Selasa, 02 November 2010

Pagi Ini Merapi Dua Kali Semburkan Awan Panas

Pagi Ini Merapi Dua Kali Semburkan Awan Panas
Letusan Merapi sejak 26 Oktober 2010 telah merenggut nyawa 38 orang.
SELASA, 2 NOVEMBER 2010, 08:59 WIB
Arry Anggadha

VIVAnews - Gunung Merapi hari ini beberapa kali kembali mengeluarkan guguran awan panas. Namun, guguran awan panas kali ini lebih kecil dibanding hari-hari sebelumnya.

Dari catatan di Pos Pengamatan Gunung Merapi di Magelang, guguran awan panas pertama terjadi pada pukul 05.23, Selasa 2 November 2010.

Kemudian pada pukul 08.15, Merapi kembali mengeluarkan awan panas.

"Memang terjadi beberapa kali guguran awan panas, tapi tidak besar seperti kemarin," kata petugas Pos Pengamatan Gunung Merapi, Ngepos Sumbung, Magelang, Rotijo.


Pagi Ini Merapi Dua Kali Semburkan Awan Panas
Letusan Merapi sejak 26 Oktober 2010 telah merenggut nyawa 38 orang.
SELASA, 2 NOVEMBER 2010, 08:59 WIB
Arry Anggadha

VIVAnews - Gunung Merapi hari ini beberapa kali kembali mengeluarkan guguran awan panas. Namun, guguran awan panas kali ini lebih kecil dibanding hari-hari sebelumnya.

Dari catatan di Pos Pengamatan Gunung Merapi di Magelang, guguran awan panas pertama terjadi pada pukul 05.23, Selasa 2 November 2010.

Kemudian pada pukul 08.15, Merapi kembali mengeluarkan awan panas.

"Memang terjadi beberapa kali guguran awan panas, tapi tidak besar seperti kemarin," kata petugas Pos Pengamatan Gunung Merapi, Ngepos Sumbung, Magelang, Rotijo.

Merapi tercatat sudah beberapa kali menyemburkan material dan awan panas. Pada letusan 26 Oktober, wedhus gembelmenewaskan 38 orang.

Pada Minggu 31 Oktober dini hari sempat terjadi dentuman yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Pada Minggu petang juga terjadi empat kali awan panas.

Sejak meletus tanggal 26 Oktober 2010 yang disertai letusan ikutan hingga 31 Oktober 2010, gunung Merapi telah mengeluarkan material sekitar 11 juta meter kubik.

Diperkirakan material yang dikeluarkan masih bertambah banyak mengingat hingga hari Senin 1 November 2010 masih terjadi letusan eksplosif. Sementara pada 2006 lalu, material yang dimuntahkan dari perut Merapi hanya 2 juta meter kubik.

(Laporan: Fajar Sodiq | Magelang, umi)

• VIVAnewsl

Lubang Besar Menganga di Jerman

Lubang Besar Menganga di Jerman
Lubang besar sebelumnya juga terjadi di kota Guatemala, Kanada, dan Amerika Serikat
SELASA, 2 NOVEMBER 2010, 15:58 WIB
Renne R.A Kawilarang, Denny Armandhanu

VIVAnews - Penduduk suatu kota kecil di Jerman Senin pagi, 1 November 2010, dikejutkan oleh suara bergemuruh yang terjadi di depan rumah mereka. Saat keluar, mereka kaget bukan kepalang mendapati sebuah lubang besar menganga di tengah-tengah kompleks pemukiman.

Menurut kantor berita Associated Press, lubang itu menyerupai kawah berdiameter 30 meter dan memiliki kedalaman hingga 20 meter. Peristiwa ini diduga terjadi dalam semalam di suatu kompleks di Kota Schmalkalden, negara bagian Thuringia.

Lubang sebesar itu membuat hilang sebagian jalan, sebuah mobil yang terperosok serta sebuah pintu garasi warga. Beruntung, tidak ada yang terluka dalam peristiwa itu. Sementara sebuah mobil lainnya tergantung di tepi lubang.

