Jumat, 26 Maret 2010

"Sasi" Melawan Degradasi Lingkungan

"Sasi" Melawan Degradasi Lingkungan
Selasa, 23 Maret 2010 | 08:51 WIB
KOMPAS/WISNU WIDIANTORO
Ilustrasi Hutan

KOMPAS.com - Jauh sebelum orang-orang secara global membahas pentingnya pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan, masyarakat Maluku sudah menerapkannya sejak lama. Melalui hukum adat sasi yang diwariskan turun-temurun dari leluhur, orang Maluku dengan sendirinya telah menjaga kelestarian lingkungan.

Mereka percaya jika dilanggar, bencana akan langsung menimpa.

Saat beragam jenis ikan di Teluk Un di Desa Taar, Kecamatan Dullah Selatan, Tual, menyusut akibat penangkapan setiap hari oleh nelayan setempat pertengahan Maret lalu, pemangku adat tertinggi di desa itu bersama sejumlah tetua adat dari empat marga berkumpul.

Perlunya sasi dipakai di Teluk Un mengemuka dalam pertemuan. Semua yang berkumpul sepakat sasi digunakan.

Sasi yang di Pulau Kei Besar disebut yot dan di Pulau Kei Kecil disebut yutut adalah larangan untuk mengambil sumber daya alam di suatu kawasan dalam jangka waktu tertentu, biasanya enam bulan sampai satu tahun. Tujuannya, menjaga kelestarian lingkungan dan menjamin hasil lebih berkualitas dan berlipat di masa depan.

Upacara adat pun digelar. Tiga janur kuning dan kayu jenis ai num sebagai syarat sasi pun disiapkan. Usai doa adat dan doa oleh pemuka adat di gereja dilakukan, janur kuning diikat pada kayu lalu ditancapkan di dasar teluk.

”Selama satu tahun, ikan apa pun di teluk itu tidak boleh diambil,” ujar Kepala Desa Taar sekaligus pemangku adat tertinggi di Desa Taar, Herman Tarantain. Nelayan harus mencari ikan di lokasi lain sampai populasi ikan di Teluk Un pulih.

Salah satu contoh pelaksanaan ketika sasi dibuka tiga tahun lalu, hasil ikan di Teluk Un melimpah. Saking melimpahnya, sebagian dari hasil ikan itu lalu dijual dan uangnya dipakai untuk pembangunan sekaligus peresmian gereja baru di Taar.

Di tempat lain di Pulau Kei Besar, pulau yang bersebelahan dengan Tual dan Kei Kecil di Maluku Tenggara, sasi kerap digunakan melindungi hutan. Sasi juga secara rutin dipakai guna menjamin kesinambungan populasi lola (kerang). Kerang tidak hanya penting untuk mata pencarian warga, tetapi penting pula guna mengubah zat polutan menjadi nutrisi bagi ikan.

Di mana pun sasi dipasang, warga Kei pantang melanggarnya. ”Mereka percaya jika dilanggar, bencana akan langsung menimpa. Bencana itu bisa sakit yang tidak bisa disembuhkan dokter atau bahkan bisa sampai meninggal,” ujar Theodorus Reyan (57), warga Loon, Kei Kecil.

Membayar denda

Tak hanya itu yang membuat mereka gentar. Ketika seseorang ketahuan melanggar, ia harus membayar denda sebagai syarat agar dosa adat bisa dicabut.

Denda itu berupa pemberian lela (miniatur meriam berwarna emas) dan mas adat (berbentuk gelang dari emas). Satu lela bisa berharga Rp 10 juta, sedangkan satu mas adat bisa berharga Rp 500.000. Jumlah lela dan mas adat yang diberikan tergantung keputusan tetua adat.

Lela ini sebetulnya adalah sisa-sisa bukti dari perdagangan Portugis dan masyarakat Kei pada masa lampau, sedangkan emas gelang merupakan bukti perdagangan masyarakat Kei dengan pedagang dari China.

”Dulu masyarakat Kei menukar perahu, kayu, atau logistik dengan lela dan gelang sehingga lela dan gelang banyak di Kei,” ujar Gregorius Wens Rahawarin, budayawan Kei yang sekarang berusia 75 tahun.

Namun, kini jumlah lela dan mas adat terus berkurang. Penjualannya ke luar Kei semakin marak, seiring dengan tingginya harga jual barang-barang bersejarah itu. Dengan kondisi ini, praktis harga lela dan mas adat di Kei sendiri terus meningkat. Lela dan mas adat ini juga dijadikan syarat saat pria hendak menikahi perempuan.

