Kamis, 07 April 2011

Sumut Dilanda Gempa, Tak Berpotensi Tsunami

Rabu, 06/04/2011 22:00 WIB
Sumut Dilanda Gempa, Tak Berpotensi Tsunami
Irwan Nugroho - detikNews

Jakarta - Sebuah gempa berkekuatan hampir 6 SR mengguncang barat laut Sumatera Utara (Sumut). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tidak merilis peringatan terjadinya tsunami pasca gempa tersebut.

Berdasarkan informasi BMKG, Rabu (6/4/2011), gempa terjadi pada pukul 21.01 WIB dengan kekuatan 5.9 SR. Pusat gempa berada di 67 Km barat laut Gunung Sitoli.

Data berbeda dikeluarkan oleh US Geological Survey (USGS). Dikatakan, gempa itu berkekuatan lebih rendah, yakni 5,8 SR dan terjadi dalam jarak 190 Km dari Sibolga.

Laporan sementara mengatakan, tidak ada kerusakan dalam kejadian tersebut. USGS juga tidak merilis potensi terjadinya tsunami pasca gempa di malam hari ini.

(irw/irw)

Selasa, 05 April 2011

Gempa Cilacap Diduga Terpicu Gempa Pangandaran 2006

Senin, 04/04/2011 11:27 WIB
Gempa Cilacap Diduga Terpicu Gempa Pangandaran 2006
Nurvita Indarini - detikNews
Gempa Cilacap Diduga Terpicu Gempa Pangandaran 2006
Warga mengungsi
Jakarta - Gempa yang disusul tsunami di Pangandaran pada 2006 lalu masih menyisakan pergerakan-pergerakan lempeng di sekitarnya. Diduga, gempa berskala 7,1 SR di Cilacap dini hari tadi terpicu gempa Pangandaran 2006 lalu yang berkekuatan 6,8 SR.

"Saya menduga ini terpicu seismik 2006. Seismik informasi masih berlangsung sampai sekarang dan beberapa tahun ke depan. Namun aktivitas ini tidak selalu memicu gempa," ujar ahli gempa dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Irwan Meilano, dalam perbincangan dengan detikcom, Senin (4/4/2011).

Dia menambahkan, titik pusat gempa ini berdekatan dengan titik gempa Pangandaran 2006. Meski demikian, gempa Cilacap berbeda dengan gempa Pangandaran.

"Lokasi gempa tadi pagi memang berdekatan dengan gempa Pangandaran. Lokasinya tepat di bagian paling atas gempa susulan 2006," sambung peraih doktor ilmu bumi dari Universitas Nagoya, Jepang, ini.

Irwan menganalisa, gempa Cilacap dini hari tadi terjadi sebagai tahapan dari postseismic gempa Pangandaran 2006. Deformasi pasca gempa 2006 diduganya masih berlangsung hingga kini.

"Gempa tadi pagi berbeda dengan gempa Pangandaran karena gempa Pangandaran pada 2006 terjadi di bidang kontak antara lempeng Indo-Australia dan Eurasia. Sedangkan gempa tadi terjadi di dalam lempengnya atau disebut sebagai interplate," terang Irwan.

Dugaan gempa Cilacap terjadi di dalam plate adalah karena sudut gempanya yang curam. Menurut Irwan sudutnya sekitar 34 derajat. Sedangkan gempa Pangandaran, sudut gempanya sekitar 12 derajat.

Peringatan tsunami sempat dikeluarkan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) saat gempa mengguncang di Cilacap tadi pagi adalah tepat. Sebab gempa terjadi di lautan dengan skala lebih dari 6,5 SR dan memiliki kedalaman yang dangkal.

"Pada saat gempa Pangandaran, mekanisme gempanya adalah sesar naik atau thrust. Sedangkan yang tadi pagi sesar turun. Ini mekanismenya berbeda," sambung Irwan.

Gempa di Cilacap juga dirasakan warga di kota-kota lainnya seperti Jakarta, Yogyakarta, Kebumen, Purworejo, Denpasar, Bandung dan Bogor, menurut Irwan bukanlah hal yang aneh. Karena gempa terjadi di dalam lempeng, maka lempeng itu efektif merambatkan gelombang. Karena itulah gempa terasa sampai jauh.

