Tampilkan postingan dengan label Gunung Anak Krakatau. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gunung Anak Krakatau. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Desember 2010

Dentuman Gunung Anak Krakatau Terdengar Hingga Pantai Anyer

Sabtu, 25/12/2010 10:08 WIB
Dentuman Gunung Anak Krakatau Terdengar Hingga Pantai Anyer
Hestiana Dharmastuti - detikNews

Jakarta - Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda mengeluarkan 243 letusan. Suara dentumannya terdengar hingga pesisir Pantai Anyer, Banten. Namun, warga sekitar sudah terbiasa.

Pada Jumat 24 Desember 2010 hingga pukul 24.00 WIB, terjadi 4 kali vulkanik dalam, 164 vulkanik dangkal, 243 letusan, 83 tremor, dan 318 hembusan.

"Kalau dijumlah 812 kegempaan," kata Kepala Pos Pemantau Gunung Api Anak Krakatau, Anton S Tripambudi, detikcom, Sabtu (25/12/2010).

Tinggi asap terpantau tinggi 50 meter dan mendatar 600 meter, arahnya ke utara. Terdengar juga 18 kali suara dentuman, dan 12 kali getaran.

"Suaranya sudah terdengar di sepanjang pesisir Pantai Anyer. Malah geratannya terasa sampai kantor kita di Cinangka. Kaca-kaca kantor sempat bergetar. Warga sudah biasa dan tidak masalah. Sebab, sejak tahun 2007 sampai sekarang tiap tahun gunung itu meletus terus," papar Anton.

Status Gunung Anak Krakatau tetap waspada dengan jarak aman 2 kilometer dari titik letusan.


(aan/fay)


Kamis, 04 November 2010

Mengapa Semburan Gas Beracun Tak Berhenti

Mengapa Semburan Gas Beracun Tak Berhenti


VIVAnews - Gunung Anak Krakatau terus beraktivitas. Perut gunung itu terus menyemburkan gas beracun.

"Semburan gas terus terjadi karena magma di dalam perut gunung terus naik keluar. Magma itu mendorong gas beracun meluncur keluar," kata Kepala Bidang Pengamatan Gunung Api Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Kementerian ESDM, Agus Budianto, kepada VIVAnews.com, di Jakarta, Rabu 3 November 2010.

Kapan semburan itu akan berhenti masih sulit diprediksi, sebab dapur magma masih terus aktif.

Selain karena dorongan magma itu, semburan gas beracun itu juga terjadi lantaran gempa vulkanik juga terus meningkat.

Gas yang dikeluarkan itu , jelas Budianto, menandakan akan terjadi fase erupsi dari Gunung Api. "Itu hal yang wajar dalam sebuah aktivitas Gunung Api seperti Gunung Anak Krakatau," imbuh dia.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) sudah melarang warga, khususnya nelayan dan wisatawan mendekat pada radius 2 kilometer. "Gas itu berbahaya dan mengandung racun. Selain itu status Anak Gunung Krakatau menjadi Waspada atau level II," ungkap dia.

Dalam wawancara dengan VIVAnews sebelumnya, Agus menyampaikan bahwa suhu air laut di sekitar Anak Krakatau peningkatan. Hal itu dikarenakan banyaknya material panas dari Anak Krakatau yang jatuh ke laut.

Berdasarkan data di Pos Pemantau Gunung Anak Krakatau, Cinangka, Kabupaten Serang. Tercatat dalam sehari kemarin telah terjadi enam kali gempa vulkanik kategori dalam, 117 kali gempa vulkanik dangkal, 223 kali letusan, 157 kali hembusan, dan 219 kali tremor. "Totalnya dalam sehari terjadi 722 aktivitas kegempaan, dan terjadi setiap 5 menit sekali," kata dia.

Jumat, 29 Oktober 2010

4 Hari Terakhir Gunung Anak Krakatau Meletus di Atas 100 Kali

Jumat, 29/10/2010 12:34 WIB
4 Hari Terakhir Gunung Anak Krakatau Meletus di Atas 100 Kali
Nurvita Indarini - detikNews



Jakarta - Gunung anak Krakatau sedang dalam masa membangun. Status waspada telah disematkan sejak 31 Oktober 2009. Pada empat hari terakhir ini, jumlah letusannya di atas 100 kali.

"31 Oktober menjadi waspada setelah sebelumnya siaga. Lalu jumlah letusannya menurun. Tapi 10 Oktober 2010 kembali lagi ada letusannya," ujar Kepala Pengamatan Gunung Api daerah Barat Hendrasto saat dihubungi detikcom, Jumat (29/10/2010).

Pada 17 Oktober, dalam sehari ada 45 kali letusan. Lalu selama beberapa hari letusan itu menghilang. Hingga pada 23 Oktober muncul dua kali letusan dan pada 24 Oktober ada 89 kali.