Masyarakat Kei meyakini sasi, yang juga disebut hawear, digunakan pertama kalinya untuk melindungi Dit Sakmas, satu dari delapan anak Kasdewa dan Dit Ratngil, leluhur Kei yang dipercaya berasal dari Bali.

”Sasi dipakai untuk melindungi Dit Sakmas dari orang yang mengganggu setelah menikah dengan Raja Danar di Pulau Kei Kecil, Hila Ai Arnuhu,” kata Rahawarin, yang terlibat dalam perumusan sejarah hukum adat Kei, Lar Vul Ngabal.

Hukum sasi itu mengacu pada pasal ketujuh dari tujuh aturan di Lar Vul Ngabal. Pasal ketujuh itu menyebutkan Hira I ni fo I ni, it did fo it did (milik orang lain tetap milik mereka, milik kita tetap milik kita).

Dua peneliti Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Maluku dan Maluku Utara, Marten Pattipeiloh dan Mezak Wakim, mengatakan, hukum sasi tidak hanya di Kei, tetapi juga diterapkan di Maluku dan Maluku Utara.

(A Ponco Anggoro)

Editor: wsn | Sumber : Kompas Cetak

Sumatera dan Jawa Jadi Objek Penelitian Gempa

Sumatera dan Jawa Jadi Objek Penelitian Gempa
Senin, 22 Maret 2010 | 19:50 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerja sama dengan Japan International Cooporation Agency (JICA) melakukan sebuah upaya untuk mereduksi bahaya gempa bumi dan gunung api di Indonesia. Wilayah Indonesia yang dipilih oleh para peneliti Indonesia dan Jepang ini adalah Sumatera dan Jawa.

Selain banyak patahan di kedua wilayah tersebut, jumlah penduduk di wilayah tersebut juga relatif padat.
-- Hery Harjono

Menurut Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian, Hery Harjono, Sumatera menjadi pilihan karena banyak patahan yang masih aktif sedangkan Jawa dipilih karena banyak patahan yang belum sempat dipetakan oleh LIPI. "Selain banyak patahan di kedua wilayah tersebut, jumlah penduduk di wilayah tersebut juga relatif padat. Dengan adanya riset ini, diharapkan dapat membantu masyarakat di daerah tersebut untuk lebih waspada akan bencana yang mungkin menimpa," ujar Hery yang juga merupakan Ketua Penelitian Program Multi-Disiplin dalam Pengurangan Bahaya Gempa Bumi dan Gunung Api di Indonesia ketika jumpa pers di Kantor LIPI, Jakarta, Senin (22/3/2010).

Patahan bumi atau sesar merupakan retakan pada kerak bumi yang dapat mengakibatkan gempa dan tsunami. Patahan di wilayah Jawa belum teridentifikasi sepenuhnya sehingga LIPI masih terus menerus melakukan riset dan pemetaan patahan.

Pemetaan ini nantinya dapat dijadikan sumber prakiraan gempa pada suatu daerah yang terletak di sekitar patahan ataupun daerah yang berkemungkinan terkena dampaknya. "Program riset ini mencoba mendahulukan wilayah yang memang rentan terhadap bencana tsunami, gempa bumi dan gunung berapi. Jadi, tidak serta merta meneliti begitu saja." ungkap Hery.

Sejauh ini, LIPI telah melakukan survei sesar aktif di daerah Jawa Barat, yaitu sesar Cimandiri, sesar Lembang dan sesar Baribis. Nantinya, LIPI diharapkan dapat memberikan peta atau gambaran daerah yang memang rentan terhadap bencana sehingga penanggulangan dapat segera diupayakan.


Penulis: C8-10 | Editor: made

Perlu Mitigasi terhadap Ancaman Badai Matahari

Perlu Mitigasi terhadap Ancaman Badai Matahari
Laporan wartawan KOMPAS Ingki Rinaldi
Rabu, 17 Maret 2010 | 18:32 WIB
SHUTTERSTOCK
Matahari menyerang bumi dengan badai geomagnetik

PADANG, KOMPAS.com — Pengurus Daerah Ikatan Ahli Geologi Indonesia (Pengda IAGI) Provinsi Sumatera Barat mengingatkan soal perlunya upaya antisipasi terhadap ancaman bencana badai matahari yang mesti dilakukan sedini mungkin.

Ketua Pengda IAGI Provinsi Sumbar Ade Edward, Rabu (17/3/2010), mengatakan, prediksi soal badai matahari 2012-2015 yang secara resmi sudah dinyatakan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) mesti segera ditindaklanjuti dengan upaya mitigasi oleh LIPI, BNPB, BPPT, Kementerian Ristek, Kementerian ESDM, dan BMKG.

