Tampilkan postingan dengan label Jakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jakarta. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 November 2011

Firdaus Ali: Penurunan Muka Tanah Tak Terkendali, Jakarta Bisa Tenggelam

Minggu, 06/11/2011 18:16 WIB 

Firdaus Ali: Penurunan Muka Tanah Tak Terkendali, Jakarta Bisa Tenggelam

M. Rizal - detikNews





Jakarta - Permukaan tanah di DKI Jakarta kian turun setiap tahunnya, diakibatkan tingginya laju ekstraksi air tanah dalam yang sudah melewati batas. Kalau ini tidak diatasi secara serius, maka dalam tempo 40 tahun ke depan, Jakarta diprediksi akan benar-benar tenggelam.

"Jika tidak segera ditangani, kota ini akan tenggelam secara perlahan dan pasti. Ketika laju penurunan muka tanah kita terus tidak terkendali, dalam saat bersamaan permukaan air laut juga naik secara signifikan sebagai dampak dari pemanasan global," kata Direktur Eksekutif Indonesia Water Institute, Firdaus Ali.

Sebenarnya menurut Firdaus, kondisi penurunan tanah akibat penggunaan air tanah yang kelewat batas ini tidak hanya terjadi di Jakarta. Tapi di sejumlah kota di beberapa negara juga terjadi.

"Saya punya referensi yang kuat dengan apa yang terjadi di Mexico City hampir 80 tahun lalu dan di Bangkok City 30 tahun lalu. Kota-kota besar di Jepang seperti Tokyo, Yokohama, dan Osaka punya pengalaman yang sama," ungkapnya.

Berikut wawancara lengkap detikcom dengan Firdaus Ali, yang juga pengamat dari Universitas Indonesia, Minggu (6/11/2011):

Betulkah permukaan tanah di Jakarta setiap tahun turun? Dan bagaimana prediksi Dari IWI?

Saya yakin tidak ada yang sanggup membantah fakta yang dan sedang bahkan mungkin sepertinya masih akan berlansung dalam beberapa dekade (jika tidak juga ada upaya segera untuk menghentikan laju turunnya muka air tanah dan muka tanah di wilayah ibukota NKRI ini. Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) dengan segenap anggotanya yang dalam hal ini merupakan pakar dalam masalah geologi wilayah DKI Jakarta justru selalu berdiskusi dengan saya dalam rangka mencari upaya terobosan dari aspek teknik dan non-teknik untuk mencegah tenggelamnya ibukota ini.

Kita sempat sedikit berbeda pandang dalam menilai faktor penyebab turunnya muka tanah di Jakarta. Prof Lambok Hutasoit dan kawan-kawan Geoogi ITB mengatakan bahwa setidaknya ada 4 penyebab tingginya laju penurunan muka tanah di Jakarta dan sekitarnya Pertama adalah karena sifat atau karakteristik geologi tanah di wilayah ibukota yang merupakan lapisan akumulasi endapan (quarter) sedimen yang belum stabil (terus mengalami proses konsolidasi) pada kawasan pantai yang berlansung ribuan tahun lalu yang akhirnya membentuk wilayah delta (makanya Jakarta juga digolongkan sebagai kota delta/delta city).

Karena adanya beban statis (bangunan) dan dinamis (beban bergerak seperti kendaraan bermotor) yang mempercepat terjadinya proses pemadatan lapisan tanah. Ketiga adalah karena adanya gaya teknonis yang menyebabkan getaran dan pergerakan lapisan kulit bumi/tanah yang juga dapat menyebabkan terjadinya penurunan muka tanah. Keempat adalah akibat sangat tingginya laju ekstraksi air tanah (khususnya air tanah dalam) yang sudah melewati daya dukungnya (melebihi kemampuan pengisian kembali).

Alasan yang ke 4 yang saya pegang dan yakini sepenuhnya sebagai faktor penyebab tingginya laju penurunan muka tanah di ibukota. Saya punya referensi yang kuat dengan apa yang terjadi di Mexico City hampir 80 tahun lalu dan di Bangkok City 30 tahun lalu. Kota-kota besar di Jepang seperti Tokyo, Yokohama, dan Osaka punya pengalaman yang sama.

Titik daerah mana saja di Jakarta yang paling rawan bahaya amblas tanah di Jakarta? Daerah mana yang paling rawan dari semua itu? Berapa persen, inci, centimeter penurunnya tiap tahun?

Berdasarkan faktor penyebab yang sudah saya jelaskan di atas, pada dasarnya hampir seluruh wilayah Jakarta rawan terhadap turun muka tanah yang dapat memicu terjadinya pelemahan pada sistem struktur tanah dan akan berdampak pada daya dukung tanah itu sendiri terhadap bangunan yang ada diatasnya. Amblesan merupakan bentuk hilangnya daya dukung tanah terhadap bangunan yang ada diatasnya.

