Tampilkan postingan dengan label awan panas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label awan panas. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Juli 2011

Gunung Lokon Terus Semburkan Awan Panas

Gunung Lokon Terus Semburkan Awan Panas

BNPB telah memberikan bantuan dana siap pakai Rp300 juta.

SABTU, 16 JULI 2011, 09:05 WIB
Arry Anggadha, Syahrul Ansyari

VIVAnews - Aktivitas Gunung Lokon masih cukup tinggi. Pagi tadi gunung api aktif yang terletak di Tomohon, Sulawesi Utara itu kembali meletus.

Staf Khusus Presiden Bidang Bencana Alam dan Bantuan Sosial Andi Arief menjelaskan, sekitar pukul 02.47 Wita, Gunung Lokon kembali mengeluarkan asap kelabu tebal dengan ketinggian 800 meter. Letusan kedua terjadi pukul 5.15 Wita, asap dengan ketinggian 300 meter keluar dari kawah Tompaluan.

"Aktivitas Gunung Lokon masih tetap tinggi dan Awas Lokon," kata Andi Arief dalam keterangannya kepada
VIVAnews.com, Sabtu 16 Juli 2011.

Sementara itu, Kepala BNPB telah menggelar rapat koordinasi dengan aparat terkait. Koordinasi dilakukan guna lebih mengintensifkan penanganan pengungsi dan penanganan tanggap darurat.

"Dalam rapat koordinasi Kepala BNPB memberikan arahan penanganan bencana menjadi tanggung jawab bersama pemerintah pusat, pemerintah daerah dengan bantuan masyarakat dan dunia usaha demi kemanusiaan. Penanganan bencana harus sesuai peraturan yg ada. Gunakan lokal wisdom, Kultural wisdom, dan spiritual wisdom," jelas Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho.

Hingga saat ini, BNPB mencatat jumlah pengungsi mencapai 4.544 jiwa yang terdiri dari 1.255 kepala keluarga. Pengungsi tersebar di 6 pos pengungsian. Kawasan Rawan Bencana ditetapkan pada radius 5 km dari potensi jatuhan batu pijar dan debu pekat. Sedangkan KRB 2 radius 3,5 km dari potensi awan panas dan lahar. Di KRB 1 terdapat sekitar 28 ribu orang dan KRB 2 sekitar 12 ribu orang.

Selain itu, penanganan tanggap darurat telah dilakukan oleh BPBD Kota Tomohon dengan didukung BNPB dan BPBD Sulut, serta instansi terkait. BNPB telah memberikan bantuan dana siap pakai Rp300 juta, logistik, dan peralatan senilai Rp200 juta, dan pendampingan personil.

Tidak ada korban jiwa yang terdampak langsung akibat erupsi. Satu orang yang meninggal dunia pada 12 Juli pukul 23.15 Wita disebabkan serangan jantung dan jatuh di kamar mandi.

Untuk diketahui, karakter Lokon mirip dengan Gunung Merapi yang meletus hebat akhir 2010 lalu. Keduanya sama-sama menyemburkan awan panas yang mematikan, atau di Merapi juga dikenal dengan wedhus gembel.

Pada 27 November 1969 gunung ini meletus dan memuntahkan awan panas serta gugusan abu. Sementara, pada 1991 material yang dikeluarkan Lokon menimbun ribuan rumah penduduk. Korban nyawa pun jatuh. Seorang pendaki gunung asal Swiss, Vivian Clavel, menjadi korban keganasan Lokon. Ia tewas dan jasadnya tak ditemukan hingga kini, karena tertimbun debu. (umi)

• VIVAnews

Selasa, 16 November 2010

Surono Khawatir Awan Panas Tiba-tiba Muncul

Surono Khawatir Awan Panas Tiba-tiba Muncul
Di puncak Merapi, satu lubang tertutup, tapi muncul tiga lubang baru.
SELASA, 16 NOVEMBER 2010, 17:14 WIB
Ita Lismawati F. Malau

VIVAnews - Gunung Merapi belum juga memberikan tanda-tanda tidur kembali. Setelah kemarin menurun, aktivitas gunung di perbatasan Yogyakarta-Jawa Tengah ini kembali naik, Selasa 16 November 2010.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Surono menjelaskan Merapi sampai kini masih fluktuatif. Meski hari ini aktivitas Merapi naik, namun tidak separah letusan 26 Oktober dan 5 November lalu. "Namun, arah letusan ini tidak bisa dilihat dari Yogyakarta karena awan mendung," kata dia dalam jumpa pers di kantor BPPTK.

