Tampilkan postingan dengan label Letusan Merapi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Letusan Merapi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 November 2010

Emil Salim: Letusan Merapi Harus Dimaanfaatkan

Emil Salim: Letusan Merapi Harus Dimaanfaatkan


Emil Salim: Letusan Merapi Harus Dimaanfaatkan

Jakarta (ANTARA) - Anggota Dewan Pertimbangan Presiden bidang Ekonomi dan Lingkungan Emil Salim mengatakan letusan Gunung Merapi harus bisa dimanfaatkan di masa mendatang demi kesejahteraan rakyat.

"Ke depannya, muntahan perut bumi karena letusan Gunung Merapi harus bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat," kata Anggota Dewan Pertimbangan Presiden bidang Ekonomi dan Lingkungan Emil Salim dalam acara jumpa pers "International Youth Forum on Climate Change" yang diselenggarakan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) di Jakarta, Rabu.

Emil menjelaskan, banyak material isi perut bumi yang keluar saat terjadinya letusan gunung.

"Material itu bisa berbentuk pasir, silika, lava, kristal dan lain sebagainya yang dimuntahkan dari dalam perut bumi dalam jumlah besar," katanya.

Material itu, menurut Emil bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat dan menggerakkan roda perekonomian masyarakat setempat.

"Contohnya kristal bisa dimanfaatkan untuk membuat perhiasan dan pajangan rumah tangga, silika bisa dimanfaatkan untuk membuat kaca dan material lainnya bisa dikembangkan untuk menggerakkan ekonomi," katanya.

Karena itu, menurut Emil apabila kondisi sudah normal kembali pascaerupsi Gunung Merapi maka masyarakat setempat harus segera bangkit dan memanfaatkan apapun yang bisa dikembangkan untuk menggerakkan roda perekonomian.

"Ini adalah kesempatan membangun bagi masyarakat setempat khususnya para generasi muda," katanya.

Dia mengakui, akan menjadi sulit bagi masyarakat untuk menanam padi di tanah berpasir dan memberikan makan ternak di rumput berdebu.

"Namun dengan mengembangkan ilmu pengetahuan, semacam tekno biologi maka kita bisa membuat suatu sistem baru memecahkan persoalan tersebut," katanya.

Karena itu, dia kembali menegaskan kepada masyarakat dan generasi muda untuk segera bangkit jika kondisi telah kembali normal agar bisa mengembangkan ilmu pengetahuan baru dan program penggerak ekonomi pascaerupsi Gunung Merapi.

http://id.news.yahoo.com/antr/20101110/tpl-emil-salim-letusan-merapi-harus-dima-cc08abe.html

Sabtu, 06 November 2010

Letusan Merapi Makin Sulit Diprediksi

Letusan Merapi Makin Sulit Diprediksi
Letupan berasal dari magma sangat dalam, 6-10 km. Gawatnya, alat deteksi rusak berat.
JUM'AT, 5 NOVEMBER 2010, 22:42 WIB
Ita Lismawati F. Malau

VIVAnews - Setelah erupsi 26 Oktober 2010, Gunung Merapi sempat tenang sejenak, dan hanya "batuk" ringan. Tapi, bagi Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM, Dr Surono, tenangnya Merapi itu membuatnya curiga bahwa Merapi seperti menghimpun tenaga.

Kecurigaan Surono terbukti. Gunung Merapi kembali menggeliat dan mengeluarkan letusan lebih hebat dibandingkan erupsi pertamanya, Kamis malam menjelang Jumat dinihari, 5 November 2010. Bahkan, terakhir ini mungkin terdahsyat dalam kurun waktu 100 tahun terakhir.