Pantai utara Jakarta, baik Jakarta Utara, Jakarta Timur bagian utara, Jakarta Barat bagian Utara dan Jakarta Pusat bagian utara merupakan kawasan yang selama ini sudah menunjukan kondisi kritis terkait dengan turunnya muka tanah. Beberapa kawasan yang laju penurunan muka tananya sudah sangat mengkuatirkan di antaranya adalah Muara Baru, Kelapa Gading, Marunda, Kemayoran, Pasar Ikan, Pluit, Ancol, Gunung Sahari, Mangga Dua, Pantai Mutiara, Meruya, Sudirman-Thamrin, Klender, dan masih banyak kawasan lain yang masih menunjukkan tren penurunan muka tanah yang tinggi.

Kalau ini tidak tertangani bagaimana? Apa yang harus dilakukan pemerintah khususnya Pemprov DKI Jakarta, masyarakat atau pengusaha dan pemerhati masalah ini?

Jika tidak segera ditangani, kota ini akan tenggelam secara perlahan dan pasti. Ketika laju penurunan muka tanah kita terus tidak terkendali, dalam saat bersamaan permukaan air laut juga naik secara signifikan sebagai dampak dari pemanasan global.

Pengendalian banjir di Ibu Kota tidak akan pernah berhasil, karena begitu titik genangan yang ada kita hilangkan, dalam saat bersamaan titik genangan baru akan bermunculan. Jalan-jalan ibukota yang sudah menjadi neraka bagi penggunanya setiap hari mulai dari subuh hingga larut malam (tanpa adanya hujan), akan semakin lumpuh dengan bermunculannya titik-titik genangan baru.

Drainase yang didesain 30-40 tahun lalu sudah tidak memiliki kemiringan (slope) yang normal lagi, karena pada banyak tempat sudah menekuk (seperti patah) akibat terjadinya penurunan muka tanah sehingga tidak lagi bisa mengalirkan air secara normal ke saluran pengumpul (jaringan makro drainase yang juga sudah menjadi tempat pembuangan sampah dan akumulasi sedimen). Inilah yang kemudian saya sebut bahwa kota ini akan kelelep atau bahasa teknisnya tenggelam menjelang 2012.

Apa yang harus dilakukan oleh kita semua?

Saya kata semua karena ini merupakan tunas kita bersama, tidaknya hanya pemerintah, tetapi juga masyarakat dan dunia usaha. Pertama adalahhentikan segera tindakan ekstraksi air tanah dalam yang ada. Untuk bisa menghentikan ektrasksi (moratorium) pemerintah perlu segera dan segera menyediakan air bersih perpipaan yang dapat memenuhi hampir seluruh kebutuhan air bersih perkotaan di DKI Jakarta ini.

Air bersih yang saya maksud adalah air bersih yang pelayananya prima tingkat kebocorannya rendah, kualitasnya benar-benar air minum, harganya terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Terkait dengan air bersih/minum ini kita punya persoalan serius, karena air baku kita kritis dan 97,8% tergantung dari suplai dari luar ibu kota. Ini adalah tragedi kemanusiaan karena kota yang dilewati oleh 13 sungai, karena ulah perilaku masyarakatnya yang super primitif akhirnya menjadi tempat pembuangan limbah sehingga tidak satu sungai/kalipun yang layak dijadikan air baku untuk air bersih oleh PAM Jaya (bayangkan).

Saya sebagai akademisi sudah berkali-kali memberikan peringatan, sebagai profesional dan anggota dewan sumber daya air provinsi DKI jakarta dan sebagai badan regulator pelayanan air minum DKI Jakarta telah mencoba memberikan beberapa usulan pemecahan yang sifatnya strategis dan berkelanjutan kepada pemerintah (pusat dan DKI) untuk memastikan water security ibukota NKRI ini segera ditingkatkan.

Pusat tidak bisa membiarkan Jakarta jalan sendiri menyelesaikan masalah pengelolaan SDA (kelangkaan air baku, pengendalian banjir, pengelolaan limbah cair perkotaan, dan pengendalian ekstraksi air tanah dalam). Karena Jakarta bukan hanya ibukota provinsi DKI Jakarta, tetapi juga berfungsi sebagai Ibukota NKRI berdasarkan UU No 29 tahun 2007. Saya menuji apa yang dilakukan oleh Pemerintah Mexico City 60 tahun lalu dan Bangkok 20 tahun lalu dalam mencegah kotanya tidak ambles dan tenggelam. Bagaimana dengan Jakarta dan Indonesia?

