Tampilkan postingan dengan label Gunung Semeru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gunung Semeru. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 November 2010

165.745 Ribu Jiwa Bermukim di Zona Bahaya Gunung Semeru

Senin, 22/11/2010 07:49 WIB
165.745 Ribu Jiwa Bermukim di Zona Bahaya Gunung Semeru
Santi Rahayu - detikSurabaya



Lumajang - Pemkab Lumajang mewaspadai potensi bencana Gunung Semeru yang saat ini berstatus waspada. Pasalnya, 165.745 ribu jiwa bermukim di lereng gunung tertinggi di Pulau Jawa dengan ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut.

Sekretaris Satlak Penanggulangan Bencana (PB) Kabupaten Lumajang Rochani mengatakan jika 24 desa di lereng Gunung Semeru masuk rawan atau zona bahaya.

"24 Desa itu tersebar di 6 wilayah kecamatan lereng Gunung Semeru," kata Rochani yang juga Kepala Badan Kesbangpol Kabupaten Lumajang, saat ditemui detiksurabaya.com, Senin (22/11/2010).

Dia menambahkan, ke-6 wilayah kecamatan masuk zona bahaya Semeru diantaranya Kecamatan Tempursari, Pronojiwo, Candipuro, Pasirian, Tempeh dan Pasrujambe.

Ratusan ribu jiwa yang keselamatannya akan terancam terjadi bencana primer maupun sekunder yakni terkena letusan, guguran awan panas, lava pijar, jatuhan proklastis hingga lahar dingin.

"Sedangkan dari 24 desa di 6 wilayah itu ada 3 DAS (Daerah Aliran Sungai) Semeru, yakni Sungai Mujur, Sungai Rejali dan Sungai Kaliglidik," tambahnya.

Pihaknya kini menyusun draft penanggulangan bencana Gunung Semeru yang di dalamnya menguraikan kesiapan sarana dan prasarana untuk mengantisipasi banjir lahar dingin dari kawasan puncak, jaringan pemantau hujan dan aliran lahar, penetapan titik evakuasi permanen, SAR, pengendalian dampak sosial dan kesehatan.

"Tujuannya, agar dampak massive bencana bisa dieliminir," jelasnya.
(fat/fat)

Jumat, 12 November 2010

Aktivas Meningkat, Bromo dan Semeru Ditutup

Aktivas Meningkat, Bromo dan Semeru Ditutup
"Ada alasan keamanan, kami berharap masyarakat dapat mematuhi aturan ini."
JUM'AT, 12 NOVEMBER 2010, 17:32 WIB
Eko Priliawito

VIVAnews - Letusan Gunung Merapi di Jawa Tengah memicu peningkatan aktivitas Gunung Bromo di Kabupaten Probolinggo, dan Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang. Jawa Timur. Sebagai tindakan antisipasi, pemerintah setempat resmi menutup dua gunung tersebut untuk pendakian dan wisata.

Humas Balai Besar Taman Nasional Bromo Tenger Semeru (BBTNBTS), Nova Elina mengatakan, ada beberapa alasan penutupan Gunung Bromo dan Semeru. Selain peningkatan aktivitas vulkanik, cuaca buruk, dan tanah longsor membuat jalur dan rambu pendakian tertutup. Pemulihan ekosistem juga jadi alasan yang kuat.

"Berpotensi membahayakan keselamatan pendaki sehingga harus dilakukan penutupan," kata Nova.

Revitalisasi jalur pendakian harus dilakukan karena ekosistem di jalur pendakian rusak akibat terlalu seringnya dilalui pendaki.
"Agar terjadi pemulihan ekosistem secara alami, jalur tersebut tak boleh dilalui. Ada alasan keamanan, kami berharap masyarakat dapat mematuhi aturan ini," ungkap Nova.

Secara terpisah, Kapolda Jatim Inspektur Jenderal Badrodin Haiti menegaskan, pihaknya siap mengantisipasi peningatan aktivitas Gunung Semeru.

"Kami siap, personel SAR dari Brimob telah kita standby-kan di sini (Polda Jatim). Sewaktu-waktu bisa kami gerakkan sesuai kebutuhan," kata Badrodin Haiti, Jumat 12 November 2010.

Laporan: Tudji Martudji | Surabaya

• VIVAnews

Jumat, 05 November 2010

ITS: Jangan Remehkan Semeru, Segera Evakuasi

ITS: Jangan Remehkan Semeru, Segera Evakuasi
"Pelajaran dari Merapi harus dicamkan. Jangan sampai terulang kembali."
KAMIS, 4 NOVEMBER 2010, 22:04 WIB
Ismoko Widjaya

VIVAnews - Pakar Ilmu Geologi dan Kegunungapian Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, Amin Widodo, mengingatkan untuk tidak meremehkan kondisi Gunung Semeru yang saat ini statusnya masih "waspada".

Dia menyarankan warga terdekat harus segera dievakuasi. Menurut Amin, gejala vulkanik yang mulai muncul dari gunung dengan puncak tertinggi berjuluk Mahameru di ketinggian 3.676 meter dari permukaan laut (mdpl) itu, perlu diwaspadai.

"Kalau sudah seperti itu harus mengungsi. Karena status waspada akan berlanjut ke awas," terang Amin Widodo dihubungiVIVAnews.com, Kamis, 4 November 2010.

Dia menjelaskan, dalam status waspada tidak bisa diprediksi apa yang bakal terjadi terhadap Semeru yang terletak di wilayah Kabupaten Malang dan Lumajang, Jawa Timur.

Pemerintah setempat harus mengambil pelajaran dari Merapi untuk mengantisipasi letusan gunung yang berada di posisi geografis antara 8°06'LS dan 120°55' BT itu.

"Menurut saya, pelajaran dari Merapi harus dicamkan. Jangan sampai terulang kembali dan menimbulkan kerugian," lanjut dia.

Amin menilai, semua tergantung informasi yang dikirim oleh pos pantau yang berada di sekitar lokasi. Kemudian diteruskan ke masyarakat.

Dia juga kembali mengingatkan tidak boleh lengah. "Harus tanggap, termasuk terus mengaktifkan alat detektor gunung api. Agar bahaya Semeru bisa diantisipasi," kata dosen di ITS itu.

Laporan: Tudji Martudji | Surabaya

• VIVAnews