Sejak erupsi 26 Oktober, sampai Jumat awal November itu, letusan Merapi telah merenggut 109 jiwa. Jumlah korban mungkin masih akan bertambah, mengingat sebagian desa terkena luapan awan panas di radius bahaya Merapi belum seluruhnya kelar disisir tim evakuasi,

Amuk Merapi yang meletus pada Jumat dini hari itu telah membuat warga Yogyakarta panik, terlebih setelah daerah bahaya diperluas menjadi radius 20 kilometer dari kawah Merapi. Yogyakarta disiram derasnya debu vulkanik, yang membuat jarak pandang di Jalan Kaliurang sampai nol meter pada Jumat siang lalu.

Hujan yang mengguyur juga membuat lahar dingin meluncur menuju kota Yogyakarta. Kali Code, dilaporkan meluap melebihi ambang batas. Status Siaga I pun diberlakukan Jumat petang.

Apakah Merapi akan berangsur normal atau justru sedang bersiap memuntahkan energi lebih besar, belum ada jawaban pasti.

Satu diskusi antara para geolog Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Earth Observatory of Singapore (EOS) membahas kondisi Merapi ini. Menurut sumber VIVAnews, ada sejumlah kesimpulan menarik yang ditarik dari diskusi tersebut.

Pertama, letusan Merapi saat ini berbeda dengan letusan sebelumnya sejak tahun 1870-an. Letusan sebelumnya berasal dari magma dangkal, dengan kedalaman sekitar 2 kilometer. "Sekarang tipe eksplosif karena kelihatannya berasal dari magma sangat dalam, 6 sampai 10 kilometer," demikian informasi diperoleh VIVAnews.

Situasi juga jadi makin sulit untuk diprediksi setelah peralatan yang masih berfungsi hanya seismometer. Sementara, alat lainnya seperti alat monitoring deformasi (EDM dan tilt meter), alat pencatat gas, dan alat monitoring visual, rusak.

Bahkan, Kepala Badan Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta Subandriyo mengatakan gerakan gunung ini sempat tak bisa diprediksi karena kerusakan satu alat seismograf yang terkena awan panas, atau wedhus gembel.

"Apakah mungkin terjadi letusan yang lebih besar? Jawabannya, data yang ada tidak cukup untuk menjawab hal ini," salah satu geolog mengeluh.

Para geolog was-was karena mereka tak bisa mengetahui berapa besar kantung magma-dalam. Meski begitu, ada cara lain untuk membantu memprediksi letusan selanjutnya, yakni dengan melihat komposisi kimia muntahan materi dari kawah gunung stratovolcano berusia jutaan tahun itu.

Pengungsi Kembali Mengungsi

Posko utama pengungsian kocar-kacir pasca-letusan Merapi Jumat dinihari itu. Apalagi, radius bahaya diperluas menjadi 20 kilometer. Semua titik pengungsian kembali digeser ke tempat aman lebih aman di kota Yogyakarta.

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X mengatakan posko pengungsian baru adalah Youth Center, kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Pembangunan Nasional (UPN). Lalu, stadion olah raga Maguwoharjo, Sleman.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Pusat Dr Syamsul Maarif, menjelaskan saat ini jumlah pengungsi letusan Gunung Merapi sudah mencapai 127 ribu. Rinciannya 27 ribu pengungsi berada di Yogyakarta, dan sekitar 100 ribu berada di Jawa Tengah.

Agar masyarakat bisa mengungsi dengan tenang, Pemerintah bahkan mengucurkan dana Rp100 miliar untuk membeli semua ternak. Soalnya sejumlah warga masih membandel dan kembali ke lereng gunung Merapi untuk memelihara ternak mereka.

Melihat kondisi Merapi yang serba tak pasti, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengeluarkan instruksi. Salah satunya, kendali operasi tanggap darurat penanganan bencana mulai hari ini ada di Kepala BNPB. Mekanisme satu komando, kata Presiden, dipakai untuk mengefektifkan kerja tanggap darurat. Dalam tugasnya, Kepala BNPB akan dibantu Gubernur Jateng dan Gubernur DIY, Pangdam Diponegoro, Kapolda DIY, serta Kapolda Jateng.