(zal/vit)

Senin, 31 Oktober 2011

Hadapi Banjir, Jakarta Minim Peringatan Dini


Hadapi Banjir, Jakarta Minim Peringatan Dini

Padahal sistem ini sangat dibutuhkan untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan

SENIN, 31 OKTOBER 2011, 15:39 WIB
Desy Afrianti, Dwifantya Aquina
VIVAnews - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyatakan penyebab banjir besar di RW 03 Kelurahan Pondok Labu, Cilandak, Jakarta Selatan kemarin malam disebabkan curah hujan lokal yang tinggi. Ini mengakibatkan luapan air di Kali Krukut sehingga terjadi banjir.


Kepala Bidang Tata Air Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta, Tarjuki, menjelaskan curah hujan tinggi di wilayah hulu yang terjadi semalam mencapai 108 milimeter per jam. Padahal, curah hujan normal hanya pada angka 5-10 milimeter per jam.


"Curah hujan tinggi ini menyebabkan ketinggian air mencapai 150 sentimeter sehingga menggenangi wilayah RT 09, RT 10, RT 11, RT 12, dan RT 14," kata Tarjuki dalam jumpa pers di Balaikota DKI Jakarta, Senin, 31 Oktober 2011.


"Air mencapai puncaknya pada pukul 23.00 pada ketinggian 200 sentimeter di RT 11. Ini baru hujan lokal, belum kiriman," imbuhnya.


Dia mengakui selama ini tidak memiliki sistem peringatan dini untuk mengantisipasi bencana banjir di Jakarta.
Padahal sistem ini sangat dibutuhkan untuk mencegah hal-hal yang tak diinginkan, seperti banjir sedalam 1,5-2 meter yang melanda kawasan pemukiman di Pondok Labu, Minggu malam 30 Oktober 2011.


"Kami baru akan memasang peringatan dini tahun ini, karena lelangnya baru selesai tahun ini," ungkap Tarjuki.
Dia menjelaskan Dinas PU telah memiliki program pembuatan waduk di sekitar Kali Krukut untuk mencegah banjir. Rencananya tanah yang akan dibebaskan seluas 1,7 hektar.
Namun saat ini baru seluas 9000 meter yang berhasil dibebaskan, sedangkan sisanya akan dilakukan tahun depan.


"Sambil menunggu pembuatan waduk, kalau Dinas Pertamanan setuju November ini akan dibuat sodetan, bentuknya melengkung di lahan yang sudah kita bebaskan, lalu dibuang lagi ke Kali Krukut," terangnya.


Dia mengklaim antisipasi genangan air Jakarta tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya.


"Pada 2007 ada 78 genangan. Setelah ada Kanal Banjir Timur kini telah berkurang 16 titik banjir. Saat ini hanya tinggal 62 titik lagi yang akan kami selesaikan bertahap," ungkap dia.


Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana DKI Jakarta, Paimin Napitupulu, menerangkan saat ini untuk kebutuhan logistis bagi korban bencana banjir Pondok Labu sudah didistribusikan.


Kini terdapat sedikitnya lima perahu karet yang disedikan oleh Dinas Damkar, Satpol PP dan Tim SAR. Kemudian tiga unit tenda pleton dan satu unit tenda dapur umum, ditambah satu mobil dapur umum juga telah didistribusikan ke lokasi penampungan.
Operasikan Pos
Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Dien Emawati, menyatakan dua pos kesehatan telah dioperasikan, dan ketersediaan konsumsi juga dipastikan mencukupi.


"Tadi pagi sudah kami sediakan 700 bungkus, hingga siang ini kira-kira sudah 1.000 bungkus nasi. Sedangkan air bersih dan makanan bayi dalam proses pengiriman, mengingat ada sekitar 235 balita di sana," jelasnya.


Dien mengungkapkan pihaknya telah menangani sebanyak 23 pasien, semua biaya pengobatan gratis. Tenaga medis sendiri ada sebanyak dua orang.
Apabila ada pasien yang harus mendapat penanganan di Rumah Sakit, Dinkes telah menyiapkan empat RS, yakni RS Fatmawati, RS Marinir Cilandak, RS Pertamina, dan RS Pasar Rebo. (ren)
• VIVAnews

Kamis, 19 Mei 2011

Jakarta Dikepung Pusat Gempa

Jakarta Dikepung Pusat Gempa
Di sekitar Jakarta terdapat 10 pusat gempa. Sesar Sunda, sesar Sukabumi, hingga sesar Opak
Rabu, 18 Mei 2011, 21:06 WIB
Elin Yunita Kristanti, Ronito Kartika Suryani, Dwifantya Aquina
Panik gempa di Jakarta (ANTARA/Andika Wahyu)

VIVAnews – Isu mengejutkan itu beredar liar melalui pesan pendek (SMS) dan Blackberry Messenger: Jakarta akan diguncang gempa dahsyat 8,7 skala Richter. Informasi itu merujuk pernyataan yang disampaikan Staf Khusus Presiden bidang Bantuan Sosial dan Bencana, Andi Arief soal potensi lindu di ibu kota.