Gempa terjadi pada hari ini pukul 03.06 WIB di 293 km barat daya Cilacap atau 10.01 LS dan 107.69 BT. Pusat gempa berada kedalaman 10 km. Atas gempa ini BMKG sempat merilis potensi tsunami. Namun 1,5 jam setelah gempa peringatan tsunami dicabut. Peristiwa ini sempat membuat warga Cilacap panik. Mereka beramai-ramai menjauhi pantai dan menuju daerah yang lebih tinggi.

(vit/nrl)

Serangan Ulat Bulu Meluas

Selasa, 05/04/2011 10:23 WIB

Serangan Ulat Bulu Meluas

Rois Jajeli - detikSurabaya

ilustrasi (ist)





Surabaya
- Jutaan ulat bulu jenis dasychira inclusa tidak hanya menyerang di 7 kecamatan di Kabupaten Probolinggo. Serangan ulat bulu kini meluas hingga ke Kota Probolinggo dan Kabupaten Pasuruan.

Namun, pohon yang diserang ulat di dua daerah itu jumlahnya lebih sedikit dibandingkan dengan Kabupaten Probolinggo.

Ada satu kecamatan di Kota Probolinggo yang diserang ulat bulu yakni Kecamatan Wonoasih. Sedangkan di Kabupaten Pasuruan yakni di Kecamatan Nguling.

"Dua daerah itu jumlahnya sedikit. Kalau di Wonoasih hanya beberapa RT, sedangkan di Nguling ada 3 pohon. Tapi semua sudah dikendalikan denagn cara disemprot," kata Kepala UPT Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Jatim, Kethut Marsudi, saat dihubungi detiksurabaya.com, Selasa (5/4/2011).

Ia menerangkan, jumlah pohon mangga di tiga daerah yang terserang ulat bulu mencapai sekitar 14.682 pohon. Dari jumlah tersebut, sekitar 80 persen sudah dikendalikan dengan cara penyemprotan menggunakan bahan pestisida.

"Semua kecamatan sudah dikendalikan. Tapi masih ada beberapa desa yang belum dikendalikan, dan sampai hari ini kita masih melakukan penyemprotan," tuturnya.

Kethut menegaskan, Dinas Pertanian Jatim dan pemerintah kabupaten atau kota setempat, terus berupaya melakukan pengendalian terhadap ulat bulu yang menyerang pohon mangga.

"Kita pantau terus di lapangan, kalau ada langsung kita kendalikan. Dan yang sudah disemprot, setelah kita amatai dan evaluasi, sudah tidak ada ulatnya lagi. Sekarang saya masih melakukan pemantau di Nguling," jelasnya.

(bdh/bdh)

1 dari 10 PLTN Ada di Kawasan Rawan Bencana

1 dari 10 PLTN Ada di Kawasan Rawan Bencana
Banyak pembangkit itu ada di negara yang kurang mampu menangani bencana dibanding Jepang.
SELASA, 5 APRIL 2011, 16:17 WIB
Muhammad Firman
Dari 442 instalasi pembangkit listrik tenaga nuklir yang ada di seluruh dunia, lebih dari 10 persennya berada di kawasan yang memiliki risiko tinggi terkena gempa. (AP Photo)

VIVAnews - Dari penelitian terbaru yang dilakukan oleh Maplecroft, lembaga pengamat dan pemeringkat risiko global, diketahui bahwa satu dari 10 pembangkit listrik tenaga nuklir di seluruh dunia menghadapi risiko akibat gempa atau tsunami seperti yang merusak reaktor nuklir di Fukushima, Jepang.

Yang lebih mengkhawatirkan, banyak pembangkit tersebut didirikan di negara yang kurang mampu menangani bencana dibanding Jepang.

Dari 442 instalasi pembangkit listrik tenaga nuklir yang ada di seluruh dunia, lebih dari 10 persennya berada di kawasan yang memiliki risiko tinggi terkena gempa.

“Saat ini fasilitas nuklir milik Jepang yang terkena imbas, namun fasilitas serupa milik negara lain juga menghadapi risiko serupa,” kata Helen Hodge, analis bahaya alam Maplecroft, seperti dikutip dari The Independent, 5 April 2011.

