Tampilkan postingan dengan label Daerah Istimewa Yogyakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Daerah Istimewa Yogyakarta. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 November 2010

42 Tewas, 75.770 Mengungsi Karena Merapi

42 Tewas, 75.770 Mengungsi Karena Merapi


VIVAnews - Erupsi Gunung Merapi di perbatasan Jawa Tengah-Daerah Istimewa Yogyakarta mengakibatkan 42 orang tewas dan sedikitnya 75.770 orang mengungsi. Pengungsi terbanyak dari Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana melansir, sampai Selasa 2 November 2010 pukul 18.00, data pengungsi yang telah terhimpun sebanyak 21.782 jiwa di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta; 5.129 jiwa di Kabupaten Klaten, 37.233 jiwa di Kabupaten Magelang, dan 9.387 jiwa di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.

Sementara itu data korban meninggal di Kabupaten Sleman tercatat 39 orang dan 13 orang luka-luka. Sedangkan di Provinsi Jawa Tengah tercatat 3 orang meninggal dunia dan 1.699 orang luka/sakit, yang tersebar di 8 kecamatan.

Upaya penanganan yang dilakukan pada hari ini adalah melanjutkan pemenuhan kebutuhan dasar untuk pengungsi berupa makanan, selimut, tenda, MCK, alas tidur dan masker. Namun demikian masih ada beberapa tempat pengungsian yang membutuhkan tambahan sarana MCK.

Kondisi kesehatan pengungsi mulai terganggu penyakit seperti infeksi saluran pernafasan atas, gatal-gatal, penyakit otot dan pegal-pegal. Langkah-langkah yang telah dilakukan adalah perawatan dan pengobatan, penyuluhan ‘perilaku hidup bersih, perbaikan sanitasi lingkungan, perbaikan gizi, dan antisipasi datangnya penyakit. (sj)

http://id.news.yahoo.com/viva/20101103/tpl-42-tewas-75-770-mengungsi-karena-mer-fa55e98.html

Rabu, 27 Oktober 2010

Korban Awan Panas Dibawa ke Rumah Sakit

Korban Awan Panas Dibawa ke Rumah Sakit


REPUBLIKA.CO.ID,YOGYAKARTA--Dua korban awan panas Gunung Merapi warga Desa Kinarejo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa malam sudah berada di Rumah Sakit Panti Nugroho, Pakem. Dua wanita yang mengalami luka bakar cukup parah itu, belum diketahui identitasnya. "Tetapi yang satu sudah usia lanjut, sedangkan satunya lagi usianya sekitar 35 tahunan," kata salah seorang relawan yang keberatan disebut namanya, di Posko Utama Penanggulangan Bencana Gunung Merapi di Pakem, Sleman.

Ia mengatakan, luka bakar yang dialami kedua korban tersebut cukup parah. "Hampir sekujur tubuhnya melepuh karena terkena awan panas," kata relawan itu.

Menurut dia, sebagian wilayah Desa Kinarejo nyaris luluh lantak diterjang awan panas Merapi. "Belum bisa dipastikan apakah seluruh warga desa itu sudah mengungsi, atau masih ada yang bertahan di rumah masing-masing," katanya.

Oleh karena itu, tim SAR, tim Tanggap Siaga Bencana (Tagana), dan sejumlah personel TNI mulai naik ke atas, yaitu ke kawasan rawan bencana (KRB) III Merapi untuk melakukan evakuasi warga yang masih bertahan atau belum mengungsi. Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Surono, di Yogyakarta, Selasa malam, mengatakan, Gunung Merapi (2.965 mdpl) sudah masuk ke fase erupsi.

Awan panas dari puncak Gunung Merapi yang terjadi pada Selasa petang, arah luncurannya belum diketahui pasti, karena petugas Pos Pengamatan Gunung Merapi tidak bisa melihat akibat gunung tertutup kabut. Informasi dari Posko Utama Penanggulangan Bencana Gunung Merapi di Pakem, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), menyebutkan luncuran awan panas pertama terjadi sekitar pukul 17.02 WIB, kedua pada pukul 17.19, ketiga pukul 17.24 WIB, dan keempat pukul 17.34 WIB.

Jarak luncur kedua awan panas itu belum bisa diketahui, karena petugas di sejumlah Pos Pengamatan Gunung Merapi (PGM) kesulitan untuk melihat secara visual karena gunung berapi ini tertutup kabut. Petugas Pos PGM Kaliurang Triono mengatakan pihaknya tidak dapat melihat Merapi karena tertutup kabut. "Terima kasih atas informasinya, kami di sini tidak dapat melihat, mungkin benar itu adalah awan panas atau 'wedus gembel'," katanya.

http://id.news.yahoo.com/repu/20101026/tpl-korban-awan-panas-dibawa-ke-rumah-sa-97b2f71.html