Selain itu, guna memudahkan koordinasi dan dapat terus memantau kondisi rakyat korban bencana, jika memungkinkan SBY berencana berkantor di sekitar Yogyakarta. Jika tidak, Presiden akan mencari peluang berkantor di Magelang.(np)

• VIVAnews

Kamis, 04 November 2010

Hingga Dini Hari, Letusan Merapi Masih Cukup Besar

Kamis, 04/11/2010 01:58 WIB
Hingga Dini Hari, Letusan Merapi Masih Cukup Besar foto
Lia Harahap - detikNews



Jakarta - Guguran awan panas (wedhus gembel) kembali dimuntahkan Gunung Merapi sejak Rabu (3/11) siang. Hingga Kamis dini hari, letusan masih terus terjadi dengan kekuatan yang sama.

"Sampai dini hari tadi, letusan masih tetap dengan kekuatan yang masih sama dengan sore tadi," ujar Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Kegunungapian (BPPTK) Subandriyo saat dihubungi detikcom pukul 01.20 WIB, Kamis (4/11/2010).

Akibat letusan tersebut, lanjut Subandriyo, kawasan sekitar Merapi menjadi gelap gulita. Jarak pandang juga sangat dekat.

"Di sini keadaanya gelap gulita, kita nggak bisa liat apa-apa lagi di lapangan," katanya.

Subandriyo mengatakan, selama letusan tersebut belum berhenti, bagian material dari guguran awan panas berupa abu dan debu dipastikan bisa sampai kemana-mana karena terbawa angin.

"Karena terbawa angin bisa saja mencapai ke daerah-daerah lainnya," jelasnya.

Dia juga menjelaskan, saat ini seluruh petugas terus melakukan pemantauan terhadap aktivitas Gunung Merapi. Subandriyo tidak dapat memastikan apakah ke depan akan kembali terjadi letusan yang jauh lebih besar atau letusan hari ini merupakan puncak letusan.

"Untuk mencari puncak letusan itu, kita tidak bisa memprediksi, kita akan lihat data-data yang kita kumpulkan bagaimana. Kita juga tidak tahu seberapa besar magma yang masih tersimpan di dalam gunung tersebut, yang jelas energinya sekarang sudah menurun," jelas Subandriyo.

"Maka itu kita meminta warga mengungsi sampai radius 15 Km, sebab untuk radius 10 Km dengan melihat letusan seperti tadi (Rabu 3/11) ancamannya juga semakin serius," tandasnya.

Sebelumnya aktivitas Merapi pada Rabu (3/11/2010) meningkat. Letusan yang terjadi sejak pukul 08.15 WIB tadi terus menerus terjadi hingga sore ini. Akibatnya, kondisi dinyatakan krisis sehingga daerah rawan bencana dipertimbangkan bertambah lebih dari 10 km.

Dampak dari letusan tersebut menyebabkan abu vulkanik semakin jauh berterbangan. Beberapa daerah yang sudah terkena abu vulkanik tersebut adalah Banyumas, Purwokerto, Banjarnegara dan Cilacap.

(lia/mok)

Rabu, 03 November 2010

Letusan Merapi Tiga Jam Belum Berhenti
Letusan Merapi yang disertai awan panas itu tidak dapat terlihat secara visual.
RABU, 3 NOVEMBER 2010, 21:57 WIB
Ismoko Widjaya, Sandy Adam Mahaputra

VIVAnews - Menjelang petang, aktivitas Gunung Merapi semakin meningkat. Sudah tiga jam Merapi meletus tanpa henti. Wilayah radius 15 kilometer dari puncak Merapi direkomendasikan untuk benar-benar disterilkan.

"Sampai saat ini letusan belum berhenti sejak pukul 16.04 WIB," kata Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Doktor Surono dalam perbincangan di tvOne, Rabu, 3 November 2010.

Menurut Surono, letusan Merapi yang disertai awan panas itu tidak terlihat secara visual karena sudah gelap gulita, ditambah cuaca hujan.

"Seluruh awan panas terbesar, tidak bisa dilihat," kata doktor geofisika lulusan Savoel University, Chambery, Prancis ini.

