Tampilkan postingan dengan label Pengungsi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengungsi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 November 2010

270 Pengungsi di Maguwoharjo Mengalami Gangguan Psikologis

Rabu, 10/11/2010 17:53 WIB
Merapi Meletus
270 Pengungsi di Maguwoharjo Mengalami Gangguan Psikologis
Fajar Pratama - detikNews



Pengungsi Merapi sedang santai
Jakarta - Berada di pengungsian dengan beban pikiran soal tempat tinggal merupakan kenyataan pahit yang harus dialami para pengungsi bencana Merapi. Tak heran jika banyak di antara mereka yang mengalami gangguan, seperti misalnya gangguan psikologis.

Berdasarkan data yang dihimpun dari bagian psikolog posko kesehatan Pemkab Sleman di pengungsian Maguwoharjo per Selasa (9/11) kemarin, total pengungsi yang tercatat mengidap gangguan psikologis berjumlah 270 orang.

Jumlah sebanyak itu terdiri dari gangguan kecemasan sebanyak 92 orang, psikosomatis 77 orang, depresi 41, psikosisresidual 38, insomnia 38 orang, dan post traumatic stress disorder (PTSD) 21 orang.

Menurut koordinator bagian psikolog di posko Maguwoharjo, Retno Kumolohadi, dari gejala-gejala tersebut, yang perlu diwaspadai adalah psikosisresidual. Pasalnya, gangguan tersebut sampai menyebabkan seseorang terlepas dari dunia sosial dan juga halusinasi.

"Kalau kami anggap cukup parah ya kami rujuk ke rumah sakit jiwa. Sejauh ini sudah ada tiga orang pengungsi yang kami rujuk ke sana," tandas Retno di Stadion Maguwoharjo, Rabu (10/11/2010) sore.

Retno, yang juga pengajar di Pasca Sarjana Psikologi Universitas Islam Indonesia ini, mengatakan, potensi meningkatnya jumlah pengungsi yang terkena gangguan psikologis cukup terbuka. Apalagi sampai saat ini belum ada kabar pasti mengenai kapan mereka bisa kembali ke kampung halamannya.

"Selain merasa asing dengan lingkungan pengungsian. Mereka juga terbebani dengan kondisi ternak dan rumah mereka," ujarnya.

Namun Retno juga mengakui bahwa proses konsultasi psikologis dengan pengungsi berjalan sangat lancar. Hampir seluruh dari mereka bersedia blak-blakan.

"Mungkin karena mereka terbebani dan butuh curhat. Begitu kita tanya sekali saja langsung brol, mengalir semua jawaban dia," ujarnya.

(fjr/lrn)

Sabtu, 06 November 2010

Pengungsi Menyebar, Klaten Tampung 52 Ribu Pengungsi

Sabtu, 06/11/2010 14:24 WIB
Pengungsi Menyebar, Klaten Tampung 52 Ribu Pengungsi
Muchus Budi R. - detikNews



Suasana pengungsian (Daniel)
Klaten - Banyak pengungsi yang menyelamatkan diri dengan menyebar ke berbagai arah, tanpa mengikuti arahan atau tempat yang telah disediakan oleh satlak penanggulangan bencana. Kabupaten Klaten saat ini telah menampung lebih dari 52 ribu pengungsi. Selain pengungsi dari Klaten sendiri, juga pengungsi dari kabupaten lain. Petugas Pengolahan Data Satlak Penanggulangan Bencana Kabupaten Klaten, Sapto Nugroho, memaparkan, banyak pengungsi yang melakukan pengungsian secara mandiri ke rumah kerabat masing-masing yang dinilai aman. Selain itu karena kondisi geografis, banyak juga warga kabupaten lain yang mengungsi ke Klaten. Di posko pengungsian Karang Nongko dan Jatinom misalnya, meskipun letaknya di Kabupaten Klaten namun pengungsinya berasal dari Kabupaten Boyolali. Sedangkan pos pengungsian di Prambanan, sebagian besar justru ditempati oleh pengungsi dari Kabupaten Sleman. Selain itu juga masih ada banyak pengungsi Merapi dari Sleman, Boyolali maupun Magelang, yang masuk ke Klaten secara mandiri. Mereka melakukan pengungsian secara mandiri ke rumah kerabatnya ke Klaten. "Kami sempat kesulitan mendata, karena mereka sering berpindah-pindah. Data paling baru, jumlah pengungsi letusan Merapi yang berada di Klaten saat ini mencapai 52.851 jiwa. Mereka tersebar di 74 titik pengungsian yang berada di 15 kecamatan. Titik pengungsian terbanyak di Kecamatan Prambanan sejumlah 13.349 pengungsi," papar Sapto, Sabtu (6/11/2010). Petugas, lanjut Sapto, selalu melakukan pemutakhiran data setiap hari. Selain untuk melakukan pendataan jiwa, juga untuk memudahkan penyaluran logistik, terutama bahan makanan bagi pengungsi. "Semua pengungsi diperlakukan sama, baik warga asli Klaten maupun yang berasal dari kabupaten lain," lanjutnya. Lebih lanjut, Sapto mengatakan hingga saat ini pengungsi Merapi asal Kabupaten Klaten yang dinyatakan meninggal sebanyak lima orang. Empat orang adalah pengungsi penderita stroke yang meninggal saat mengungsi, satu orang lainnya adalah bayi yang baru meninggal. "Kami belum bisa memastikan adanya korban yang meninggal karena awan panas. Memang ada informasi-informasi yang mengatakan demikian, namun kami belum bisa memastikan karena kami belum menemukan jasad korban yang dilaporkan meninggal karena awan panas itu," kata Sapto. (mbr/gah)