Informasi ini, kata dia, sudah disampaikan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melalui teleconference. "Presiden minta jangan sampai ada korban jatuh lagi."

Surono menambahkan ancaman bahaya letusan masih ke arah selatan, yakni Cangkringan, Sleman, dan Yogyakarta. "Sialnya, tak terlihat dari Yogyakarta. Kami khawatir awan panas tiba-tiba muncul," kata dia.

Saat ini, kata dia, satu lubang di puncak Merapi tertutup. Sebagai gantinya, tiga lubang baru muncul dengan ukuran lebih kecil.

Dalam kesempatan itu, Surono meminta warga yang tinggal di sekitar lereng Merapi untuk bersabar dan tidak kembali ke desa masing-masing sampai dinyatakan aman. "Dua minggu atau dua bulan, harap bersabar karena Merapi memang masih fluktuatif," kata dia.

Radius steril pun masih sama seperti yang diputuskan terakhir. Ke arah Selatan, radius steril masih 20 kilometer (km). untuk daerah sepanjang Kali Boyong (10 km), Kali Kuning (15 km), dan Kali Gendol (15 km).

Surono juga menegaskan radius steril di sekitar Boyolali dan Klaten masih 10 km sehingga warga tidak direkomendasikan untuk mendekati jarak 10 km dari puncak Merapi. "Bersabar supaya happy ending."

Laporan: Erick Tanjung | Yogyakarta, umi

• VIVAnews

Minggu, 07 November 2010

Merapi Luncurkan Awan Panas, Tim SAR Berlarian Selamatkan Diri

Minggu, 07/11/2010 11:09 WIB
Merapi Luncurkan Awan Panas, Tim SAR Berlarian Selamatkan Diri foto
Bagus Kurniawan - detikNews




Jakarta - Luncuran wedhus gembel tiba-tiba menyembur dari Gunung Merapi. Awan panas ini membuat tim SAR yang sedang melakukan pencarian korban tewas harus menghentikan pencarian dan berlarian ke tempat yang lebih aman.

Awan panas itu mulai meluncur sekitar pukul 10.20 WIB. Sekitar 40 orang anggota tim SAR yang sedang menyisir Dusun Ngempring dan Dusun Ngancar, Kecamatan Cangkringan, Kabupetan Sleman, DIY, berlarian turun menuju truk dan sepeda motor yang mereka bawa.

"Ada awan panas, turun!" teriak salah seorang anggota tim SAR di Dusun Ngempring, Minggu (7/11/2010).

Puluhan anggota tim SAR itu kemudian berlarian turun menuju motor dan truk. Meraka langsung memacu kencang kendaraannya untuk turun ke daerah yang lebih aman.

Awan panas yang meluncur ke arah selatan menuju Kali Gendol ini juga membuat warga Dusun Butuh, Argomulyo, Cangkringan, Sleman, beramai-ramai turun melewati Jalan Desa Sindumartani. Mereka kembali ke desa karena ingin menyelamatkan hewan ternak dan harta benda yang masih tersisa.

Hingga pukul 10.45 WIB masih terjadi letusan awan panas. Cuaca di sekitar Merapi mendung. Namun kepulan asap tersebut masih terlihat.

Selain awan panas, suara gemuruh juga terdengar dari dalam Merapi. Suara gemuruh ini cukup kuat sehingga terdengar hingga radius 20 kilometer.


(nal/nrl)

Sabtu, 06 November 2010

Merapi Masih Terus 'Muntahkan' Awan Panas

Sabtu, 06/11/2010 12:47 WIB
Merapi Masih Terus 'Muntahkan' Awan Panas foto
Gagah Wijoseno - detikNews




Jakarta - Gunung Merapi masih belum berhenti memuntahkan awan panas atau wedhus gembel. Hingga siang ini, semburan awan panas secara vertikal masih tampak dari puncak Merapi.

Demikian seperti disampaikan oleh petugas SAR Merapi yang bisa dipantau melalui saluran Handy Talky (HT), Sabtu (6/11/2010), sekitar pukul 12.30 WIB.

Petugas SAR tersebut, mengumumkan jika awan panas terus-terusan keluar dari puncak Merapi sejak pukul 12.00 WIB. Arahnya cenderung vertikal.

Saat ini, situasi di puncak Merapi sendiri masih berkabut, sehingga hanya bisa terpantau semburan awan panas saja.

Sementara itu, petugas SAR juga melaporkan jika arah angin dari puncak Merapi cenderung menuju ke barat daya. Sedangkan arah angin di kaki gunung cenderung menuju ke tenggara.

