Tampilkan postingan dengan label Sleman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sleman. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 November 2010

Harimau Turun dari Puncak Merapi, Warga Panik

Harimau Turun dari Puncak Merapi, Warga Panik
Harimau itu terlihat di halaman rumah warga Desa Candi Binangun, Pakem, Sleman.
KAMIS, 11 NOVEMBER 2010, 21:12 WIB
Eko Priliawito, Sandy Adam Mahaputra

VIVAnews - Warga Desa Candi Binangun, Pakem, Sleman, Yogjakarta dihebohkan dengan munculnya seekor harimau. Harimau itu terlihat sedang berkeliaran di permukiman warga.

Diduga hewan buas ini turun puncak Merapi yang tengah erupsi dan menyemburkan awan panas. Kondisi harimau ini sangat mengenaskan. Warga yang melihat menyebutkan, tubuhnya dipenuhi debu vulkanik. Sementara kakinya mengalami luka bakar

Menurut keterangan Camat Pakem, Budiharjo, harimau itu muncul sekitar pukul 13.00 WIB. Kemungkinan hewan ini turun karena hawa panas di puncak Merapi.

"Di puncak dan lereng, semua binatang sudah banyak yang turun," katanya kepada wartawan, Kamis 11 November 2010. Kemunculan harimau ini agak aneh. Sebab biasanya harimau dan binatang liar turun sebelum Merapi meletus.

Namun hingga saat ini, sambung dia, belum ada korban jiwa maupun ternak akibat kemunculan bintang buas itu. Warga telah berkoordinasi dengan tim dari Kebun Binatang Gembiraloka untuk menangkap macan tersebut.

Sementara itu, Menurut Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Kabupaten Sleman, sampai dengan Kamis ini, hewan ternak yang mati akibat erupsi Merapi teridentifikasi berjumlah 1.548 ekor.

Dari jumlah tersebut, sapi perah yang mati mencapai 1.221 ekor, sapi potong berjumlah 147 ekor, dan kambing atau domba berjumlah 180 ekor. (umi)

• VIVAnews

Sabtu, 06 November 2010

"Mayat-mayat Ditemukan Saat Hendak Turun"

"Mayat-mayat Ditemukan Saat Hendak Turun"
Tewasnya warga diduga karena terlambat dievakuasi.
SABTU, 6 NOVEMBER 2010, 05:07 WIB
Ismoko Widjaya, Zaky Al-Yamani

VIVAnews - Sebanyak 64 warga Argomulyo, Kecamatan Cangkringan, Sleman, DIY, tewas tersapu awan panas 'wedhus gembel'. Tewasnya warga yang berjarak sekitar 16 sampai 18 kilometer dari puncak Merapi itu diduga karena terlambat dievakuasi.

"Itu terlihat saat mayat-mayat tersebut ditemukan di satu lokasi dan tampak hendak turun," kata Wakil Kepala Polda DIY Komisaris Besar Polisi Tjiptono kepada VIVAnews.com.

Menurut Tjiptono, peringatan diperluasnya radius berbahaya Merapi menjadi 20 kilometer sudah dikeluarkan. Perangkat desa juga sudah menyampaikan peringatan yang dikeluarkan jelang tengah malam itu.
"Dan sudah banyak yang mengungsi. Tetapi, memang ada sejumlah warga yang terlambat mengungsi hingga menjadi korban," ujar mantan Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya ini.

Tjiptono mengatakan, bila dilihat dari peta posisi dusun itu, lokasi Argomulyo memang termasuk dalam area rawan. Karena, dusun itu berada di bawah aliran Kali Gendol yang berhulu dari Merapi dan dipenuhi lahar.

"Sehingga tumpah mengenai kampung itu. Pokoknya kampung-kampung yang sejajar dengan Kali Gendol memang rawan. Sedangkan ada desa-desa lain yang lebih ke tengah dan lebih dekat tidak terkena," ujar dia.

Hal senada sebelumnya disampaikan Kepala Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, R Sukhyar, yang mengatakan jauhnya cakupan awan panas salah satunya disebabkan karena aliran sungai.

"Karena sungai sudah dalam kondisi penuh material panas yang dimuntahkan oleh gunung merapu, sehingga luncuran awan panas semakin jauh," kata Sukhyar. Jumlah tewas ini menambah panjang daftar korban Merapi. Korban tewas menjadi 109 orang, 78 lainnya luka bakar. (umi)

• VIVAnews

Jumat, 05 November 2010

Kayak Perang "Lho" Mas...