Letusan petang menjelang malam ini berbeda dengan yang terjadi pada pukul 11.00 hingga petang tadi. Letusan sempat mereda, tetapi jeda hanya berlangsung sejenak.

"Letusan ini sudah ke segala arah. Maka itu saya perintahkan semuanya untuk mundur sampai sejauh 15 kilometer," ujar Surono.

Letusan Merapi pada 26 Oktober yang menewaskan 39 orang itu menghantam Desa Kinahrejo, tempat juru kunci Merapi Mbah Maridjan. Desa Mbah Maridjan sendiri berada sekitar 4 sampai 5 kilometer dari puncak Merapi.

"Jangkauan awan panas ini sekitar 9 kilometer. Lebih panjang dari letusan pertama yang sekitar 7,5 kilometer," kata Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta Subandrio kepada VIVAnews.com sebelumnya. (kd)

• VIVAnews

Sabtu, 30 Oktober 2010

Letusan Merapi Pagi Tadi Keluarkan "Cendawan" Setinggi 3,5 Km

Letusan Merapi Pagi Tadi Keluarkan "Cendawan" Setinggi 3,5 Km


Letusan Merapi Pagi Tadi Keluarkan "Cendawan" Setinggi 3,5 Km

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA – Merapi pada Sabtu (30/10) dini hari tadi meletus kembali secara eksplosif. Letusan eksplosif Merapi untuk kedua kalinya di bulan Oktober 2010 ini mengeluarkan cendawan atau asap tebal setinggi 3,5 kilometer ke atas. Selain itu letusan eksplosif Merapi ini juga diikuti dengan keluarnya awan panas atau biasa disebut wedus gembel dalam durasi 21 menit yaitu pukul 00.16 – 00.37 WIB.

Getaran akibat letusan tersebut dirasakan sampai posko Merapi di Selo, Magelang. Hujam pasir pasca letusan dirasakan sampai Jalan Kaliurang KM 5 Yogyakarta. “Kita belum tahu radius luncuran awan panas kali ini berapa. Tim kami masih di lapangan,” terang Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Dr Surono.

Pasca letusan tersebut aktivitas Merapi memang menunjukan penurunan. Namun begitu kata dia, pihaknya masih merekomendasikan agar kawasan 10 kilometer dari puncak Merapi tetap dikosongkan. Berdasarkan data seismic hingga pukul 06.00 WIB sabtu ini, Merapi sudah melakukan guguran sebanyak 78 kali, gempa multiphase 27 kali, gempa vulkanik atas satu kali dan gempa vulkanik dalam tiga kali.

http://id.news.yahoo.com/repu/20101030/tpl-letusan-merapi-pagi-tadi-keluarkan-c-97b2f71.html

Letusan Merapi Disusul Hujan Pasir Tebal

Letusan Merapi Disusul Hujan Pasir Tebal
Sabtu, 30 Oktober 2010 | 01:47 WIB
KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO
Gunung Merapi mengeluarkan awan panas atau wedhus gembel terlihat dari Dusun Gondang, Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Klaten, Jawa Tengah, Jumat (29/10/2010). Merapi mengeluarkan awan panas pada pukul 06.14 WIB yang luncurannya diperkirakan mencapai 1,5 kilometer ke arah barat. Saat keluar mulut gunung suhu awan panas bisa mencapai sekitar 600 hingga 1.100 derajat Celcius dan memiliki kecepatan luncur hingga 300 kilometer per jam.

SLEMAN, KOMPAS.com - Kepanikan warga belum reda setelah Gunung Merapi bergemuruh, Sabtu (30/10/2010) sekitar pukul 01.00. Kini, ribuan warga dipanikkan lagi oleh hujan pasir yang cukup tebal.

Sebaran pasir Merapi tergolong jauh. Fotografer KOMPAS.com Kristianto Purnomo dari kantor Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, melaporkan, hujan pasir juga terasa di lokasi tersebut.

