Rabu, 09 Maret 2011

Pagi Ini, Gunung Bromo 9 Kali Meletus

Pagi Ini, Gunung Bromo 9 Kali Meletus
Status Bromo saat ini siaga. Dengan rekomendasi tidak boleh memasuki kawasan radius 2 km.
RABU, 23 FEBRUARI 2011, 08:54 WIB
Arry Anggadha

VIVAnews - Gunung Bromo di Probolinggo, Jawa Timur hingga saat ini masih terus beraktivitas. Letusan terjadi susul menyusul. Kolom letusan berwarna kelabu kecoklatan. Mengepul dengan tekanan sedang dan kuat ke langit.

"Ketinggiannya mencapai 400 sampai 800 meter. Dan, condong ke arah timur dan timur laut. Letusan disertai suara gemuruh dan dentuman berkekuatan sedang, keras," terang Kepala Bidang Gempa Bumi dan Gerakan Tanah PVMBG Bandung, Gede Suantika Rabu, 23 Februari 2011.

Gede menambahkan, letusan juga disertai keluarnya lontaran material pijar serta bom-bom vulkanik yang melambung hingga ketinggian 300 meter. "Jatuhnya sejauh 500 meter dari pusat letusan," lanjutnya.

Data yang ada juga menunjukkan adanya gempa tremor letusan yang terjadi secara terus menerus dengan amplitudo 6-40 meter. "Pagi ini telah terjadi 9 kali letusan kuat dengan amplitudo 40 milimeter. Lama gempa 20-45 detik," kata Gede.

Status Bromo saat ini 'Siaga'. Dengan rekomendasi tidak boleh memasuki kawasan dalam radius 2 km dari pusat letusan.

Sementara, untuk cuaca di kawasan Bromo terpantau mendung, suhu udara 12 derajat celsius. Gede Suantika menjelaskan bahwa produk letusan ditinjau dari besar butirnya adalah jenis abu, pasir, lapili, krikil, dan bongkah batuan.

Penyebab letusan adalah gas gunungapi. Yakni, (uap air, gas belerang, gas karbon CO, CO2, gas klor, flor dan cianida). Untuk Bromo, gas uap air dan gas belerang lebih dominan.

Laporan: Tudji Martudji | Surabaya

• VIVAnews

Dampak Erupsi Bromo, APBD Tersedot Rp2,3 M

Dampak Erupsi Bromo, APBD Tersedot Rp2,3 M
Dana tak terduga juga dipakai untuk menanggulangi bencana lain yang mengiringi erupsi.
SENIN, 31 JANUARI 2011, 16:53 WIB
Ita Lismawati F. Malau

SURABAYA POST - Geliat Gunung Bromo sejak akhir 2010 hingga Januari 2011 ini menyedot anggaran relatif besar. Untuk penanggulangan dampak erupsi gunung setinggi 2.392 meter itu, APBD Kabupaten Probolinggo dari pos Dana Tak Terduga (DTT) tersedot sekitar Rp2,3 miliar.

”Dana sebesar itu dikeluarkan sejumlah satuan kerja (satker) untuk menanggulangi bencana erupsi Bromo,” ujar Asisten II Kabupaten Probolinggo, Ibrahim Muhammad, Senin 31 Januari 2011.

Ibrahim menambahkan, DTT juga digunakan untuk menanggulangi bencana lain yang mengiringi erupsi Bromo. Seperti diketahui, banjir lahar dingin dari dua sungai yang berhulu di Gunung Bromo --Kali Kedung Jambon dan Kali Paser-- mengakibatkan rusaknya rumah, jalan, jembatan, hingga areal pertanian di kawasan bawah (hilir). ”Juga angin puting beliung yang melanda Kecamatan Sumber,” ujarnya.

Di antara satker yang menyerap DTT, kata Ibrahim, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas PU Cipta Karya, Dinas PU Bina Marga, Bagian Umum, Dinas Kesehatan, dan Dinas Sosial.

Sementara itu, Dinas Perindustrian dan Perdagangan serta Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi yang terlibat jual-beli ternak warga Tengger tidak menyerap ABPD Kabupaten Probolinggo. Kedua satker itu menggunakan anggaran dari BPBD Jatim dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Ibrahim mengakui, anggaran dari BPBD dan BNPB turut menyokong APBD Kabupaten Probolinggo dalam penanggulangan bencana.