Polisi berdatangan setelah warga melaporkan suara bergemuruh yang bising pada pukul 3 dini hari. Takut terjadi lagi pembentukan lubang pada pinggiran, polisi mengevakuasi enam rumah yang terdiri dari 25 orang.

Petugas dari badan geologi kota tersebut, Lutz Katschmann, belum dapat memastikan apa penyebab terbentuknya lubang tersebut. Namun kemungkinan besar, ujarnya, lubang terbentuk akibat formasi bebatuan yang terdiri dari batu kapur, batuan garam dan kalsium sulfat yang terkikis oleh air sehingga menciptakan sebuah rongga besar yang berujung kepada longsor.

“Kami, para ahli geologi, percaya bahwa ini adalah lubang yang terjadi secara alami. Namun kami tidak tahu pasti apa yang menyebabkannya,” ujarKatschmann seperti dikutip AP.

Katschmann mengatakan bahwa 20 lubang yang lebih kecil terbentuk di Thuringia setiap tahunnya. Dia mengatakan bahwa satu-satunya jalan untuk mangatasi hal ini adalah dengan menambal lubang menggunakan kerikil.

Lubang besar seperti itu bukan hanya terjadi di Jerman. Penduduk di ibukota GuatemalaJuni lalu kaget dengan adanya sebuah lubang berdiameter 20 meter dan berkedalaman hampir 30 meter, yang menganga di sebuah perempatan jalan.

Lokasi lubang baru itu terletak dua kilometer dari lubang serupa yang terbentuk tiga tahun lalu. Lubang yang tercipta pada 2007 menewaskan tiga orang dan menelan beberapa rumah di kawasan yang sama.

Lubang besar juga pernah melanda Kota Quebec, Kanada dan Milwaukee, Amerika Serikat.


• VIVAnews

Kejaran Wedhus Gembel Seperti 100 Harimau

"Kejaran Wedhus Gembel Seperti 100 Harimau"
Rombongan wartawan TV3 berjuang lepas dari kejaran wedhus gembel. Untung, mereka lolos.
SELASA, 2 NOVEMBER 2010, 13:59 WIB
Elin Yunita Kristanti

VIVAnews -- Merapi sedang bergolak. Hingga hari ini belum dipastikan kapan gunung itu berangsur normal.

Wartawan dari segala penjuru datang mendekat, merekam detik-detik aktivitas Merapi yang tak bisa ditebak, dan mengabarkannya pada dunia.

Kadang nyawa taruhannya. Sudah satu wartawan tewas dalam tugas di Merapi yakni, sahabat kami, Redaktur VIVAnews.com,Yuniawan Wahyu Nugroho. Wawan tewas diterjang awan panas 'wedhus gembel' saat menjemput Mbah juru kunci Merapi, Mbah Maridjan, Selasa 26 Oktober 2010 malam.

Pengalaman berhadapan dengan wedhus gembeljuga dirasakan wartawan TV3 Malaysia, saat Merapi meletus kembali Senin pagi, 1 November 2010.

Saat itu, sejumlah wartawan TV3 berada dekat dengan puncak Merapi, mewawancarai penduduk yang rumahnya musnah di dekat Kinahrejo, kampung Mbah Maridjan.

Niatnya, mereka ingin merekam momentum saat seorang ibu dan anak mengunjungi kubur kepala keluarga mereka yang lebih dulu pergi.

Tiba-tiba, wedhus gembel menghampiri dan berada di atas kepala mereka. Bergegas mereka menuju ke wilayah aman di Kepuharjo.

"Kami lari tunggang langgang. Awan panas mengejar dengan cepat di belakang dan di atas mobil yang kami naiki. Ini situasi yang benar-benar menakutkan," kata Kepala Biro TV3 Indonesia, Didik Budiarto.

