Tampilkan postingan dengan label Klaten. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Klaten. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 November 2010

Gempa Yogya Dirasakan di Wonosobo, Purworejo, Magelang, dan Klaten

Selasa, 09/11/2010 14:46 WIB
Gempa Yogya Dirasakan di Wonosobo, Purworejo, Magelang, dan Klaten
Arifin Asydhad - detikNews


Jakarta - Gempa 5,6 SR mengejutkan warga Yogyakarta sekitar pukul 14.03 WIB. Gempa yang berpusat di 125 KM barat daya Bantul itu juga dirasakan sejumlah kota yang melingkari Yogyakarta. Antara lain di Wonosobo, Purworejo, Magelang, dan Klaten.

"Gempa menguncang Wonosobo pukul 14.05 WIB," kata Rofiudin lewat infoanda, Senin (9/11/2010).

Gempa yang sama juga dirasakan warga di pesisir selatan Jawa Tengah. "Gempa bumi berskala kecil baru saja terjadi di pesisir selatan Jawa Tengah. Gempa terasa di Kebumen, Purworejo, sampai Yogya," kata Afidz.

Guncangan gempa juga dirasakan di Magelang. Ichsan, warga Jalan Perintis Kemerdekaan Magelang, merasakan guncangan itu sekitar 5 detik.

"Gempa yang terjadi sekitar pukul 14.03 WIB sangat terasa di Magelang, tapi saya merasakan lumayan besar tapi cuma sekitar 5 detik. Sementara cuaca di Magelang sedang hujan," kata dia.

Ganjar, yang juga warga Magelang, juga merasakan hal yang sama. "Pengungsi di balai latihan kerja tempuran Magelang lari berhamburan keluar dari gedung akibat gempa yang terjadi dengan durasi sekitar 5 detik," ujar dia.

Di Klaten, gempa ini dirasakan sangat kuat. Bahkan, lampu terlihat bergoyang akibat gempa itu. "Baru saja terjadi gempa di wilayah Wedi, Klaten , lumayan besar. Meja TV sama lampu yang menggantung sampai bergoyang kenceng. Warga pada lari berhamburan keluar rumah karena takut," kata Sardini.


(asy/nrl)

Sabtu, 06 November 2010

Pengungsi Menyebar, Klaten Tampung 52 Ribu Pengungsi

Sabtu, 06/11/2010 14:24 WIB
Pengungsi Menyebar, Klaten Tampung 52 Ribu Pengungsi
Muchus Budi R. - detikNews



Suasana pengungsian (Daniel)
Klaten - Banyak pengungsi yang menyelamatkan diri dengan menyebar ke berbagai arah, tanpa mengikuti arahan atau tempat yang telah disediakan oleh satlak penanggulangan bencana. Kabupaten Klaten saat ini telah menampung lebih dari 52 ribu pengungsi. Selain pengungsi dari Klaten sendiri, juga pengungsi dari kabupaten lain. Petugas Pengolahan Data Satlak Penanggulangan Bencana Kabupaten Klaten, Sapto Nugroho, memaparkan, banyak pengungsi yang melakukan pengungsian secara mandiri ke rumah kerabat masing-masing yang dinilai aman. Selain itu karena kondisi geografis, banyak juga warga kabupaten lain yang mengungsi ke Klaten. Di posko pengungsian Karang Nongko dan Jatinom misalnya, meskipun letaknya di Kabupaten Klaten namun pengungsinya berasal dari Kabupaten Boyolali. Sedangkan pos pengungsian di Prambanan, sebagian besar justru ditempati oleh pengungsi dari Kabupaten Sleman. Selain itu juga masih ada banyak pengungsi Merapi dari Sleman, Boyolali maupun Magelang, yang masuk ke Klaten secara mandiri. Mereka melakukan pengungsian secara mandiri ke rumah kerabatnya ke Klaten. "Kami sempat kesulitan mendata, karena mereka sering berpindah-pindah. Data paling baru, jumlah pengungsi letusan Merapi yang berada di Klaten saat ini mencapai 52.851 jiwa. Mereka tersebar di 74 titik pengungsian yang berada di 15 kecamatan. Titik pengungsian terbanyak di Kecamatan Prambanan sejumlah 13.349 pengungsi," papar Sapto, Sabtu (6/11/2010). Petugas, lanjut Sapto, selalu melakukan pemutakhiran data setiap hari. Selain untuk melakukan pendataan jiwa, juga untuk memudahkan penyaluran logistik, terutama bahan makanan bagi pengungsi. "Semua pengungsi diperlakukan sama, baik warga asli Klaten maupun yang berasal dari kabupaten lain," lanjutnya. Lebih lanjut, Sapto mengatakan hingga saat ini pengungsi Merapi asal Kabupaten Klaten yang dinyatakan meninggal sebanyak lima orang. Empat orang adalah pengungsi penderita stroke yang meninggal saat mengungsi, satu orang lainnya adalah bayi yang baru meninggal. "Kami belum bisa memastikan adanya korban yang meninggal karena awan panas. Memang ada informasi-informasi yang mengatakan demikian, namun kami belum bisa memastikan karena kami belum menemukan jasad korban yang dilaporkan meninggal karena awan panas itu," kata Sapto. (mbr/gah)