Sejumlah peneliti antariksa di dunia memprediksi puncak badai matahari akan terjadi pada pertengahan tahun 2013. Indikasi tersebut berdasar pada aktivitas matahari yang saat ini terus meningkat. Aktivitas matahari ini berupa medan magnet, bintik matahari, ledakan matahari, lontaran massa korona, angin surya, dan partikel energetik.

Namun, masyarakat tidak perlu khawatir karena badai matahari tidak akan menghancurkan peradaban dunia. Dampak badai matahari hanya merusak sistem teknologi. Sistem teknologi yang terpengaruh, misalnya, rusaknya satelit sehingga mengganggu jaringan komunikasi. Dampak lainnya dari badai matahari ini juga dapat mengganggu medan magnet bumi. Badai matahari ini dapat diantisipasi agar tidak menimbulkan kerusakan, seperti mematikan sementara jaringan satelit dan jaringan listrik pada saat terjadi badai matahari.


Editor: wah

Kamis, 25 Maret 2010

Kebakaran Gedung, 19 Orang Tewas

10:43 WIB Kolkata, India
Kebakaran Gedung, 19 Orang Tewas
Kamis, 25 Maret 2010 00:00 WIB
Kebakaran Gedung 19 Orang Tewas

AP/Bikas Das

KEBAKARAN dahsyat yang melanda sebuah gedung tua di Kolkata (dulu Kalkuta), India, menewaskan sedikitnya 19 orang dan puluhan lainnya mengalami luka-luka.
Sebelumnya, pihak kepolisian melaporkan korban tewas sebanyak enam orang. Namun, petugas pemadam kebakaran menemukan 13 mayat di dalam gedung.
Kepala petugas pemadam kebakaran Gopal Bhattacharjee mengungkapkan pihaknya menemukan 13 mayat dalam kondisi hangus terpanggang saat menerobos masuk ke gedung berlantai tujuh itu sekitar tengah malam, kemarin.
"Sekitar 20 orang mengalami luka-luka akibat peristiwa nahas ini," ujar Bhattacharjee.
Saat ini, kepolisian tengah menginvestigasi sejumlah pihak untuk menyelidiki penyebab kebakaran. Kepala polisi Javed Shamim mengatakan api diduga berasal dari sambungan listrik pada lift gedung.
Dua orang nekat melompat dari atas gedung dan tewas seketika di antara kerumunan warga yang memenuhi lokasi kejadian. Lima dari 20 orang yang terluka dan dilarikan ke rumah sakit berada dalam kondisi kritis.
Ribuan orang berkumpul di kawasan tersibuk di timur India untuk menyaksikan petugas pemadam kebakaran menyelamatkan puluhan orang yang terjebak di dalam gedung. (MP/AP/I-1)

Tibet jolted by two earthquakes

Tibet jolted by two earthquakes


BEIJING: Tibet was on Wednesday jolted by two earthquakes measuring 5.7 and 5.5 magnitudes on the Richter Scale, the Earthquake Networks Centre said.

The first 5.7-magnitude quake struck at around 10:06 am (local time) and the second 5.5-magnitude hit 38 minutes later, both in northern Tibet's Nyainrong County, Nagqu Prefecture.

No reports of casualties or damage were immediately available.

The epicentre of the first quake was 32.4 degrees north latitude and 93.0 degrees east longitude at a depth of about eight kilometres.

The epicentre of the second quake was 32.5 degrees north latitude and 92.8 degrees east longitude at a depth of about seven kilometres, official Xinhua news agency quoted the centre as saying.

The quake hit a sparsely inhabited mountainous area with an altitude of more than 4,000 meters, said Zhu Quan, director with the seismological bureau of Tibet.

The region suffered frequent quakes in the past years.

Ului leaves threat of deadly disease




Ului leaves threat of deadly disease

By Josh Bavas for AM

Updated Tue Mar 23, 2010 8:40pm AEDT

As the massive clean up in north Queensland after ex-Tropical Cyclone Ului continues, residents are worried about catching a deadly bacteria from the sodden soil.

As the category three cyclone crossed the coast in the early hours of Sunday morning, the ocean surged into the beachside town of Midge Point, north of Mackay.

Residents awoke to tonnes of mud and thousands of uprooted trees lining their streets.

They have now been left with the job of cleaning up the putrid mess.

Robyn Whelan, manager of the Midge Point Caravan Park, says it will take at least six months before she can let tourists back into the popular holiday spot.

"All the beautiful big trees are down everywhere," she said.

"You just think, 'where do we start' and it's just impossible."

Deadly bacteria

If the massive clean-up task was not enough to worry about, residents now have to be careful they do not pick up a deadly bacteria lurking in their muddy streets.