Dikatakan Ibrahim, DTT Rp 2,3 miliar itu ”belum apa-apa” dibandingkan dengan pekerjaan rumah (PR) besar setelah masa tanggap darurat dicabut per tanggal 22 Januari lalu. Pasca tanggap darurat itu, Pemkab Probolinggo harus menanggung dana relatif besar untuk rehabilitasi dan rekonstruksi akibat bencana Bromo.

Kepala BPBD Jatim, Siswanto, mengaku, hingga kini dana yang dikucurkan untuk penanggulangan Bromo belum diketahui. ”Meski di Probolinggo sudah memasuki masa rehabilitasi dan rekonstruksi, di daerah lain (Pasuruan, Lumajang, dan Malang) masih tanggap darurat. Nanti kalau sudah selesai semua, dananya akan kami rilis,” ujarnya.

Yang jelas, kata Siswanto, melalui BNPB disiapkan dana sekitar Rp 17,5 miliar. Dana sebesar itu bukan hanya untuk penanggulangan bencana di Probolinggo, melainkan untuk seluruh Jatim. Selain itu juga diperkuat dana dari APBD Jatim sebesar Rp 2 miliar.

Terkait besarnya dana yang harus dikeluarkan terkait masa rehabilitasi dan rekonstruksi akibat bencana Bromo, Bupati Probolinggo, Drs H Hasan Aminuddin Msi mengaku bakal menagih dana ke pemerintah pusat. ”Dulu kan pemerintah menjanjikan bakal menanggung semua dana untuk rehabilitasi dan rekonstruksi akibat bencana Bromo. Ya kami akan menagihnya melalui Pak Syamsul Ma’arif (Kepala BNPB),” ujarnya.

Berdasarkan data sementara dari camat-camat yang masuk ke BPBD Jatim, abu Bromo mengakibatkan rusaknya insfrastruktur, pertanian, rumah, hingga ternak dengan nilai kerugian total sekitar Rp 56,64 miliar.

Berdasarkan laporan dari Pemkab Probolinggo, kerugian terbesar akibat abu Bromo didominasi lahan pertanian di empat kecamatan (Sukapura, Sumber, Kuripan, dan Lumbang) yakni, Rp 52,15 miliar. Kerugian sebesar itu akibat rusaknya tanaman padi, kubis, sawi, jagung, kentang, wortel, tomat, seledri, cabe, tebu, ketela pohon, dan bawang daun/ Sedangkan kerugian atas kerusakan infrastruktur mencapai Rp3,3 miliar. (sj)

Laporan: Ikhsan Mahmudi

• VIVAnews

Selasa, 08 Maret 2011

Efek Pemanasan Global: Koloni Pinguin Raib

Efek Pemanasan Global: Koloni Pinguin Raib
Kasus ini ini merupakan kehilangan koloni penguin pertama yang terdokumentasi
SENIN, 7 MARET 2011, 17:10 WIB
Indra Darmawan

VIVAnews - Ini adalah efek nyata akibat pemanasan global yang terjadi di bumi. Sekelompok penguin yang biasa mendiami daerah semenanjung Antartika Barat kini raib secara misterius.

Walaupun sebelumnya sudah diperkirakan bahwa penguin adalah mahluk yang akan terimbas secara langsung oleh efek pemanasan global, namun kasus ini ini merupakan kehilangan koloni penguin pertama yang terdokumentasi.

Koloni ini sendiri ditemukan pertama kali pada 1948, di sebuah pulau bernama Emperor Island. Tercatat ada sekitar 150 pasang penguin di kelompok ini. Populasi koloni penguin terlihat stabil sampai 1970.

Namun, pada 1978, sebuah laporan memperlihatkan adanya penurunan drastis hingga pada akhirnya sebuah riset menemukan bahwa pulau itu kini telah kosong pada 2009.

Menurut perkiraan tim peneliti dari British Antarctic Survey, penguin-penguin dari Emperor harus berpindah dari daerah mereka berasal, karena perubahan kondisi es, dan secara rutin mereka akan pulang kembali ke kampung halaman mereka.

Namun, jumlah penguin yang pulang ke habitat asal mereka kian lama kian berkurang, hingga akhirnya koloni di tempat ini benar-benar hilang. "Ini merupakan pertanyaan besar yang belum terjawab," ujar Philip Trathan, ketua tim peneliti yang mengepalai konservasi biologi, seperti dikutip oleh situs LiveScience.