Rabu, 03 November 2010

Klaten Hujan Abu Merapi, Jarak Pandang Hanya 30 Meter

Rabu, 03/11/2010 17:22 WIB
Klaten Hujan Abu Merapi, Jarak Pandang Hanya 30 Meter
Bagus Kurniawan - detikNews


Klaten - Merapi meletus dengan mengeluarkan awas panas dan debu vulkanik. Kecamatan Kemalang, Klaten pun diguyur hujan abu deras. Jarak pandang pun terbatas 30 meter.

Pantauan detikcom, di Desa Balerante, Surowono serta Dompol, Kecamatan Kemalang, Klaten, hujan abu turun dengan deras. Jarak panjang hanya berkisar 30-35 meter, Rabu (3/11/2010). Sementara bau belerang pekat tercium di ketiga desa yang hanya berjarak sekitar 8 km dari puncak Merapi ini.

Pada pukul 15.30 WIB, pengungsi di Balerante dan Sambungrejo telah dievakuasi ke barak pengungsian di Bawukan. Jarak antara Bawukan dari puncak Merapi sekitar 15 Km.

Di Bawukan, saat ini ribuan warga telah berada di lokasi pengungsian. Kebanyakan adalah wanita, anak-anak, lansia dan ibu hamil.

Sementara di Desa Balerante, seluruh penduduk telah mengungsi. Desa hanya dijaga puluhan pemuda dan relawan. Tim SAR telah menutup jalan ke desa ini.

Sebelumnya, sejak pukul 11.04 WIB, Merapi tidak berhenti mengeluarkan awan panas dan terus meningkat pada sejak pukul 16.09 WIB. Karena dianggap berbahaya, daerah rawan di kawasan gunung paling aktif di Indonesia itu diperluas dari 10 km menjadi 15 km dari puncak Merapi.

(rdf/fay)

Rabu, 27 Oktober 2010

Panik, Belasan Orang di Klaten Tersesat Hingga ke Kecamatan Lain

Panik, Belasan Orang di Klaten Tersesat Hingga ke Kecamatan Lain foto
Muchus Budi R. - detikNews



Klaten - Karena panik saat menyelamatkan diri, belasan orang di Klaten tersesat hingga belasan kilometer. Kondisi jalan yang gelap akibat hujan abu turut menjadi penyebab warga tersebut tersesat hingga belasan kilometer.

Hal ini terjadi saat warga Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Klaten, hendak menyelamatkan diri dari bahaya letusan Merapi, Selasa (26/10/2010) malam. Letusan keras yang tiba-tiba terjadi dan diiringi hujan abu, membuat warga langsung panik dan berusaha secepat mungkin menyelamatkan diri.

