat banjir bandang di Wasior dan Wondiwoi, Papua Barat. Mereka tersebar di Manokwari, Nabire dan distrik Oransbari.


Mereka mengungsi di tenda-tenda akibat rumahnya sudah tak layak huni akibat
diterjang banjir bandang.

"Selain itu, juga mencari tempat yang lebih nyaman. Hingga saat ini yang meninggal 64 orang dan 75 luka berat," kata Menko Kesra, Agung Laksono dalam konferensi pers di kantornya, Jalan Medan Merdeka, Jakarta, Rabu, (6/10/2010).

Selain masalah pengungsi, penanganan bencana juga masih terhambat jalan darat yang terputus. Selain itu jalur udara juga susah di jangkau karena bandara Wasior masih terendam lumpur.

"Jalan satu-satunya, kami kirimkan RS terapung KRI dr.Soehaso yang akan dikirim ke Teluk Wondama. Itupun harus dengan perjalanan 8 jam perjalanan laut. Semoga cuaca bagus sehingga bisa cepat sampai," harap Agung.

Bencana banjir juga menyebabkan 68 orang hilang dan 461 luka ringan. Pemerintah pusat dan Pemprov telah mengirimkan bantuan logistik tadi pagi menggunakan pesawat charter yang berisi obat-obatan dan makanan. Untuk mendistibusikan bantuan, dikerahkan juga KRI Kalay, KM Gracelia, KM Papua dan KM Delta Mas II.

"Masih dibutuhkan banyak bantuan terutama tenda dan makanan. Belum ada bantuan asing," tegasnya.

(asp/gun)


PMI: Korban Tewas Banjir Bandang Wasior Jadi 87 Orang

Kamis, 07/10/2010 11:11 WIB

PMI: Korban Tewas Banjir Bandang Wasior Jadi 87 Orang
Gagah Wijoseno - detikNews




Banjir di Wasior (AFP)

Jakarta - Korban tewas banjir bandang di Kota Wasior, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat, meningkat menjadi 87 orang. Banyak jenazah yang masih tertimbun longsor.


"Korban meninggal 87 orang, luka 837," ujar Sekretaris Palang Merah Indonesia (PMI) Papua Barat La Abidin dalam pesan singkat.

Data tersebut merupakan data hari ini, Kamis (7/10/2010) hingga pukul 06.30 WIT. Dari korban luka 837 orang, imbuhnya, 82 orang dirujuk ke rumah sakit dengan helikopter.

PMI masih terfokus pada evakuasi korban yang tertimbun longsor, pelayanan kesehatan dan pendataan di tempat pengungsian.

"Masyarakat masih trauma sehingga mengungsi ke Manokwari dan Nabire terutama jika hujan," imbuhnya.

Kebutuhan mendesak di lokasi bencana adalah sarung tangan tebal, kantong jenazah dan masker untuk mengangkat jenazah dari timbunan longsor yang mulai rusak kondisi tubuhnya (sudah 5 hari), air minum, selimut, jengel boat, Sensow, kendaraan roda 2 dan 4 untuk mengangkut logistik.

Sebelumnya data terakhir disampaikan Staf Khusus Presiden bidang Otda Velix Wanggai, Rabu (6/10/2010) malam bahwa korban tewas berjumlah 83 orang dan 64 orang masih hilang.

Velix juga menjelaskan, Kota Wasior mengalami kerusakan berat hingga 80 persen. Kondisi ini memaksa sedikitnya 4.000 orang mengungsi.

Pemerintah menyebutkan, banjir bandang yang terjadi awal pekan ini akibat dari pembalakan liar.


(nwk/nrl)


EU to Hungary: Don't let toxic sludge hit Danube

EU to Hungary: Don't let toxic sludge hit Danube


Toxic Sludge Floods Towns in BudapestPlay VideoABC News – Toxic Sludge Floods Towns in Budapest
Hungarian police officer, wearing a protective mask, stands in front of a home destroyed by the flood of toxic mud in Kolontar, Hungary, Wednesday, OcAP – Hungarian police officer, wearing a protective mask, stands in front of a home destroyed by the flood …

KOLONTAR, Hungary – Hungary opened a criminal probe into the toxic sludge flood Wednesday and the European Union urged emergencyauthorities to do everything they can to keep the contaminated slurry from reaching the Danube and affecting half a dozen other nations.

