Rabu, 26 Januari 2011

Angin Ribut Lima Menit Terjang Nganjuk

Angin Ribut Lima Menit Terjang Nganjuk


Liputan6.com, Nganjuk: Angin berkecepatan tinggi menerjang daerah Kertosono, Nganjuk, Jawa Timur, Selasa (25/1). Terjangan puting beliung disertai hujan deras selama lima menit mengakibatkan sejumlah rumah roboh. Terjangan angin juga merobohkan tower pembuatan kartu tanda penduduk online.

Menurut warga, angin kencang menerjang dengan disertai suara gemuruh. Sebuah rumah rusak parah. Perabot rumha juga rusak tertimpa tembok. Tak ada korban jiwa dalam kejadian itu. Namun pemilik rumah menjadi panik. Petugas dari Tagana, TNI, dan Polri, langsung membersihkan puing-puing rumah.

Sementara tower yang roboh terletak di sekitar Kantor Kecamatan Kertosono. Tower yang roboh menimpa rumah dinas camat hingga rusak pada atapnya. Saat kejadian, camat d an keluarganya sedang ada di belakang rumah. Seluruh pelayanan pembuatan KTP online sempat lumpuh total.(ASW/JUM)


http://id.news.yahoo.com/lptn/20110125/tid-angin-ribut-lima-menit-terjang-nganj-e390447.html

Jika Gunung Ini Meletus, 2/3 Amerika Hancur

Jika Gunung Ini Meletus, 2/3 Amerika Hancur
Gunung Yellowstone menunjukkan tanda-tanda peningkatan aktivitas sejak tahun 2004 lalu.
SELASA, 25 JANUARI 2011, 12:00 WIB
Elin Yunita Kristanti

VIVAnews -- Taman Nasional Yellowstone di negara bagian Wyoming, Montana, dan Idaho, Amerika Serikat berada tepat di bawah puncak salah satu gunung api terbesar di dunia, Yellowstone. Sebuah supervulkano atau gunung api super.

Para ahli mengkhawatirkan, gunung yang masih aktif ini bakal meletus. Apalagi, kaldera Yellowstone menunjukkan tanda-tanda peningkatan aktivitas sejak tahun 2004 lalu.

Apa yang terjadi jika Yellowstone meletus? Jawabannya, tragedi. Kekuatan erupsinya diperkirakan ribuan kali lebih kuat dari letusan gunung St Helena pada tahun 1980.

Yellowstone akan memuntahkan lava ke langit, sementara abunya yang panas akan mematikan tanaman dan mengubur wilayah sekitarnya hingga radius 1.000 mil atau lebih dari 1.600 kilometer.

Tak hanya itu, dua per tiga wilayah Amerika Serikat bisa jadi tak bisa dihuni karena udara beracun yang berhembus dari kaldera. Ribuan penerbangan terpaksa dibatalkan, jutaan orang menjadi pengungsi.

Ini adalah mimpi buruk yang diprediksi para ilmuwan, jika Yellowstone kembali meletus untuk kali pertamanya dalam 600.000 tahun. Berita buruknya, ini mungkin terjadi di masa depan.

Penelitian menunjukkan, kaldera Yellowstone telah meletus tiga kali dalam kurun waktu 2,1 juta tahun.

Kekhawatiran para ahli bukannya tanpa dasar. Peningkatan terekam sejak tujuh tahun lalu. Juga, dalam tiga tahun terakhir, lantai gunung naik tiga inchi per tahun. Ini tingkat peningkatan tercepat sejak pencatatan yang dimulai tahun 1923.

Namun, kurangnya data tak memungkinkan para ilmuwan memprediksi kapan gunung super itu bakal meletus.

Ahli vulkanologi dari University of Utah, Bob Smith mengatakan, pengangkatan itu luar biasa karena meliputi wilayah yang cukup luas.

Awalnya, tambah dia, para ilmuwan khawatir peningkatan itu bisa mengarah ke letusan. Untungnya, "kami melihat magma berada di kedalaman sepuluh kilometer, kami tidak begitu khawatir," kata dia, seperti dimuat Daily Mail, Selasa 25 Januari 2011.

Lain halnya jika magma berada di kedalaman dua atau tiga kilometer, para ahli bakal panik.

Sementara, Robert B. Smith, profesor geofisika di University of Utah, mengatakan, ruang magma gunung super itu terisi batu yang mencair.

"Tapi kita tidak tahu berapa lama proses ini berlangsung sebelum akhirnya terjadi letusan, atau sebaliknya aliran batu cair berhenti dan kaldera kembali rata."

