Tampilkan postingan dengan label NTT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NTT. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 Agustus 2011

Tim Riset Telusuri Bencana di Bali dan NTT

Tim Riset Telusuri Bencana di Bali dan NTT

Daerah yang memiliki catatan gempa dan tsunami perlu mendapat perhatian serius.

KAMIS, 28 JULI 2011, 11:30 WIB
Muhammad Firman
Daerah yang memiliki catatan gempa dan tsunami perlu mendapat perhatian serius untuk segera diriset, sekaligus memperingatkan akan pentingnya mitigasi di sana. (earthquake.it)

VIVAnews - Tim Katastropik Purba telah menghimpun data dari berbagai sumber dan penelitian para ahli mengenai dokumentasi gempa bumi dan tsunami di Bali, Lombok, Sumbawa, dan Flores, Nusa Tenggara Timur.

Menurut tim peneliti, daerah yang memiliki catatan gempa dan tsunami di atas perlu mendapat perhatian serius untuk segera diriset, sekaligus memperingatkan akan pentingnya mitigasi di sana.

Berikut ini catatan bencana gempa bumi atau tsunami yang pernah menghantam daerah tersebut. Daftar ini dikumpulkan oleh M. Syahrir dan Jhonson MP, asisten staf khusus SKP BSB yang juga merupakan anggota Tim Katastropik purba:

Bali
22-11-1815: 7.0SR, tsunami, laut, utara Bali; 10.253 tewas
13-05-1857: 7.0SR, tsunami, laut, utara Batur; 36 tewas
1917: tsunami, laut; 15.000 korban

Lombok
25-07-1856: tsunami, laut Flores, timur Lombok

Sumbawa
05-04-1815: letusan gunung Tambora, 7 VEI, tsunami; 10.000 tewas
10-04-1815: tsunami akibat letusan Tambora
08-11-1818: gempa 8.5SR, laut Bali
05-03-1836: laut Flores
28-11-1836: gempa 7.5SR, laut Flores
28-11-1837: pantai barat laut Bima

Flores
14-04-1855: laut selatan Flores
05-10-1891: gempa bumi 7.0SR, laut Sawu, selatan Flores

Nusa Tenggara Timur
1814: selatan NTT; darat

• VIVAnews

Sabtu, 08 Mei 2010

Guncangan Gempa Terasa Juga di NTT

Guncangan Gempa Terasa Juga di NTT


Kupang (ANTARA) - Gempa berkekuatan 5,9 skala Richter yang mengguncang Kabupaten Raba di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat, Sabtu siang, dirasakan pula getarannya oleh masyarakat di Nusa Tenggara Timur.

Masyarakat di Kota Waingapu, ibu kota Kabupaten Sumba Timur dan Weetabula di Kabupaten Sumba Barat Daya serta barat laut Labuanbajo di ujung barat Pulau Flores, NTT, sangat merasakan guncangan gempa tersebut, kata Kepala BMKG Kupang Maryanto di Kupang, Sabtu.

Ia mengemukakan berdasarkan hasil pencatatan alat deteksi gempa pada sejumlah wilayah di NTT menyebutkan gempa berkekuatan 5,9 SR itu berada berada pada posisi 8,09 LS dan 118,27 BT dengan pusat gempa di laut, sekitar 68 km barat laut Raba, Sumbawa Besar, NTB.

Posisi pusat gempa ini berjarak tidak jauh dari Waingapu dan Weetabula di Pulau Sumba, NTT sehingga getarannya sangat dirasakan oleh masyarakat di pulau itu.

Gempa tektonik itu tidak menimbulkan korban jiwa, sedang kerusakan bangunan sampai kini masih dalam pendataan oleh masing-masing daerah.

Maryanto mengemukakan sebelum terjadinya gempa di Raba, NTB, sehari sebelumnya juga terjadi di wilayah barat daya Kupang dengan kekuatan 5,0 SR berada pada kedalaman 10 km.