"Pada tanggal 25 ada 126, tanggal 26 ada 182, tanggal 27 ada 101, dan 28 kemarin ada 117 letusan," papar Hendrasto.

Saat masih berstatus siaga, letusan anak gunung ini hampir mencapai 300 kali dalam sehari. Kini, tinggi asapnya antara 200 meter sampai 1.500 meter.

"Pada umumnya 200-800 meter. Kemarin, tanggal 28 ada beberapakali yang tingginya 1.500 meter," sambung Hendrasto.

Dia menjelaskan, pada sekitar tahun 80-90an terdapat lelehan lava di anak gunung itu. Namun sejak tahun 2000 aliran lava tidak lagi muncul. Karakter anak gunung ini memang memiliki ketinggian asap maksimum 1.500 meter. Asap berwarna kelabu kehitaman yang menandakan terdapat material abu di dalamnya.

Anak gunung ini tipe erupsinya cenderung strombolian mengarah ke vulkanian. Saat menjadi vulkanian, ketinggian gumpalan asap maksimal sampai dengan 3.000 meter. Ibu dari anak Karakatau ini, menurut Hendrasto, bertipe erupsi plinian di mana ketinggian lontaran material bisa sampai 20 km sehingga abunya ke mana-mana. Tipe ini biasanya ditandai dengan ledakan lava kental.

Tipe lava anak gunung Karakatau adalah basaltik andesit yang jauh lebih cair ketimbang lava ibunya. Kalau tipe lava sudah lebih asam lagi maka itu menunjukkan ke letusan yang lebih besar.

"Tapi selama ini nggak melihat ke situ. Jadi magma sepertinya nggak mungkin meledak seperti dulu (tahun 1883 saat Krakatau meletus hebat)," jelas Hendrasto
. (vit/ken)

Gunung Anak Krakatau 'Waspada', BMKG Kirim Tim Pemantau

Jumat, 29/10/2010 10:42 WIB
Gunung Anak Krakatau 'Waspada', BMKG Kirim Tim Pemantau
Rachmadin Ismail - detikNews



dok detikcom
Jakarta - Sejumlah warga merasakan peningkatan gemuruh di sekitar gunung anak Krakatau. Tim dari BMKG sudah dikirim ke lokasi untuk terus memantau perkembangan gunung.

"Kita sudah pantau terus untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan," tambahnya," kata Kepala sub Bidang Pengamatan Gunung BMKG Agus Budianto kepadadetikcom, Jumat (29/10/2010).

Menurut Agus, aktivitas anak Krakatau tidak memiliki siklus tertentu. Menurut dia, pada tahun 2001 anak Krakatau sempat meletus, lalu berlanjut pada tahun 2007.

"Tahun 2010 beraktivitas lagi. Nggak jelas siklusnya. Makanya kita monitoring terus," tambahnya.

Agus meminta masyarakat di sekitar lokasi tidak panik. Sebab, jarak antara gunung hingga ke perumahan warga cukup jauh.

"Anak Krakatau dari pantai Lampung dan Pantai Carita itu 40 Km. Kalau di sekitarnya kosong sama sekali," tutupnya.

Sebelumnya warga di Labuan, Banten, mendengar suara gemuruh yang dibarengi dengan getaran dari arah gunung anak Krakatau. Suara gelegar terdengar setiap 30 menit. Lava pijar juga kadang terlihat pada malam hari.

"Aktivitas ini terakhir setahun lalu. Sekarang baru terjadi lagi," ujar Fatur, warga yang tinggal di Pantai Carita, Banten.


(mad/asy)

Gunung Anak Krakatau Bergemuruh, Muncul Lava Pijar

Jumat, 29/10/2010 10:35 WIB
Gunung Anak Krakatau Bergemuruh, Muncul Lava Pijar video foto
Rachmadin Ismail - detikNews



Jakarta - Tidak hanya Gunung Merapi, aktivitas Gunung Anak Krakatau sejak pekan lalu meningkat. Sejumlah warga di Labuan, Banten, mendengar suara gemuruh yang dibarengi dengan getaran dari arah gunung tersebut.

"Gelegarnya setengah jam sekali. Mulai tadi Subuh sampai sekarang masih kedengaran," kata Fatur, salah seorang warga Lebak yang tinggal di pinggir pantai Carita, Banten, Jumat (29/10/2010).

Menurut Fatur, cuaca di sekitar gunung saat ini mendung. Tidak terlihat gumpalan awan di atas gunung. Sementara, sejak malam terlihat ada percikan lava pijar dari puncak.

"Aktivitas ini terakhir setahun lalu. Sekarang baru terjadi lagi," tambahnya.

Saat dikonfirmasi, Kepala sub Bidang Pengamatan Gunung BMKG Agus Budianto, membenarkan soal peningkatan aktivitas ini. Sejak pekan lalu, gunung anak Krakatau sudah berstatus waspada. (mad/asy)