Namun, Andi membantah bahwa ia memastikan Jakarta bakal diguncang gempa besar. “Dalam beberapa kesempatan tidak pernah saya menyebut Jakarta akan diguncang gempa, tapi Jakarta dipengaruhi gempa yang terjadi di daerah sekitarnya,” kata dia di kantor staf khusus presiden, Rabu 18 Mei 2011.

Meski demikian, soal potensi gempa ibu kota, bukan sekedar omong kosong, melainkan berdasarkan hasil penelitian ilmiah. “Yang bisa mematahkan ini adalah hasil penelitian,” kata Andi. “Selama tidak ada, saya kira kita harus mempercayainya dan ini kenyataan.”

Ditilik dari sejarahnya, Jakarta pernah diguncang gempa besar pada 1699, 1752, 1722, dan 1757. Pusat gempa berada di luar Jakarta. Soal pengaruh gempa, Andi mencontohkan, gempa yang terjadi di Kota Meksiko pada 1985. Kala itu, ibu kota hancur akibat gempa 8,1 skala Richter. Penelusuran VIVAnews, saat itu 10.000 orang tewas akibat tertimpa reruntuhan gedung yang runtuh. Total kerugian yang diderita pemerintah negara itu mencapai lebih dari US$4 juta dollar. Padahal, jarak antara Kota Meksiko dengan pusat gempa relatif jauh, 379 kilometer.

Bandingkan dengan jarak antara Selat Sunda dengan Jakarta yang tidak sampai 200 kilometer. Apalagi, ada kesamaan antara Kota Meksiko dengan Jakarta. “Struktur tanahnya sama, labil," kata dia. Terlebih lagi di Jakarta Utara yang merupakan tanah bekas reklamasi. “Gampang-gampangan saja. Kalau 5,1 SR goyang, masa 8 koma tidak goyang,” kata dia.

Bukannya menjadikan informasi ini sebagai sebuah kontroversi, yang terpenting justru mengantisipasi kemungkinan terburuk. Apalagi Jakarta adalah kota utama, segala urusan negara ini tumplek di ibu kota. "Lebih baik kita ambil hikmahnya untuk persiapan mitigasi,” kata Andi.

Bisa dicontoh apa yang dilakukan Amerika Serikat dan Jepang. Jauh-jauh hari dua negara itu sudah memprediksi bakal ada gempa besar. “Beberapa dokumen-dokumen penting sudah disimpan di tempat-tempat emergency plan,” ujar mantan aktivis 98 itu.

Bagaimana dengan reaksi masyarakat yang panik akibat informasi tersebut? Dikatakan Andi, kepanikan masyarakat justru pertanda baik, mereka masih peduli dengan nasibnya. Justru mengherankan jika reaksi warga tenang-tenang saja. “Saya bersyukur ada yang panik,” kata Andi.

Tak cukup panik sesaat, masyarakat juga harus bertindak. Menjadikan hasil penelitian ilmiah sebagai dasar upaya antisipasi. Justru salah jika informasi sepenting ini dipendam, tanpa diketahui masyarakat. “Ibarat perang, bukan hanya TNI/ Polri, tapi masyarakat juga tahu agar bersama sama menyiapkan diri," ujar Andi.

Reaksi Gubernur Sumatera Barat yang mengindahkan hasil penelitian dan bersiap menghadapi potensi gempa bisa jadi inspirasi. "Sumbar mempercayai itu (penelitian ilmiah) sekarang pindah ibukota, 15 kilometer menjauhi pantai," kata dia. Selain itu antisipasi terhadap bencana juga dilakukan dengan membangun shelter-shelter mini.

Dikepung 10 pusat gempa

Sementara, Ketua Tim Revisi Peta Gempa Nasional (RPGN), Masyhur Irsyam mengatakan, dari catatan historis, gempa yang menggoyang Jakarta adalah imbas dari pusat gempa di sekitarnya. “Sampai saat ini belum ada bukti otentik adanya sesar atau pusat gempa di Jakarta,” kata dia, Rabu 18 Mei 2011. Warga diminta tenang, namun waspada.

