Tampilkan postingan dengan label Aktivitas Merapi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aktivitas Merapi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 31 Oktober 2010

Listrik Masih Padam, Aktivitas Merapi Hambat Perbaikan

Minggu, 31/10/2010 17:57 WIB
Listrik Masih Padam, Aktivitas Merapi Hambat Perbaikan foto
Hery Winarno - detikNews



Sleman - Malam ini warga di lereng Gunung Merapi harus kembali melewatkan malam tanpa penerangan lampu. Padamnya listrik hingga kini belum tertangani akibat aktivitas Merapi yang masih terus berlanjut.

"Kita sudah membersihkan 77 tiang listrik dan melakukan perbaikan kabel yang tertimpa pohon tumbang. Tapi jaringan listrik di Dusun Kinahrejo masih putus. Kita dilarang kesana karena Merapi masih berbahaya," ujar supervisor teknik PLN area Kalasan, Soeyadi, kepada detikcom.

Hal ini ia sampaikan saat melakukan perbaikan jaringan listrik bersama beberapa petugas PLN di Desa Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta, Minggu (31/10/2010).

"Untuk Sleman, Desa Glagaharjo, Kepuharjo dan sebagian Umbulharjo masih padam malam ini," terangnya.

Hujan abu vulkanik dan pasir pada Sabtu (30/10) dini hari lalu telah membuat jaringan listrik terputus. Hal ini selain disebabkan banyak kabel yang tertimpa pohon, travo di tiang listrik juga kotor akibat abu dan pasir.

"Terpaksa kita bersihkan travo-nya dengan menyiram air, karena hujan tidak sampai sini. Beberapa dusun malam ini sudah ada penerangan, sebagian lagi belum," tambahnya.

Soeryadi tidak bisa memastikan kapan desa-desa di lereng Merapi itu akan kembali menikmati penerangan. Namun selama kondisi Merapi masih terus dinyatakan awas, jajarannya kesulitan melakukan perbaikan.

"Asal ada jaminan aman, kita pasti perbaiki kerusakan yang ada di atas, tapi kita kesana saja dilarang. Dan memang kondisi belum aman, baru saja awan panas keluar lagi," imbuhnya.


(her/fay)

Sabtu, 30 Oktober 2010

Aktivitas Merapi Naik, Warga Klaten Kembali Mengungsi

Jumat, 29/10/2010 18:06 WIB
Aktivitas Merapi Naik, Warga Klaten Kembali Mengungsi video foto
Muchus Budi R. - detikNews



Klaten - Meskipun Merapi masih berstatus 'awas', namun sebagian warga lereng Merapi di daerah Klaten telah meninggalkan pos pengungsian. Mereka telah kembali ke rumah masing-masing. Namun seiring luncuran awan panas yang kembali meningkat dari kawah Merapi, warga kembali ke pengungsian.

Luncuran awan panas yang turun bertubi-tubi sejak pagi hingga siang, membuat warga empat desa lereng Merapi di Kecamatan Kemalang, Klaten, memutuskan kembali ke barak pengungsian. Mereka kembali turun dengan angkutan yang disediakan tim satlak penanggulangan bencana Kabupaten Klaten, Jumat (29/10/2010).

Sebelumnya, sebagian besar warga memang telah meninggalkan barak pengungsian karena melihat aktivitas Merapi yang sudah dianggap reda. Mereka merasa perlu segera pulang ke rumah masing-masing untuk mengurus hewan ternak dan ladang pertanian. Bahkan saat Wapres Boediono mengunjungi pos pengungsian mereka pada Kamis kemarin, sebagian besar dari pengungsi telah tidak berada di tempat pengungsian.

Namun aktivitas Merapi hari ini memaksa mereka kembali ke barak pengungsian. Suara gelegar dari arah puncak serta luncuran awan panas membuat mereka khawatir dengan keselamatannya. Selain itu hujan abu juga mengguyur pemukiman yang memang berada di area bahaya yang harus dikosongkan selama Merapi masih dalam kondisi 'awas'.

Warga Kampung Deles misalnya, dapat melihat dengan jelas luncuran awan panas dari kawah Merapi tersebut. Apalagi jarak antara kampung mereka dengan puncak tak lebih dari 5 km. Karena itu mereka khawatir jika luncuran awan panas mengarah ke pemukimannya yang berada tak jauh dari wana wisata di Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) tersebut.

Pantau Kesehatan Hewan

Sementara itu Dinas Pertanian Kabupaten Klaten menerjunkan 11 dokter hewan untuk memantau kesehatan ternak milik pengungsi Merapi yang merupakan harta kekayaan berharga bagi sebagian besar warga pengungsi. Tak kurang dari 9.000 ternak milik saat ini berada di kawasan rawan bencana.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Klaten, Sri Mulyaningsih, memaparkan jumlah hewan ternak milik warga di empat desa yang warganya terpaksa mengungsi sekitar 3.000 ekor sapi dan 6.000 ekor kambing. Hewan-hewan tersebut tetap berada di rumah pemilik masing-masing karena pemiliknya menolak jika hewan ternak dievakuasi. Alasannya untuk menghindari stres pada ternak.

"Ternak-ternak tersebut rawan terkena penyakit akibat debu vulkanik. Debu vulkanik dari letusan gunung bisa menyebabkan iritasi pada mata, pernafasan, kulit dan lambung ternak. Apalagi, pemiliknya tetap memberikan rumput yang terkena abu vulkanik untuk dikonsumsi ternak-ternak tersebut," ujar Mulyaningsih.

Namun warga punya alasan lain. Meskipun tim Satlak meyediakan jerami dan bekatul untuk ternak, warga tetap memberikan rumput hijau untuk ternak-ternak mereka. Alasannya, ternak tidak akan gemuk jika hanya diberi jerami dan bekatul.


(mbr/mad)