Rabu, 30 Maret 2011

"Siaga Maksimum" Radiasi Nuklir Jepang

"Siaga Maksimum" Radiasi Nuklir Jepang
Radiasi tersebar hingga ribuan kilometer. Sejumlah negara melarang impor makanan Jepang.
RABU, 30 MARET 2011, 00:02 WIB
Denny Armandhanu

VIVAnews - Krisis nuklir akibat kerusakan sejumlah reaktor di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima Daiichi, Jepang, tak juga berakhir. Selain masalah pada reaktor, krisis diperparah dengan sebaran radiasi yang kini mencapai beberapa negara tetangga Jepang.

Perdana Menteri Jepang, Naoto Kan, pada Selasa, 29 Maret 2011, menyatakan negaranya kini dalam keadaan "siaga maksimum". Pernyataannya ini dikeluarkan setelah operator PLTN di Fukushima yang rusak, TEPCO, mendeteksi plutonium pada kandungan tanah di sekitar PLTN.

Selain itu, air terkontaminasi radioaktif tingkat tinggi telah bocor dari gedung reaktor yang rusak.

Menurut TEPCO, unsur plutonium ditemukan pada lima titik di sekitar kompleks PLTN. Namun, mereka menyatakan tingkat pencemarannya belum sampai membahayakan kesehatan manusia.

Sementara itu, muncul kabar bahwa para pekerja menemukan kolam-kolam baru berisi air radioaktif yang bocor dari kompleks nuklir Jepang. Para pejabat percaya itu penyebab melonjaknya tingkat radiasi yang menyebar ke tanah dan air laut di negeri itu. Radiasi juga tersebar ke udara yang kemudian terbawa angin, hingga ratusan kilometer jauhnya.

Tercatat sejumlah negara Asia timur mendeteksi kandungan zat radioaktif iodine-131 di udara negara mereka. Walaupun terhitung masih dalam kadar tidak membahayakan, namun pemerintah negara-negara itu memilih mencari aman dengan mencegah adanya kandungan radioaktif menyusup masuk melalui makanan dari Jepang.

Salah satunya adalah pemerintah China. Dilansir dari laman Associated Press, negara ini mendeteksi adanya kandungan radioaktif iodine-131 dengan kadar kecil di provinsi Heilongjiang di timur China pada Senin, 28 Maret 2011.

Hal ini mendorong Kementerian Kesehatan China menerapkan pengujian makanan dan minuman di 14 provinsi dan sejumlah kota di daerah pesisir timur laut negara itu. Sebagai negara berdekatan dengan Jepang, pemerintah China khawatir radioaktif mengkontaminasi makanan dan minuman.

Sebelumnya, pada Jumat pekan lalu, pemerintah China melarang impor berbagai produk makanan dari Jepang. Menurut pernyataan Badan Pengawas Kualitas China, pemerintah melarang berbagai produk hasil ternak, buah-buahan, sayuran, makanan laut, dan berbagai produk air minum kemasan dari lima wilayah dekat dengan PLTN Fukushima Daiichi.

Hal serupa juga terjadi di Filipina. Menurut stasiun berita ABS-CBN, Institut Penelitian Nuklir Filipina (PNRI) mendeteksi adanya isotop dari Jepang. Namun, masyarakat diminta tetap tenang.

PNRI mencatat tingkat radiasi yang dipantau pada Selasa pagi, 29 Maret 2011, masih dalam katagori normal, yaitu berkisar 93-115 nano Sieverts per jam (nSv/h). Padahal garis pantai terdekat Filipina dengan lokasi PLTN di Fukushima berjarak sekitar 2.500 km dari sebelah barat daya Jepang.

Namun demikian, pemerintah Filipina tak menghentikan impor makanan dari Jepang. Menteri Kesehatan Filipina, Enrique Ona, mengatakan contoh makanan dari Jepang yang diuji tak mengandung radiasi sehingga aman untuk dipasarkan.

Satu-satunya produk Jepang dilarang di Filipina adalah coklat. Pemerintah Filipina melarang impor coklat yang dibuat dari susu yang diambil dari empat wilayah dekat reaktor nuklir, yaitu Fukushima, Ibaraki, Tochigi dan Gunma.