Namun, hingga kini awan panas masih menggantung sekitar 500 meter dari puncak dan belum tertiup angin.

Selain itu, dilaporkan juga adanya petugas SAR yang tidak bisa merapat ke Kali Gendol untuk mengevakuasi korban yang ada di sana. Hal ini dikarenakan larva yang masih panas.

Diketahui sebelumnya, Gunung Merapi terus menerus mengeluarkan awan panas. Puncaknya, pada sekitar pukul 01.00 WIB dini hari, Jumat (5/11), Gunung Merapi mengeluarkan awan panas yang terdahsyat dalam 100 tahun terakhir. Akibatnya, Merapi kembali memakan korban. Data terbaru menyebutkan, sekitar 81 orang tewas tersengat awan panas Merapi.


(nvc/mad)

Jumat, 05 November 2010

Tremor & Awan Panas Merapi Terjadi Berentetan, Tak Bisa Dihitung

Jumat, 05/11/2010 07:23 WIB
Tremor & Awan Panas Merapi Terjadi Berentetan, Tak Bisa Dihitung foto
Nurul Hidayati - detikNews




Jakarta - Tiap hari otoritas kegunungapian di bawah Badan Geologi Kementerian ESDM menghitung semua jenis gempa Merapi yang tercatat oleh seismograf. Namun sejak Kamis kemarin, menghitung bukan perkara gampang karena semua kategori gempa terjadi secara berentetan.

Jenis gempa yang dicatat adalah vulkanik, multiphase, tremor, gempa frekuensi rendah, guguran dan awan panas. Sejak 3 November pukul 00.00 WIB hingga Kamis (4/11) pukul 00.00 WIB, semua kategori itu ditulis terjadi berentetan. Padahal hari-hari sebelumnya ada dalam hitungan belasan, lalu puluhan dan pernah meningkat menjadi seratusan.

"Berdasarkan laporan dari petugas pos pengamatan Gunung Merapi, dari pukul 18:00-24:00 WIB, semua pos melaporkan bahwa suara gemuruh, dapat terdengar pada jarak 20 km dari puncak Gunung Merapi. Bahkan setelah pukul 23.45 WIB, dapat terdengar dari Kantor BPPTK yang berjarak 30 km. Terjadi hujan abu dan pasir serta bau belerang dari Srumbung (Kabupaten Magelang)," demikian laporan Badan Geologi bertanggal Jumat (5/11/2010).

Jika sebelumnya ancaman bahaya terpusat pada awan panas, sekarang lahar juga menjadi ancaman. "Berdasarkan hasil pemantauan instrumental dan visual pada 4 November 2010 dari pukul 18:00 WIB sampai dengan pukul 24:00 WIB menunjukkan aktivitas G. Merapi masih tinggi’ dengan ditunjukkan adanya awanpanas beruntun. Dengan kondisi tersebut, maka status aktivitas Gunung Merapi masih tetap pada tingkat Awas (level 4). Ancaman bahaya Gunung Merapi dapat berupa awan panas dan lahar," ujarnya.

Badan Geologi juga merekomendasikan tidak ada aktivitas penduduk di daerah rawan bencana III, khususnya yang bermukim di sekitar alur sungai (ancaman bahaya awan panas dan lahar) yang berhulu di Merapi sektor tenggara, selatan, barat daya, barat dan barat laut dalam jarak 20 km dari puncak Merapi meliputi, Kali Woro, Kali Gendol, Kali Kuning, Kali Boyong, Kali Bedog, Kali Krasak, Kali Bebeng, Kali Sat, Kali Lamat, Kali Senowo, Kali Trising, dan Kali Apu.

(nrl/vit)

7 Tewas, 50 Luka Bakar Akibat Awan Panas

7 Tewas, 50 Luka Bakar Akibat Awan Panas
Awan panas menyapu sekitar pukul 03.00 WIB tadi.
JUM'AT, 5 NOVEMBER 2010, 06:21 WIB
Umi Kalsum

VIVAnews - Wedus gembel makan korban lagi. Sebanyak tujuh orang tewas dan 50 orang mengalami luka bakar akibat awan panas yang menyapu Dusun Brunggang, Desa Argomulyo, Kecamatan Cangkringan, Sleman, Yogyakarta ini pukul 03.00 WIB tadi.

"Korban masih berdatangan, data sementara 50 luka bakar dan 7 orang tewas. Semua korban dari dusun Brunggan," kata Kepala Humas RS Sardjito, Tresna Heru kepada VIVAnews.com, Jakarta, Jumat 4 November 2010.

