Tampilkan postingan dengan label Wasior. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wasior. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 November 2010

KRI dr Soeharso Tiba di Wasior

Sabtu, 06/11/2010 09:39 WIB
KRI dr Soeharso Tiba di Wasior
Pengirim: Dispen Armatim - detikSurabaya

Istimewa


Surabaya - KRI dr Soeharso-990 Koarmatim tiba di lokasi bencana gempa Wasior, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat. Kapal jenis rumah sakit ini tiba setelah melakukan perjalanan 9 hari setelah berangkat dari Surabaya.

Dengan komandan kapal Letkol Laut (P) Heribertus Yudho Warsono dan Satgas Pemulihan dan Rehabilitasi pasca bencana, Satgas Kolonel Laut (P) Benny Sukandari langsung bongkar muat dibantu warga setempat. Bahkan sudah menerima 30 pasien yang perlu ditangani.

Kedatangan KRI dr Soeharso juga mendapat perhatian Bupati Teluk Wondama Alberth Torey dan pejabat setempat menyambut kedatangan 400 prajurit Marinir Zeni yang siap melaksanakan tugas di lapangan.

"Satgas ini juga menerjunkan satu peleton prajurit dari Yonkes 1 Marinir, Kendaraan Amfibi Pengangkut Artileri (Kapa), Angkutan Bermotor (Angmor) dan personel dari Bintal (Pembinaan Mental). Satgas ini membawa 80 dokter dan tenaga medis, termasuk dokter spesialis," kata Komandan KRI dr Soeharso.

Sementara barang-barang yang diturunkan berupa obat-obatan, biskuit 199 dos, kaos koresponden 1 dos, tenda peleton 5 set, tikar 2 karung, spanduk 10 buah, kantong plastik 100 buah, kaos 12 karung (3400 buah), mie instant 300 dos, sereal 100 boks, pakaian pantas pakai 2 karung 4 boks, sabun mandi 1 boks, genset 1 unit dan tenda peleton 1 set serta Biscuit Kraf Food 3386 dos.

(fat/fat)

Selasa, 12 Oktober 2010

Masa Tanggap Darurat Wasior Diperpanjang Hingga 18 Oktober

Senin, 11/10/2010 12:18 WIB
Masa Tanggap Darurat Wasior Diperpanjang Hingga 18 Oktober
Lia Harahap - detikNews


Kondisi di Wasior pasca banjir.



Jakarta
- Hingga H+7 bencana banjir, seratusan warga Wasior, Papua Barat, masih dilaporkan hilang oleh keluarganya. Oleh karena itu masa operasi tanggap darurat untuk evakuasi korban, diputuskan diperpanjang tujuh hari ke depan.

Demikian papar Menko Kesra Agung Laksono mengenai salah satu hasil rapat koordinasi penanganan Wasior pasca-banjir. Rapat yang diikuti para menteri bidang kesra, digelar di Kantor Menko Kesra, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta, Senin (11/10/2010).

"Operasi tanggap darurat akan kita perpanjang sampai tanggal 18 Oktober 2010. Fokuskan pada pencarian korban selamat dan evakuasi yang tewas," tegas Agung.

Berdasar laporan terakhir, timbunan endapan lumpur pasca banjir di Wasior saat ini relatif sudah surut. Kedalamannya juga jauh berkurang menjadi berkisar antara 60 cm sampai 1 meter dari sebelumnya yang mencapai 3 meter.

Jumlah korban hilang sebesar 123 orang dan korban tewas mencapai 147 orang. Sementara korban luka-luka berat dan ringan masing-masing 185 orang dan 535 orang.

"Jumlah pengungsi yang berada di Nabire 135 orang dan Manokwari 1.800 orang," sambung Agung.

Khusus operasi penganan para pengungsi, fokusnya lebih kepada pemenuhan kebutuhan air bersih untuk keperluan MCK dan mencegah menyebarnya penyakit menular. Pasokan air bersih segera dikirimkan ke pengungsian berikut tambahan personil tim medis.

"Alhamdulillah untuk makanan, obat dan air minum sudah banyak yang mengirimkan bantuan," jawabnya ditanya soal pasokan logistik pangan di pengungsian.

Menyinggung tudingan bahwa pemerintah lambat menggelar operasi tanggap darurat, Agung Laksono tegas membantahnya. Menurut dia sejak bencana banjir terjadi pada Senin pekan lalu, tim SAR dan BNPB Papua telah terjun ke lokasi untuk mengungsikan warga.