Rabu, 03 November 2010

Wedhus Gembel Muncul dari Balik Mendung, Pengungsi Berhamburan

Rabu, 03/11/2010 16:56 WIB
Wedhus Gembel Muncul dari Balik Mendung, Pengungsi Berhamburan
Hery Winarno - detikNews



Jakarta - Awan hujan menghalangi pandangan mata pengungsi ke arah Gunung Merapi. Maka, ketika awan panas atau wedhus gembel menyeruak dari balik awan hujan, para pengungsi di Kepuharjo, Sleman, DIY, kaget bukan kepalang.

Para pengungsi yang tadinya berada di posko pengungsian langsung lari berhamburan ke segala arah. Padahal cuaca dalam kondisi hujan deras.

"Tadi sekitar pukul 16.00 WIB saat hujan deras, dari balik awan keluar wedhus gembel warnanya coklat pekat. Warga yang ada di pengungsian di Kepuharjo langsung tunggang langgang," kata seorang anggota TNI yang bertugas di Desa Kepuharjo, Sertu Syaifuddin kepada detikcom di lokasi, Rabu (3/11/2010).

Namun Syaifudin tak tahu kemana saja para pengungsi lari setelah melihat awan panas yang tiba-tiba muncul dari balik awan putih. Pengungsi ada yang lari dan turun ke arah barat dan ada yang ke arah timur.

"Ada yang naik motor, ada yang naik truk. Semuanya tunggang langgang," ujarnya.

Tidak hanya pengungsi yang lari berhamburan, seluruh personel TNI, Polri, dan relawan semua berlari menuju ke bawah.

Sementara itu anggota PMI, Herli mengatakan, semua pengungsi di Kepuharjo kembali mengungsi ke daerah yang lebih rendah. Menurut Herli, malah awan panas kini sudah sampai di lapangan golf, Desa Umbulharjo.

"Semua warga lari, termasuk kita yang menyelamatkan warga pakai ambulans," jelasnya.

Herli menambahkan karena saat itu turun hujan, arah awan panas tak begitu kelihatan. Ada awan putih yang muncul dan tiba-tiba saja di balik awan putih muncul awan panas.

"Awan putih menutup awan panas. Ternyata membawa wedhus gembel. Semuanya turun. Ada yang naik truk dan motor," ungkapnya.


(gus/fay)

Muncul Awan Gelap, Pengungsi di Kepuharjo dan Glagaharjo Panik

Rabu, 03/11/2010 16:31 WIB
Muncul Awan Gelap, Pengungsi di Kepuharjo dan Glagaharjo Panik video foto
Bagus Kurniawan - detikNews




Jakarta - Gugusan awan panas bergerak dari puncak Gunung Merapi menyusuri Kali Gendol. Melihat kejadian ini, pengungsi di Kepuharjo dan Glagaharjo panik dam langsung diungsikan ke pos pengungsian Wukirsari yang lebih jauh.

Kepanikan ini terjadi menyusul terjadinya letusan pada sekitar pukul 15.15 WIB, Rabu (3/11/2010). Beberapa saat kemudian, gugusan awan panas yang menyembur dari puncak Gunung Merapi meluncur turun dan bercampur dengan debu vulkanik bersamaan dengan hujan deras.

