Tampilkan postingan dengan label matahari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label matahari. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Juni 2011

Matahari Siap Semburkan Lidah Api Lagi

Matahari Siap Semburkan Lidah Api Lagi
Badai Matahari yang terjadi di tahun 1859 mengacaukan pesan telegram dan jaringan listrik.
JUM'AT, 24 JUNI 2011, 05:40 WIB
Muhammad Firman
Badai Matahari yang terjadi di tahun 1859 mengacaukan pesan telegram dan jaringan listrik. Letusan dengan magnitudo yang sama jika kembali terjadi akan membawa dampak yang jauh lebih serius. (space.com)

VIVAnews - Pada September 1859, Matahari melontarkan salah satu badai yang paling dahsyat yang pernah tercatat dalam sejarah. Letusan Matahari tersebut menyebabkan gangguan arus listrik dan kantor surat kawat (telegram), serta memicu fenomena langit dramatis di Kuba dan Hawaii.

“Sebuah badai serupa kemungkinan akan kembali terjadi,” kata Lika Guhathakurta, ilmuwan dari kantor pusat NASA, seperti dikutip dari
Space, 23 Juli 2011.

Padahal, masyarakat modern saat ini sangat bergantung pada sistem berteknologi seperti jaringan listrik, komunikasi berbasis satelit, dan GPS. Semuanya sangat ringkih terhadap badai Matahari.

Saat badai terjadi pada tahun 1859 lalu, Matahari tengah berada di siklus bawah (aktivitas Matahari bergerak naik dan turun dalam periode sekitar 11 tahun). Dan siklus bawah juga bisa berfungsi sebagai pengingat bahwa badai kuat bisa terjadi. Sebagai informasi, di tahun 2011 ini Matahari juga sedang berada di siklus rendah.

Menurut peneliti, badai yang terjadi tahun 1859 mengacaukan pesan telegram dan membingungkan para astronom di kawasan tropik. Namun, letusan dengan magnitudo yang sama jika kembali terjadi akan membawa dampak yang jauh lebih serius.

Mati lampu yang menyebar di seluruh dunia bisa terjadi selama berbulan-bulan. Para teknisi akan kewalahan mengganti transformer listrik yang rusak, misalnya. Pesawat dan kapal laut tidak bisa memanfaatkan GPS untuk navigasi. Jaringan perbankan akan terputus. Ini akan mengganggu sistem perdagangan dunia.

Menurut penelitian yang dilakukan pada tahun 2008 lalu oleh National Academy of Sciences, sebuah badai Matahari raksasa akan menghadirkan dampak ekonomi yang lebih merusak dibanding 20 badai Katrina. Sebagai gambaran, Katrina menimbulkan kerugian ekonomi hingga US$80 miliar atau sekitar Rp690 triliun.

Lalu, apa yang bisa kita perbuat? Sebagai awalan, peneliti kini tengah berusaha untuk memprediksi dan melacak badai Matahari secara lebih akurat. Tujuannya adalah agar saat badai tersebut terjadi, Bumi telah lebih siap.

“Kita kini bisa melacak perkembangan badai Matahari dalam tiga dimensi seperti layaknya melacak badai yang terjadi di Bumi,” kata Michael Hesse, Chief of the Space Weather Lab, NASA.

“Ini membuat kita punya semacam alarm peringatan untuk melindungi jaringan listrik dan perangkat teknologi tinggi lainnya saat aktivitas matahari tengah berada dalam periode ekstrim,” ucapnya.

Sebagai contoh, kata Hesse, menonaktifkan transformer tertentu di instalasi pembangkit listrik selama beberapa jam dapat mencegah mati lampu regional selama beberapa minggu. (umi)

• VIVAnews

Kamis, 17 Februari 2011

Matahari Lepaskan Kilatan Api Terbesar, Ancam Badai Geomagnetik di Bumi

Kamis, 17/02/2011 11:57 WIB
Matahari Lepaskan Kilatan Api Terbesar, Ancam Badai Geomagnetik di Bumi
BBCIndonesia.com - detikNews


Kilatan Matahari

Matahari melepaskan kilatan api terbesar dalam empat tahun terakhir

Matahari melepaskan kilatan api terbesar dalam empat tahun terakhir.

Wartawan Science BBC News, Paul Rincon, menuliskan erupsi yang disebut X-flare, merupakan tipe terbesar, dan sejumlah gelombang dapat berpengaruh pada jaringan komunikasi di Bumi.

Peneliti Nasa dari Solar Dynamics Observatory (SDO), pesawat luar angkasa merekam kilatan sinar ultraviolet yang ekstrim dari cahaya Matahari.

Peneliti geologi Inggris (BGS) mengumumkan peringatan badai geomagnetik, dan mengatakan peneliti kemungkinan dapat melihatnya dari wilayah bagian utara Inggris.

Erupsi itu diperkirakan akan mengenai gelombang magnetik di bumi dalam beberapa hari, yang menimbulkan peningkatan aktivitas geomagnetik.