Hundreds of people had to be evacuated after a gigantic sludge reservoir burst Monday at a metals plant in Ajka, a town 100 miles (160 kilometers) southwest of Budapest, the capital.

At least four people were killed, three are still missing and 120 were injured as the unstoppable torrent inundated homes, swept cars off roads and disgorged an estimated 1 million cubic meters (35 million cubic feet) of toxic waste onto several nearby towns.

It was still not known Wednesday why part of the reservoir failed. Hungarian Prime Minister Viktor Orban said authorities were caught off guard by the disaster since the plant and reservoir had been inspected only two weeks earlier and no irregularities had been found.

National Police Chief Jozsef Hatala decided to take over the probe because of its importance and complexity, police spokeswoman Monika Benyi told The Associated Press, adding that a criminal case had been opened by the country's top investigative body into possible on-the-job carelessness.

The huge reservoir, more than 1,000 feet (300 meters) long and 500 yards (450 meters) wide, was no longer leaking Wednesday but a triple-tiered protective wall was being built around its damaged area. Interior Minister Sandor Pinter said guards have been posted at the site to give an early warning in case of any new emergency.

The red torrent has already reached the Marcal River but it was not clear Wednesday how far down the river it had spread. Emergency workers were pouring 1,000 tons of plaster into the water to try to bind the sludge and keep it from flowing into the Danube, 45 miles (72 kilometers) away.

The Hungarian Water Regulation Authority estimated Tuesday it would take the sludge about five days to reach the Danube, one of Europe's key waterways. South of Hungary, the Danube flows through Croatia, Serbia, Romania, Bulgaria, Ukraine and Moldova before emptying into the Black Sea.

Hungary's National Rescue Service said engineers considered diverting the Marcal into nearby fields but decided not to, fearing the damage from the diversion would be too great.

Workers were also extracting sludge from the river and using plaster and acid to neutralize the toxic chemicals. Initial pH measurements showed the sludge had an extremely alkaline value of 13 after the spill, the service said.

The European Union said it feared the toxic flood could turn into an ecological disaster for several nations and urged Hungarian authorities to focus all efforts on keeping the sludge from the Danube.

"It is important that we do .... everything possible that it would not go, that it would not endanger the Danube," EU Environment Commissioner Janez Potocnik told the AP in Brussels. "We have to do this very moment everything possible ... (to) limit the extent of the damage."

"This is a serious environmental problem," EU spokesman Joe Hennon told Associated Press Television News. "We are concerned, not just for the environment in Hungary, but this could potentially cross borders."

Greenpeace was even more emphatic.

The sludge spill is "one of the top three environmental disasters in Europe in the last 20 or 30 years," said Herwit Schuster, a spokesman for Greenpeace International.

Greenpeace workers took sludge samples on Tuesday and were having them tested in labs in Vienna and Budapest to find out how contaminated the sludge was by heavy metals.

"It is clear that 40 sq. kilometers (15.5 square miles) of mostly agricultural land is polluted and destroyed for a long time," Schuster said. "If there are substances like arsenic and mercury, that would affect river systems and ground water on long-term basis."

Red sludge is a byproduct of the refining of bauxite into alumina, the basic material for manufacturing aluminum. It contains heavy metals and is toxic if ingested. Treated sludge is often stored in ponds where the water eventually evaporates, leaving behind a dried red clay-like soil.

MAL Rt., the Hungarian Aluminum Production and Trade Company that owns the Ajkai plant, has insisted the red sludge is not considered hazardous waste according to EU standards. The company has also rejected criticism that it should have taken more precautions to shore up the reservoir.

