Tampilkan postingan dengan label Tsunami Mentawai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tsunami Mentawai. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 November 2010

Peneliti RI-AS Kaget, Tsunami Mentawai 14 M

Peneliti RI-AS Kaget, Tsunami Mentawai 14 M
Dalam simulasi tidak pernah ditemukan gempa pelan memicu tsunami tinggi.
JUM'AT, 19 NOVEMBER 2010, 19:27 WIB
Hadi Suprapto, Agus Dwi Darmawan

VIVAnews - Gempa Mentawai, Sumatera Barat berkekuatan 7,2 SR yang diikuti tsunami cukup mengejutkan peneliti Indonesia dan Amerika Serikat. Ini terungkap setelah tim peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Institute Teknologi Bandung (ITB), dan Peneliti AS terjun ke lokasi selama 10 hari.

Ketua Peneliti Kegempaan dari LIPI Danny Hilman mengatakan bahwa penelitian gabungan ini untuk mencari tahu penyebab sumber gempa, model gempa, seberapa tinggi tsunami, dan mengapa bisa timbul banyak korban di Mentawai.

Penelitian didukung oleh Kantor Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana (SKP BSB), serta difasilitasi Tim Survei Tsunami LIPI dan Earth Observatory of Singapore.

Masyarakat yang ditanyai mengatakan bahwa gempa di Mentawai tidak begitu besar. "Masyarakat mengatakan gempanya pelan tapi lama," kata Danny dalam konferensi pers di lingkungan Kantor Dewan Pertimbangan Presiden, Jakarta, Jumat 19 November 2010.

Banyak penduduk mengatakan goncangan gempa sama sekali tidak terasa, bahkan jauh lebih keras dengan goncangan saat Gempa Nias pada 2007 silam. Sehingga banyak yang berfikir tidak akan terjadi apa-apa.

Baru beberapa saat berselang, penduduk mulai merasakan getaran dan bunyi gemuruh menggelegar di bibir pantai. Ternyata tak disangka bahwa gempa pelan yang terjadi saat itu mampu menimbulkan gelombang gempa 8 meter dan tertinggi 14 meter.

"Tingginya gelombang ini makin ke utara makin kecil hanya 5-6 meter," kata Manager Coastal Science Group Jose Borrero menyebut hasil survei.

Setara 8 SR

Peneliti sendiri, lanjut Jose, mulanya dalam simulasi tidak menemukan bahwa gempa pelan itu bisa menimbulkan tsunami sampai 14 meter. Tapi setelah menghimpun keterangan masyarakat bahwa gempa yang pelan dan berlangsung lama itu benar-benar memicu tsunami yang tinggi.

"Ini pembelajaran buat kita, gempa pelan tapi kalau lebih dari satu menit, dalam ilmu seismologi artinya sama dengan magnitudenya lebih dari 8 SR, kalau setengah menit itu lebih dari 7 SR. Jadi hati-hati," kata Danny menyimpulkan.

Associate Professor Georgia Institute of Technology Savannah Hermann M Fritz mengatakan, bahaya gempa seperti ini jarang diketahui masyarakat. "Gempa serupa pernah terjadi di Pangandaran," kata Herman.

Tapi peneliti memaklumi Pangandaran, Jawa Barat, banyak korban karena daerah ini padat penduduk, sehingga wajar korban mencapai 600-an. Berbeda dengan Mentawai di mana lokasinya berpenduduk sedikit.

"Tapi kenapa korban banyak?" tanya Herman. Hasil penelitian menyebutkan gempa yang pelan dan terjadi malam hari, menyebabkan tidak banyak masyarakat yang menyadari bahaya itu.

Herman menjelaskan, ketika gempa pada malam itu tidak semua penduduk bisa terevakuasi. Bahkan ditemukan sebuah desa di Sibalengge, di mana 190 dari 200 penduduk tewas. Ini terjadi karena penduduk tinggal di bibir pantai dan di sekitarnya dialiri oleh sungai.

"Mereka dikelilingi sungai sehingga saat tsunami tidak bisa ke mana-mana," katanya. (umi)

• VIVAnews

Minggu, 07 November 2010

Tsunami Mentawai Telan 447 Jiwa

Tsunami Mentawai Telan 447 Jiwa
Tim dari BNPB sudah mulai bergerak di lokasi bencana untuk proses rekonstruksi.
MINGGU, 7 NOVEMBER 2010, 05:46 WIB
Umi Kalsum, Muhammad Chandrataruna

VIVAnews - Korban tsunami di Mentawai yang terjadi 25 Oktober lalu terus bertambah. Hingga tadi malam korban tewas tercatat 447 jiwa. Sehari sebelumnya korban jiwa masih tercatat 445 orang.