Akibat percampuran ini, terlihat gugusan awan gelap pekat. Ini yang kemudian membuat panik pengungsi yang berada di pos pengungsian dusun Kepuharjo dan Glagaharjo.

Petugas TNI dan Polri di sana berinisiatif memindahkannya ke Wukirsari yang berjarak 4 km dari pengungsian dua desa tersebut. Hingga kini sudah empat truk berisi pengungsi yang tiba di Wukirsari dan puluhan lagi yang menggunakan sepeda motor.


(lh/vit)

Sabtu, 30 Oktober 2010

Ribuan Pengungsi di Desa Umbulharjo Dievakuasi

Sabtu, 30/10/2010 03:44 WIB
Ribuan Pengungsi di Desa Umbulharjo Dievakuasi
Hery Winarno - detikNews



Sleman - Ribuan pengungsi di Desa Umbulharjo, Sleman dievakuasi turun. Tidak ada lagi warga yang masih bertahan di desa ini.

"Sudah kami evakuasi tadi sekitar pukul 01.30 WIB," ujar seorang petugas SAR yang ditemui detikcom di desa tersebut, Sabtu (30/10/2010).

Petugas tersebut mengaku tidak sempat lagi mendata pengungsi yang dievakuasi turun. "Yang jelas jumlahnya ribuan," kata dia.

Pantauan detikcom, Desa tersebut kini gelap gulita. Jalan dari Kaliurang menuju Desa di Lereng Gunung Merapi ini juga gelap gulita. Sepanjang jalan sejauh menuju Desa hampir tidak ditemui orang. Kecuali para petugas medis atau SAR. Lokasi pengungsian di Balai Desa juga sudah digembok.

Seluruh jalan, bangunan dan kendaraan tertutup abu. Kendaraan yang akan menuju Kaliurang harus berjalan lambat dan ekstra hati-hati karena abu yang menutup jalan cukup tebal.


(rdf/rdf)

Jumat, 03 September 2010

Pengungsi Minta Pemkab Karo Jamin Keamanan Rumah Mereka

Jumat, 03/09/2010 19:28 WIB
Letusan Gunung Sinabung
Pengungsi Minta Pemkab Karo Jamin Keamanan Rumah Mereka
Khairul Ikhwan - detikNews

Medan - Harapan pengungsi untuk segera pulang ke rumahnya kembali pupus setelah letusan besar terjadi Jumat (3/9/2010) pagi. Kini, ribuan warga terpaksa tinggal di sejumlah titik pengungsian hingga waktu yang belum ditentukan.

Sebagian warga menyatakan harapannya agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karo menjamin keamanan harta benda dan rumah warga setelah kosong selama sepekan terakhir. Kendati ada penjagaan dan polisi, namun dengan personel yang terbatas, mereka khawatir pencurian dapat terjadi kapan saja.

"Saya cemas di pengungsian. Rumah sudah seminggu kosong. Tidak ada keluarga yang jaga. Saya hanya bisa berharap polisi selalu berjaga. Tadi Sinabung meletus lagi, jadi makin tak jelas bisa pulang," kata Lerinta Sembiring, yang mengungsi ke Kabanjahe.

Aktivitas Gunung Sinabung yang terpantau normal dalam tiga hari terakhir, sempat membuat gembira ribuan warga yang tinggal di radius enam kilometer di bawah kaki Gunung Sinabung. Apalagi Pemkab Karo telah mengizinkan warga yang tinggal di radius 12 kilometer dari kaki Gunung Sinabung untuk pulang ke rumah sejak Rabu (1/9/2010) lalu.

Letusan Gunung Sinabung pagi tadi mengakibatkan ribuan warga kembali berdatangan ke sejumlah lokasi pengunsian untuk mengantisipasi letusan susulan. Satuan Koordinasi Pelaksana (Satkorlak) Pengendalian Bencana Kabupaten Karo memprakirakan, jumlah pengungsi di penampungan sedikitnya bertambah dua ribu jiwa. Jumlah pengungsi sempat menyusut menjadi 17 ribu orang pada Kamis (2/9/2010) sore.