Di Korea Selatan, pada Selasa, ditemukan kadar radioaktif di tujuh wilayah di negara tersebut, salah satunya adalah ibukota Korsel, Seoul. Badan Keamanan Nuklir Korsel mengatakan kadarnya masih tergolong kecil sehingga tak berbahaya bagi kesehatan manusia.

Setali tiga uang dengan dua negara sebelumnya, pemerintah Korsel juga melarang impor makanan dari empat wilayah terdekat dengan reaktor nuklir yang bermasalah di Fukushima.

Selain menguji kadar radiasi pada makanan asal Jepang, Korsel juga menguji ikan hasil tangkapan dari perairannya, karena khawatir terkontaminasi radiasi.

Sejauh ini, hasil pengujian menunjukkan semua bahan makanan itu tak mengandung radioaktif. Namun, tetap saja pelarangan makanan asal Jepang diberlakukan sebagai tindakan pencegahan.

Mungkin berita paling mengejutkan adalah terdeteksinya kandungan radiasi pada curah hujan di Amerika Serikat, berjarak ribuan kilometer dari lokasi PLTN.

Dilansir dari laman MSNBC, partikel radioaktif ditemukan dalam sampel air hujan turun di Massachusetts selama seminggu belakangan di 100 lokasi di wilayah itu. Itu menurut hasil pengawasan U.S. Environmental Protection Agency's Radiation Network, yang diumumkan Minggu 27 Maret 2011 lalu.

Seperti negara-negara lainnya, AS juga dilaporkan melarang semua jenis produk impor dari Jepang.

Selain negara-negara itu, negara lain diantaranya Kanada, Australia, Rusia, Singapura dan Thailand juga memberlakukan larangan impor atau melakukan pengujian terhadap produk dari Jepang.

Dilaporkan oleh Huffington Post, pemerintah Thailand dengan tegas mengatakan akan menghancurkan semua pengiriman ubi dari daerah yang terkena dampak radiasi di Jepang.

Berlebih-lebihan?

Pelarangan makanan dari Jepang akibat ketakutan kontaminasi radiasi dinilai terlalu berlebihan. Hal ini disampaikan Charles Ebinger, ahli politik energi dari Brookings Institution, sebuah organisasi nirlaba berbasis di Washington, AS.

Seperti dimuat di laman Voice of America, Ebinger mengatakan sebagian besar orang dewasa di AS rata-rata meminum satu liter susu yang terkontaminasi radiasi setara radiasi pada CAT scan setiap harinya selama satu tahun.

Lebih jauh, Ebinger mengatakan pelarangan makanan akan merusak perekonomian Jepang, terutama perekonomian di daerah timur negara tersebut. "Jepang bagian timur sangat bergantung pada hasil pertanian dan ikan, jadi saya kira daerah tersebut ekonomi sangat terpengaruh akibat pelarangan ini," ujar Ebinger.

Kerugian ekonomi yang akan menimpa Jepang akibat pelarangan ini dikatakan akan kian membuat perekonomian Jepang kian terpuruk. Lembaga riset keuangan Wells Fargo & co. memperkirakan Jepang akan jatuh ke dalam resesi paling lambat pada akhir tahun ini.

Lembaga riset lainnya, Moody's Analytic, menaksir peningkatan produk domestik bruto (PDB) Jepang hanya satu persen pada tahun ini. Sebelum bencana, Moody's Analytic memperkirakan PDB Jepang mencapai 1,4 persen pada tahun ini.

"Konsumen dan importir dimana-mana membuat kesalahan karena terlalu khawatir," ujar Jeffrey Garten, profesor perdagangan dan keuangan internasional di Universitas Yale.

"Mereka tidak tahu seberapa buruk hal ini, dan mereka tidak percaya siapapun memberikan penilaian yang benar. Saya kira sekarang kita baru memulai sesuatu yang masih akan berlangsung lama," ujar Garten. [np]

• VIVAnews

Selasa, 29 Maret 2011

VIDEO: Ulat Bulu Serang Warga

VIDEO: Ulat Bulu Serang Warga
Tidak sedikit warga yang merasa gatal-gatal akibat bulu pada ulat yang berterbangan. QUEUE
SELASA, 29 MARET 2011, 00:13 WIB
Arry Anggadha, Febry Abbdinnah
Ulat bulu (Livescience.com)

VIVAnews - Wabah ulat bulu menyerang warga tujuh desa di Probolinggo, Jawa Timur. Warga terpaksa membersihkan pekarangan rumahnya hampir dua jam setiap setiap pagi dan sore karena serangan jutaan ulat bulu.

