Tampilkan postingan dengan label Aktivitas Gunung Merapi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aktivitas Gunung Merapi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 November 2010

Belum Ada Tanda Merapi Akan Mereda

Belum Ada Tanda Merapi Akan Mereda
Saat ini ada 19 gunung yang berstatus Waspada, termasuk Anak Krakatau.
SENIN, 1 NOVEMBER 2010, 16:51 WIB
Ita Lismawati F. Malau, Bayu Galih

VIVAnews - Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Surono, hari ini menghadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Dia melaporkan perkembangan dan aktivitas sejumlah gunung berapi di wilayah Indonesia, termasuk Gunung Merapi.

Surono mengatakan gunung yang terletak di perbatasan Yogyakarta dan Jawa Tengah itu belum memberikan tanda-tanda akan diam. "Belumlah. Tadi juga meletus," kata dia kepada wartawan di kantor Presiden, Senin 1 November 2010. "Saya mesti siap-siap nih. Masih awas."

Laporan yang dia sampaikan ke Presiden termasuk persiapan-persiapan yang dilakukan petugas. Sejak 2007, kata dia, Vulkanologi dan Mitigasi sudah bekerja sama dengan pemerintah daerah bagaimana mengantisipasi Merapi. "Sampai keadaaan terkini."

Hari ini, kata dia, penjaga pos pemantau Merapi sudah disuruh turun menyusul letusan yang terjadi tadi pagi. Surono tidak mau mengambil resiko karena kondisi awan panas sudah membahayakan. "Masak kita harus mati," kata dia.

Surono juga menjelaskan bahwa aktivitas gunung berapi tidak saling mempengaruhi satu sama lain. Hal ini sekaligus menjawab perdebatan di masyarakat yang menyebutkan peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau akibat Merapi. "Status Anak Kratakau itu sudah lama Waspada. Dia kan engga naik-naik kelas sebelum Merapi berstatus Waspada," kata dia.

Saat ini, sambungnya, ada 19 gunung berapi yang berstatus Waspada dan dua Siaga. Dua gunung yang siaga adalah Gunung Ibu di Halmahera dan Karangetang di Maluku Utara. "Wajarlah, orang Indonesia punya gunung berapi terbanyak di dunia."

• VIVAnews



Belum Ada Tanda Merapi Akan Mereda

Belum Ada Tanda Merapi Akan Mereda
Saat ini ada 19 gunung yang berstatus Waspada, termasuk Anak Krakatau.
SENIN, 1 NOVEMBER 2010, 16:51 WIB
Ita Lismawati F. Malau, Bayu Galih

VIVAnews - Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Surono, hari ini menghadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Dia melaporkan perkembangan dan aktivitas sejumlah gunung berapi di wilayah Indonesia, termasuk Gunung Merapi.

Surono mengatakan gunung yang terletak di perbatasan Yogyakarta dan Jawa Tengah itu belum memberikan tanda-tanda akan diam. "Belumlah. Tadi juga meletus," kata dia kepada wartawan di kantor Presiden, Senin 1 November 2010. "Saya mesti siap-siap nih. Masih awas."

Laporan yang dia sampaikan ke Presiden termasuk persiapan-persiapan yang dilakukan petugas. Sejak 2007, kata dia, Vulkanologi dan Mitigasi sudah bekerja sama dengan pemerintah daerah bagaimana mengantisipasi Merapi. "Sampai keadaaan terkini."

Hari ini, kata dia, penjaga pos pemantau Merapi sudah disuruh turun menyusul letusan yang terjadi tadi pagi. Surono tidak mau mengambil resiko karena kondisi awan panas sudah membahayakan. "Masak kita harus mati," kata dia.

Surono juga menjelaskan bahwa aktivitas gunung berapi tidak saling mempengaruhi satu sama lain. Hal ini sekaligus menjawab perdebatan di masyarakat yang menyebutkan peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau akibat Merapi. "Status Anak Kratakau itu sudah lama Waspada. Dia kan engga naik-naik kelas sebelum Merapi berstatus Waspada," kata dia.

Saat ini, sambungnya, ada 19 gunung berapi yang berstatus Waspada dan dua Siaga. Dua gunung yang siaga adalah Gunung Ibu di Halmahera dan Karangetang di Maluku Utara. "Wajarlah, orang Indonesia punya gunung berapi terbanyak di dunia."