Hodge menyebutkan, Korea Selatan, Taiwan, China, India, Pakistan, dan Amerika Serikat mengoperasikan atau akan membangun fasilitas nuklir di kawasan yang berpotensi terkena tsunami. “Adapun fasilitas nuklir yang memiliki risiko ekstrim terkena gempa bisa ditemukan di kawasan barat AS, Taiwan, Armenia, Iran, dan Slovenia,” ucapnya.

Seperti diketahui, krisis nuklir akibat gempa dan tsunami di Jepang telah menimbulkan kekhawatiran seputar risiko yang diakibatkan oleh bencana alam terhadap pembangkit listrik tenaga nuklir di seluruh dunia.

Kekhawatiran itu membuat sejumlah negara, termasuk Italia, Swiss, dan Jerman membekukan rencana pembangunan reaktor nuklir mereka.

• VIVAnews

Getaran Gempa Cilacap Terasa Sampai Jakarta

Getaran Gempa Cilacap Terasa Sampai Jakarta

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Gempa 7,1 Skala Richter yang mengguncang Cilacap, Jawa Tengah, Senin dinihari terasa sampai wilayah Jakarta dan sekitarnya. Guncangan gempa tersebut terasa terutama mereka yang sedang berada di gedung bertingkat di Jakarta dan berlangsung dalam waktu sekitar dua menit.

Sementara dari Cilacap dilaporkan, sejumlah warga Desa Kalikudi, Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap, yang merasakan gempa tersebut segera keluar rumah dan memukul kentungan. "Guncangan gempa sangat kencang," kata seorang warga, Tadiwirya (75).

Sementara itu di Kota Cilacap, warga mulai memadati alun-alun setempat. Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Cilacap, Wasi Ariadi belum bisa dihubungi terkait gempa tersebut.

Gempa tersebut, terasa juga sampai Sukabumi, Jawa Barat. "Saya merasakan gempa itu saat sedang menemani suami nonton bola di ruang tengah, tiba-tiba ada getaran yang cukup kencang tetapi tidak lama, dan lampu gantung pun bergerak," kata warga Kampung Benteng Kidul, Kelurahan Benteng, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi, Dina Nurlela (21).

Dina menambahkan, dirinya pun sempat panik khawatir ada gempa susulan dan rumahnya ambruk akibat gempa tersebut. Sementara itu informasi yang diperoleh dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi menyebutkan sampai saat ini pihaknya belum menerima laporan kerusakan akibat gempa itu.

Selain itu, pihaknya saat ini sedang melakukan pemantauan dan menunggu laporan dari satuan pelaksana penanggulangan bencana (Satlak PB) yang ada di daerah. Informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan gempa terjadi di 293 km barat daya Cilacap atau 10.01 LS dan 107.69 BT dengan kekutan 7,1 SR dengan kedalaman 10 km berpotensi tsunami.

Atau 293 kilometer Barat Daya Cilacap, Jawa Tengah, 303 kilometeri Barat Daya Tasikmalaya, Jawa Barat, 306 kilometer Barat Daya Ciamis, Jawa Barat, 334 kilometer Barat Daya Purwokerto, Jawa Tengah, dan 437 kilometer Tenggara Jakarta.


http://id.berita.yahoo.com/getaran-gempa-cilacap-terashttp://id.berita.yahoo.com/getaran-gempa-cilacap-terasa-sampai-jakarta-20110403-160935-087.htmla-sampai-jakarta-20110403-160935-087.html


Getaran Gempa Cilacap Terasa Sampai Jakarta

Getaran Gempa Cilacap Terasa Sampai Jakarta

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--,Gempa Skala Richter yang mengguncang Cilacap, Jawa Tengah, Senin dinihari terasa sampai wilayah Jakarta dan sekitarnya. Guncangan gempa tersebut terasa terutama mereka yang sedang berada di gedung bertingkat di Jakarta dan berlangsung dalam waktu sekitar dua menit.

Sementara dari Cilacap dilaporkan, sejumlah warga Desa Kalikudi, Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap, yang merasakan gempa tersebut segera keluar rumah dan memukul kentungan. "Guncangan gempa sangat kencang," kata seorang warga, Tadiwirya (75).