In Hungary's hardest-hit towns, emergency workers and construction crews in respirators and other hazmat gear strained Wednesday to clear roads and homes coated by thick red sludge and caustic muddy water.

In Kolontar, the town nearest to the plant, a military construction crew assembled a pontoon bridge across a toxic stream so residents could briefly return to their homes and retrieve some belongings.

But Kolontar mayor Karoly Tily said he could not reassure residents that Monday's calamity would not happen again.

In sharp contrast to the emergency workers, locals salvaged possessions with little more than rubber gloves for protection. Women with pants coated with red mud cleared the muck away from their homes with snow shovels.

The International Commission for the Protection of the Danube, which manages the river and its tributaries, agreed that sludge spill could trigger long-term damaging effects for both wildlife and humans.

"It is a very serious accident and has potential implications for other countries," Philip Weller, the group's executive secretary, said from Brussels.

The Danube, at 1,775 miles (2,850 kilometers) long, is Europe's second largest river and holds one of the continent's greatest treasuries of wildlife. The river has already been the focus of a multibillion dollar post-communist cleanup, but high-risk industries such as Hungary's Ajkai Timfoldgyar alumina plant, where the disaster occurred, are still producing waste near some of its tributaries.

Weller said the commission's early warning alarm system was triggered by the spill, which means factories and towns along the Danube may have to shut down their water intake systems. The Vienna-based commission was waiting for further details of the spill from Hungarian authorities, he said.

He said large fish in the Danube could ingest the metals and then transfer them to humans who eat the fish.

The ecological catastrophe has already left a trail of shattered lives in its wake.

There was no stopping the avalanche of toxic red sludge when it rammed into Kati Holtzer's home in Kolontar: It smashed through the main door and trapped the woman and her 3-year-old boy in a churning sea of acrid waste.

She saved her son by placing him on a sofa that was floating in the muck. She then called her husband Balazs, who was working in Austria, to say goodbye.

"We're going to die," she told him, chest-deep in sludge.

After the terror came the pain: Holtzer and her two rescuers were among those suffering from biting chemical burns. Half the house was painted red from the sludge.

Worst of all, her fox terrier Mazli — "Luck" in Hungarian — lay dead in the yard Wednesday, still chained to a stake.

___

Associated Press writers Greg Katz in London and Alison Mutler in Vienna contributed to this report.

http://news.yahoo.com/s/ap/20101006/ap_on_he_me/eu_hungary_sludge_flood

Rabu, 06 Oktober 2010

Banjir Rendam Empat Kabupaten di NAD

Banjir Rendam Empat Kabupaten di NAD

Banjir Rendam Empat Kabupaten di NAD

Liputan6.com, Aceh Barat: Hujan deras yang melanda beberapa kawasan di Nanggroe Aceh Darussalam selama dua hari berturut-turut mengakibatkan empat kabupaten di pesisir barat dilanda banjir, Selasa (5/10). Empat kabupaten yang dilanda banjir adalah Aceh Selatan, Aceh Barat Daya, Aceh Barat, dan Aceh Jaya.

Selain merendam ribuan rumah, banjir juga memutus jalur lintas antarkabupaten dengan ketinggian air mencapai dua meter di beberapa titik. Bahkan di Aceh Barat Daya, sebanyak empat kecamatan terendam air, yakni Babah Roet, Kuala Batee, Tangan-Tangan, dan Kecamatan Manggeng.

Meski tidak bisa beraktivitas seperti biasanya warga masih tetap bertahan di desa masing-masing. Warga khawatir banjir belum akan surut mengingat curah hujan di kawasan ini masih tinggi.(IAN)

http://id.news.yahoo.com/lptn/20101005/tid-banjir-rendam-empat-kabupaten-di-nad-c237b35.html

Selasa, 05 Oktober 2010

Waspada Cuaca Ekstrem Hingga Februari 2011

Waspada Cuaca Ekstrem Hingga Februari 2011

Selain wabah penyakit, petani terancam gagal panen akibat hujan deras, dan La Nina.