Di sekitar Jakarta, setidaknya terdapat 10 pusat gempa, yakni subduksi Sumatera, subduksi Jawa, sesar Sunda, sesar Semangko, sesar Sukabumi, sesar Baribis, sesar Lembang, sesar Pati, sesar Bumi Ayu, dan sesar Yogya/Opak.

Senada, ahli gempa dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Danny Hilman, mengatakan tidak ada potensi Jakarta menjadi pusat gempa. Sebab tidak ada lempengan di bawah kota ini. “Sampai sejauh ini, berdasarkan penelitian di Jakarta tidak ada lempengan,” kata Danny saat dihubungi VIVAnews, Selasa malam, 17 Mei 2011.

Meski pusat gempa nihil, bukan berarti Jakarta sama sekali bebas dari gempa. Sumbernya berasal dari luar. "Semisal, seperti di Selat Sunda. Bila terjadi gempa pasti efeknya sampai Jakarta," ujarnya.

Lalu, pusat gempa manakah yang terdekat dengan Jakarta? Kata dia, saat ini sejumlah ahli sedang memantau patahan yang ada di Gunung Salak. "Gunung Salak mempunyai indikasi terdapat patahan-patahan bumi dan saat ini kami sedang meneliti itu."

Gubernur DKI: Jangan Panik

Kabar potensi gempa 8,7 skala Richter memancing reaksi Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo. Ia meminta kepada masyarakat ibu kota untuk tetap tenang. "Saya minta masyarakat jangan panik dan gelisah. Isu gempa ini harus disikapi dengan bijaksana," ujar Fauzi di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu 18 Mei 2011.

Apalagi, tambah dia, berdasarkan data-data akurat dan ilmiah terbaru yang disampaikan Tim Revisi Peta Gempa Nasional (RPGN), kota Jakarta dinilai relatif aman dari guncangan gempa. Namun, tidak ada salahnya waspada. Foke – demikian nama akrabnya – mengatakan, Pemerintah DKI akan tetap berupaya menyiapkan infrastruktur dan kesiapan warga untuk selalu waspada terhadap setiap bencana, khususnya gempa bumi.

Saat ini, Pemerintah DKI bersama Tim RPGN sedang menyiapkan peta mikrozonasi gempa khusus untuk Kota Jakarta. Peta mikrozonasi ini dimaksudkan untuk mengetahui tingkat kerawanan setiap wilayah di Jakarta. Ini juga sebagai langkah mitigasi terhadap bahaya gempa.

Namun, sang gubernur gerah juga berkali-kali ditanya soal benarkah gempa besar bakal guncang Jakarta. “Ada nggak ahli gempa di sini?” tanya Foke sambil menoleh ke arah wartawan, usai menghadiri acara silaturahmi dengan Kapolda Metro Jaya dan Pangdam Jaya di Balai Pertemuan Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Rabu 18 Mei 2011

Kata dia, tak tepat bertanya soal gempa ke dirinya. “Soal gempa serahkan kepada yang ahli, bukan saya yang ahli,” selorohnya.

Sementara, terkait keamanan gedung-gedung di Jakarta, Kepala Bagian Perencanaan dan Strukturalisasi, Penertiban dan Pengawasan Bangunan (P2B) DKI Jakarta, Pandita mengatakan, bangunan pencakar langit di Jakarta sudah berpatokan pada peraturan dan panduan gempa nasional. “Panduan tersebut sedang dievaluasi dan akan dikeluarkan versi updatenya oleh kementerian Pekerjaan Umum (PU),” kata dia, Rabu siang.

Masih terkait bangunan, Kepala Dinas P2B DKI Jakarta Hari Sasongko, bangunan tinggi yang memiliki lebih dari delapan lantai dianggap aman konstruksinya dari ancaman gempa bumi hingga 8,5 skala richter.

Hal ini bisa dipastikan berdasarkan pengawasan yang dilakukan Tim Penasehat Arsitektur Kota Dinas Pengawasan dan Penertiban Bangunan (TPAK P2B) DKI Jakarta. Sebaliknya, bangunan di bawah delapan lantai dinilai cukup rawan terhadap efek guncangan gempa hingga 8,5 SR.

"Kami pastikan bangunan tinggi di atas delapan lantai sudah optimal dan rawan gempa. Kalau di bawah delapan lantai ini yang kami khawatirkan," ujar Hari di Balaikota DKI Jakarta, Rabu 30 Maret 2011.