Sementara itu di Kota Cilacap, warga mulai memadati alun-alun setempat. Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Cilacap, Wasi Ariadi belum bisa dihubungi terkait gempa tersebut.

Gempa tersebut, terasa juga sampai Sukabumi, Jawa Barat. "Saya merasakan gempa itu saat sedang menemani suami nonton bola di ruang tengah, tiba-tiba ada getaran yang cukup kencang tetapi tidak lama, dan lampu gantung pun bergerak," kata warga Kampung Benteng Kidul, Kelurahan Benteng, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi, Dina Nurlela (21).

Dina menambahkan, dirinya pun sempat panik khawatir ada gempa susulan dan rumahnya ambruk akibat gempa tersebut. Sementara itu informasi yang diperoleh dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi menyebutkan sampai saat ini pihaknya belum menerima laporan kerusakan akibat gempa itu.

Selain itu, pihaknya saat ini sedang melakukan pemantauan dan menunggu laporan dari satuan pelaksana penanggulangan bencana (Satlak PB) yang ada di daerah. Informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan gempa terjadi di 293 km barat daya Cilacap atau 10.01 LS dan 107.69 BT dengan kekutan 7,1 SR dengan kedalaman 10 km berpotensi tsunami.

Atau 293 kilometer Barat Daya Cilacap, Jawa Tengah, 303 kilometeri Barat Daya Tasikmalaya, Jawa Barat, 306 kilometer Barat Daya Ciamis, Jawa Barat, 334 kilometer Barat Daya Purwokerto, Jawa Tengah, dan 437 kilometer Tenggara Jakarta.

Minggu, 03 April 2011

Pidie Sampai Paniai, Bencana Silih Berganti

Pidie Sampai Paniai, Bencana Silih Berganti
Cuaca buruk di sejumlah wilayah Sumatera akan terus terjadi sampai April mendatang.
JUM'AT, 1 APRIL 2011, 20:37 WIB
Ita Lismawati F. Malau

VIVAnews - Belum selesai penanggulangan bencana banjir bandang di Pidie, Aceh, bangsa Indonesia kembali harus menghadapi bencana lainnya akibat curah hujan yang tinggi. Bencana banjir bandang kembali menerjang Paniai, Papua, 26 Maret 2011 lalu.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bencana beruntun yang melanda wilayah Indonesia, mulai dari Pidie, Medan, Ciamis, Bojonegoro, Gorontalo, dan sebagainya. Dampak yang ditimbulkan cukup besar.

Tak hanya korban jiwa, BNPB mencatat kerugian material dari bencana beruntun ini adalah 311 rumah rusak berat, 163 rusak ringan, 92 hektar lahan pertanian rusak, 5 kilometer rusak, 9 jembatan rusak berat, 6 jembatan gantung rusak berat, 2 sekolah rusak, 11 rumah ibadah rusak.

Demikian pula halnya dengan, banjir bandang di Ciamis, Dampak yang ditimbukan adalah 3 orang meninggal. Pengungsi mencapai 1.511 orang yang tersebar di 45 titik pengungsian.

Bencana terakhir, banjir di Kabupaten Paniai, Provinsi Papua. Semula, Wakil Presiden Boediono menyebutkan bencana ini sebagai banjir bandang dengan korban tewas 13 orang. Namun, Bupati Paniai, Naftali Yogi mengonfirmasi dan menyatakan banjir tersebut terjadi karena meluapnya danau Tigi.

Tingginya curah hujan di wilayah ini sejak Januari lalu makin menaikkan ketinggian air. Hingga 18 Maret lalu, air danau mulai meluber ke pemukiman warga. Bukan hanya merendam kota Enarotali ibukota Paniai, tapi juga 10 distrik lainnya. "Dari 10 distrik, 7 distrik yang paling parah terendam air setinggi 2-4 meter," jelas Naftali.

Tak hanya merendam pemukiman warga, air juga menggenangi landasan pacu di Bandara Paniai juga sepanjang kurang lebih seratus meter. "Meski sebagian tergenang air, tapi bandara masih bisa dipergunakan. Sementara dermaga di danau hancur total," ungkapnya.