Situasi di dalam mobil benar-benar panik. Juru kamera, Paulus Dodi muntah-muntah dan tak bisa berdiri. Ia seperti gila, seolah-olah baru melihat hantu.

Sementara, wartawan TV3, Nurul Fahira hanya bisa berteriak-teriak, "Cepat Pak," kepada pengemudi yang berjuang di belakang setir.

"Kami seperti dikejar 100 harimau lapar. Saat itu tak ada orang lain di sekitar kami. Kami sempat merekam bangkai-bangkai sapi dan kerbau. Kampung itu benar-benar luluh lantak, musnah, Alhamdulillah kami selamat." (Bernama)


• VIVAnews



Gunung Dempo Beberapa Kali Gempa Tektonik

Selasa, 02/11/2010 19:50 WIB
Gunung Dempo Beberapa Kali Gempa Tektonik
Taufik Wijaya - detikNews


Pagaralam - Letusan Gunung Merapi di Jawa Tengah juga memengaruhi aktivitas gunung berapi di Sumatra. Bila Gunung Kerinci di Kabupaten Kerinci, 410 Km dari Kota Jambi, pada Selasa (02/11/2010) pagi tadi menyemburkan asap vulkanis hingga menutupi puncak gunung, Gunung Dempo yang terletak di Bukit Barisan, tepatnya di kota Pagaralam, Sumatra Selatan, dalam beberapa hari terakhir ini mengalami gempa Tektonik Jauh.

Meski demikian, menurut Ketua Pos Pengamatan Gunung Api Dempo, Slamet, kepada pers di kantor Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Kelurahan Dempo Makmur Pagaralam Utara, Selasa (02/11/2010), saat ini kondisi Gunung Dempo relatif normal dengan visual berkabut yang menutup puncak gunung.

Badai noice juga masih terus terekam meski tidak membahayakan masyarakat yang melakukan pendakian. “Kalau tektonik jauh masih terekam. Demikian juga dengan badai noice namun semuanya masih bersifat normal,” katanya.

Mungkin lantaran didorong peristiwa Gunung Merapi yang meletus, membuat warga sekitar lereng khawatir dengan kondisi Gunung Dempo yang beberapa kali mengalami gempa.

Sementara Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel, Yulizar Dinoto, mengatakan, pihaknya belum mendapat laporan adanya peningkatan aktivitas Gunung Dempo di Pagaralam, Sumsel. Namun demikian pihaknya senantiasa siaga mengantisipasi ekses terkait aktivitas Gunung Dempo.

"Kita tetap waspada dan siaga untuk menanggulangi bencana. Kita tidak bisa begitu saja meramal apa yang akan terjadi dengan Gunung Dempo," ujar Yulizar, Selasa (02/11/2010) di kantornya di Palembang.

Dijelaskan dia, pihaknya tetap waspada dan tetap menyosialisasikan kepada masyarakat tentang aktivitas gunung berapi. Salah satunya membuat sosialisasi bahaya gunung berapi di Pagaralam. Sosialisasi itu bekerja sama dengan pihak vulkanologi.

Menurutnya, aktivitas Gunung Dempo di Pagaralam saat ini masih normal meski di beberapa tempat aktivitas gunung berapi sudah naik atau meningkat. Tetapi yang namanya gunung api terkadang sulit diramal aktivitasnya dan ancamannya.

"Jadi kita siaga saja setiap waktu," kata Yulizar.


(tw/lrn)

Awan 'Petruk' dan Perintah Meninggalkan Keburukan

Selasa, 02/11/2010 16:05 WIB
Awan 'Petruk' dan Perintah Meninggalkan Keburukan foto
Nurvita Indarini - detikNews




Jakarta - Warga digemparkan dengan penampakan awan berbentuk Petruk di dekat Gunung Merapi yang terlihat dari Magelang, Jawa Tengah. Bagi sebagian masyarakat Jawa, Petruk memang sosok yang tidak asing. Siapakah Petruk?