(djo/djo)

Senin, 30 Agustus 2010

Pengungsi Letusan Gunung Sinabung Tembus 20 Ribu Jiwa

Minggu, 29/08/2010 23:41 WIB
Pengungsi Letusan Gunung Sinabung Tembus 20 Ribu Jiwa
Khairul Ikhwan - detikNews

Foto: Khairul Ikhwan (detikcom)
Jakarta - Pengungsi akibat letusan Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumut, mencapai 20 ribu jiwa. Diperlukan bantuan makanan tambahan untuk para pengungsi.

Berdasarkan data yang diperoleh detikcom dari posko utama pengungsian di Karo, Sumut, Minggu (29/8/2010), pukul 22.00 WIB, sebanyak 20.908 pengungsi mencari perlindungan ke posko pengungsian.

Pengungsi tersebut terbagi ke dalam 17 lokasi pengungsian. Jumlah posko dengan pengungsi terbanyak di Los Singgamanik (4.000 pengungsi), Jambur Lige (2.500 pengungsi), disusul Jambur Adil Makmur (2.665 pengungsi), Jambur Teras Barastagi (2.191 pengungsi), dan Los Pekanbuah Tigabinanga (1.813 pengungsi).

Berikut adalah data pengungsi akibat letusan Gunung Sinabung per 29 Agustus 2010 pukul 22.00 WIB.

1. Jambur Lige, 2.500 pengungsi
2. Jambur Adil Makmur, 2.665 pengungsi
3. Jambur Tuah Lopati, 1.025 pengungsi
4. Jambur Sempakata, 905 pengungsi
5. Jambur Dalihan Natolu, 1.025 pengungsi
6. Jambur Taras Berastagi, 2.191 pengungsi
7. Klasis Kabanjahe, 500 pengungsi
8. Jambur Pulungen, 1.000 pengungsi
9. Los Pekanbuah Tigabinanga, 1.813 pengungsi
10. Gedung KNPI, 460 pengungsi
11. Los Singgamanik, 4.000 pengungsi
12. Los Perbesi, 500 pengungsi
13. Los Tj, Pulo, 650 pengungsi
14. Los Siabang-abang, 500 pengungsi
15. Los Kutabuluh, 1.000 pengungsi
16. Los Tongkoh, 100 pengungsi
17. Gedung KKR Simpang Ketepul, 74 pengungsi

(van/her)

Minggu, 29 Agustus 2010

Pengungsi Capai 10 Ribu Jiwa, Ditampung di 8 Lokasi

Minggu, 29/08/2010 08:22 WIB
Gunung Sinabung Meletus
Pengungsi Capai 10 Ribu Jiwa, Ditampung di 8 Lokasi
Khairul Ikhwan - detikNews

Foto: Khairul Ikhwan/detikcom
Medan - Jumlah pengungsi akibat meletusnya Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, mencapai 10 ribu jiwa. Mereka ditampung di 8 lokasi pengungsian. Jumlah pengungsi itu kemungkinan terus bertambah.

"Saat ini tim masih melakukan evakuasi. Truk Pemkab, Kodim, dan polisi dikerahkan untuk mengevakuasi warga dari sekitar lokasi Gunung Sinabung," kata Kepala Bidang Humas Kabupaten Karo, Jhonson Tarigan, kepada
detikcom.

Hal itu disampaikan Tarigan di posko utama bencana gunung meletus Sinabung di Pendopo Rumah Dinas Bupati, Jl Veteran, Kecamatan Kabanjahe, Kabupaten Karo, Minggu (29/8/2010).

Selain di Kabanjahe, menurut Jhonson, pengungsi yang berjumlah 10 ribu itu dipecah ke kecamatan lain, yakni Brastagi. "Pendataan masih belum selesai, baik jumlah desa, maupun sistem data. Semua personel yang tersedia dioptimalkan untuk masalah ini," tandasnya.

Sementara itu, pantauan
detikcom dari Desa Sukandebi, Kecamatan Naman Teran, Gunung Sinabung yang meletus pada pukul 01.10 WIB tadi malam pagi ini diselimuti asap. Lava yang menyembur dari puncak gunung kini tidak terlihat lagi.

Cuaca sangat cerah. Matahari bersinar terang. Namun, situasi di sekitar kepundan ada kabut agak gelap. Kabut itu juga menghalangi penampakan gunung secara utuh.

"Biasanya kalau pagi cantik nampak gunung ini. Tapi hari ini masih tak kelihatan. Mungkin asap dari letusan tadi malam, tak tahu lah," ujar Roni warga setempat.
(irw/irw)