Sejauh ini baru 30 nama yang identitasnya diketahui, sebagian lagi masih didata. Korban yang terdata kebanyakan dirawat akibat luka bakar 20-30 persen. Berikut nama-namanya:

1. Wawan, Depok
2. Sugirah, Cangkringan
3. Sudarjo, Cangkringan
4. Karyo Pawiro, Barak Kepuharjo
5. Indah Indrawati, Pakem
6. Indah Indrawati, Pakem
7. Sutini, Pakem
8. Nur Hayati, Sardono Harjo
8. Wanda Noviita Putri, Pakem
9. Subari, Cangkringan
10. Ade Surya, Cangkringan
11. Maximus, Ngaglik
12. Riska Ahadiyah, Cangkringan
13. Viga, Cangkringan
14. Paro Pawiro, Ngemplak
15. Sumpono, Kepuharjo
16. Niti Sutrisno, Pakem
17. Priska, Cangkringan
18. Endah, Cangkringan
19. Sumpana, Cangkringan
20. Rohmat, Cangkringan
21. Siti Lestari, Kepuharjo
22. Genduk Budi, Pakem
23. Saimin
24. Surip
25. Hendri
26. Mr X (12 tahun)
27. Mr X (55 tahun)
28. Mr X (3 tahun)
29. Mr X (3 tahun)
30. Mr X (3 tahun)

• VIVAnews

Rumah Penduduk Berjarak 17 Km dari Merapi Juga Diterjang Awan Panas

Jumat, 05/11/2010 06:32 WIB
Rumah Penduduk Berjarak 17 Km dari Merapi Juga Diterjang Awan Panas
Ken Yunita - detikNews



Jakarta - Sebelum diperluas hingga 20 km, daerah rawan Gunung Merapi ditetapkan sejauh 15 km. Namun ternyata, rumah-rumah yang terletak 17 km dari puncak Merapi juga ikut diterjang awan panas. Penghuninya mengalami luka-luka bakar bahkan ada yang tewas.

Petugas forensik RS Sarjito Supangad menceritakan, rata-rata korban luka bakar yang dilarikan ke rumah sakit tempatnya bekerja bertempat tinggal di zona aman. Mereka sebelumya tidak menyangka rumah mereka akan terkena wedhus gembel.

"Tadi saya dapat informasi, mereka tinggalnya jaraknya 17 km dari Merapi, tapi tetap kena," kata Supangad saat berbincang dengan detikcom, Jumat (5/11/2010).

Karena itu, diperkirakan, jarak luncur wedhus gembel kali ini jauh lebih panjang dari pada sebelumnya. Boleh jadi, lebih dari 15 km. Padahal pemerintah menetapkan, daerah setelah 15 km tersebut aman.

Berapa sebenarnya jarak luncur awan panas dini hari tadi, belum diketahui pasti. Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Dr Surono belum menjawab telepon detikcom. Pria yang akrab disapa Mbah Rono itu juga belum membalas pesan singkat yang dikirimkan detikcom.

Sebelumnya diberitakan, 40 warga menderita luka bakar cukup parah. Kini mereka dirawat intensif di RS Sarjito. Data terbaru, 10 warga Cangkringan tewas dalam peristiwa ini.


(ken/van)

Rabu, 03 November 2010

Merapi Kembali Luncurkan 3 Kali Awan Panas

Merapi Kembali Luncurkan 3 Kali Awan Panas
Luncuran awan panas menuju ke wilayah Kinahrejo dan Kali Gendol.
RABU, 3 NOVEMBER 2010, 08:27 WIB
Arry Anggadha

VIVAnews - Gunung Merapi kembali menunjukkan aktivitasnya. Pagi ini, Merapi kembali mengeluarkan awan panas.

"Pukul 07.48 Merapi kembali erupsi," kata Kepala Pusat Vulkonologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Surono, saat dihubungi VIVAnews, Rabu 3 November 2010.

Menurut Surono, awan panas kali ini mengarah ke Kali Gendol. "Juga mengarah ke wilayah Kinahrejo," jelasnya.

Merapi tercatat sudah beberapa kali menyemburkan material dan awan panas. Pada letusan 26 Oktober, wedhus gembel menewaskan sekitar 39 orang. Pada Minggu 31 Oktober dini hari sempat terjadi dentuman yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Pada Minggu petang juga terjadi empat kali awan panas. (sj)

• VIVAnews