Gempa tersebut sama sekali tidak berpotensi menimbulkan tsunami dan korban jiwa.

http://id.news.yahoo.com/antr/20100508/tid-guncangan-gempa-terasa-juga-di-ntt-f9ffe45.html

Sabtu, 16 Januari 2010

NTT Dilanda Cuaca Ekstrim

NTT Dilanda Cuaca Ekstrim
Sabtu, 16 Januari 2010 20:22 WIB
Wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) saat ini dilanda cuaca ekstrim berupa hujan deras, angin kencang, disertai petir dan angin puting beliung, sehingga masyarakat diminta untuk waspada.

"Keadaan cuaca ini sangat berbahaya bagi pelayaran, sehingga perlu lebih diwasdapai pula oleh semua armada pelayaran yang melintas di wilayah perairan NTT," kata Kepala Seksi Observasi dan Informasi Stasiun Metereologi El Tari Kupang Agus T Iswahjuanto di Kupang, Sabtu (16/1).

Ia menjelaskan, angin puting beliung berkecepatan di atas 45 kilometer (km) per jam yang datangnya sulit diramalkan terjadi secara sporadis dalam waktu sesaat.

"Curah hujan yang cukup lebat terjadi di seluruh wilayah NTT ini kemungkinan besar akan terjadi banjir dan tanah longsor sehingga dapat menganggu aktivitas dan mengancam keselamatan," katanya.

Ia menjelaskan, berdasarkan hasil foto citra satelit, hingga tiga hari ke depan, NTT masih dilanda cuaca ekstrim. Hal itu terjadi karena adanya daerah pumpunan angin yang memanjang dari Laut Jawa hingga Laut Banda yang berpengaruh terhadap proses pertumbuhan awan yang memicu terjadinya hujan di wilayah Indonesia bagian selatan.

Ia menambahkan, kondisi suhu muka air laut di wilayah perairan Indonesia masih cukup hangat sehingga suplai uap air laut masih cukup bagi pertumbuhan awan-awan hujan.

Agus mengemukakan, kelembaban udara di wilayah Indonesia di atas 80% di lapisan 850 milibar (mb) dan dibawah 60% di lapisan 700 mb.

Secara nasional wilayah yang berpotensi hujan lebat disertai petir dan angin kencang adalah Sumatera Selatan, Bengkulu, Bangka Belitung dan wilayah Lampung di pesisir barat Sumatra bagian selatan, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan.

Jawa bagian barat dan utara, Sulawesi bagian tengah, barat dan selatan, Bali bagian utara, NTT dan NTB, Maluku Tengah dan Tenggara, Papua bagian barat dan utara, juga dilanda cuaca ekstrim.

Sementara itu, di perairan NTT tinggi gelombang berkisar antara tuga hingga 3,5 meter sehingga sangat membahayakan keselamatan armada pelayaran yang melintas di wilayah perairan tersebut.

"Para nelayan dan kapal-kapal feri diharapkan tetap waspada, karena keadaan gelombang laut saat ini sangat tidak bersahabat," kata Agus.

PT Feri Indonesia cabang Kupang telah menghentikan semua armada pelayarannya sejak awal pekan ini, karena keadaan gelombang laut yang tidak bersahabat untuk melayani lintas penyeberangan jauh di NTT. (Ant/OL-01)

Minggu, 25 Oktober 2009

Gempa Susulan Kembali Terjadi 10 Menit Kemudian

Minggu, 25/10/2009 04:33 WIB
Gempa NTT
Gempa Susulan Kembali Terjadi 10 Menit Kemudian
Aprizal Rahmatullah - detikNews

wordpress.com
Jakarta - Gempa yang melanda Nusa Tenggara Timur (NTT) ternyata tidak hanya sekali. 10 menit kemudian gempa susulan berkekuatan 5,5 Skala Richter kembali mengguncang Waingapu, NTT.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika melansir gempa tersebut terjadi pukul 04.04 WIB atau 10 menit kemudian setelah gempa pertama berkekuatan 6,1 SR terjadi.