Sudah seminggu ini warga desa Sumber Ulu, Leces, Kedawung, Pondok Hulu, Tegasan, Malasan, dan Kerpangan diresahkan oleh serangan ribuan ulat bulu yang terjatuh dari pohon. Mereka terpaksa membersihkan pekarangan rumah mereka setiap hari karena ulat bulu tersebut telah merusak tanaman mereka, dan bahkan telah memaksa masuk ke pekarangan rumah dan bagian dalam rumah warga.

Tidak sedikit warga yang merasa gatal-gatal akibat bulu pada ulat yang berterbangan. Hal ini pun memperparah kondisi warga di tujuh desa tersebut. Bahkan banyak warga yang mengungsi ke rumah kerabatnya untuk menghindari wabah gatal-gatal tersebut. Warga berharap pemerintah daerah setempat turun tangan untuk mengatasi wabah ini.

Sementara itu, serangan ulat bulu ini tidak hanya membuat khawatir warga setempat, warga dari desa yang berdekatan pun mulai merasa resah akan serangan jutaan ulat bulu tersebut. Lihat video di sini.

• VIVAnews

Ancaman Tsunami Jepang Ditarik Kembali

Ancaman Tsunami Jepang Ditarik Kembali
Namun, warga diminta tetap waspada akan ancaman gempa susulan lainnya.
SENIN, 28 MARET 2011, 08:56 WIB
Denny Armandhanu

VIVAnews - Peringatan ancaman tsunami pasca gempa berkekuatan 6,5 skala Richter ditarik kembali setelah gempa ternyata hanya menimbulkan gelombang kecil. Namun, warga diminta untuk tetap waspada.

Seperti dilansir dari laman CNN, Senin, 28 Maret 2011, Badan Meteorologi Jepang mengatakan warga di sepanjang pesisir pantai timur laut Jepang sebaiknya bersiap untuk evakuasi, karena ancaman tsunami kemungkinan masih ada seiring dengan gempa susulan yang akan terjadi.

Sebelumnya, pemerintah Jepang mengeluarkan peringatan dini tsunami untuk para warga di daerah pesisir pantai Prefektur Miyagi setelah gempa berkekuatan 6,5 SR terjadi pada pukul 7.24 waktu setempat. Peringatan dini ini kemudian dicabut kembali pada 9.05 waktu setempat.

Pusat gempa terjadi sekitar 112 km timur kota Sendai, di kedalaman 59 km di bawah tanah.

Tsunami sebelumnya diperkirakan akan mencapai ketinggian hingga setengah meter. Menurut pantauan stasiun berita NHK, gempa hanya menimbulkan gelombang kecil, dan tidak membesar ketika mencapai tepi pantai.

Menurut salah satu ahli meteorologi Jepang, Hirofumi Yokoyama, gempa Senin ini adalah salah satu dari gelombang gempa susulan pasca gempa 9 SR yang menimbulkan tsunami, 11 Maret lalu. Yokoyama mengatakan gempa susulan berkekuatan antara 6 SR ke atas dapat juga menimbulkan tsunami.

"Kita harus bersiap untuk gempa berkekuatan 6 atau lebih, dan warga juga harus tetap waspada," ujar Yokoyama.

• VIVAnews

Ancaman Tsunami Kembali Landa Jepang Pagi Ini

Ancaman Tsunami Kembali Landa Jepang Pagi Ini
Gempa berkekuatan 6,5 skala richter dengan ancaman tsunami guncang wilayah timur Jepang.
SENIN, 28 MARET 2011, 06:45 WIB
Bayu Galih

VIVAnews - Gempa berkekuatan 6,5 skala richter kembali mengguncang wilayah timur Jepang, pada Senin pagi waktu setempat. Badan Survey Geologi Amerika Serikat kemudian mengingatkan adanya kemungkinan bahaya tsunami.