Hari mengatakan, bangunan di bawah delapan lantai ini juga termasuk pada rumah tinggal, yang tidak mendapat pengawasan dari TPAK P2B. (sj)

• VIVAnews

http://fokus.vivanews.com/news/read/221134-jakarta-dikepung-pusat-gempa

Minggu, 15 Mei 2011

Jakarta Berpotensi Gempa 8,7 Skala Richter

Jakarta Berpotensi Gempa 8,7 Skala Richter
Staf Khusus Presiden mengaku sulit meyakinkan masyarakat.
MINGGU, 15 MEI 2011, 15:02 WIB
Ita Lismawati F. Malau, Dwifantya Aquina

VIVAnews - Staf Khusus Presiden bidang Bantuan Sosial dan Bencana Andi Arief mengaku sangat sulit meyakinkan masyarakat bahwa ada potensi gempa 8,7 Skala Richter (SR) di ibu kota Jakarta. Termasuk meyakinkan Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo akan temuan hasil penelitian itu.

"Tapi sekarang Fauzi Bowo sudah mulai meyakini hasil penelitian ahli gempa itu. Kini dia telah melakukan mikro zonasi," kata Andi Arief dalam diskusi bertajuk 'Bencana dan Sejarah Indonesia' di Restoran Warung Daun, Cikini, Jakarta, Minggu, 15 Mei 2011.

Dalam kesempatan itu, Andi pun menampik penilaian banyak pihak mengenai ketidaksiapan Jakarta jika dilanda gempa. Mantan aktivis Solidaritas Mahasiswa Indonesia Untuk Demokrasi ini mengaku kini Jakarta sudah semakin meningkatkan persiapan dalam menghadapi kemungkinan bencana alam yang belum bisa diprediksi kapan akan terjadi.

"Kami sudah mulai menghitung rumah sakit dan daerah mana yang pantas untuk dijadikan lokasi evakuasi," ungkapnya.

Andi mengakui sulitnya meyakinkan sejumlah pihak akan kemungkinan gempa besar yang bisa terjadi di Jakarta karena minimnya pengetahuan dan informasi mengenai gempa.

"Untuk meyakinkan ada potensi di selat Sunda itu tidak mudah. Scientific kebumian ini mirip dengan ilmu bawah tanah, sehingga untuk meyakinkan orang itu sangat sulit. Karena kesadaran akan gempa ini baru ada sejak 2004 saat tsunami di Aceh," jelasnya.

Hingga saat ini, menurut Andi, baru tiga lokasi titik rawan pusaran gempa bumi yang diteliti oleh peneliti Indonesia. Di antaranya patahan Sumatera, sesar Lembang, dan Selat Sunda. Sedangkan ratusan ribu lainnya belum diteliti, termasuk sesar Opak di Yogyakarta. (eh)

• VIVAnews

Selasa, 05 April 2011

Getaran Gempa Cilacap Terasa Sampai Jakarta

Getaran Gempa Cilacap Terasa Sampai Jakarta

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Gempa 7,1 Skala Richter yang mengguncang Cilacap, Jawa Tengah, Senin dinihari terasa sampai wilayah Jakarta dan sekitarnya. Guncangan gempa tersebut terasa terutama mereka yang sedang berada di gedung bertingkat di Jakarta dan berlangsung dalam waktu sekitar dua menit.

Sementara dari Cilacap dilaporkan, sejumlah warga Desa Kalikudi, Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap, yang merasakan gempa tersebut segera keluar rumah dan memukul kentungan. "Guncangan gempa sangat kencang," kata seorang warga, Tadiwirya (75).

Sementara itu di Kota Cilacap, warga mulai memadati alun-alun setempat. Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Cilacap, Wasi Ariadi belum bisa dihubungi terkait gempa tersebut.

Gempa tersebut, terasa juga sampai Sukabumi, Jawa Barat. "Saya merasakan gempa itu saat sedang menemani suami nonton bola di ruang tengah, tiba-tiba ada getaran yang cukup kencang tetapi tidak lama, dan lampu gantung pun bergerak," kata warga Kampung Benteng Kidul, Kelurahan Benteng, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi, Dina Nurlela (21).

Dina menambahkan, dirinya pun sempat panik khawatir ada gempa susulan dan rumahnya ambruk akibat gempa tersebut. Sementara itu informasi yang diperoleh dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi menyebutkan sampai saat ini pihaknya belum menerima laporan kerusakan akibat gempa itu.

Selain itu, pihaknya saat ini sedang melakukan pemantauan dan menunggu laporan dari satuan pelaksana penanggulangan bencana (Satlak PB) yang ada di daerah. Informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan gempa terjadi di 293 km barat daya Cilacap atau 10.01 LS dan 107.69 BT dengan kekutan 7,1 SR dengan kedalaman 10 km berpotensi tsunami.