Gempa kedua ini berlokasi di 10.1 LS-118.75 BT dengan kedalaman 23 km. Pusat gempa berada pada 174 km barat daya Waingapu, NTT. Gempa ini tidak berpotensi tsunami.
(ape/ape)

Gempa 6,1 SR Guncang NTT

Minggu, 25/10/2009 04:16 WIB
Gempa 6,1 SR Guncang NTT
Aprizal Rahmatullah - detikNews

wordpress.com

Jakarta
- Gempa kembali melanda wilayah Indonesia. Kali ini gempa b
erkekuatan 6,1 Skala Richter (SR) mengguncang Waingapu, Nusa Tenggara Timur (NTT)

Informasi yang diperoleh dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) gempa terjadi pukul 03.54 WIB. Lokasi gempa pada 10.16 LS-118.75 BT.

Pusat gempa berkedalaman 19 Km. Gempa ini berjarak 176 km barat daya Waingapu, NTT.
(ape/ape)

Minggu, 16 Agustus 2009

Hutan Bakau di NTT

10.000 Hektar Hutan Bakau NTT Rusak
MINGGU, 16 AGUSTUS 2009 | 13:23 WIB

KUPANG, KOMPAS.com — Kepala Dinas Kehutanan Nusa Tenggara Timur (NTT) Joseph Diaz mengatakan, sekitar 9.989 hektar (2,25 persen) hutan bakau di provinsi itu rusak dari 40.695 hektar yang ada.

"Dari 40.695 hektar luas hutan mangrove di NTT ini sudah banyak yang mengalami tekanan di antaranya akibat penebangan hutan mangrove oleh masyarakat untuk kebutuhan bahan bangunan, kayu bakar," katanya di Kupang, Minggu (16/8).

Menurut Diaz, hasil survei yang dilakukan Dinas Kehutanan, Univesitas Nusa Cendana (Undana), dan Institut Pertanian Bogor (IPB) menyebutkan, potensi mangrove di Nusa Tenggara Timur cukup besar dapat ditemukan di perairan NTT.

Pada wilayah ini, ekosistem ini pada beberapa lokasi lebih menonjol bila dibandingkan dengan ekosistem pesisir lainnya.

Hutan mangrove di NTT tidak sebanyak di pulau-pulau besar di Indonesia karena kondisi alam di NTT yang membatasi pertumbuhan mangrove, seperti kurangnya muara sungai yang besar di NTT sehingga pertumbuhan mangrove yang ada sangat tipis.

"Di beberapa lokasi mangrove dapat tumbuh dengan baik karena didukung muara sungai besar dengan sedimentasi yang cukup tinggi seperti di muara sungai Benenain di Kabupaten Belu dan muara sungai Noelmina di Kabupaten Kupang," katanya.

Mantan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedalda) NTT ini lebih lanjut mengatakan, hasil survei Dinas Kehutanan, UNDANA, dan IPB juga berhasil mengidentifikasikan 11 spesies mangrove di Pulau Timor, Rote, Sabu, dan Semau.

"Hasil survei itu juga menemukan hutan mangrove di NTT, terdapat kurang lebih sembilan famili yang terbagi dalam 15 spesies bakau genjah (Rizophora mucronata), bakau kecil (Rizophora apiculata), bakau tancang (Bruguera), bakau api-api (Avecinnia), bakau jambok (Xylocorpus), bakau bintaro (Cerbera mangkas), bakau wande (Hibiscus tiliacues)," katanya.

Namun, keberadaan spesies ini, sebagai salah satu sumber daya pesisir dan laut NTT, terdegradasi yang mengancam kapasitas berkelanjutan (sustainable capacity) dalam mendukung pembangunan daerah.

Di NTT, degradasi sumber daya pesisir dan laut ini disebabkan tidak saja oleh faktor manusia, tetapi juga oleh faktor alam, seperti perubahan suhu dan salinitas air laut, perubahan iklim, dan ombak keras.