Laporan yang diterima Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana Andi Arief dari Posko BPBD Sumbar, pukul 20.00 WIB, Sabtu 6 November 2010 korban hilang menjadi 56 orang.

Sementara luka berat tercatat 173 orang, luka ringan 325 orang, dan pengungsi tercatat 15.353 jiwa. "Saat ini tim rekonstruksi BNPB telah mulai melakukan survei untuk pembangunan."

Tsunami di kepulauan Mentawai 12 hari lalu dipicu gempa berkekuatan 7,2 Skala Richter. Bencana tsunami baru terpantau sehari setelah gempa terjadi. Kondisi laut yang tidak menentu di kawasan ini menghambat pengiriman bantuan.

• VIVAnews

Jumat, 29 Oktober 2010

Korban Tewas Tsunami Mentawai Jadi 408 Orang

Korban Tewas Tsunami Mentawai Jadi 408 Orang
Jumlah korban tewas terus bertambah. Kini, angka korban tewas sudah melewati 400 orang.
JUM'AT, 29 OKTOBER 2010, 16:41 WIB
Ismoko Widjaya

VIVAnews - Korban jiwa akibat gempa bumi 7,2 skala richter yang mengakibatkan tsunami di Mentawai, Sumatera Barat, terus bertambah. Jumlah korban tewas melebihi 400 orang.

"Sampai pukul 13.00 WIB, korban meninggal 408 orang," kata Staf Khusus Presiden Bidang Penanganan Bencana Alam dan Sosial Andi Arief dalam akun twitter-nya, Jumat 29 Oktober 2010.

Data yang diperoleh Andi Arief itu berdasarkan informasi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatera Barat. Untuk korban yang mengalami luka berat mencapai 270 orang, sedangkan luka ringan ada 142 orang.

"Untuk korban hilang mencapai 303 orang dan yang warga yang mengungsi 12.864 orang," kata Andi Arief.

Sebelumnya, Ketua Badan Penanggulangan Bencana Daerah Pagai Utara-Selatan, Joskamatir, mengatakan tim evakuasi membutuhkan desinfektan di lokasi bencana. Desinfektan itu untuk menanggulangi sebaran penyakit akibat bau menyengat mayat-mayat yang belum dikuburkan.

"Beberapa wilayah sudah menimbulkan bau tidak sedap. Kami butuh desinfektan untuk disemprotkan ke lokasi-lokasi. Ini agar tidak membahayakan korban yang selamat," kata Joskamatir kepada VIVAnews.com, pagi tadi.

Masih banyak korban selamat berada dalam satu wilayah dengan mayat-mayat yang belum dikuburkan. Daerah-daerah yang masih terdapat korban tewas tak terkubur antara lain di Pagai Utara, Pagai Selatan, dan Sipora Selatan. Tetapi kondisi itu terjadi hampir di semua lokasi. Dia menduga, korban yang hilang sebagian besar sudah meninggal. (hs)

• VIVAnews

Tsunami Mentawai, Benarkah Pemerintah Abai?

Tsunami Mentawai, Benarkah Pemerintah Abai?


Pesisir Pantai Pagai, Kepulauan Mentawai, yang dilanda tsunami

VIVAnews - Tsunami di Mentawai telah diprediksi jauh sebelum gempa 7,9 skala Richter mengguncang Sumbar, 30 September 2009. Dan prediksi ini terbukti.

Tak lama setelah gempa berkekuatan 7,2 SR mengguncang Mentawai, pada pukul 21.42, 25 Oktober 2010, muncullah tsunami itu. Pemukiman yang berada di pantai barat gugusan Kepulauan Mentawai dihajar gelombang yang menurut saksi mata setinggi pohon kelapa. Sebuah resor wisata bernama Makaroni yang dikelola asing luluh lantak.

Menurut pengakuan warga Sikakap, Supri Lindra, tsunami datang hanya berselang 10 menit setelah gempa terjadi. Warga tidak memikirkan gempa itu mengarah ke tsunami karena dirasakan tidak terasa lebih kuat dari gempa 7,9 SR akhir September 2009.

Apalagi, seperti pengakuan Rahmadi, aktivis Yayasan Citra Mandiri (YCM) mengatakan, warga tidak sempat berlari setelah gempa karena tertidur. “Di Mentawai tidak seperti di Padang, jam delapan malam (20.00 WIB) mereka sudah pada tidur. Apalagi malam itu hujan deras sehingga lonceng gereja tidak terdengar,” katanya. Dan terlambat, mereka pun disaput tsunami.