Para ilmuwan yang memantau Yellowstone percaya, ruang penyimpanan magma atau reservoir yang membengkak di kedalaman enam mil di bawah tanah mungkin menyebabkan pengangkatan itu.

Para ilmuwan juga mengamati gumpalan seperti kue panekuk yang terbentuk dari batuan cair seukuran kota Los Angeles di lokasi itu.

Karena kondisinya yang ekstrem, sulit bagi ilmuwan untuk menentukan apa sebenarnya yang sedang terjadi di bawah Yellowstone.

Kaldera Yellowstone

• VIVAnews

Selasa, 25 Januari 2011

Bitter cold temperatures prompt school closures in the Northeast

Bitter cold temperatures prompt school closures in the Northeast


Surviving the ColdPlay VideoABC News – Surviving the Cold
Amy Sherna AP – Amy Sherna is bundled against the cold wind and blowing snow as she walks home along The Boardwalk in …

The Starting Point is a snapshot of the news that occurred overnight and a preview of the stories we expect to cover today.

Top story

There's cold and then there's bone-chilling, cover-everything, hide-inside cold.

Temperatures plummeted overnight throughout the Northeast, dropping as low as 36 degrees below zero in Saranac Lake, N.Y., The Associated Press reported. When factoring in wind chills, the air in some places actually felt as cold as 50 degrees below zero.

In contrast, it's currently 23 degrees in Anchorage, Alaska, and it "feels" like 23 degrees.

Such frigid temperatures can be extremely dangerous for those braving the elements. In response, schools in Pennsylvania, New York, Vermont and New Hampshire have closed their doors or plan to delay openings to protect students. Homeless shelters in Boston filled to capacity, yet continued to take in patrons, who slept on mats and blankets.

Residents are urged to stay indoors and check on those who may need assistance, such as the elderly and disabled, The Boston Globe reported. Pet owners should take animals inside to keep them safe from the elements.

Other cold weather tips:

* Dress warmly by wearing layers and covering exposed skin
* If you must go outside, keep moving and avoid getting wet
* Drink warm, non-caffeinated fluids
* Never use your oven for heat
* Keep electric portable heaters away from combustible materials and turn them off when you go to sleep
* Avoid overloading electrical sockets
* Never leave candles unattended

Banjir Lahar Dingin Sulit Diprediksi

Banjir Lahar Dingin Sulit Diprediksi


Liputan6.com, Magelang: Banjir lahar dingin Gunung Merapi menerjang kawasan Muntilan dan Magelang, Jawa Tengah, tiga hari berturut-turut. Senin (24/1), lahar dingin yang membawa pasir material Merapi mengalir deras di Kali Pabelan serta Bojong. Lahar dingin tidak sampai meluap.

Warga nampaknya tidak terlalu khawatir dengan dampak banjir kali ini. Sebagian dari mereka nekat melintas jembatan di atas Kali Bojong walaupun arus deras mengalir di bawah jembatan. Banjir lahar dingin diperkirakan terjadi hingga April 2010.

Sementara banjir lahar dingin di Kali Putih, Jumoyo, Magelang, susah bisa diprediksi. Dimungkinkan akan datang banjir besar ternyata hanya biasa-biasa saja. Sebaliknya masyarakat memprediksi banjir kecil ternyata di luar dugaan, sangat besar.

Banjir lahar dingin Kali Putih tetap saja menjadi momok khusunya pengguna jalan. Terbukti jika aliran banjir datang, Jalan Gempol yang adalah jalur utama Magelang-Yogya ditutup untuk semua jenis kendaraan. Warga diminta waspada karena banjir lahar dingin tak bisa ditebak.(JUM)

http://id.news.yahoo.com/lptn/20110124/tid-banjir-lahar-dingin-sulit-diprediksi-e390447.html

Minggu, 23 Januari 2011

Anak Krakatau Berpijar, Warga Anyer Terkejut

Anak Krakatau Berpijar, Warga Anyer Terkejut


Liputan6.com, Serang: Warga pesisir Anyer, Kabupaten Serang, Banten, dikejutkan kembali oleh pijaran api yang keluar dari perut Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, selama tiga kali. "Tadi subuh pukul 04.00 WIB, saya melihat pijaran api tiga kali, dan pijarannya sangat tinggi," kata Wawan Krista, warga Anyer, Ahad (23/1).

Dia mengemukakan, pijaran yang dilihatnya kali kedua, setelah sebelumnya pada pertengahan Desember 2010. "Pijaran api yang sekarang memamg tidak sejelas dan setinggi pijaran api yang pertama kali saya lihat," katanya.