Namun dari data yang diperoleh, kerusakan yang lebih banyak dan lebih parah diakibatkan pengaruh antropogenic(aktivitas manusia), antara lain tumpahan minyak dan sampah, tangkapan berlebih (overfishing), penambangan terumbu karang, konservasi menjadi tambak, serta pengeboman ikan dengan potasium dan sianida.


BNJ
Sumber : ANT

http://sains.kompas.com/read/xml/2009/08/16/13234767/10.000.hektar.hutan.bakau.ntt.rusak

El Nino Mengancam NTT

Serius, El Nino Mengancam NTT
MINGGU, 16 AGUSTUS 2009 | 07:39 WIB

KUPANG, KOMPAS.com — Prakirawan klimatologi El Tari Kupang, Mochammad Saiful, memperkirakan ancaman El Nino yang saat ini serius melanda warga Nusa Tengara Timur (NTT), terutama masyarakat di Pulau Sumba, Flores bagian timur, dan Alor.

"Di wilayah Sumba, Flores bagian timur dan Alor NTT, diperkirakan musim hujan baru akan terjadi pada akhir Desember dari biasanya antara akhir Oktober hingga awal November," katanya di Kupang.

Prakiraan tahunan menyebutkan, hujan akan mundur 10-30 hari. Apabila hal ini terjadi, maka hujan baru turun pada akhir Desember untuk wilayah-wilayah tersebut di atas.

Ia menyebut frekuensi kejadian El Nino cenderung meningkat dengan durasi yang semakin panjang, tingkat anomali iklim yang semakin besar, dan siklus kejadian yang semakin pendek.

"Anomali iklim tersebut menyebabkan penurunan curah hujan dan ketersediaan air irigasi yang selanjutnya berimplikasi pada penurunan produksi pangan sekitar 3,06 persen untuk setiap kejadian El Nino," katanya.

Penurunan produksi pangan akibat El Nino paling tinggi terjadi pada produksi jagung. Hal ini menunjukkan bahwa produksi jagung paling sensitif terhadap peristiwa anomali iklim.

Dalam rangka menekan dampak negatif El Nino terhadap produksi pangan maka diperlukan kebijakan penanggulangan yang komprehensif.

Ada tiga upaya pokok menghadapi El Nino, yaitu pengembangan sistem deteksi dini anomali iklim, pengembangan sistem diseminasi informasi yang efisien tentang anomali iklim dan mengembangkan diseminasi.

Selain itu, memfasilitasi petani untuk menerapkan teknik budi daya tanaman yang adaptif terhadap situasi kekeringan di samping membangun dan merehabilitasi jaringan irigasi serta mengembangkan teknik pemanenan curah hujan.

"Untuk wilayah NTT di mana 70 persen warganya adalah petani, mulai merasakan ancaman El Nino berupa kekeringan yang mulai melanda sejumlah wilayah NTT, saat ini," katanya.

Ia menyebut El Nino itu hanya fenomena alam, di mana uap air yang ada berpindah ke arah laut Pasifik menyinggahi Indonesia, termasuk NTT.

"Jika pada saat itu fenomenanya positif, maka masa uap air di Sumatera bagian barat berpindah ke Afrika maka terjadi El Nino (musim kekeringan). Tetapi jika masa air di afrika berpindah ke Sumatera, maka akan terjadi La Nina (musim basah)," katanya.

Kedatangan El Nino akan semakin menambah persoalan kekeringan yang saat ini melanda provinsi kepulauan ini. Karena itu, seluruh komponen masyarakat diimbau untuk berwaspada dengan menyiapkan embung-embung dan fasilitas penampung air lainnya, serta menghijaukan lahan kritis yang ada.


BNJ
Sumber : ANT

http://sains.kompas.com/read/xml/2009/08/16/07390858/serius.el.nino.mengancam.ntt