Tampilkan postingan dengan label Sumatra Barat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sumatra Barat. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 Oktober 2010

Ratusan Warga Kembali Mengungsi ke Bukit

Ratusan Warga Kembali Mengungsi ke Bukit


Liputan6.com, Mentawai: Hujan deras disertai angin kencang menerjang Desa Sioban, Kecamatan Sipora, Kecamatan Sipora Selatan, Mentawai, Sumatra Barat, Jumat (29/10) siang. Akibatnya, ratusan warga mengungsi ke perbukitan karena takut terjadi tsunami susulan.

Akibat cuaca buruk di wilayah ini, sejumlah bantuan dari pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang akan disalurkan ke Desa Bosua dan sekitarnya, tertahan di Pelabuhan Tua Pejat, Kepulauan Mentawai.

Selain itu, Pemerintah Kabupaten Mentawai mengucapkan terima kasih kepada tim Liputan 6 SCTV yang sudah menayangkan informasi mengenai lokasi bencana alam di Beriulou dan Desa Bosua, Kecamatan Sipora Selatan, yang selama ini terisolasi atau belum tersentuh bantuan [baca: Warga Korban Tsunami Butuh Bantuan].(APY/ANS)

http://id.news.yahoo.com/lptn/20101029/tid-ratusan-warga-kembali-mengungsi-ke-b-c237b35.html

Rabu, 07 Oktober 2009

Karut-Marut Distribusi Bantuan

Karut-Marut Distribusi Bantuan Soal Transportasi dan Koordinasi
SELASA, 6 OKTOBER 2009 | 22:59 WIB
Laporan wartawan KOMPAS Yurnaldi

PADANG, KOMPAS.com - Akar persoalan dari karut-marutnya persoalan distribusi bantuan bahan makanan da n lainnya ke korban gempa di kabupaten/kota di Sumatera Barat, yang menyebabkan ribuan korban terancam kelaparan, karena kendala transportasi, birokrasi dan koordinasi. Sampai Selasa (6/10), korban gempa di Kota Padang masih berharap bantuan yang mendesak seperti tenda pengungsian dan bahan makanan.

Wakil Gubernur Sumatera Barat Marlis Rahman, selaku Wakil Satkorlak Penanggulangan Bencana Sumatera Barat, mengatakan kendala transportasi sebagai biang karut-marutnya distrubusi bantuan di kabupaten/kota yang terkena bencana. Hasil evaluasi, masalahnya pada transportasi, tandas Marlis menjawab Kompas, Selasa petang kemarin.

Transportasi selain terkendala kelangkaan bahan bakar minyak (BBM), juga kemudian masalah infrastruktur yang rusak dan sulit dijangkau. Bahkan, ada juga yang mengeluhkan kekurangan kendaraan truk pengangkut. Untuk daerah terisolasi, ungkap Marlis, enam unit helikopter, Selasa sudah mulai beroperasi membawa bahan makanan. Sedangkan sejumlah lokasi yang tak bisa dilalui di Kabupaten Padang Pariaman, terutama di Kecamatan Patamuan, Selasa sudah bisa masuk empat alat berat menuju lokasi.

"Semua daerah lokasi bencana tak ada lagi yang terisolasi. Bahkan, di Kabupaten Kepulauan Mentawai, hari ini satu kapal bantuan sudah diberagkatkan," kata Marlis Rahman.

Wakil Bupati Kepulauan Mentawai yang berada di Padang untuk menjemput bantuan itu, membenarkan bahwa pascagempa, baru hari ini bantuan untuk korban gempa di Kepulauan Mentawai dikirim. Meski korban jiwa tidak ada, masyarakat korban gempa yan g rumahnya rusak, juga membutuhkan bantuan. Dan hari ini (Selasa) bantuan itu sudah diberangkatkan, ujarnya.

Marlis Rahman mengakui, tangung jawab pendistrubusian bantuan dari Satkorlak, hanya sampai di tingkat Posko Utama Kabupaten/Kota. Setelah itu, pi haknya tak bisa campur tangan. Tentang pengerahan tenaga dari TNI ke lokasi bencana, lanjutnya, tanggung jawabnya di Korem.

Melihat manajemen penanggulangan bencana dalam masa tanggap darurat yang demikian, wakil rakyat di DPRD Kota Padang dari Komisi A ( Bidang Kesra), Maidestal Hari Mahesa, dan Sekretaris Komisi IV Bidang Kesra DPRD Sumatera Barat Abel Tasman, menilai sebagai kekeliruan yang berujung pada karut-marutnya distribusi bantuan dan persoalan lainya.