Ms Whelan's husband Paul says he received a letter from Queensland Health two weeks ago, warning residents to be cautious when gardening after a north Queensland death related to a soil-borne bacteria.

"We have to be very, very aware about it," he said.

"They said to wear gloves, wear proper footwear. We have had cases here of it."

The germ, known as melioidosis, led to the death of a Charters Towers woman last month and seven other cases have been reported so far this year.

Precautions

Queensland Health spokesman Dr Steven Donahue says the bacteria, which can be found in soil in the tropics, can lead to a variety of diseases.

"It can cause nasty skin sores and ulcers," he said.

"It could lead to a form of blood poisoning where people just get sick with septicaemia and occasionally a chronic form of the disease will cause abscesses in the internal organs.

"Also of course people can get pneumonia from this germ as well."

Dr Donahue says taking extra precautions might drag out the clean-up process, but it is worth it.

"It's pretty sensible stuff - the kind of thing that your mother would tell you about," he said.

"If you're messing about in muddy water or areas where you could cut yourself or scratch yourself, put on a pair of good boots and some work gloves.

"If you've got any kind of scratches or nicks on the skin, it's really important to wash them thoroughly with soap and water or antiseptic and then cover them with a waterproof dressing."

Tags: disasters-and-accidents, cyclones, health, diseases-and-disorders, qld, cairns-4870, gladstone-4680, mackay-4740

First posted Tue Mar 23, 2010 12:06pm AEDT

http://www.abc.net.au/news/stories/2010/03/23/2853654.htm

Colorado snow disrupts 160 flights, cuts power

Colorado snow disrupts 160 flights, cuts power


DENVER – A heavy, wet spring snowstorm forced airlines to cancel scores of flights at the Denver airport on Wednesday and left thousands of people without power.

Tree branches sagged and snapped under the weight of the snow. Dozens of schools canceled classes and the state Legislature declared a snow day, canceling House and Senate sessions as well as committee meetings.

Denver International Airport estimated up to 5,000 people spent Tuesday night there after their flights were canceled.

"This is my last time flying unless I grow wings," said Elizabeth Kinder of Great Falls, Mont., who slept in the airport's chapel.

She and her husband were flying home from San Jose, Calif., when they got stranded in Denver Tuesday night.

The airport's three busiest airlines — United, Frontier and Southwest — together canceled nearly 160 arrivals and departures Wednesday.

Highway traffic was light for Denver's morning rush.

"Some folks maybe decided they didn't have to travel, so they just stayed home," said Gene Towne of theColorado Department of Transportation.

The National Weather Service said 23 inches of snow fell by Wednesday morning in Jefferson County west ofDenver and about 9 inches in Denver.

Most major ski areas reported 5 to 7 inches of new snow. Eldora — just west of Boulder — reported 18 inches.

The storm boosted the mountain snowpack, which accounts for much of Colorado's water when it melts during the warm months. As of Wednesday, the snow totals were below average in the northern half of the state and roughly average in the south.

The snow was expected to taper off in northern Colorado but continue falling in the south.

"It's been snowing all morning pretty good," said Teresa James, manager of Ringo's Super Trading Post, a convenience store on outside the southern Colorado town of Trinidad.

She said her drive to work was slow because the highway hadn't been plowed.

"It was like creeping," she said.

Xcel Energy said about 7,500 customers, mostly in the Denver area, were still without power Wednesday morning. About 45 crews were working to restore power by 5 p.m. About 36,400 customers lost power at various times after snow started falling Tuesday, Xcel Energy spokesman Tom Henley said.

Barbara Foley, 70, of Englewood rode the bus to work Wednesday in downtown Denver after she woke up to find about a foot of snow on her car. She was happy the bus arrived on time, with a driver in a good mood.

"I told the driver, 'You're just as good as the mailman,'" she said. "He said, 'No, lady, we're better.'"

In the mountains, U.S. 6 over Loveland Pass was closed for avalanche control and because of hazardous conditions. Farther west, Colorado 65 near Grand Junction also was closed for avalanche control.

___

Associated Press Writers Kristen Wyatt, Steven K. Paulson and Dan Elliott contributed to this report.

http://news.yahoo.com/s/ap/20100324/ap_on_re_us/us_colorado_snow;_ylt=AiKH3C85r6TCrPPmZDseFq1vzwcF;_ylu=X3oDMTJscG9sY2d2BGFzc2V0A2FwLzIwMTAwMzI0L3VzX2NvbG9yYWRvX3Nub3cEcG9zAzkEc2VjA3luX2FydGljbGVfc3VtbWFyeV9saXN0BHNsawNjb2xvcmFkb3Nub3c-