Mengenai korban yang meninggal, ucap Bupati sesuai, data yang berhasil diperoleh hanya 10 orang saat menggunakan speed boat di danau dan kemudian diterjang ombak besar.

BNPB kemudian memaparkan kronologi tewasnya 10 warga Paniai tersebut. Pada tanggal 26 Maret 2011, sebanyak 14 orang masyarakat dan kepala desa di distrik Kebo, Kabupaten Paniai belanja material bangunan dengan menggunakan perahu.

"Transportasi antar distrik banyakdilakukan dengan menggunakan perahu karena permukiman berkembang di sekitar Danau Tigi," jelas Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB.

BNPB juga mencatat ada sekitar 6000 warga Paniai yang harus mengungsi dan membutuhkan bantuan makanan dan pakaian bersih.

Dalam rapat rapat koordinasi Gubernur se-Belajasumba (Bengkulu, Lampung, Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung) di Jambi, Wapres Boediono menyatakan bencana Paniai ini sebagai peringatan bahwa Indonesia merupakan daerah rawan bencana. Untuk itu, dia pun meminta semua kepala daerah bersama rakyat tetap waspada.

"Kita tidak tahu bencana itu kapan menimpa kita dan pengalaman dunia menunjukkan bahwa kesiagaan sangat penting," kata Boediono.

Mantan Gubernur Bank Indonesia ini lantas mengambil contoh bencana gempa dan tsunami yang melanda Jepang, 11 Maret lalu. Negara yang paling siaga menghadapi bencana seperti Jepang saja kewalahan. "Dan masih banyak yang belum selesai penanganannya," kata Boediono.

Untuk itu, tegasnya, semua struktur dan tim pengamanan bencana beserta masyarakat melaksanakan latihan yang berkesinambungan dalam menghadapi bencana. "Saya menggarisbawahi masalah kesiagaan menghadapi bencana ini," kata dia.

***

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) di sejumlah daerah sudah mengeluarkan peringatan mengenai cuaca buruk yang melanda Indonesia. Kepala BMKG Maritim Teluk Bayur, Amarizal memperkirakan cuaca tak bersahabat di sejumlah wilayah Sumatera akan terus terjadi sampai April mendatang.

Dia mengatakan, cuaca tak menentu ini disebabkan karena pergerakan semu matahari di daerah khatulistiwa. "Kondisi ini menyebabkan daerah yang berada di titik terendah ini mengalami curah hujan ekstrim,” ujar Amarizal.

Siklus semu matahari ini menyebabkan tekanan udara di daerah khatulistiwa menjadi rendah sehingga kecepatan angin melebihi normal. Angin kencang ini memicu siklus penguapan dan besarnya gelombang di perairan laut Sumbar.

Kondisi ini membahayakan nelayan, juga petani. "Kondisi ini tentu akan berpengaruh bagi nelayan karena perubahan cuaca ini bisa terjadi sewaktu-waktu," ujarnya.

BMKG Surabaya pun mengingatkan hal yang sama. Beberapa hari ke depan, potensi hujan lebat disertai angin kencang, guntur dan petir terjadi di Surabaya dan sekitarnya.

Dijelaskan, situasi antara masa pencaroba menuju kemarau bisa memicu munculnya awan dengan hembusan angin berkisar antara 9–45 km per jam. "Ini akan terjadi dalam bulan pancaroba hingga di bulan Mei mendatang," lanjutnya.

Prediksi BMKG, sampai Mei angin yang berhembus bisa mencapai kisaran mengkhawatirkan dengan kecepatan bervariasi antara 65 sampai 90 km per jam.

Kondisi ini, tidak hanya terjadi di Surabaya, melainkan sudah meluas di wilayah Jawa Timur. Prediksi BMKG Juanda menyebut, sebagian wilayah Jawa Timur pada bulan April 2011 masih berada pada musim penghujan menuju pancaroba.

Sementara untuk cuaca di Surabaya dan sekitarnya dalam 7 hari kedepan umumnya berawan dan hujan. Angin dari arah Barat Laut ke Barat Daya dengan kecepatan 0,5 sampai 45 km per jam. Dan, suhu udara antara 24 sampai 34 derajat Celsius. (SJ)

• VIVAnews