Petruk merupakan tokoh punakawan dalam pewayangan Jawa. Dia berasal dari keturunan atau trah Witaradya. Bersama 3 tokoh lainnya yakni Semar, Gareng, dan Bagong, dikenal sebagai punakawan. Mereka mengabdi kepada pandawa, tokoh-tokoh protagonis dalam kisah Mahabarata. Meski demikian punakawan ini tidak ada dalam kitab Mahabarata.

Sunan Kalijaga-lah yang kemudian menciptakan figur-figur tersebut dalam pewayangan sebagai media penyebaran agama Islam di Jawa kala itu. Nama Petruk berasal dari kata dalam bahasa Arab, Fatruk. Arti harfiahnya adalah meninggalkan atau menyingkirkan tindakan buruk yang telah menjadi larangan Tuhan.

"Petruk itu asal namanya berasal dari kata Fatruk yang artinya tinggalkan. Ketika muncul awan yang penampakannya mirip Petruk, banyak penafsiran yang muncul," kata sastrawan Jawa modern, Suwardi Endraswara, dalam perbincangan dengan detikcom, Selasa (2/11/2010).

Dikatakan dia, ada sebagian masyarakat yang menafsirkan kemunculan awan Petruk yang menghadap ke selatan adalah perintah untuk meninggalkan. Maksud meninggalkan di sini ada banyak, meninggalkan yang jelek-jelek agar Tuhan tidak marah, atau meninggalkan daerah lereng Merapi yang masih berbahaya.

Bagi sebagian masyarakat, Gunung Merapi ditunggui oleh sosok bernama Mbah Petruk. Petruk hingga kini berkonotasi positif bagi sebagian masyarakat Jawa.

"Petruk itu dikenal lomo atau suka memberi. Makanya disebut juga kanthong bolong karena suka memberi kepada orang lain. Sah-sah saja orang mau menafsirkan (awan Petruk) seperti apa," lanjut Suwardi.

Disampaikan dia, tidak hanya Merapi saja yang dikaitkan dengan keberadaan sosok yang dimitoskan. Misalnya saja Gunung Tidar yang dikaitkan dengan Semar.

"Sah-sah saja kalau ada yang memunculkan mitos, karena bagaimanapun itu sudah menjadi bagian dari budaya. Sah-sah juga mau menafsirkan seperti apa, karena satu mitos bisa 1.000 tafsir. Saya paham, bagi sebagian masyarakat, mitos itu sengaja dimunculkan untuk menenangkan diri saat ada ancaman bahaya," terang Suwardi.

Suswanto (40), warga Srumbung, Magelang, mengabadikan awan yang berbentuk Petruk dengan bidikan kamera ponselnya pada Senin 25 Oktober selepas subuh. Sebagian sesepuh di desa tersebut mengartikan itu sebagai tanda bahwa akan ada letusan Merapi yang besar. Kepala Mbah Petruk yang menghadap ke selatan artinya musibah akan terjadi di Yogyakarta dan sekitarnya.

Sedangkan Ponimin yang disebut-sebut menjadi pengganti Mbah Maridjan sebagai juru kunci Merapi menyatakan bahwa sosok mirip Petruk itu merupakan salah satu penunggu Merapi. Menurutnya, hidung Petruk yang menghadap Yogyakarta mengandung arti Merapi mengincar Yogyakarta. Dia beralasan, di Yogya banyak orang-orang tidak baik karena itulah menjadi incaran Merapi. Para penunggu Merapi marah dengan kondisi masyarakat.

Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Subandriyo menilai asap berbentuk Petruk itu tidak ada arti apa-apa. "Asap seperti itu bisa berbentuk apa saja. Kalau ada yang mengatakan itu pertanda akan ada letusan yang lebih besar saya rasa itu hanya mitos saja," ujar Subandriyo.