Pijaran api yang keluar pada dini hari itu, menurut Wawan, diperkirakan setinggi 50 meter. Sedangkan pijaran api yang pertama dilihatnya lebih tinggi dari sebelumnya.

"Rasa khawatir itu ada kalau melihat fenomena alam Krakatau semakin menjadi-jadi, seperti tadi saya melihat ada pijaran api Gunung Anak Krakatau (GAK) ke atas berkali-kali," katanya.

Penjelasan senada diungkapkan warga Paku, Anyer, Kabupaten Serang, Dudi Rahmadi. Menurut dia, pijaran api dari Gunung Anak Krakatau terlihat sebanyak dua kali sejak pukul 01.00 WIB sampai 02.00 WIB. "Selama satu jam saya berada di pesisir Pantai Paku Anyer, dan mungkin kalau saya berdiri sampai pagi di pinggir pantai, lebih dari itu," ujarnya.

Sedangkan Kepala Pos Pemantau Gunung Anak Krakatau (GAK) di Desa Pasauran, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Anton S. Pambudi menjelaskan, status gunung tersebut masih pada level II atau waspada. "Pusat Vulkanalogi dan Mitigasi Bencana Geologi masih belum menurunkan status GAK," kata Anton.

Saat ini, pihaknya masih belum bisa memantau aktivitas kegempaan GAK, begitupun dengan fisik gunungnya. "Alat Seismograf di pos tidak bisa merekam aktivitas kegempaan, karena alat penangkap gempa di GAK sampai sekarang belum berfungsi," katanya.(ANS/Ant)

http://id.news.yahoo.com/lptn/20110123/tid-anak-krakatau-berpijar-warga-anyer-t-e390447.html

Puluhan Warga Terjebak Lahar Dingin di Magelang, 3 Mobil Terseret

Minggu, 23/01/2011 18:39 WIB
Puluhan Warga Terjebak Lahar Dingin di Magelang, 3 Mobil Terseret
Parwito - detikNews



Foto: Parwito (detikcom)
Magelang - Puluhan warga di Desa Sirahan, Magelang, terjebak banjir lahar dingin yang terjadi di Kali Putih, Magelang. Sementara banjir pun menyeret tiga mobil milik warga.

Mereka yang terjebak banjir lahar dingin, Minggu (23/1/2011) ini berasal dari tiga dusun di Desa Sirahan. Ketiga dusun itu adalah Dusun Salakan, Dusun Jetis dan Dusun Candi. Mereka terjebak di rumahnya masing-masing maupun di Masjid Desa Sirahan, Kecamatan Ngluwar, Magelang, Jawa Tengah.

Menurut Suyati (34), warga Dusun Salakan, dirinya sempat pulang ke rumah dari pengungsian di TPA Tanjung untuk bersih-bersih sisa banjir lahar dingin. Namun banjir datang kembali.

"Tadi saya pulang ke rumah bersih-bersih. Ternyata banjir datang. Saya dan semua warga langsung melarikan diri ke masjid desa. Ternyata masjidnya juga ikut terendam banjir setinggi satu setengah meter," kata Suyati kepada detikcom sambil menggendong anaknya Fani (4).

Suyati menyatakan di masjid Desa Sirahan ada sekitar 25 orang termasuk perempuan dan anak-anak. Suyati kemudian dievakuasi relawan desa setempat dengan menggunakan tali tambang.

Hal yang sama juga menimpa dua dusun lainya yaitu Dusun Jetis dan Dusun Candi. Sampai saat ini proses evakuasi terhadap puluhan warga tiga dusun itu masih dilakukan relawan dan petugas tim SAR Magelang.

Sebanyak tiga mobil juga ikut terseret arus banjir lahar dingin sejauh kurang lebih 150 meter dan kini dalam posisi terendam material lahar dingin. Ketiga mobil itu adalah mobil Toyota Fortuner, Honda Civic dan Suzuki Carry.

"Tiga mobil itu milik relawan yang membantu warga membersihkan rumah. Tapi begitu terjadi banjir, langsung terseret dan sampai saat ini masih dicari di sekitar Dusun Glagah, Desa Sirahan. Tapi semua pemiliknya berhasil melarikan diri menjauh dari arus lahar dingin," kata warga, M Habib kepada detikcom.

Luasnya banjir juga dirasakan oleh warga Dusun Sanggrahan, Desa Plosogede, Kecamatan Ngluwar. Sebanyak 15 rumah warga terendam air dari luapan sungai Kali Jengking, anak sungai dari Kali Putih karena bendungan di Desa Sirahan jebol akibat terjangan banjir.