Belasan keluarga berinisiatif untuk melakukan pengungsian sendiri dengan menggunakan sepeda motor. Dengan berboncengan, mereka memacu kendaraan turun dari perkampungannya yang sedang diancam bahaya.

Namun akibat terlalu panik serta gelapnya jalanan akibat guyuran abu Merapi, membuat mereka salah jalan. Tujuan awal mereka adalah menuju kantor Kecamatan Kemalang, tapi mereka malah tersesat hingga ke kantor Kecamatan Karang Nongko, yang jaraknya mencapai belasan kilometer dari rumah mereka.

"Baru saja saya menerima pemberitahuan dari kantor Kecamatan Karang Nongko, bahwa ada belasan pengungsi yang tersesat. Karena para pengungsi itu sedang panik dan letih, kami minta untuk malam ini mereka ditampung dulu di Karang Nongko," ujar Camat Kemalang, Suradi kepada wartawan.

Rencananya, belasan pengungsi yang tersesat tersebut baru akan dijemput Rabu (27/10) pagi. Selanjutnya, mereka akan dibawa ke posko pengungsian Desa Keputran, dikumpulkan dengan para tetangga dan sanak saudara mereka.

Sementara itu, salah seorang warga Dusun Bono, Desa Sidorejo, mengalami luka-luka ringan akibat terjatuh dari motor saat berusaha menyelamatkan diri. Warga tersebut bernama Budi Prayitno. Saat kejadian, dia memboncengkan istrinya, karena tergesa-gesa dan jalan yang rusak serta licin dan gelap karena hujan abu, kendaraannya pun tergelincir dan jatuh.

Untungnya, Budi hanya mengalami luka ringan di kaki dan tangannya. Setelah mendapatkan perawatan di Puskesmas Kemalang, saat ini Budi telah beristirahat di pos pengungsian di Desa Keputran.
(mbr/nvc)

Selasa, 26 Oktober 2010

Petugas Gagal Evakuasi Warga di Klaten

Selasa, 26/10/2010 14:05 WIB
Awas Merapi
Petugas Gagal Evakuasi Warga di Klaten foto
Muchus Budi R. - detikNews







Klaten - Upaya petugas melakukan evakuasi terhadap warga lereng Merapi di Klaten mengalami kendala karena penolakan warga. Semua titik kumpul warga menuju jalur evakuasi di Balerante hingga Selasa siang masih kosong. Imbauan petugas disambut dingin oleh warga yang menolak dievakuasi.

Ada beberapa titik kumpul yang disediakan petugas di Desa Balerante. Titik kumpul adalah di sebuah halaman luas seorang warga di Dusun Gondang. Di lokasi tersebut didirikan sebuah tenda. Tiga buah truk telah diparkir semenjak pagi. Selain itu juga terparkir dua mobil ambulance dan satu unit mobil bak terbuka milik PMI.

Namun hingga Selasa (26/10/2010) siang, tidak ada warga tidak ada yang bersedia datang untuk dievakuasi. Bahkan warga dua kampung diatasnya yaitu Dusun Sambungrejo dan Ngipiksari, sama sekali tidak menghiraukan adanya imbauan dan pemberitahuan. Padahal Dusun Sambungrejo hanya terletak kurang dari 2 km dari puncak Merapi.

Petugas pun mendatangi mereka untuk mengimbau dan mengajak warga di dua dusun itu bersedia mengungsi. Namun ajakan itu tak dihiraukan. Warga tetap beraktivitas seperti biasa, bahkan terlihat mengacuhkan kedatangan petugas.

Kalaupun mau menjawab mereka hanya mengatakan, 'Tidak' dan tidak ada lanjutan atau alasan lainnya yang disertakan dari jawaban tersebut.

Kepada wartawan, warga mengatakan tekadnya untuk tidak akan mengungsi. Mereka yakin Merapi kali ini tidak akan mengalami erupsi ataupun aktivitas yang membahayakan mereka. Mereka yakin bahwa tahun ini hanya 'batuk-batuk kecil' saja.

