Tampilkan postingan dengan label Lapindo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lapindo. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 April 2010

LUMPUR LAPINDO, 169 Semburan Baru

LUMPUR LAPINDO
169 Semburan Baru dalam Sebulan
Laporan wartawan KOMPAS Kris R Mada
Minggu, 18 April 2010 | 14:27 WIB
KOMPAS/IWAN SETIYAWAN
Semburan lumpur Lapindo di Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Menurut Presiden, Senin (29/3/2010), terjadi penurunan tanah 20 cm/bulan di sekitar lokasi semburan.

SIDOARJO, KOMPAS.com — Dalam sebulan terakhir, telah muncul 169 titik semburan baru di Jalan Raya Porong dan sekitarnya. Titik semburan mengeluarkan gas yang mudah terbakar.

Wakil Kepala Humas Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) Achmad Kuseri mengatakan, semburan yang terbaru muncul di Jalan Raya Porong, Minggu (18/4/2010) pagi.

"Titik semburan berjarak sekitar 80 sentimeter titik semburan yang keluar pada Senin (12/4/2010). Api dalam jarak lima meter bisa membakar gas dari titik semburan. Kami mengimbau pengguna jalan untuk tidak sembarang menyalakan api atau membuang puntung rokok jika berdekatan dengan titik semburan," ujarnya di Sidoarjo, Minggu.

Titik semburan baru mengandung gas metan dengan kadar 31 persen. Gas itu tergolong mudah terbakar. Namun, semburan tidak mengeluarkan hidrogen sulfida yang beracun dan juga mudah terbakar. "Semburan hanya mengeluarkan air dan lumpur. Jalan Raya Porong masih relatif aman digunakan selama pengguna tidak sembarangan membuang api, " ujar Kuseri.


Editor: Edj

Rabu, 02 September 2009

Lumpur Lapindo dan Gempa Tasikmalaya

Rabu, 02/09/2009 17:02 WIB
Sebelum Gempa, Semburan Lumpur Lapindo Setinggi 4 Meter
Steven Lenakoly - detikSurabaya



Lumpur Lapindo/File

Surabaya
- Sebelum gempa berkekuatan 7,3 SR yang berpusat di Tasikmalaya terjadi, semburan lumpur Lapindo sejak 5 hari lalu sudah tidak normal. Tim Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) mengindikasikan semburan tersebut akibat perbedaan tekanan di perut bumi.

Semburan lumpur hingga mencapai ketinggian 4 meter, berbeda dengan biasanya yang tinggi semburan tidak sampai 4 meter. Saat itu tim BPLS memperkirakan terjadi pergerakan di perut bumi.

"Sudah 5 hari lumpur menyembur lebih tinggi dari biasanya. Hal ini karena ada
perbedaan tekanan di perut bumi," kata Humas BPLS Ahmad Zulkarnaen saat
dihubungi detiksurabaya.com, Rabu (2/9/2009).

Meski sempat terjadi perubahan tinggi semburan, namun tidak menyebabkan dampak apa pun bagi kolam penampungan lumpur, dan tanggul penahan lumpur.

Meski sudah menduga adanya pergerakan di perut bumi, BPLS masih belum mengetahui adanya efek dari gempa yang terjadi di Tasikmalaya yang baru saja terjadi. Pihaknya terus mengamati pusat semburan dari atas tanggul untuk mengetahui perubahan pasca gempa.

"Dampaknya masih kita amati terus di pusat semburan. Hingga saat ini saya dan
tim masih terus mengamati pusat semburan," tambahnya.

(stv/bdh)