Atau 293 kilometer Barat Daya Cilacap, Jawa Tengah, 303 kilometeri Barat Daya Tasikmalaya, Jawa Barat, 306 kilometer Barat Daya Ciamis, Jawa Barat, 334 kilometer Barat Daya Purwokerto, Jawa Tengah, dan 437 kilometer Tenggara Jakarta.


http://id.berita.yahoo.com/getaran-gempa-cilacap-terashttp://id.berita.yahoo.com/getaran-gempa-cilacap-terasa-sampai-jakarta-20110403-160935-087.htmla-sampai-jakarta-20110403-160935-087.html


Sabtu, 12 Februari 2011

Ancaman Tenggelam Sudah Bayangi Jakarta?

Ancaman Tenggelam Sudah Bayangi Jakarta?
"Bila pintu air dibuka, bencana Situ Gintung bisa terulang."
SABTU, 12 FEBRUARI 2011, 00:09 WIB
Maryadie

VIVAnews - Jakarta tenggelam akibat penurunan permukaan tanah atau land subsidence ternyata bukan ancaman lagi. Fenomena itu sudah terjadi pada beberapa lokasi.

Jumat, 11 Februari 2011 Jalan RE Martadinata, Jakarta Utara kembali ambles. Lokasinya berada di depan Stasiun Ancol, Pademangan Timur, Pademangan, Jakarta Utara. Jalan yang ambles sepanjang kurang lebih 30 meter.

Menurut Muchtar, 42 tahun, warga Pademangan, terdapat sejumlah celah pada jalan yang ambles itu. Terlihat pula rongga antara tanah dan lapisan beton jalan.

Selain jalan, kata Muchtar, tanggul yang membatasi jalan dengan Kali Ancol juga mengalami penurunan lebih dari 40 sentimeter. Terlihat juga celah antara tanah dan beton jalan pada patahan jalan tersebut.

Sebagai pengganti beton tanggul yang mengalami penurunan, telah dipasang bambu yang berfungsi sebagai penahan sepanjang 10 meter.
Kini, di jalan yang ambles itu, telah dipasang pembatas jalan berupa beton berbentuk kotak agar tidak dapat dilintasi kendaraan berat.

Gubernur DKI Jakal;rta, Fauzi Bowo, mengaku memiliki firasat Jalan Martadinata akan ambles. Saat itulah dia meminta jajarannya untuk menyelidikinya.

"Kebetulan beberapa hari lalu berhenti di sana, waktu itu belum ada yang ambles. Tapi saya merasa ada tanda-tanda itu akan terjadi. Saya minta diinvestigasi. Sekarang sedang rapat, dan sudah melakukan pengecekan di lapangan," ujar Foke, begitu panggilan Fauzi Bowo di Balaikota DKI Jakarta, Jumat 11 Februari 2011.

Dia mengatakan, Jalan RE Martadinata masuk dalam jalan nasional, dan menjadi tanggung jawab pemerintah pusat. Tapi untuk kebutuhan warga Jakarta, pemerintah provinsi DKI akan memperhatikan kondisi jalan itu.

Terkait jalan ambles ini, Foke menyatakan, "Antisipasi terhadap land subsidence atau penurunan muka tanah di wilayah Jakarta tengah dilaksanakan."

Sejatinya, jalan ambles di Martadinata sudah terjadi untuk kedua kalinya. Jalan ini pertama kali ambles pada Kamis 16 September 2010. Amblesnya cukup panjang hingga 103 meter dengan kedalaman sekitar 7 meter. Kementerian Pekerjaan Umum menyebutkan, berdasarkan hasil investigasi, jalan ini ambles karena terjadinya abrasi atau gerusan air di bagian bawah konstruksi jalan.

Akibatnya, jalan yang menghubungkan Ancol dan Tanjung Priok ditutup untuk perbaikan. Setelah dilakukan perbaikan yang memakan waktu selama tiga bulan akhirnya jalan ini kembali dibuka pada Senin 6 Desember 2010.

Fenomena tanah ambles juga terjadi di Rumah Sakit Umum Daerah Koja, Jakarta Utara. Pelataran parkir rumah sakit ambles dengan kedalaman lebih dari satu meter. Ambrolnya tanah ini membentuk lubang dengan diameter 50 sentimeter.

Lokasi ini ambles diketahui pertama kali pada Kamis, 4 Februari 2011. Informasi yang diperoleh menyebutkan, amblasnya pelataran parkir itu bermula saat seorang tamu rumah sakit yang menggunakan mobil bermaksud memindahkan kendaraannya ke lokasi lain yang lebih luas.