"Sejauh ini kita lihat penanganan berlangsung baik dan tidak tumpang tindih," tegasnya.

(lh/nrl)

Senin, 11 Oktober 2010

Wasior Langganan Banjir Bandang

Minggu, 10/10/2010 09:54 WIB

Wasior Langganan Banjir Bandang
Mega Putra Ratya - detikNews



Foto: AFP

Jakarta - Kawasan Wasior, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat, memang dikenal sebagai daerah yang rawan banjir bandang. Tercatat tiga kali banjir bandang berkekuatan besar menghempas pemukiman penduduk di distrik itu.


"Yang paling besar pada tahun 1955 dan 2008 pernah terjadi banjir bandang seperti ini, tapi tidak separah yang baru saja terjadi di tahun 2010," ujar Komandan Satuan Penanggulangan Darurat Pemprov Papua Barat, Sawaki, kepada wartawan di posko penampungan pengungsi di Manokwari, Minggu (10/10/2010).

Sawaki menuturkan, bencana banjir bandang sebelumnya juga tidak pernah memakan korban jiwa. Sebab kala itu penduduk Wasior tidak sebanyak sekarang.

"Banjir kemarin itu sangat dahsyat, karena sebelumnya tidak ada korban jiwa karena penduduknya sedikit," ujar Sawaki.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertambangan Pemerintah Provinsi Papua Barat, Robert Karma, mengaku belum menemukan indikasi banjir bandang karena adanya pembalakan liar. Menurutnya, musibah di Wasior murni karena faktor alam saja.

"Sejauh ini kita lihat dari pohon tumbang yang terbawa arus banjir bandang, tidak ditemukan adanya bekas potongan dari mesin potong kayu. Jadi kita belum bisa katakan ada pembalakan liar," terang Karma.

Menurut Karma, hutan di kawasan Wasior adalah hutan cagar alam. Perizinan untuk memotong pohon pun sangat sulit diperoleh.

"Belum lagi kalau dilihat dari keadaan geografisnya sangat sulit memasukkan alat berat kesana," ujarnya.

Banjir bandang di Wasior terjadi pada Senin 4 Oktober. Warga menceritakan, air yang datang bagaikan gelombang tsunami. Sedikitnya 59 orang tewas dan puluhan lainnya masih dicari.

(van/nrl)


Kamis, 07 Oktober 2010

Warga Korban Banjir di Wasior Butuh Bantuan Obat dan Makanan

Rabu, 06/10/2010 13:06 WIB

Warga Korban Banjir di Wasior Butuh Bantuan Obat dan Makanan
Indra Subagja - detikNews



Jakarta - Warga Wasior, Papua Barat, membutuhkan bantuan. Banjir bandang yang melanda kawasan itu membuat daerah itu luluh lantak. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan 59 orang tewas dan 27 orang hilang.


"Kebutuhan mendesak berupa tenda, obat-obatan, sembako, dapur umum dan selimut," kata Kepala Pusat Data dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Priyadi Kardono saat dihubungi detikcom, Rabu (6/10/2010).

Dia menjelaskan upaya penanganan kini masih dilakukan pemerintah provinsi bersama TNI dan Polri, dengan mengirimkan bantuan ke lokasi dengan menggunakan kapal TNI AL KRI Kalakay dengan membawa peralatan evakuasi dan membersihkan lumpur.

Kementerian Kesehatan dan BNPB juga telah mengirim bantuan logistik dan perlengkapan dengan pesawat Boeing 737 Cardig Air seberat 13,075 ton antara lain 3 tenda peleton, 80 tenda, tenda gulung 200 lembar, velbed 60 buah, dan sandang 500 paket.

"Selimut 100 lembar, tikar 100 lembar, Kidware 150 paket, Familykit 150 paket, makanan siap saji
2.250 paket, obat-obatan 2.500 kg. Kementerian Kesehatan juga akan mengirimkan tim medis, 7 orang," terangnya.

Bantuan BNPB Rp 200 juta juga telah diserahkan kepada Gubernur Papua Barat yang telah meninjau lokasi kejadian. Aparat BPBD Papua Barat juga telah menuju ke lokasi untuk melakukan pendataan sementara.

"Sampai saat ini data masih terus mengikuti perkembangan. Bupati dan wakil bupati beserta Muspida menjenguk pasien di RSUD Nabire. Armada heli dari Nabire masih melakukan evakuasi korban di tempat kejadian," tutupnya.