Seperti dikutip dari AP, tidak ada laporan mengenai kerusakan atau korban jiwa. Tapi Badan Meteorologi Jepang mengumumkan kemungkinan tsunami setinggi 0,5 meter di prefektur Miyagi.

Peringatan tsunami dikeluarkan Badan Survey Geologi AS sekitar pukul 07.23 pagi waktu Jepang, setelah gempa terjadi di sekitar perairan timur Honshu, Jepang. Gempa diperkirakan berada di kedalaman 5,9 kilometer.

Sebelumnya, gempa besar berkekuatan 9 skala richter memicu tsunami dan menghantam Jepang pada 11 Maret lalu. Akibat hantaman tsunami itu, Jepang pun dilanda bencana nasional yang menimbulkan korban sekitar 18 ribu jiwa.

Akibat gempa dan tsunami itu gedung reaktor nuklir pembangkit listrik retak. Itulah yang kemudian memicu bocornya nuklir dan menimbulkan radiasi di sekitar reaktor. Bahaya radiasi itu mencemaskan banyak orang.

• VIVAnews

PAGER - M 6.1 - NEAR THE EAST COAST OF HONSHU, JAPAN

PAGER - M 6.1 - NEAR THE EAST COAST OF HONSHU, JAPAN

Alert level does not include impacts from earthquake-related hazards such as tsunamis, landslides, fires or liquefaction.

Earthquake Shaking Alert Level: GREEN

Download Alert PDFWhat's this?Sunday, March 27th, 2011 at 22:23:58 UTC (07:23:58 local)Location: 38.4° N, 142.1° EDepth: 17kmEvent Id: USC0002CQAAlert Version: 2Created: 1 hour, 45 minutes after earthquake.
Global Location

Alert Information

Green alert for shaking-related fatalities and economic losses. There is a low likelihood of casualties and damage.
Estimated FatalitiesFatality Alert Level: GREEN
Estimated Economic LossesEconomic Alert Level: GREEN

Detailed Information

Estimated Population Exposed to Earthquake Shaking
Estimated Modified Mercalli IntensityIII-IIIIVVVIVIIVIIIIXX
Est. Population Exposure---*---*12,393k1,554k00000
Perceived ShakingNot FeltWeakLightModerateStrongVery StrongSevereViolentExtreme
Potential Structure DamageResistantnonenonenoneV. LightLightModerateModerate/HeavyHeavyV. Heavy
VulnerablenonenonenoneLightModerateModerate/HeavyHeavyV. HeavyV. Heavy
*Estimated exposure only includes population within calculated shake map area
Population Exposure
Population per ~1 sq. km. from LandScan
Population Exposure Map

Structure Information Summary

Overall, the population in this region resides in structures that are resistant to earthquake shaking, though some vulnerable structures exist.

Historical Earthquakes (with MMI)

Date (UTC)Dist(km)MagMax MMI(#)Shaking Deaths
1983-05-263467.7VII (174k)104
1989-02-193295.5VI (9m)1
2003-09-253955.7VI (5k)0

Recent earthquakes in this area have caused secondary hazards such as landslides and fires that might have contributed to losses.

Selected Cities Exposedfrom GeoNames Database of Cities with 1,000 or more residents.
MMICityPopulation
IVSendai1,038k
IVIwaki357k
IVKoriyama341k
IVAkita320k
IVMorioka295k
IVFukushima294k
IVYamagata255k
IIIUtsunomiya450k
IIIMito247k
IIIHachinohe239k
IIIHitachi186k

(k = x1,000)


PAGER content is automatically generated, and only considers losses due to structural damage. Limitations of input data, shaking estimates, and loss models may add uncertainty. PAGER results are generally available within 30 minutes of the earthquake’s occurrence. However, information on the extent of shaking will be uncertain in the minutes and hours following an earthquake and typically improves as additional sensor data and reported intensities are acquired and incorporated into models of the earthquake's source. Users of PAGER estimates should account for uncertainty and always seek the most current PAGER release for any earthquake.

http://earthquake.usgs.gov/earthquakes/pager/events/us/c0002cqa/index.html