Tampilkan postingan dengan label Terumbu Karang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Terumbu Karang. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Juli 2010

50 % Terumbu Karang Kepulauan Seribu Rusak

50 % Terumbu Karang Kepulauan Seribu Rusak


50 % Terumbu Karang Kepulauan Seribu Rusak

VIVAnews – Suku Dinas Kelautan dan Pertanian Kabupaten Kepulauan Seribu menganggarkan Rp3 miliar untuk merehabilitasi kerusakan terumbu karang. Tercatat, sedikitnya 50 persen dari 4.750 hektar terumbu karang yang ada, kini kondisinya sangat memprihatinkan.

Hal itu dinyatakan Kepala Suku Dinas Kelautan dan Pertanian Kabupaten Kepulauan Seribu, Liliek Litasari, Senin, 26 Juli 2010. Ia menambahkan saat ini luas terumbu karang yang masih tersisa dan bisa dimanfaatkan untuk obyek wisata dan penelitian ilmiah, tinggal 2.375 hektar.

Rehabilitasi yang dilakukan pemerintah, kata Liliek, salah satunya melalui transplantasi. Yakni dengan cara menempelkan terumbu yang hidup ke terumbu yang sudah mati. Ia berharap, ini efektif untuk memperbaiki kerusakan.

Secara terpisah, Kepala Dinas Kelautan dan Pertanian Jakarta, Ipih Ruyani, mengungkapkan program rehabilitasi terumbu karang sudah mulai dilakukan sejak 2002. Selain transplantasi, rehabilitasi terumbu juga dilakukan melalui cara penenggelaman fish shelter. (adi)

http://id.news.yahoo.com/viva/20100726/tid-50-terumbu-karang-kepulauan-seribu-r-bfaaf2f.html

Selasa, 27 Oktober 2009

Sebagian Terumbu Karang Takabonerate Telah Mati

Sebagian Terumbu Karang Takabonerate Telah Mati
SELASA, 27 OKTOBER 2009 | 07:41 WIB

BENTENG, KOMPAS.com- Ekspedisi Takabonerate 2009 pada Sabtu-Minggu (25/10) malam menyimpulkan bahwa terumbu karang di sejumlah titik penyelaman Taman Nasional Laut Takabonerate, Sulawesi Selatan, umumnya telah mati akibat penggunaan bom ikan. Pendataan Balai Taman Nasional Laut Takabonerate pada tahun 2009 juga memperkirakan, luasan kondisi dan luasan terumbu karang lima tahun terakhir ini berkurang.

Survei tahun 2004 menunjukkan, tutupan terumbu karang di Takabonerate masih sekitar 78 persen. Namun, hasil sementara survei tahun 2009 menunjukkan, tutupan terumbu karang di kawasan itu tinggal 60-70 persen.

Ratusan penyelam peserta ekspedisi diberi waktu sekitar tiga jam untuk melakukan penyelaman di perairan Takabonerate. Waktu penyelaman tak sebanding dengan waktu tempuh pelayaran dari Benteng, ibu kota Kabupaten Kepulauan Selayar, menuju Takabonerate, lebih dari enam jam.

Salah satu penyelam, Kapten Jhonny Silalahi (45), menuturkan, tutupan terumbu karang di lokasi penyelaman pertama sudah jarang.

”Masih ada terumbu karang yang hidup, tetapi kerapatannya jarang. Di lokasi penyelaman kedua banyak karang mati karena bom ikan. Itu terlihat dari banyak karang berukuran besar yang roboh dan pecah. Kerusakan itu membuat penyelam sulit mendapatkan pemandangan bawah laut yang indah,” kata Silalahi di KRI Makassar, Minggu malam.

Pengendali Ekosistem Hutan Taman Nasional Laut Takabonerate, Ahmadi, menjelaskan, terumbu karang rusak karena proses alam dan ulah manusia.

Takabonerate memiliki potensi besar dikembangkan sebagai daerah tujuan wisata, mengingat daerah itu adalah kawasan konservasi dengan karang atol terbesar ketiga di dunia.

Data situs Departemen Kehutanan menunjukkan, sedikitnya ditemukan 261 jenis terumbu karang dari 17 famili. Sejumlah 15 pulau gosong karang di taman nasional itu dikitari titik penyelaman yang memikat. (ROW)


Editor: msh
Sumber : Kompas Cetak

http://regional.kompas.com/read/xml/2009/10/27/07414877/Sebagian.Terumbu.Karang.Takabonerate.Telah.Mati