Subandriyo menuturkan, bentuk-bentuk seperti itu (mirip Petruk) memang bisa terjadi akibat adanya kombinasi bayangan. Seperti pada letusan Merapi pada tahun lalu, asap letusan juga pernah menyerupai patung manusia.

(vit/nrl)

Senin, 01 November 2010

Harus Ada 10 Helikopter di Mentawai Untuk Memperlancar Bantuan

Senin, 01/11/2010 21:21 WIB
Harus Ada 10 Helikopter di Mentawai Untuk Memperlancar Bantuan foto
Khairul Ikhwan - detikNews



Padang - Pola penanggulangan bencana alam yang dilakukan pemerintah di Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat (Sumbar) yang dinilai lamban, terus mendapat perhatian. Kalangan organisasi yang tergabung dalam Koalisi Lumbung Derma menyatakan semestinya pemerintah menyediakan setidaknya 10 helikopter untuk efektivitas penanggulangan bencana.

Koordinator Koalisi Lumbung Derma, Khalid Saifullah menilai, memasuki hari ketujuh tsunami melanda Mentawai, namun proses tanggap darurat berjalan sangat lamban. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar sebagai penanggungjawab dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana, masih mengandalkan pihak luar dalam mengkoordinir penyelenggaraan penanggulangan bencana di Mentawai.

Lambannya respon dan intervensi yang dilakukan pemerintah berdampak terhadap menumpuknya bantuan di berbagai Posko, baik di Posko Pusdalops di Padang maupun posko BPBD Mentawai di Sikakap. Lumbung Derma menilai, selain faktor geografis dan cuaca, persoalan yang paling mendasar adalah minimnya dukungan transportasi dan komunikasi yang semestinya sejak awal diinternvensi pemerintah. Sebab dalam kondisi normal pun juga menjadi masalah utama di Mentawai.

“Diperlukan setidaknya 10 helikopter capung, 50 speedboat, 25 kapal motor menengah dan lima kapal rumah sakit, agar penanggulangan efektif. Tapi ini tidak disediakan pemerintah, maka penanganannya menjadi lamban,” tukas Khalid Saifullah melalui telepon dari Padang, Senin (1/11/2010).

Menurut Khalid, jaringan 24 organisasi yang tergabung dalam Lumbung Derma, yang relawan-relawannya sekarang terus bekerja membantu penanggulangan bencana di Mentawai, memiliki pengalaman hingga 15 tahun di Kepulauan Mentawai. Berdasarkan pengalaman itu, dan melihat kondisi kerusakan maupun korban yang terjadi di Mentawai pasca tsunami maka ketersediaan alat angkut udara dan laut harus menjadi prioritas utama.

Alat transportasi ini semestinya disediakan dalam jumlah yang cukup, sebab jalur transportasi di Mentawai hanya bisa mengandalkan laut dan udara. Jalur darat tidak bisa diharapkan untuk mencapai daerah-daerah yang terkena bencana, karena kondisinya yang rusak maupun karena belum terbangun sama sekali sarana transportasinya.

“Ketika kondisi laut tidak memungkinkan untuk mendistribusikan bantuan, semestinya jalur udara yang bisa diefektifkan. Tetapi karena sangat terbatas, akhirnya bantuan itu tidak diterima para korban yang membutuhkan,” katanya.

Khalid mengakui adanya kendala cuaca di lapangan, tetapi faktor cuaca tidak layak untuk selalu dijadikan alasan untuk tidak mendistribusikan bantuan. Untuk menyiasati kendala cuaca, pihaknya mengusulkan agar kapal-kapal besar milik militer, polisi, ASDP dan Pelni digerakkan mendekat sampai jarak yang aman untuk berlabuh di sekitar kampung-kampung yang terkena bencana.

"Distribusi bantuan yang lamban akan menimbulkan dampak buruk bagi korban. Pemerintah berkontribusi untuk melanggar hak asasi korban gempa dan tsunami di Kabupaten Kepulauan Mentawai bila hal ini tidak segera diatasi,” kata Khalid.


(rul/mad)