Kilatan api yang besar terekam pada pukul 09.00 pagi WIB, Selasa lalu (15/2), dan dapat dideteksi dari bumi.

Menurut Badan Luar Angkasa AS, aktivitas kilatan api matahari itu terjadi karena adanya peningkatan bintik matahari 1158.

Kilatan matahari disebabkan oleh pelepasan energi magnetik yang tiba-tiba yang tersimpan di atmosfir Matahari.

Data sementara dari pengamatan luar angkasa Stereo-B dan Soho menunjukan letusan terjadi dengan cepat, dan melepaskan partikel di angkasa.

Aktivitas matahari yang tidak terduga ini dapat diketahui melalui teknologi modern di Bumi, seperti jaringan listrik, sistem komunikasi dan satelit, termasuk sinyal satelit navigasi (sat-nav) yang digunakan di Bumi.

Peneliti BGS menyebutkan kondisi itu sama seperti yang terjadi pada masa Victoria.

Peneliti menambahkan penelitian tentang aktivitas Matahari di masa lalu dalam memberikan informasi untuk memprediski cuaca di luar angkasa pada masa mendatang.

Pada 1972, gelombang geomagnetic merusak jaringan komunikasi jarak jauh di seluruh negara bagian Illinois AS.

dan di tahun 1989, badai lain menyebabkan enam juta orang mengalami pemadaman listrik di provinsi Quebec Kanada. (bbc/bbc)


http://www.detiknews.com/read/2011/02/17/112242/1572716/934/matahari-lepaskan-kilatan-api-terbesar?881101934

Rabu, 26 Agustus 2009

Pemanasan Global Tata Surya

Pemanasan Global
Bukan Hanya Bumi yang Mengalami...
SENIN, 24 AGUSTUS 2009 | 07:42 WIB

Oleh Yulvianus Harjono

KOMPAS.com - Dalam 100 tahun terakhir, temperatur global di planet Bumi meningkat 0,6 derajat celsius. Yang mencengangkan, kondisi senada—pemanasan—ternyata juga terjadi di planet-planet lain dalam sistem Tata Surya dalam waktu yang hampir bersamaan.

Temuan ini merupakan hasil pengamatan yang dilakukan para ilmuwan: astronom dan astrofisikawan, selama dua dasawarsa terakhir pada planet-planet tetangga Bumi yang ada di orbit Matahari, sumber energi utama kehidupan di Bumi.

Neptunus, planet intersolar terjauh dengan jarak rata-rata 4.450 juta kilometer dari Matahari, adalah salah satu yang mengalami fenomena turbulensi iklim ini. Dari hasil fotometri rutin oleh Observatorium Lowell di Amerika Serikat, sejak 1980 hingga sekarang Neptunus makin terlihat cemerlang.

Dari hasil pemantauan inframerah, seperti diungkapkan HB Hammel dan GW Lockwood, permukaan planet berwarna biru ini terus memanas dalam kurun waktu dua dasawarsa terakhir. Fotometri menunjukkan kenaikan signifikan. Dari sebelumnya 7,97 magnitude (mag) pada 1950 menjadi 7,81 mag di 2004. Semakin rendah angka magnitude, semakin cemerlang planet yang diamati.

Gejala sama terjadi di Triton, satelit alamiah terbesar yang mengelilingi Neptunus. Terhitung sejak 1989, suhu di permukaan Triton memanas signifikan hingga 5 persen dari skala temperatur absolut planet ini—setara kenaikan 22 derajat Fahrenheit.

Berdasarkan pemantauan wahana Voyager pada 1989, Triton memiliki suhu dingin ekstrem, yaitu rata-rata minus 392-389 derajat Fahrenheit (minus 200-198 derajat celsius). Namun, tren pemanasan ini mengakibatkan sebagian permukaan Triton yang terdiri dari nitrogen beku berubah menjadi gas. Ini membuat atmosfernya yang terkenal tipis menjadi kian tebal.

Seperti dikutip dari jurnal Nature, James L Elliot, astronom dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), mengungkapkan, perubahan iklim di salah satu bulan Neptunus ini terjadi sekali dalam beberapa ratus tahun akibat perubahan absorpsi energi solar di kutub-kutub es Triton.

Badai raksasa di Yupiter

Tren perubahan iklim juga terjadi di Yupiter, planet terbesar tata surya. Science Daily, Mei 2008, melaporkan, dalam dua tahun terakhir sebelum laporan dirilis, terjadi peningkatan aktivitas badai raksasa di atmosfer Yupiter. Teleskop Hubble menangkap citra yang menunjukkan terbentuknya titik merah (red spot) baru di planet ini.

Badai besar berukuran hingga 0,5 miliar mil ini kemudian disebut ilmuwan sebagai ”Red Spot Jr”. Badai yang tergolong langka ini terbentuk dari hasil penggabungan tiga badai oval berwarna putih pada kurun waktu 1998-2000. Hal serupa pernah terjadi seabad lalu, yaitu ketika terbentuk ”Great Red Spot” berukuran dua kali Bumi.