"Di tingkat provinsi mestinya sudah komando, bukan koordinasi seperti yang berjalan sekarang. Tim evaluasi yang memantau terus dari waktu ke waktu di tingkat provinsi tidak ada. Kesannya, setelah bantuan terdistribusi ke kabupaten/kota, Satkorlak PB Sumatera Barat seperti tak ada urusan lagi untuk memantau langsung ke lapangan. Ini manajemen kerja yang sangat keliru," tandas Abel Tasman.

Tentang kendala transportasi yang diungkapkan Marlis Rahman, menurut Abel, tak bisa jadi alasan. Soal BBM langka, mestinya Satkorlak PB Sumbar minta Pertamina untuk siagakan mobil tankinya. Bukan seperti sekarang, yang turut antre di SPBU. " Ironis juga, pesawat Heli baru hari keenam ini bisa menangkut bahan makanan ke daerah terisolasi. Mestinya dari hari pertama pascagempa," tandasnya.

Senada dengan itu, Maidestal juga membenarkan karut-marutnya soal pendistribusian bantuan untuk korban gempa di Kota Padang. Dari laporan masyarakat dan pengecekan kami ke lapangan, memang banyak keluhan soal bantuan yang belum diterima, padahal sangat dibutuhkan seperi tenda, beras, dan sebagainya. Untuk bahan bakanan, walaupun ada, jumlahnya sangat jauh dari yang dibutuhkan, katanya.

Menurut Maidestal, dalam penanganan bencana di Kota Padang, koordinasi sangat kurang. Arah pengambil kebijakan lemah dan tidak pernah mengecek langs ung ke lapangan. Wali Kota sibuk terima tamu, pejabat lain hanya ramai di Posko Utama, tiap sebentar berapat, tidak pernah turun ke lapangan. Pendataan juga tak maksimal, akibatnya satu keluarga hanya kebagian dua kaleng susu beras, tiga bungkus mi dan satu kaleng ikan kalengan.

Sementara itu, akar persoalan lainnya adalah birokrasi yang masih panjang. Dan bantuan yang didistribusikan pun perlu diawasi dengan ketat hingga ke lapangan. "Saya alami sendiri ketika hendak Bantu tetangga yang butuh tenda. Harus ada surat dan tanda tangan ketua RT, Ketua RW, dan Lurah, hingga Camat. Keadaan darurat, kok birokrasi masih panjang," tandas Maidestal.

Tentang Posko Utama Kota Padang yang membuka rekening, lanjut dia, setiap hari mestinya ditampilkan, sudah berapa bantuan dana yang masuk. Manajemennya harus transparan.

http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/10/06/22593875/Karut-Marut.Distribusi.Bantuan.Soal.Transportasi.dan.Koordinasi..

Sabtu, 03 Oktober 2009

Longsor di Maninjau Rusak Delapan Rumah

Longsor di Maninjau Rusak Delapan Rumah
Selasa, 03 Februari 2009 14:40 WIB
Penulis : Hendra Makmur
Longsor di pinggir Danau Maninjau, Sumatra Barat, Senin (2/2) di 11 titik di Nagari (Desa) Tanjung Sani, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam itu merusak sedikitnya delapan rumah.

Dari jumlah tersebut dua rumah hancur, satu rusak berat dan empat rusak ringan. Selain itu longsor juga merusak tiga lokal SMP Negeri 4 Sarojo.

"Hingga saat ini, dua alat berat masih bekerja untuk membersihkan badan jalan yang tertimbun longsor," kata Camat Tanjung Raya Kurniawan Saputra yang dihubungi Media Indonesia, Selasa (3/2).

Menurutnya tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. "Namun, puluhan warga yang kehilangan tempat tinggal dan rumahnya rusak masih mengungsi di masjid dan rumah saudara," ujarnya.

Wali Nagari (Kepala Desa) Tanjung Sani Jefri menambahkan 11 longsor yang terjadi menyebar di empat jorong (dusun). Yakni dua titik di Jorong Pangka Tanjung Sarojo, tiga titik di Jorong Muko Jalan, dua titik di Jorong Batu Nanggai dan empat titik di Jorong Galapuang.