Sementara di Kota Padang, Ibukota Sumatera Barat, gempa pada Senin malam itu dirasakan cukup lama, lebih dari 30 detik. Ayunannya pun teratur dan stabil dan tidak merusak sejumlah infrastruktur di Padang. “Seperti terombang-ambing di kapal,” ujar Fitra Heldi (35) warga Perumnas Belimbing, Padang.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika mengumumkan, gempa itu berpotensi tsunami. Walikota Padang Fauzi Bahar segera mengumumkan lewat radio pemerintah di Padang agar warga segera menjauhi kawasan pantai.

Di Padang, masyarakat berbondong-bondong mengungsi mengarah ke dataran tinggi. Jalan menuju arah by pass (batas aman tsunami di Padang) padat. Sejam setelah gempa, dipastikan tsunami tak mampir di Padang.

Sementara di saat yang sama, ribuan warga di Mentawai bergulat dengan hidupnya melawan derasnya gelombang tsunami. Informasi seperti tersekat, maklum saja, belum seluruh kawasan tersambung listrik.

Keesokan harinya, Selasa, 26 Oktober 2010, warga Mentawai yang berdiam di Sikakap mengabarkan ada tsunami menghantam Sikakap. Dua orang dikabarkan tewas di Dusun Munte Baru-Baru, Pagai Selatan. Selasa pagi, seorang warga Australia mengabarkan ke dunia lewat Skynews bahwa dia telah mengalami tsunami di sebuah kawasan wisata di Mentawai. Dunia heboh.

Apa yang terjadi? Mengapa Mentawai seakan terlewatkan dalam mitigasi tsunami?

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika jelas sudah menjalankan tugasnya menyampaikan peringatan dini. Namun apakah rakyat di Mentawai menerima informasi yang sama?

Selain faktor kedekatan dengan episentrum gempa, Mentawai belum terpasang sistem peringatan dini. Enam sirene tsunami yang ada di Sumatera Barat tak satu pun terpasang di salah satu pulau terluar Indonesia itu. Sinyal bahaya di Kepulauan Mentawai yang menjadi episentrum gempa besar dan bahaya tsunami bagi kawasan di Pantai Barat Sumbar hanya mengandalkan lonceng gereja.

Baru “November ini kita berencana memasang perangkat komunikasi terpadu di Mentawai sehingga komunikasi antar kecamatan dengan provinsi dan BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nasional) berjalan lancar,” kata Koordinator Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana Sumbar, Ade Edward, pada VIVAnews.

Namun meski terpasang pun, Ade Edward pernah menjelaskan pada Juli 2010 lalu, sistem peringatan dini bekerja dalam rentang 15 menit setelah gempa. “Saat terjadi gempa besar, kita mempunyai waktu 15 menit untuk membunyikan sirene yang ada sebagai tanda peringatan tsunami bagi warga,” ujar Ade. Jelas, untuk Mentawai, alat ini tak cukup memadai, karena seperti yang dialami Supri Lindra, warga Sikakap, tsunami datang selang 10 menit saja dari gempa.

Untuk itu, Badan Penanggulangan Bencana berencana memasang alat yang lebih akurat, sebuah kamera pengintai di perairan Mentawai.

Pemerintah juga akan memperbaiki jalur penghubung antar dusun ke kecamatan di Pagai yang masih sebatas jalan beton. Akses jalan yang terbatas mempersulit proses evakuasi tsunami di daratan ‘Tanah Sikerei’. November bulan ini, pemerintah berniat membangun jaringan telekomunikasi berbasis satelit.

Program ini, menurut Ade telah disetujui pusat dan akan dibiayai APBN. “Komunikasi berbasis satelit ini akan menghubungkan antar dusun ke kecamatan, dari kecamatan bisa langsung ke BPBD Provinsi. Sedangkan dari kabupaten bisa langsung ke BNPB,” ujar Ade.

Hanya saja, rencana ini masih belum terwujud karena masih dalam pembahasan teknis. Bagi kawasan di daerah Pantai Barat Sumatera, Ade menawarkan komunikasi berbasis handy talky (HT) yang terkoneksi ke sejumlah masjid untuk mempercepat proses early warning system.

HT yang sudah dimodifikasi ini hanya memakan biaya Rp 20 juta hingga Rp50 juta. “Ini perlu kita lakukan segera. Karena memperkuat basis komunikasi di Mentawai sama dengan menyelamatkan Sumbar secara keseluruhan,” katanya.