Dari tempat awal parkir, pengendara memarkir mundur mobilnya. Saat mobil pada posisi maju, tiba-tiba ban belakang sebelah kiri mobil terperosok. Pelataran yang tertutup bata keras atau corn block itu ambrol dan membuat ban kendaraan terjeblos. "Mobil sudah tidak bisa maju karena bannya terlalu dalam masuk ke lubang," ungkap Sarya, 40 tahun, saksi mata.

***

Penurunan permukaan tanah tidak cuma membuat jalan dan rumah sakit ambles. Dilaporkan juga tujuh jembatan anjlok, antara lain:

1. Kamal Muara, Jakarta Utara
2. Mangga Dua, Jakarta Barat
3. Ancol, Jakarta Barat.
4. Pluit, Jakarta Utara
5. Pantai Mutiara, Jakarta Utara
6. Gunung Sahari, Jakarta Pusat
7. Mangga Besar, Jakarta Barat

Data anjloknya jembatan ini didasarkan pada hasil penelitian konsorsium Jakarta Coastal Defence Strategy (JCDS), yang merupakan studi persiapan untuk membuat tanggul raksasa di wilayah pantai utara Jakarta.

Direktur Sungai dan Pantai Ditjen Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum, Pitoyo Subandrio, mengatakan penurunan tanah sangat terlihat dari gejala anjloknya sejumlah jembatan di Jakarta itu.

"Balok jembatan di Jakarta Utara sudah hampir menyentuh air. Itu bukan karena airnya naik, tapi juga karena tanahnya sudah turun. Kalau dibiarkan, Jakarta tenggelam," ujar Pitoyo saat berbincang dengan VIVAnews.com.

Sinyalemen itu dikukuhkan peneliti geodesi dari Institut Teknologi Bandung, Heri Andreas. Dia menjelaskan, penurunan permukaan tanah tidak hanya terlihat dari anjloknya jembatan saja.

Dia mencontohkan, salah satu lokasi yang telah diteliti timnya adalah Pintu Air Pasar Ikan, Jakarta Utara. Kini air laut di kawasan itu telah mencapai dua meter. "Bila pintu air dibuka, bencana Situ Gintung bisa terulang," katanya.

Data JDCS juga menyebutkan, penurunan permukaan tanah Jakarta sudah terjadi sejak 1974 dan akan terus terjadi. Data terbaru 2010 menyebutkan sebanyak 40 persen wilayah Jakarta berada di bawah permukaan laut.

Data kuantitatif menunjukkan fakta bahwa dalam kurun waktu 1974-2010 telah terjadi penurunan permukaan tanah di wilayah Jakarta hingga 4,1 meter. Ini khususnya terjadi di wilayah Muara Baru, Cilincing, Jakarta Utara.

Penurunan serupa juga terjadi di sejumlah wilayah lain, seperti di Cengkareng Barat setinggi 2,5 meter, Daan Mogot 1,97 meter, Ancol 1,88 meter (titik pantau di area wisata Ancol), Cempaka Mas 1,5 meter, Cikini 0,80 meter, dan Cibubur 0,25 meter.

Penurunan permukaan tanah ini terjadi akibat pengambilan air tanah secara terus menerus. Meski telah dihentikan pengambilan air tanah, penurunan permukaan air tanah ini akan terjadi selama 15 tahun ke depan. Diprediksikan permukaan tanah akan drop hingga 6,6 meter pada tahun 2030.

Foke mengatakan, Pemerintah DKI Jakarta tengah berupaya menghentikan pengambilan air tanah dengan membangun pabrik air di Jatiluhur, Jawa Barat.

Kajian terhadap pembangunan pabrik penjernihan air Jatiluhur akan menjadi solusi jangka panjang untuk menghentikan perluasan penurunan muka tanah. "Sistem ini sedang dipersiapkan, meski masih terkendala masalah harga dan investasi," katanya.

Ekstraksi atau pengambilan air tanah oleh masyarakat masih terus menerus dilakukan dan ini sudah berpuluh tahun terjadi, barangkali sudah 100 tahun lebih. "Harus kita hentikan secara sistematis dan menyediakan air yang cukup. Jadi apa yang dibicarakan di utara (jalan ambles) ini tidak terlepas dari penyediaan air bersih," paparnya.

Proyek air jernih Jatiluhur ditargetkan selesai dalam tiga tahun. Namun, Foke, menegaskan proyek ini dananya tak akan menjadi tanggung jawab pemerintah sepenuhnya karena anggaran yang terbatas.

"Kalau menunggu pemerintah, kemampuan untuk investasi kan terbatas. Birokrasinya juga panjang lebar, untuk investasi saya harus minta persetujuan DPRD, nanti harus bikin Perda dulu, sampai kapan orang mau dapat air?" tutur Foke, Jumat, 11 Februari 2010.

• VIVAnews