Menurut Phillip S Marcus, profesor dinamika fluida dari University of California, Berkeley, Yupiter mengalami perubahan iklim, yaitu suhu permukaan meningkat sebesar 10 derajat celsius. Kawasan ekuator menghangat, sementara wilayah di dekat kutub selatan semakin dingin. ”Aktivitas awan di sana dalam dua setengah tahun terakhir menunjukkan hal yang dramatis, sesuatu yang tidak lazim telah terjadi,” ujar Phillip.

Saat belum ada penjelasan yang utuh dan menyeluruh soal benang merah terjadinya perubahan iklim di planet-planet intersolar ini, astronom juga mengungkapkan, planet kerdil (Pluto) mengalami tren perubahan iklim senada. Apalagi, Pluto yang dicoret statusnya sebagai planet terletak sangat jauh dari Matahari, yaitu 6 miliar kilometer atau sekitar 40,5 satuan astronomi atau sekitar 40 kali jarak Matahari-Bumi. Tekanan atmosfer Pluto diketahui meningkat tiga kali lipat sejak akhir 1980-an. Diperkirakan, suhu permukaan ikut meningkat rata-rata 2 derajat celsius.

Padahal, tidak ada aktivitas manusia yang menimbulkan efek rumah kaca di sana. Lantas, apa penyebab perubahan temperatur di sejumlah planet dan obyek tata surya ini dalam waktu yang hampir bersamaan?

Matahari disalahkan

Mencoba memberikan benang merah, Habibullo Abdussamatov, Kepala Bidang Penelitian Luar Angkasa di Observatorium Astronomi St Petersburg, Rusia, mengklaim, aktivitas Matahari-lah yang memengaruhi perubahan temperatur di Bumi dan sejumlah planet.

”Efek rumah kaca yang ditimbulkan manusia berkontribusi pada pemanasan di Bumi dalam beberapa tahun terakhir. Tetapi, itu tidak bisa menyamai dampak akibat meningkatnya iradiasi Matahari,” tuturnya.

Abdussamatov merujuk kepada pengalaman di Mars untuk memperkuat dalilnya yang kontroversial ini. Puluhan tahun terakhir ini permukaan Mars diketahui memanas dengan sangat cepat, yaitu empat kali dari laju pemanasan global di Bumi.

Mars, seperti halnya Bumi, diketahui pernah mengalami zaman es. Namun, lapisan es yang menyimpan karbon dioksida (CO) dalam jumlah besar di wilayah dekat kutub selatan Mars telah mencair sangat cepat. Dari 1970 hingga 1990 tercatat, temperatur udara di Mars meningkat 0,65 derajat celsius.

Hammel dan Lockwood juga ikut memperkuat koneksi faktor iradiasi Matahari dengan gejala perubahan iklim di Neptunus. Menurut mereka, koefisien relevansi antara tingkat iradiasi Matahari dan angka kecemerlangan Neptunus mencapai 0,90 atau nyaris sempurna.

Korelasi ini ikut dihubungkan dengan gejala anomali perubahan temperatur di Bumi. Data yang mereka peroleh menunjukkan, variasi perubahan iradiasi Matahari ternyata berbanding lurus pula dengan tren kenaikan suhu di Bumi.

Perubahan energi yang dipancarkan Matahari termasuk beragam variasinya, baik ultraviolet, kosmik, dan inframerah, sangat berkorelasi dengan perubahan temperatur di tiap planet, termasuk Bumi.

Dampak di tiap planet ditentukan faktor lokal, yaitu variasi kemiringan orbit, albedo (kemampuan merefleksikan kembali radiasi sinar ke atmosfer), dan aktivitas geologis seperti erupsi gunung berapi. Aktivitas manusia, yaitu efek rumah kaca, termasuk faktor lokal ini.

Meskipun demikian, mayoritas peneliti menolak anggapan sesuai uraian di atas.

Michaell Mann, meteorolog dari Penn State, Amerika Serikat, menuturkan, perubahan aktivitas Matahari dan segala variasinya hanya memengaruhi 0,1-1 persen iklim di Bumi. Tak cukup kuat untuk memicu perubahan iklim dramatis di Bumi.

Apalagi, tingkat keaktifan Matahari memiliki periode tiap 11 tahun dan saat ini masih dalam fase nonaktif. Sangat jarang terlihat bintik Matahari, salah satu indikator turunnya keaktifan Matahari, akhir-akhir ini.

”Mereka yang tidak bisa menerima eksistensi faktor antropologis (aktivitas manusia) terhadap perubahan iklim, terus mencoba mengarahkannya ke aktivitas Matahari,” ucap Penn.


Sumber : KOMPAS

http://sains.kompas.com/read/xml/2009/08/24/07422454/bukan.hanya.bumi.yang.mengalami...