Bencana banjir bandang yang diduga akibat penggundulan hutan ini, terjadi pada Senin 4 Oktober. Penyebab banjir diperkirakan dari meluapnya air danau yang berada tepat di atas gunung Kota Wasior. Hujan deras memang turun sejak pukul 20.00 WIT, Minggu 3 Oktober hingga Senin dini hari.

(ndr/nrl)


3 Ribu Warga Masih Mengungsi Akibat Banjir di Wasior, Papua Barat

Rabu, 06/10/2010 18:10 WIB

3 Ribu Warga Masih Mengungsi Akibat Banjir di Wasior, Papua Barat
Andi Saputra - detikNews



Jakarta - 3 Ribu warga masih mengungsi akibat banjir bandang di Wasior dan Wondiwoi, Papua Barat. Mereka tersebar di Manokwari, Nabire dan distrik Oransbari.


Mereka mengungsi di tenda-tenda akibat rumahnya sudah tak layak huni akibat
diterjang banjir bandang.

"Selain itu, juga mencari tempat yang lebih nyaman. Hingga saat ini yang meninggal 64 orang dan 75 luka berat," kata Menko Kesra, Agung Laksono dalam konferensi pers di kantornya, Jalan Medan Merdeka, Jakarta, Rabu, (6/10/2010).

Selain masalah pengungsi, penanganan bencana juga masih terhambat jalan darat yang terputus. Selain itu jalur udara juga susah di jangkau karena bandara Wasior masih terendam lumpur.

"Jalan satu-satunya, kami kirimkan RS terapung KRI dr.Soehaso yang akan dikirim ke Teluk Wondama. Itupun harus dengan perjalanan 8 jam perjalanan laut. Semoga cuaca bagus sehingga bisa cepat sampai," harap Agung.

Bencana banjir juga menyebabkan 68 orang hilang dan 461 luka ringan. Pemerintah pusat dan Pemprov telah mengirimkan bantuan logistik tadi pagi menggunakan pesawat charter yang berisi obat-obatan dan makanan. Untuk mendistibusikan bantuan, dikerahkan juga KRI Kalay, KM Gracelia, KM Papua dan KM Delta Mas II.

"Masih dibutuhkan banyak bantuan terutama tenda dan makanan. Belum ada bantuan asing," tegasnya.

(asp/gun)


PMI: Korban Tewas Banjir Bandang Wasior Jadi 87 Orang

Kamis, 07/10/2010 11:11 WIB

PMI: Korban Tewas Banjir Bandang Wasior Jadi 87 Orang
Gagah Wijoseno - detikNews




Banjir di Wasior (AFP)

Jakarta - Korban tewas banjir bandang di Kota Wasior, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat, meningkat menjadi 87 orang. Banyak jenazah yang masih tertimbun longsor.


"Korban meninggal 87 orang, luka 837," ujar Sekretaris Palang Merah Indonesia (PMI) Papua Barat La Abidin dalam pesan singkat.

Data tersebut merupakan data hari ini, Kamis (7/10/2010) hingga pukul 06.30 WIT. Dari korban luka 837 orang, imbuhnya, 82 orang dirujuk ke rumah sakit dengan helikopter.

PMI masih terfokus pada evakuasi korban yang tertimbun longsor, pelayanan kesehatan dan pendataan di tempat pengungsian.

"Masyarakat masih trauma sehingga mengungsi ke Manokwari dan Nabire terutama jika hujan," imbuhnya.

Kebutuhan mendesak di lokasi bencana adalah sarung tangan tebal, kantong jenazah dan masker untuk mengangkat jenazah dari timbunan longsor yang mulai rusak kondisi tubuhnya (sudah 5 hari), air minum, selimut, jengel boat, Sensow, kendaraan roda 2 dan 4 untuk mengangkut logistik.

Sebelumnya data terakhir disampaikan Staf Khusus Presiden bidang Otda Velix Wanggai, Rabu (6/10/2010) malam bahwa korban tewas berjumlah 83 orang dan 64 orang masih hilang.

Velix juga menjelaskan, Kota Wasior mengalami kerusakan berat hingga 80 persen. Kondisi ini memaksa sedikitnya 4.000 orang mengungsi.

Pemerintah menyebutkan, banjir bandang yang terjadi awal pekan ini akibat dari pembalakan liar.


(nwk/nrl)