"Ada beberapa titik longsor yang sepenuhnya menutup badan jalan. Hingga siang ini, tinggal satu tumpukan material lagi yang belum selesai dibersihkan di Jorong Pangka Tanjung Sarojo," tuturnya.

Akibat tertutupnya badan jalan, beberapa jorong di nagari tersebut sempat terisolir beberapa jam dari Senin sore. "Namun, hari ini semua akses sudah bisa dilalui. Karena dua alat berat masih bekerja," ujar dia.

Akses jalan yang tertutup longsor merupakan jalan yang melingkari Danau Maninjau dan merupakan satu-satunya akses warga untuk menuju kota kecamatan, kabupaten dan provinsi. Sebelumnya, pada awal Desember 2008, longsor juga melanda Jorong Galapuang, Nagari Tanjung Sani. Saat itu, empat rumah rusak akibat longsor tersebut. (HR/OL-06)

Jumat, 02 Oktober 2009

Empat Dusun Tertimbun, 300 Orang Terkubur

Empat Dusun Tertimbun, 300 Orang Terkubur
Petugas penolong mengevakuasi korban tewas yang ditemukan di reruntuhan bangunan pascagempa tektonik di Padang, Sumbar, Kamis (/10).


    JUMAT, 2 OKTOBER 2009 | 21:16 WIB

    PADANG, KOMPAS.com - Empat dusun di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatra Barat (Sumbar), tertimbun tanah longsor akibat gempa, Rabu (30/9) sore dan diperkirakan ada 300 orang yang ikut tertimbun. Pantauan di lokasi, Jumat (2/10), empat dusun tertimbun tanah itu hanya nampak tanah memerah dan tidak ada nampak rumah dan bangunan lainnya karena telah tertimbun.

    Empat dusun itu yakni, Pulau Koto, Lubuk Laweh, Sumanak, dan Tandikek. Upaya evakuasi dari tim SAR belum dapat dilakukan dan pencarian serta penggalian hanya dilakukan warga setempat yang luput dari bencana tersebut.

    Informasi di lokasi menyebutkan, upaya pencarian dilakukan warga setempat baru menemukan sembilan jasad korban dari sekitar 62 warga di Sumanak yang tertimbun. Kemudian di dusun Lubuk Laweh baru ditemukan empat jasad korban dari 100 warga yang diduga tertimbun.
    Di empat dusun itu disebutkan sekitar 300 warga masih tertimbun, sedangkan tim SAR dan alat-alat berat belum masuk ke daerah itu untuk membantu evakuasi.

    Data Sarkorlak Penangulangan Bencana Sumbar, menyebutkan, di Kabupaten Padang Pariaman, sampai Jumat siang telah ditemukan 184 korban tewas, 175 korban luka berat dan 500 luka ringan. Selain itu, 10.017 unit rumah di Kabupaten itu terdata rusak berat.

    Informasi dari salah seorang guru SMP Negeri Tandikek, Asmanidar mengatakan, sedikitnya ada 200 orang yang tewas dari dusun Tandikek akibat tertimbun tanah. Warga Balah Air, Kecamatan VII Koto, Pariaman itu mengatakan, gempa yang melanda Sumbar dengan kekuatan besar itu membawa penderitaan yang mendalam bagi masyarakat Pariaman.

    Dari empat rumah keluarga besarnya hanya satu yang tersisa, itu pun sudah retak-retak. "Sejak terjadinya gempa hingga kini kami tidur di sebuah tenda kecil," katanya dengan nada sedih.
    Namun demikian ia masih merasa bersyukur kepada Allah SWT karena semua anggota keluarga besar yang terdiri lima kepala keluarga termasuk yang berada di Kota Padang semuanya selamat.

    "Keponakan saya (anak kakak-Red) bernama Ined selamat dari runtuhan bangunan kantor leasing kendaraan di Padang karena minta izin pulang lebih awal untuk mengobat anaknya yang sakit," kata Asmanidar.

    Ia mengatakan rekan sekantor Ined banyak yang tewas akibat tertimbun runtuhan gedung.
    "Rasanya gempa Rabu sore itu kekuatannya bukan 7,6 Skala Richter mungkin lebih dari itu karena getarannya kuat sekali," katanya dan menambahkan banyak sekali bangunan rumah yang runtuh di Pariaman.

    WAH
    Sumber : ANT

    http://regional.kompas.com/read/xml/2009/10/02/21163781/empat.dusun.tertimbun.300.orang.terkubur