Hingga belum dapat diketahui apakah koloni penguin itu sekadar pindah tempat atau kini mereka telah mati.

Karang es adalah sesuatu yang sangat krusial bagi penguin. Kebanyakan penguin Emperor berbiak di karang es. Saat es mulai terbentuk pada musim gugur, penguin berkelompok membentuk koloni.

Di sana mereka kawin, bertelur, mengembang biakkan anak-anak, hingga pertengahan musim panas. Koloni penguin Emperor biasanya juga membuat sangkar di darat, walaupun beberapa laporan juga mengatakan bahwa mereka juga membangun rumah di es.

Penguin

Jadi, raibnya koloni penguin ini mengindikasikan bahwa berkembang biak di daratan adalah bukan alternatif yang baik. "Semenanjung Antartika Barat adalah tempat yang telah mengalami perubahan sangat besar," kata Trathan.

Kenaikan suhu di wilayah tidak pernah terjadi sebelumnya. Dari data yang dikumpulkan hingga sekitar 40 km dari tempat ini, temperatur udara telah meningkat.

Karang es di wilayah ini kini terbentuk semakin terlambat, namun mencair semakin dini. Ketiadaan karang es ini secara tidak langsung mengurangi keberadaan ikan, udang kecil, dan cumi-cumi yang mereka konsumsi.

Melalui penelitian yang telah dipublikasikan pada jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences pada 2009, menyimpulkan bahwa mencairnya es di Antartika bisa memperbesar peluang menurunnya populasi penguin hingga 95 persen atau lebih, pada tahun 2100.

• VIVAnews

Rabu, 02 Maret 2011

Akibat Ulah Manusia, Laut Banjir Ikan Teri

Akibat Ulah Manusia, Laut Banjir Ikan Teri
Dalam 40 tahun terakhir, biomassa ikan berukuran besar telah turun hingga 54 persen.
SELASA, 1 MARET 2011, 11:31 WIB
Muhammad Firman
Populasi ikan kecil seperti teri dan sarden naik drastis akibat ulah manusia yang mengonsumsi tuna dan ikan lain yang lebih besar. (nautilus-consultants.co.uk)

VIVAnews - Bagi ikan besar seperti tuna dan cod, seabad terakhir bukanlah masa-masa yang menggembirakan. Populasi mereka menukik tajam akibat penangkapan yang berlebihan. Menurut penelitian terbaru terhadap ekosistem kelautan di seluruh dunia, di saat yang sama, populasi ikan yang lebih kecil seperti sarden dan ikan teri melonjak hingga 130 persen.

Perubahan yang terjadi pada keseimbangan rantai makanan ini merupakan perubahan yang tidak sehat apalagi untuk jangka panjang. Para peneliti menyatakan, salah satu cara untuk mengatasinya adalah perubahan pola konsumsi manusia, dari memakan ikan yang menjadi predator ke spesies lain yang ada di bagian bawah rantai makanan.

Sekelompok peneliti yang dipimpin Villy Christensen dari University of British Columbia, Kanada menganalisa sekitar 200 jaringan makanan di seluruh dunia. Menggunakan pemodelan, mereka menggambarkan ekosistem kelautan di berbagai periode waktu dari tahun 1880 sampai 2007.

Seperti dikutip dari Sciencemag, 1 Maret 2011, Christensen dan timnya kemudian memperkirakan distribusi biomassa di dalam ekosistem – misalnya berapa ton jumlah tuna atau udang – lalu mengekstrapolasi untuk menghitung jumlahnya di seluruh samudera.

Hasilnya, meski pada saat ini peneliti belum bisa menentukan jumlah absolutnya, biomassa ikan berukuran besar telah menurun hingga dua pertiganya dalam 100 tahun terakhir. Dalam 40 tahun belakangan, biomassa mereka turun hingga 54 persen meski penurunannya tidak separah pada 2 dekade lalu.

Yang tidak mengherankan, ikan-ikan yang sebelumnya menjadi mangsa ikan-ikan besar mengalami peningkatan. Biomassa mereka meningkat hingga 0,85 persen per tahun. Dan selama abad terakhir, angkanya telah berlipat ganda.

“Samudera kini sudah sangat berbeda,” kata Christensen. “Di banyak tempat, ikan kecil ini masih menjadi makanan, namun di kawasan seperti barat daya Afrika dan tempat lain, pemangsa ikan-ikan kecil itu sudah tergantikan,” ucapnya.