Kayak Perang "Lho" Mas...
Jumat, 5 November 2010 | 05:50 WIB
KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO
Warga korban letusan Gunung Merapi meninggalkan Posko Pengungsian di TK Kirayan I, Dusun Kirayan, Desa Wukirsari, Cangkringan, Sleman, DI Yogyakarta karena pengungsian tersebut penuh, Rabu (3/11/2010) malam. Pengungsian ini di huni oleh korban letusan Gunung Merapi dari enam dusun yaitu Balong, Tangkisan, Plosorejo, Plosokerep, Sambisari, dan Polorejo.

KOMPAS.com — "Semua kacau. Orang-orang lari, teriak-teriak. Gelap. Asap putih di mana-mana. Suara dari Kali Gendol meledak-ledak, keras, kayak perang lho Mas," kata Sri Yono (49), menceritakan suasana setelah Gunung Merapi meletus, Jumat (5/11/2010) dini hari.

Semua kacau. Orang-orang lari, teriak-teriak. Gelap. Asap putih di mana-mana. Suara dari Kali Gendol meledak-ledak, keras, kayak perang lho Mas.
-- Sri Yono

Sri adalah satu satu perangkat Desa Glagaharjo, Cangkringan, Sleman. Dia bertugas di barak pengungsian di Glagaharjo. Dia menceritakan, setelah terjadi getaran hebat, seluruh petugas langsung mengevakuasi sekitar 1.700 pengungsi dari 10 dusun. Jarak barak sekitar 12 kilometer dari puncak Merapi dan hanya berjarak 200 meter dari Kali Gendol.

Dikatakan Sri, dengan sepeda motor, ia lalu naik ke atas untuk memberi tahu tetangga-tetangganya yang masih bertahan di rumah di RT 1 RW 2 Dusun Besalen. "Saya naik di atas sudah banyak asap. Saya jatuh ke parit. Saya minta tolong enggak ada yang bantu. Terus saya angkat sendiri. Motor enggak mau nyala. Ya udah, saya gelontorin aja," cerita dia di RSUD Sardjito, Yogyakarta.

Di Sardjito, Sri mencari Aris W (19), putranya yang juga relawan. Aris bertugas di barak Glagahmalang yang letaknya 10 kilometer dari puncak Merapi. "Aris saya bel (telepon) enggak bisa. Mungkin dibawa ke sini (Sardjito)," katanya.

Di Sardjito, setidaknya 35 korban dibawa dengan mobil-mobil ambulans. Satu anak tewas. Hingga pukul 05.30, korban masih terus berdatangan. Mayoritas korban mengalami luka bakar akibat semburan awan panas.

http://regional.kompas.com/read/2010/11/05/05504358/Kayak.Perang.Lho.Mas...-4#

Penulis: Sandro Gatra | Editor: Tri Wahono

Enam Mayat Masih Tergeletak

Enam Mayat Masih Tergeletak
Jumat, 5 November 2010 | 06:52 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Mayat-mayat masih tergeletak pascaletusan Gunung Merapi, Jumat (5/11/2010) dini hari. Agus, salah satu petugas lapangan Penanggulangan Bencana dan Pengungsi (PBP), mengatakan, setidaknya ada enam mayat belum dievakuasi di daerah Cangkringan, Sleman, DI Yogyakarta.

"Tadi kita sudah naik ke atas, ada enam mayat di pinggir-pinggir Kali Gendol. Perkiraan masih banyak," katanya ketika melapor ke anggota TNI yang berjaga di posko utama penanggulangan bencana di Kecamatan Pakem.

Sementara itu, dilaporkan saat ini Rumah Sakit dr Sardjito, Yogyakarta, telah menerima 11 jenazah korban awan panas. Sebanyak 53 orang korban luka-luka kini juga dirawat di rumah sakit tersebut.

Selain korban tewas, masih ada sebagian pengungsi yang belum dievakuasi dari barak pengungsi di Wukirsari, Cangkringan. "Kok masih ada, ya. Kita sudah evakuasi semua tadi," kata anggota TNI.