"Hanya berupa air, tidak berupa pasir, lumpur atau batu. 25 Warga sudah mengungsi ke rumah ayah saya. Sampai saat ini mereka cemas karena rumahnya sudah terendam dan kemungkinan akan bermalam disini," kata Kurniawan (30) kepada detikcom.

Ke-25 warga yang terdiri dari orang dewasa, anak-anak itu mengungsi sementara di rumah milik M Gufron (57) salah seorang warga Desa Pesanggrahan, Desa Plosogede, Kecamatan Ngluwar, Magelang.


(fay/fay)

Banjir Lahar Dingin di Magelang Meluas

Minggu, 23/01/2011 22:37 WIB
Banjir Lahar Dingin di Magelang Meluas
Parwito - detikNews



foto: detikcom
Jakarta - Dampak terjadinya banjir lahar dingin yang menerjang Kali Putih, Magelang, Jawa Tengah semakin meluas. Sebanyak 19 dusun terendam material vulkanik Gunung Merapi.

Paska banjir lahar dingin yang ke 9 kalinya yang menghempas dari arah utara yang merupakan kawasan puncak Merapi, menuju ke arah selatan mengakibatkan sebanyak 19 dusun terendam material vulkanik.

Ke-19 dusun itu diantaranya 12 dusun di Desa Sirahan (Kecamatan Salam), 3 dusun di Desa Jumoyo(Kecamatan Salam) dan 4 dusun di Desa Plosogede (Kecamatan Ngluwar).

Data ini disampaikan oleh Perangkat Desa Plosogede, Kecamatan Ngluwar, saat ditemui detikcom, Minggu(23/01/2011), di sela-sela evakuasi warga yang rumahnya terendam di Dusun Sanggarahan RT.02/RW.I, Kecamatan Ngluwar, Magelang.

"Awalnya hanya sebanyak 15 dusun yang terendam diantaranya di Sirahan 12 dusun. Jumoyo sebanyak 3 dusun yaitu Kadirogo, Seloiring dan Gempol. Namun, karena besarnya material yang dibawa oleh banjir semakin memperluas dusun yang tertimbun jalanya dan terendam rumah-rumah penduduknya," papar Yunan.

Yunan menuturkan, kondisi bendungan Desa Sirahan dibantaran Kali Putih sudah tidak mampu untuk menampung material vulkanik Merapi yang menumpuk. "Dua bendungan yang dibuat oleh warga sendiri seminggu yang lalu dan bendungan permanen di Kali Putih Desa Sirahan kini sudah jebol dan dilompati oleh material vulkanik. Ditambah warga hanya membuat tanggul-tanggul tradisional dari material vulkanik didepan rumah mereka," ungkap Yunan.

Akibatnya, luapan material ke arah selatan melewati jalur alternatif Magelang-Yogyakarta dan mengakibatan kemacetan serta membentuk dua alur baru yang mengakibatkan Kali Bagus dan Kali Jengking juga ikut meluap material vulkaniknya. Sehingga puluhan rumah yang ada dibantaran Kali Bagus dan Kali Jengking itu terendam material vulkanik yang dibawa banjir lahar dingin.


Yunan menambahkan di desanya sendiri sudah ada empat dusun yang rumah-rumah warga terendam oleh material vulkanik yang dibawa oleh banjir lahar dingin.

"Di Dusun Karangsangrahan ada 15 rumah warga yang terendam di bagian halaman dan dapur dengan ketinggian 1-3 meter. Di Dusun Ganjuran ada satu rumah yang sangat parah hingga akan roboh dan juga di Dusun Druju Kidul rata-rata air sudah masuk ke halaman dan teras warga," ujar Yunan.

Sungkono, Kepala Desa Jumoyo, menuturkan 3 dusunnya yang sudah beberapa kali diterjang lahar dingin sudah terendam antara 1-2 meter kini malah semakin parah kondisinya.

"Kalau sekarang kedalaman material yang merendam rumah-rumah warga saya di tiga dusun itu bisa mencapai 3 meter lebih dan sudah melewati atap," keluh Sungkono.

Padahal, sebelumnya ratusan warga sudah berusaha untuk melakukan pengerukan dan pembersihan rumahnya masing-masing. Namun kini kembali diterjang lahar dingin dan direndam kembali oleh material vulkanik.

"Untung saja tidak ada korban jiwa dan kurang lebih 900 jiwa warga kami masih bertahan di pengungsian di lapangan Jumoyo, Kecamatan Salam, Magelang," tandasnya.


(van/mpr)