Christensen menyebutkan, dengan memilih makan sarden, ikan teri dan sejenisnya dan tidak memakan ikan todak, misalnya, manusia bisa menyelamatkan populasi para predator utama di rantai makanan yang kini kian menyusut.

Perubahan pada biomassa laut ini, kata Michael Hirshfield, Chief Scientist of the Advocacy Group Oceana, Washington, sangatlah mengkhawatirkan. “Populasi ikan kecil cenderung meledak dan kemudian rusak – membuat ekosistem menjadi tidak stabil,” ucapnya. “Apalagi jika predator yang ada di atasnya telah musnah,” ucapnya. (umi)

• VIVAnews

Selasa, 01 Maret 2011

Largest earthquake in 35 years hits Arkansas

Largest earthquake in 35 years hits Arkansas

A seismic chart illustrating earthquake activity at Woolly Hollow State Park on Feb. 16. (AP/Arkansas Geological Survey)

GREENBRIER, Ark. – The central Arkansas town of Greenbrier has been plagued for months by hundreds of small earthquakes, and after being woken up by the largest quake to hit the state in 35 years, residents said Monday they're unsettled by the increasing severity and lack of warning.

The U.S. Geological Survey recorded the quake at 11 p.m. Sunday, centered just northeast of Greenbrier, about 40 miles north of Little Rock. It was the largest of more than 800 quakes to strike the area since September in what is now being called the Guy-Greenbrier earthquake swarm.

The activity has garnered national attention and researchers are studying whether there's a possible connection to the region's natural gas drilling industry. The earthquake activity varies each week, though as many as nearly two dozen small quakes have occurred in a day.

"You don't know what to expect. It's unnerving," said Corinne Tarkington, an employee at a local flower and gift shop. "I woke up last night to the sound of my house shaking."

What woke Tarkington was a magnitude 4.7 earthquake that was also felt in Oklahoma, Missouri, Tennessee and Mississippi. No injuries or major damage have been reported, but the escalation in the severity of quakes in and around the small north-central Arkansas town has many residents on edge. Some said they're seeing gradual damage to their homes, such as cracks in walls and driveways.

"We probably had 40 to 50 calls last night," Greenbrier police Sgt. Rick Woody said, noting that the tone of the calls had changed. After pervious quakes, most callers simply wanted to find out if a loud noise they'd heard was an earthquake, he said.

"The fear had calmed down until last night," Woody said Monday. "People's biggest concerns (now) are whether or not these earthquakes are going to get any bigger."

Scott Ausbrooks, seismologist for the Arkansas Geological Survey, said Sunday's record quake was at the "max end" of what scientists expect to happen, basing that judgment on this swarm and others in the past. It's possible that a quake ranging from magnitude 5.0 to 5.5 could occur, but anything greater than that is highly unlikely, he said.

Ausbrooks said he plans to hold a town hall meeting in Greenbrier next month to address people's concerns.

"This quake actually scared folks," he said. "It lasted longer than a lot of the others did."

Ausbrooks said scientists continue to study whether there may be a connection between the earthquakes and local injection wells, where the natural gas industry pumps waste water that can no longer be used by drillers for hydraulic fracturing. Fracturing, or "fracking," involves injecting pressurized water to create fractures deep in the ground to help free the gas.

Geologists don't believe the fracturing is the problem, but possibly the injection wells.

A major source of the state's natural gas is the Fayetteville Shale, an organically-rich rock formation in north-central Arkansas. A six-month moratorium was established in January on new injection wells in the area to allow time to study the relationship — if any — between the wells and the earthquakes.

In Greenbrier, many residents are starting to notice gradual damage. Tarkington said her house has started to show cracks in ceilings and walls.

"You can see the wear and tear on our houses," she said. "I wish they'd go away."

Taylor Farrell, 29, a Greenbrier resident and employee at a local flea market, said a large crack formed in her driveway several months ago, and as the earthquakes continue, the crack has spread into her garage.

She said she and her husband had removed everything from the walls of their house, including family photos and television sets, because many photos had fallen in recent quakes.

"Other than that, there's really not much more you can do," she said. "It's Mother Earth. It's going to do what it's going to do. All we can do is wait for the big one and hope and pray it doesn't happen."

http://news.yahoo.com/s/ap/20110301/ap_on_re_us/us_arkansas_earthquakes