Seperti diberitakan, sekitar 22.000 pengungsi di 20-an barak pengungsi di wilayah Sleman telah dievakuasi ke Kampus UII dan Stadion Maguoharjo setelah letusan dahsyat Merapi. Mereka diangkut dengan truk-truk, ambulans, dan mobil-mobil bak terbuka.

http://regional.kompas.com/read/2010/11/05/06525831/Enam.Mayat.Masih.Tergeletak-4

Penulis: Sandro Gatra | Editor: Tri Wahono

Kamis, 04 November 2010

Gemuruh Keras Terdengar dari Merapi, Pakem Semakin Mencekam

Kamis, 04/11/2010 16:45 WIB
Gemuruh Keras Terdengar dari Merapi, Pakem Semakin Mencekam video foto
Febrina Ayu Scottiati - detikNews




Jakarta - Setelah sebelumnya wilayah Kaliurang dan sekitarnya ditutupi kabut pekat dan gelegar petir. Kini suara gemuruh yang cukup mengerikan terdengar berasal dari Gunung Merapi. Pakem semakin mencekam.

Pantauan detikcom, Kamis (4/11/2010) di Posko Utama Pakem, Sleman, Yogyakarta, suara gemuruh Merapi terdengar cukup keras hingga radius 22 km dari Merapi.

"Ih, denger itu suara gemuruh Merapi. Ngeri, mau pulang aja," kata salah satu donatur setelah menyerahkan bantuan di Posko Utama Pakem.

Secara visual, sejak tadi pagi puncak Merapi tidak terlihat karena ketutup kabut tebal pekat. Sementara suara seismograf melalui HT (Handy Talky) petugas di Posko Utama Pakem terus menandakan Merapi terus 'terbatuk-batuk'.

Di Posko Pakem sendiri beberapa donatur sudah mulai menyiapkan diri, khawatir akan terjadi sesuatu. Namun pihak perangkat desa meyakinkan jangkauan lebih dari 15 km masih aman.

Suara gemuruh Gunung Merapi sendiri berlangsung kurang lebih 10 menit. Mulai pukul 15.45 hingga 15.55 WIB.

Meski begitu menurut laporan dari petugas yang terdengar melalui HT, para pengungsi belum panik. Mereka hanya kaget saat gemuruh mirip gelegar petir terdengar dari puncak Merapi. Hingga kini, suara gemuruh Merapi masih terdengar cukup mengerikan.

(feb/ken)

Rabu, 27 Oktober 2010

Tim Evakuasi Sisir Desa Mbah Maridjan Dengan Alat Berat

Rabu, 27/10/2010 06:34 WIB
Gunung Merapi Meletus
Tim Evakuasi Sisir Desa Mbah Maridjan Dengan Alat Berat foto
Novi Christiastuti Adiputri - detikNews



Jakarta - Desa Kinahrejo, Sleman yang terletak hanya 4 kilometer dari Gunung Merapi, menjadi lokasi terparah yang terkena awan panas alias wedhus gembel. Sebelumnya telah ditemukan 16 orang tewas di lokasi tersebut. Oleh karena itu, tim evakuasi akan kembali menyisir lokasi tersebut, karena diduga masih ada korban yang belum ditemukan.

"Pagi ini kita menyisir kembali, bersih-bersih Desa Kinahrejo," ujar Wakil Bupati Sleman, Yuni Satia Rahayu saat dihubungi detikcom, Rabu (27/10/2010).

Yuni menjelaskan, penyisiran akan dibantu oleh anggota TNI dan Polri. Selain itu, pihaknya juga akan menggunakan alat-alat berat untuk menembus Desa Kinahrejo yang porak poranda akibat awan panas.

"Mulai pukul 08.00 WIB. Dengan bantuan dari TNI Polri. Ini kan perlu alat-alat berat. Kemarin panas sekali, pohon semua roboh, menutup jalan, jadi perlu dibantu alat berat," tuturnya.

Sementara itu, mengenai korban tewas, Yuni belum bisa memastikan jumlah pastinya. Saat ini masih terus dilakukan identifikasi terhadap jenazah yang berhasil ditemukan.

"Kita sedang teliti untuk data lebih lengkap. Belum tahu siapa saja yang menjadi korban," ucapnya.

Termasuk juga dengan keberadaan juru kunci Gunung Merapi, Mbah Maridjan. Meskipun disebut-sebut berhasil selamat, namun Yuni mengaku belum mendapat kepastian soal hal tersebut.

"Kita belum bisa pastikan itu," ujarnya.

(nvc/van)