"Kami akan tetap berada di rumah saja. Kami mempunyai ilmu yang kami warisi secara turun-temurun untuk mengamati Gunung Merapi. Hingga saat ini kami tidak melihat tanda-tanda membahayakan. Kami baru akan mengungsi jika tanda-tanda bahaya itu sudah muncul," ujar Sutino, warga setempat.

Kapolsek Kemalang, AKP Agung Raharjo, mengatakan tim gabungan pelaksanan evakuasi akan terus melakukan himbauan kepada warga agar bersedia mengungsi selama status Merapi masih dinyatakan 'awas'. Namun demikian dia mengaku menghargai pendapat warga yang tetap yakin tidak akan ada bahaya.

"Mereka bukan menolak mengungsi atau dievakuasi, tapi hingga saat ini mereka yakin bahwa Merapi tidak membahayakan sehingga merasa belum perlu mengungsi. Mereka juga mengatakan akan turun jika mereka telah melihat tanda-tanda membahayakan. Kami akan tetap menunggu hingga mereka mau diungsikan," ujarnya.

(djo/djo)

Sabtu, 23 Oktober 2010

Merapi Siaga, Arah Luncuran Lava Dominan Menuju Sleman & Klaten

Jumat, 22/10/2010 23:13 WIB
Merapi Siaga, Arah Luncuran Lava Dominan Menuju Sleman & Klaten
Bagus Kurniawan - detikNews



Gunung Merapi (dok detikcom)
Yogyakarta - Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Surono menegaskan arah luncuran lava pijar bakal lebih dominan menuju ke arah selatan Merapi. Pihaknya meminta warga di Kabupaten Sleman dan Klaten untuk meningkatkan kewaspadaannya.

"Arahnya memang dominan ke sektor selatan dibanding sektor yang lain. Berarti yang paling dekat adalah Kabupaten Sleman, DIY dan Klaten, Jawa Tengah," kata Surono kepada wartawan seusai membuka "Volcano Expo 2010" di kantor Balai Penyeledikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) di Jl Cendana, Yogyakarta, Jumat (22/10/2010) malam.

Menurut dia, pihaknya menaikkan status Merapi menjadi Siaga karena semua hasil pemantauan menunjukkan peningkatan. Data guguran yang terpantau di Plawangan Kaliurang dan Babadan juga meningkat, bahkan sempat ada guguran hingga jarak 3,5 km dari puncak.

Meski demikian pihaknya juga belum bisa memastikan waktu munculnya lava ke
permukaan. Sedang gejala-gejala adanya tekanan magma dari perut bumi ke atas
sudah muncul.

"Merapi sudah masuk titik no return, pasti akan erupsi. Gempa vulkanik juga
meningkat 200 persen. Yang kita pegang bahwa Merapi akan erupsi itu janji yang selalu ditepati, tapi kita tidak tahu kapan akan erupsinya," ungkap dia.

Dia mengatakan belajar dari pengalaman erupsi Gunung Kelud di Jawa Timur tahun 2007 kemarin. Energi sebelum erupsi sangat besar selama 100 tahun terakhir sehingga kita meminta warga untuk mengungsi, tapi kenyataan lain.

"Setelah erupsi hanya muncul kubah saja. Demikian juga dengan Gunung Sinabung yang 400 tahun tidak erupsi kemudian erupsi lagi. Itulah kondisi alam yang terjadi yang tak bisa ditebak," katanya.

Surono mengatakan saat ini pihaknya bersama 4 pemerintah kabupaten di sekitar merapi yakni Magelang, Boyolali, Klaten dan Sleman terus melakukan latihan evakuasi bencana. Tujuannya agar pemerintah maupun warga sekitar cepat tanggap dan terlatih dalam menghadapi situasi seperti saat ini.

"Pelatihan seperti ini juga akan ditiru di negara lain yang punya gunung api," katanya.


(bgs/nwk)