Padahal, kantor desa tersebut berlokasi di Jl Kaliurang Km 19, sementara jarak antara lokasi tersebut ke Kaliurang sekitar 12 Km. Sedangkan dari Kaliurang ke puncak Merapi lebih dari 5-6 Km. Artinya, sebaran pasir dan abu dari puncak Merapi mencapai radius sekitar 20 Km.

Kristianto Purnomo melaporkan pula, jarak pandang menjadi sangat terbatas. Ia tidak bisa bergerak kemana-mana karena pasir terus mengguyur. "Masih hujan pasir, naik motor pun susah, kaca helm tertutup abu. Kalau tidak pakai helm, mata tertutup pasir," kata Kristianto.

Tim SAR dibantu para relawan langsung membagikan masker kepada para pengungsi. Mereka juga diminta untuk masuk ke ruang kantor desa, dan kamp pengungsian di dekatnya. Mereka umumnya orang-orang tua, perempuan dan anak-anak.

Kapasitas kamp pengungsi dan kantor desa tak mencukupi untuk menampung ribuan pengungsi.

Editor: yuli

Sabtu, 23 Oktober 2010

Letusan Merapi Tinggal Tunggu Waktu

Letusan Merapi Tinggal Tunggu Waktu
Jumat, 22 Oktober 2010 | 23:03 WIB
KOMPAS/WAWAN H PRABOWO
Puncak Gunung Merapi.

SLEMAN, KOMPAS.com — Letusan Gunung Merapi saat ini tinggal menunggu waktu. Hal itu disampaikan Kepala Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Surono.

"Jika melihat perubahan yang terjadi sejak September hingga saat ini, diperkirakan Gunung Merapi sudah mencapai kondisi point of no return. Artinya, tak akan kembali lagi ke keadaan semula," katanya saat sosialisasi di Balai Desa Kepuharjo, Cangkringan, Sleman, Jumat (22/10/2010).

Apakah dengan kondisi seperti ini Gunung Merapi akan segera meletus? Surono mengatakan, hal tersebut tergantung dari Gunung Merapi. "Kalau kapan atau waktu persis meletus, hanya Gunung Merapi sendiri yang tahu," ucapnya.

Ia mengatakan, dengan peningkatan status Gunung Merapi dari waspada ke siaga, penanganan aktivitas Gunung Merapi ini langsung diambil alih Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). "Sesuai dengan SOP yang ada sejak Gunung Merapi ditingkatkan statusnya dari waspada menjadi siaga, tugas pengawasan terhadap gunung ini sekarang menjadi tanggung jawab PVMBG," paparnya.

Ia mengatakan, gempa-gempa yang terjadi di Merapi saat ini lebih besar daripada yang terjadi pada 2006. "Saat ini aktivitas Gunung Merapi sudah meningkat lebih dari 500 persen," ujarnya.

Surono menjelaskan, pada 20 Oktober 2010 atau sehari sebelum status gunung ini dinaikkan menjadi siaga, tercatat telah terjadi 479 kali kejadian gempa multifase, gempa vulkanik dalam dan dangkal dengan total 39 kejadian, serta guguran 29 kali. "Ciri-ciri lainnya yakni kandungan air dan gas Merapi sudah sangat berkurang. Artinya, kondisinya sudah panas sekali. Suhu terakhir yang kami catat di kawasan Woro pada 20 Oktober mencapai 587 derajat celsius," katanya.

"Kami berharap letusan kali ini tidak terlalu eksplosif, karena bila ekplosif akan terlalu berbahaya," tambahnya.

Melihat kondisi di lapangan bahwa masyarakar sekitar lereng Merapi sudah terbiasa menghadapi kemungkinan bencana seperti ini, pihaknya tidak terlalu khawatir. "Masyarakat sudah disiapkan dan di antara mereka juga sudah menjalani latihan-latihan untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan buruk yang terjadi," tuturnya.

Editor: Tri Wahono | Sumber: ANT