SENIN, 4 OKTOBER 2010, 21:29 WIB

Elin Yunita Kristanti, Dwifantya Aquina




VIVAnews – Perubahan iklim dan cuaca ekstrem menjadi agenda utama pada rapat koordinasi di Kementerian Kesejahteraan Rakyat, Senin 4 Oktober 2010. Menko Kesra Agung Laksono bahkan berencana akan mengundang bupati dan walikota berkoordinasi mengantisipasi cuaca ekstrem.

“Setiap kabupaten harus memiliki stok khusus mengantisipasi rawan pangan sejumlah 100 ton,” kata Agung Laksono, Senin 4 Oktober 2010. Untuk itu, daerah diharapkan berkoordinasi dengan pemerintah pusat. Masyarakat juga diimbau lebih jeli melihat informasi cuaca jika bermaksud bepergian.

Selain menimbulkan wabah penyakit, dan gangguan kesehatan, cuaca ekstrem mengancam produktivitas petani. "Dampaknya telah dirasakan oleh para petani berupa perubahan pola tanam dan gagal panen, serta para nelayan yang tidak berani melaut akibat kondisi cuaca tidak menentu,” jelas Agung Laksono.

Jika tak diantisipasi, akibatnya akan fatal. Antara lain, Agung menambahkan bisa menimbulkan kerawanan sosial. "Maka waspadai cuaca ekstrem sampai Januari-Februari 2011,” ujar Agung.

Timbulnya cuaca ekstrem yang melanda Indonesia, menurut Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Sri Woro Buadiati Harijono, disebabkan sejumlah faktor. “Penyebab utamanya adalah adanya ekspansi vertikal awan, curah hujan meningkat, peluang puting beliung meningkat,” ujar dia usai mengikuti rapat koordinasi di Kementerian Koordinator Kesra.

Bahkan, Woro menambahkan, tiga puting beliung terjadi berturut-turut di Indonesia. “Indonesia memang bukan daerah angin siklon, tapi kita dapat ekornya,” jelas dia.

Selain itu, tambah Woro, yang juga perlu diwaspadai adalah fenomena La Nina sampai Februari 2011. Pemanasan temperatur laut terjadi hingga Januari 2011, akibat adanya aliran mata air dari Afrika ke Indonesia. “Kemungkinan baru akan reda pada Januari-Februari 2011,” ujar Woro.

Dia menambahkan, dampak cuaca ekstrem pasti akan dirasakan, dan adaptasi atas perubahan cuaca itu adalah keharusan. Terutama, ujar Woro, membantu petani supaya panennya tidak gagal sehingga siap dengan jadwal tanam.

Di sektor perhubungan, informasi BMKG penting diperhatikan terkait maklumat pelayaran. "Ramalan cuaca ekstrem berpotensi banjir dan gelombang tinggi laut,” Woro menambahkan. Kepada para nelayan, BMKG mengimbau jangan dulu melaut pada saat cuaca ekstrem.

La Nina dan Puting Beliung

Dunia pelayaran diminta waspada cuaca ekstrem. Direktorat Jenderal Perhubungan Laut (Dirjen Hubla) mengeluarkan edaran yang meminta pelaku pelayaran menunda pelayaran jika mendapati cuaca tidak menentu.

Surat edaran tersebut diantaranya ditujukan kepada nahkoda kapal agar berlindung ke pulau terdekat jika tiba-tiba cuaca berubah ekstrem. Selain itu, nahkoda harus saling memberikan informasi terkait cuaca yang sedang terjadi dalam pelayaran, termasuk Syahbandar dan Administrator Pelabuhan (Adpel) setempat.

Humas Adpel Tanjung Perak, Wahid, mengatakan, Syahbandar dan jasa pelayaran diimbau menunggu informasi BMKG terkait perubahan cuaca. “Kapal penumpang jasa pelayaran harus memperhatikan sarana dan prasarana keselamatan dan keamanan penumpang. Diantaranya, penyediaan sekoci yang harus disesuaikan dengan jumlah penumpang serta mengecek ulang piranti komunikasi,” tegas dia.