• VIVAnews

Jumat, 29 Oktober 2010

Masyarakat Diminta Jangan Meninggalkan Pengungsian

Masyarakat Diminta Jangan Meninggalkan Pengungsian


Liputan6.com, Sleman: Ketua Pusat Vulkanologi, Mitigasi, dan Bencana Geologi Surono meminta masyarakat jangan dulu meninggalkan pengungsian. "Jangan buru-buru pulang ke rumah," kata Surono di daerah Kali Kuning, Pakem, Sleman, Yogyakarta, Jumat (29/10) siang.

Permintaan Surono ini lantaran aktivitas Gunung Merapi belum menurun. "Masih awas," ucap surono. Namun demikian, dia berharap letusan pada 26 Oktober lalu merupakan puncak erupsi gunung paling aktif di dunia ini. "Saya berharap 26 Oktober lalu sebagai puncaknya," ucapnya.

Lebih jauh Surono mengatakan, setelah 26 Oktober, pihaknya sempat tak bisa membaca aktivitas Merapi. "Saya kehilangan bahasa Merapi, saya tak tahu dia (Merapi) maunya apa," ujar dia.

Bahasa Merapi mulai nampak saat muncul titik api pada tadi malam. "Udah mau membuka diri, ada api, dia menandakan aktivtas udah sampai permukaan," kata Surono.

Selain mengimbau warga tetap waspada, Surono juga minta para wartawan untuk tak memaksakan diri naik ke atas. "Jangan karena ingin membuat yang eksklusif, melupakan keselamatan," ucapnya.(BOG)

http://id.news.yahoo.com/lptn/20101029/tid-masyarakat-diminta-jangan-meninggalk-e390447.html

Sabtu, 23 Oktober 2010

Aktivitas Gunung Merapi Tak Lazim

Aktivitas Gunung Merapi Tak Lazim
Jumat, 22 Oktober 2010 | 23:13 WIB
KOMPAS/WAWAN H PRABOWO
Luncuran lava pijar disertai awan panas dari Gunung Merapi saat aktivitasnya meningkat beberapa waktu lalu.
TERKAIT:

MAGELANG, KOMPAS.com - Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta Subandriyo mengatakan, perkembangan aktivitas vulkanik Gunung Merapi saat ini tidak lazim. Tanda-tanda menuju letusan tidak seperti masa menjelang puncak erupsi beberapa tahun terakhir.

"Perubahan aktivitasnya sangat cepat menuju puncak kritis," kata Subandriyo usai mengikuti rapat koordinasi penanggulangan bencana Gunung Merapi di perbatasan antara Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta itu, di Magelang, Jumat (22/10/2010).

Tanda-tanda erupsi kali ini berbeda dengan letusan tahun 2006. Masa erupsi Merapi yang terakhir pada pertengahan 2006 antara lain ditandai dengan semburan awan panas, luncuran lava pijar, dan hujan abu secara intensif.

Subandriyo menyatakan, kondisi Merapi saat ini semakin kritis antara lain ditandai dengan peningkatan secara mencolok aktivitas vulkanik gunung setinggi sekitar 2.965 meter dari permukaan air laut itu. Frekuensi gempa vulkanik Merapi saat ini hingga 50 kali per hari, sedangkan gempa multiphase 479 kali. "Baik secara deformasi maupun seismik peningkatan aktivitasnya sangat tajam," katanya.

Perkembangan aktivitas Merapi itu tanpa disertai dengan gejala yang terlihat di permukaan. Namun, menurut dia, perkembangan itu mirip dengan sejumlah tanda menjelang erupsi Merapi pada 1997. Ia mengatakan, pusat energi gempa vulkanik Merapi saat ini di kedalaman antara satu hingga tiga kilometer dari puncak Merapi. Adanya perubahan menuju pembentukan kubah lava baru sebagai akibat gerakan magma dari dalam gunung yang mendekati puncak Merapi.

Gerakan magma itu, katanya, diperkirakan mengelompok di bagian timur laut dan barat daya dari puncak Merapi. Tapi, hingga saat ini, katanya, belum bisa dipastikan arah longsoran material vulkanik dari puncak Merapi. Karenanya, perlu respons secara serius berbagai pihak antara lain masyarakat dan pemerintah daerah yang memiliki wilayah Gunung Merapi yakni Kabupaten Magelang, Klaten, Boyolali (Jateng) dan Sleman (Daerah Istimewa Yogyakarta).

"Karena ada kemungkinan erupsi tidak lazim atau di luar letusan Merapi yang normal seperti beberapa tahun terakhir," katanya.

BPPTK sejak Kamis (21/10/2010) pukul 18.00 WIB menaikkan status aktivitas vulkanik Gunung Merapi dari waspada menjadi siaga. Status gunung berapi ditandai dengan aktif normal, waspada, siaga, dan awas.

Editor: Tri Wahono | Sumber: ANT