Laporan Eri Naldi | Padang

http://id.news.yahoo.com/viva/20101028/tpl-tsunami-mentawai-benarkah-pemerintah-fa55e98.html

Bau Mayat Menyengat di Daerah Tsunami Mentawai

Bau Mayat Menyengat di Daerah Tsunami Mentawai


Bau Mayat Menyengat di Daerah Tsunami Mentawai

Padang (ANTARA) - Bau mayat semakin menyengat di daerah terkena tsunami Pulau Pagai, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, karena masih banyak jasad korban tewas belum dievakuasi.

"Bau mayat makin menyengat disini yang berasal dari jasad-jasad korban yang belum terevakuasi," kata anggota Bidang Informasi, Tim Penanggulangan Bencana Tsunami Mentawai, Hermansyah yang dihubungi ANTARA di Pulau Pagai, Rabu malam.

Menurut dia, masih banyak jasad belum terevakuasi karena pencarian pada Rabu (27/10) baru dilakukan sekitar 80 orang relawan yang tidak seimbang dengan banyaknya korban yang belum dievakuasi.

Seperti di Dusun Sabeugugung, Desa Betu Mongga, Pagai Selatan, masih banyak jenazah yang tergeletak dan belum dievakuasi karena keterbatasan jumlah relawan untuk mengevakuasi dan menguburkan para korban itu, tambahnya.

Karena itu, bau mayat semakin menyengat di dusun yang sebagian besar bangunannya telah tersapu gelombang tsunami yang terjadi Senin (25/10) malam, kata Hermansyah yang juga staf Dinas Kelautan dan Perikanan Mentawai.

Ia menyebutkan, tim SAR dan relawan yang datang ke Pagai dari Padang telah tiba dan diharapkan upaya pencarian dan evakuasi korban tewas bisa lebih cepat.

Bersamaan datangnya para relawan, juga telah tiba kiriman kantong mayat untuk mengevakuasi jasad korban sehingga bisa mempercepat pemakaman, tambahnya.

Gempa 7,2 SR diikuti tsunami melanda Kabupaten Kepulauan Mentawai dan sejumlah wilayah lainnya di Sumbar, pada Senin (25/10) malam.

Jumlah korban tewas akibat bencana ini yang telah terdata hingga Rabu malam, di Posko Bencana di Kantor Kecamatan Sikakap, tercatat 282 orang.

Sedangkan jumlah warga dilaporkan hilang dan belum ditemukan dilaporkan 411 orang.

Jumlah rumah yang rusak berat dan yang hilang diseret tsunami terdata sebanyak 426 unit dan yang rusak ringan 200 orang.

http://id.news.yahoo.com/antr/20101028/tid-bau-mayat-menyengat-di-daerah-tsunam-f9ffe45.html

Selasa, 26 Oktober 2010

Sejumlah Desa di Pantai Barat Pulau Pagai Selatan Rata dengan Tanah

Selasa, 26/10/2010 18:06 WIB
Tsunami Mentawai
Sejumlah Desa di Pantai Barat Pulau Pagai Selatan Rata dengan Tanah
Djoko Tjiptono - detikNews


Jakarta - Gelombang tsunami yang menghantam Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, sungguh dahsyat. Akibat bencana tersebut, sejumlah desa di pantai barat Pulau Pagai Selatan dilaporkan rata dengan tanah.

Hal tersebut diungkapkan aktivis Yayasan Citra Mandiri Mentawai, Rachmadi, saat dihubungi detikcom melalui telepon, Selasa (26/10/2010).

"Laporan sementara yang kami terima, sejumlah desa di pantai barat Pulau Pagai Selatan rata dengan tanah. Desa-desa itu antara lain Desa Malakoppa dan Desa Bulasat," ujar Rachmadi.

Sebelumnya Rachmadi mengatakan, korban tewas akibat tsunami di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, sebanyak 31 orang. Sementara 190 orang lainnya dilaporkan hilang.

"Itu data hingga pukul 14.30 WIB. Jumlah korban tewas kemungkinan bertambah," kata Rachmadi.

Rachmadi menjelaskan, korban tewas kebanyakan warga Pulau Pagai Selatan, yakni 23 orang. Sedangkan sisanya merupakan warga Pulau Sipora, Kecamatan Sipora Selatan.

Menurut Rachmadi, sampai saat ini proses pencarian korban masih terus dilakukan. Sejumlah anggota tim SAR sudah diberangkatkan ke lokasi bencana.

"Kemungkinan sore ini relawan yang berangkat ke sana akan bertambah. Sebab ada kapal reguler yang akan berangkat dengan tujuan Mentawai," jelas Rachmadi.

Gempa 7,2 SR terjadi pada Senin (25/10) malam. Gempa susulan kemudian terjadi 16 kali hingga Selasa dini hari. Tsunami menimpa 10 desa.


(djo/asy)