Secara terpisah, Kepala Seksi Observasi dan Informasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Maritim Tanjung Perak Surabaya Effendi mengungkapkan, bisa jadi secara tiba-tiba angin berhembus menjadi kencang.

Terbentuknya awan Culumunimbus juga akan memicu kecepatan angin lebih kencang, dan tidak terkontrol. “Ini bukan menakut-nakuti, tapi prakiraan yang kami observasi ada kecenderungan munculnya angin puting beliung dan La Nina,” kata Effendi.

Prediksi itu juga menyebutkan kecenderungan angin berhembus kencang diselingi gelombang tinggi terjadi di Laut Jawa, Laut Flores dan Samudera Indonesia bagian selatan Jawa Timur.

Di Laut Jawa ketinggian gelombang bisa mencapai antara 1 – 3,5 meter. Sementara di Laut Flores gelombangnya bisa mencapai 1,5 – 4 meter. Angin dengan kecepatan 10 – 50 km per jam berpeluang terjadi di kawasan Samudera Indonesia bagian selatan Jawa Timur.

Di sektor pertanian, dampak cuaca buruk itu sudah awal terasa. Lebih dari 2.000 hektare tanaman tembakau mengalami gagal panen di Sampang, Madura. Hujan deras yang kerap turun beberapa bulan terakhir membuat daun tembakau rusak. Di Probolinggo, kualitas kopi turun gara-gara hujan. Harganya ikut anjlok, 40-55 persen.

Transisi cuaca di Jakarta

Kepala Sub Bidang Peringatan Dini Cuaca Ekstrem Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kukuh Ribudiyanto tingginya curah hujan di ibu kota, Jakarta baru memasuki masa transisi.

Ini disebabkan penyimpangan atau anomali pada Juli dan Agustus – yang seharusnya musim kemarau, justru malah banyak hujan. Masa transisi dengan curah hujan tinggi ini akan berakhir hingga Oktober dan awal November. Setelah itu baru masuk musim penghujan.

"Penyebab anomali itu karena ada fenomena La Nina, adanya uap air dari Pasifik Tengah ke arah barat, termasuk ke Indonesia," kata Kukuh, saat dihubungi VIVAnews.com, Selasa 28 September 2010.

Musim hujan di Jakarta sendiri diprakirakan terjadi setelah November sampai Januari 2011. Hingga Januari nanti, kata Kukuh, fenomena La Nina masih akan terus berlangsung. "Di musim hujan nanti, curah hujan akan meningkat dari biasanya, atau di atas normal," jelas dia.

Kukuh berpesan kepada masyarakat Jakarta pada khususnya untuk mewaspadai banyaknya petir yang menyambar. "Waspada pula terhadap angin kencang dan hujan yang deras walaupun durasinya pendek. Bagi yang langganan banjir, harap waspada," imbaunya.

Tak hanya di Indonesia

Badan Kelautan dan Atmosfer Amerika Serikat atau US National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA)mengatakan, fenomena La Nina menguat di Bulan Agustus 2010. Hasil pemantauan badan itu menyebutkan permukaan laut mendingin sekitar 1,3 sampai 1,8 derajat Celcius. Dari model cuaca, diramalkan La Nina akan bertahan setidaknya sampai awal 2011.

Cuaca dingin yang panjang juga akan berpengaruh pada lingkungan global. "Pendinginan permukaan laut akan mempengaruhi curah hujan tropis Samudera Pasifik dari Indonesia ke Amerika Selatan", ujar Gerry Bell, ilmuwan iklim NOAA di Pusat Prakiraan Iklim di Camp Springs, Maryland, seperti dimuat situs Nature News.

Beberapa tempat, seperti Australia Utara akan lebih basah dari rata-rata musim. "Perubahan begitu besar, sehingga juga mempengaruhi angin," tambah Bell. (np)

• VIVAnews