Tampilkan postingan dengan label Relawan Merapi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Relawan Merapi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 November 2010

Kerja Relawan Merapi Sudah Mirip Arkeolog

Kerja Relawan Merapi Sudah Mirip Arkeolog
Tim evakuasi mayat seperti sedang mencari fosil di gunung debu vulkanik.
SABTU, 13 NOVEMBER 2010, 17:31 WIB
Elin Yunita Kristanti, Sandy Adam Mahaputra

VIVAnews - Beradu cepat dengan wedhus gembel dan panasnya suhu Merapi menjadi hal yang biasa dialami Ariyanto Joko Widodo (39), relawan lokal dari desa Ukirsari, Cangkringan, Sleman.

Seluruh kemampuan inderanya dikerahkan maksimal, tak terkecuali penciuman, untuk mengetahui jenazah para korban yang sudah terkubur pasir dan abu vulkanik. "Bau mayat binatang dan manusia itu berbeda," katanya saat berbincang dengan VIVAnews.com, Sabtu. 13 November 2010.

Menurutnya, selain medan yang ganas, tantangan lain yang menyulitkan adalah terjeblos dalam kubangan pasir panas ketika mencari korban yang masih terkubur. "Kita biasanya sering terjeblos di pasir yang masih sangat panas, bahkan sampai membakar sepatu," ungkap dia.

Biasanya bagi relawan yang memilki tongkat mendaki gunung es, akan ditempatkan di paling depan saat evakuasi. Mereka bertugas sebagai pembuka jalan.

"Tongkat itu sangat berguna, apakah tempat yang dipijak itu aman, atau justru rawan amblas yang terkadang membuat kita terperosok ke dalam pasir panas," katanya.

Keterangan warga kerap diandalkan untuk mencari lokasi korban. Misalnya, kesaksian warga yang menduga ada tetangga yang terjebak di dalam rumah. Tapi, meski bermodal keterangan, pencarian bukan berarti jadi gampang. Sebab, kebanyakan rumah-rumah warga dan masjid sudah tertimbun pasir hingga bagian atap.

Meski sering mengevakuasi jenazah, Ariyanto mengaku bulu kuduknya selalu merinding saat menemukan korban yang sudah tinggal tulang-belulang. Kata dia, saat diangkat dan dimasukkan kantung jenazah, tulang-tulang itu masih dalam keadaan panas.

"Banyak sudah jadi tengkorak dan rapuh ketika kita angkat," imbuh dia, mengernyit.

Kata Ariyanto, kerja tim evakuasi sekarang mirip arkeolog yang sedang mencari fosil di gunung pasir. "Sudah sangat sukar menemukan jasad korban yang utuh saat ini, hampir semuanya hanya tinggal tulang," katanya.

Ariyanto menduga masih banyak jenazah yang terkubur di dalam gunung pasir yang menenggelamkan desa-desa di Kecamatan Cangkringan, Sleman, DIY. "Bagi saya disini hanya bekerja atas hati nurani menolong sesama, bukan terpaksa karena ditugaskan," ungkap pria yang ikut bergabung dengan relawan Dompet Duafa sejak letusan Merapi 26 Oktober 2010 lalu.

Tak kenal lelah bahkan berani menantang maut hanya untuk menolong sesama ditengah bencana menjadi sebuah prinsip utama dalam hidupnya.
"Dalam melakukan evakuasi teori itu nomor dua, tapi feeling dan doa paling utama," ujarnya. (kd)

• VIVAnews

Kamis, 11 November 2010

Relawan Merapi: Banyak Mayat Tulangnya Hancur

Relawan Merapi: Banyak Mayat Tulangnya Hancur
Inilah kesaksian relawan bencana Eko Sulistyo soal beratnya medan Merapi.
KAMIS, 11 NOVEMBER 2010, 14:07 WIB
Ismoko Widjaya, Sandy Adam Mahaputra

VIVAnews - Selama 10 tahun menjadi relawan, Eko Sulistyo (37), baru di Gunung Merapi ini dia menemui medan yang begitu sulit untuk mengevakuasi korban tewas. Buat dia, evakuasi korban letusan Merapi jauh lebih sulit dibanding medan bencana alam lain, bahkan jika dibandingkan tsunami Aceh 2004 sekalipun.

Sejak tahun 2000, Eko--ayah beranak tiga--bergabung di tim relawan Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU). Dia sudah berkali-kali turut menggotong mayat-mayat yang bergelimpangan di wilayah bencana. Antara lain di Bantul dan Pangandaran pada 2006, letusan Merapi pada 2006, hingga dua bencana terakhir yang menghantam Tanah Air: tsunami Mentawai, Sumatera Barat; serta banjir bandang di Wasior, Papua Barat.

"Tingkat kesulitan di Merapi sangat tinggi karena sering mengeluarkan awan panas secara tiba-tiba. Bisa dalam sehari lima kali," katanya kepada VIVAnews.com, Kamis, 11 November 2010.

Awan panas dengan frekuensi dan volume tertinggi meluncur sejak 5 November dini hari. Yang bahaya, masih kata dia, jika saat sedang menggotong mayat tiba-tiba wedhus gembel meluncur.

Jika sudah begini, tim relawan pun hanya bisa berlari lintang-pukang, sekencang yang mereka bisa, untuk menyelamatkan nyawa mereka sembari membawa mayat. Lantaran itu, tidak jarang tim evakuasi harus bolak-balik turun dari lereng Merapi.

Tidak hanya itu, di lokasi debu dan pasir sisa wedhus gembel juga masih sangat panas. "Selama di Merapi, saya sudah tiga kali ganti sepatu," katanya.

Sepatu pertama, dari jenis biasa, langsung melepuh dan meleleh tak lama setelah menginjak debu panas itu. Berganti sepatu jenis kedua, tipe boot, juga melebur karena panas. Kini, Eko memakai sepatu khusus yang biasa dipakai pemadam kebakaran. Dan lumayan, lebih awet dipakai.

Saat mengevakuasi korban, Eko yang sehari-hari mengelola permainan tembak paintballdan pengusaha onderdil mobil tua Land Rover jenis Defender ini kerap dipercaya berada di garis paling depan. Dia adalah pembuka jalan pertama saat Desa Gelagaharjo, Cangkringan, ludes diterpa awan panas. Bukan apa-apa, ini karena ia punya alat yang tak dimiliki relawan lain: tongkat dan perangkat ski es. Dengan peralatan ini, dia bisa leluasa masuk ke daerah yang baru disapu awan panas.

Eko tak pernah lupa masing-masing kondisi jasad yang dia temukan. Ada yang tangannya sudah sangat kering dan rapuh. Ada yang bagian kepala dan tulang lainnya tak lagi bisa diangkut ke kantung mayat, karena sudah begitu hancur. "Apalagi waktu Jumat dini hari, saya melihat korban di Pakem semua sudah tertutup debu. Kulit mukanya terkelupas," katanya, terbata-bata.

Selama sepuluh tahun, Eko terus menguatkan istrinya, Fifi, dan ketiga anaknya untuk mengikhlaskan dia setiap kali berangkat ke medan bencana. "Saya selalu bilang ke istri, kalau kamu melihat orang salaman dengan Obama dan SBY, itu biasa. Tapi, kalau yang menggotong mayat, menyelamatkan orang, itu yang luar biasa. Tidak semua orang bisa." (kd)

• VIVAnews