Tampilkan postingan dengan label Yogya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yogya. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 Januari 2011

Banjir Lahar Lumpuhkan Jalur Yogya-Magelang

Banjir Lahar Lumpuhkan Jalur Yogya-Magelang
Lahar dingin menimbun rumah warga di utara maupun selatan Jalan Magelang-Yogyakarta.
SELASA, 4 JANUARI 2011, 07:40 WIB
Elin Yunita Kristanti

VIVAnews - Luapan banjir lahar dingin Kali Putih yang berlangsung sejak kemarin malam hingga Selasa pagi ini, 4 Januari 2011, masih menyebabkan jalur Magelang-Yogyakarta terputus.

Berdasarkan pantauan VIVAnews, di jembatan Gempol, Jumoyo, Kecamatan Salam, Magelang, hamparan lahar menimbun rumah warga baik yang ada di utara maupun selatan Jalan Magelang-Yogyakarta di Km 23. Lahar juga menimbun pemakaman umum Giriloyo Gempol dan sejumlah kendaraan.

Fauzan, salah seorang petugas dari Komunikasi Peduli Aktivitas Merapi, mengatakan banjir lahar dingin itu sangatlah besar sampai-sampai aliran sungai sempat berpindah jalur melalui perkampungan Gempol. Luapan material banjir juga menyebabkan pendangkalan dasar sungai sekitar dua meter.

"Sekarang talud sungai saja sudah tidak terlihat dan rata dengan material. Ini merupakan banjir yang paling besar," ujar dia kepadaVIVAnews.com.

Luapan banjir tersebut menyebabkan 160 warga Gempol yang terisolir dievakuasi ke posko pengungsian balai desa Jumoyo. "Warga Gempol sudah dievakuasii semua. Nanti warga Candi yang terletak di selatan Gempol juga akan dievakuasi karena terisolasi," dia menerangkan.

Banjir lahar dingin di Kali Putih menyebabkan aliran sungai berbelok dan pindah ke arah Timur sekitar 200 meter dari aliran sungai yang lama. Bahkan, batu-batu dengan ukuran cukup besar juga terlihat memenuhi Dusun Gempol.

Mengenai jumlah rumah warga yang tertimbun material banjir lahar dingin, Fauzan mengatakan hingga saat ini belum dilakukan pendataan. "Kami belum tahu jumlahnya berapa yang rusak terkena banjir," katanya

Hingga saat ini arus lalu lintas kendaraan, baik dari Magelang menuju Yogyakarta, maupun sebaliknya, dialihkan melalui jalur Kalibawang melewati Dekso dan Godean. (Laporan: Fajar Sodiq, Magelang | kd)

• VIVAnews

Selasa, 28 Desember 2010

Puting Beliung di Yogya Belum Ada Korban Jiwa

Sabtu, 25/09/2010 16:31 WIB
Puting Beliung di Yogya Belum Ada Korban Jiwa
Bagus Kurniawan - detikNews

Yogyakarta - Angin kencang melanda wilayah Yogyakarta. Akibatnya banyak pohon tumbang, baliho roboh dan atap rumah warga beterbangan.

Angin kencang terjadi pertama kali sekitar 14.15 WIB dari arah timur menuju barat. Sebelum kejadian tersebut cuaca wilayah Yogyakarta dan sekitarnya cerah dan matahari bersinar cukup terik. Namun mulai sekitar 14.00 WIB sebagian wilayah Yogyakarta terutama di bagian timur dan utara mendung.

Berdasarkan pantauan detikcom, Sabtu (25/9/2010), angin kencang atau puting beliung melanda di kawasan Jalan Solo wilayah Kalasan, Sleman, Jalan Magelang Km 3, pusat Kota Yogyakarta hingga daerah gamping Sleman. Pohon yang tumbang di antaranya terjadi di daerah Kalasan, Bumijo Kecamatan Jetis, depan Liquid Cafe di Jalan Magelang dan Jl RE Martadinata dekat simpang empat Wirobrajan.

Baliho dan spanduk yang roboh dan rusak diantaranya di kawasan Ngestiharjo, Kasihan, sekitar Jl Wates hingga Ringoad Barat dan jl Affandi, Gejayan. Di Jl Wates, Ngestiharjo Kasihan, Bantul sekitar empat baliho ukuran sedang yang ada di pinggir jalan roboh dan besi penyangga patah. Satu baliho besar yang ada di tengah jalan yang ada di depan perumahan Griya Alvita Kali Bayem juga nyaris lepas sehingga membahayakan pemakai jalan.

Dari simpang empat ring road barat hingga simpang empat Ngampilan aliran listrik padam. Sementara itu dahan, ranting pohon bertebaran mulai di Jalan Ahmad Dahlan, Jl Senopati depan Taman Pintar. Beberapa seng di Pasar Serangan, Gampingan juga lepas dan terbang hingga 50 meter.

Selain itu, angin kencang juga merobohkan seng penutup bekas Toko Progo dan tenda plastik milik para pedagang kaki lima di kawasan Jalan Suryotomo hingga Jl Mataram. Di tempat itu warga saat ini masih bergotong royong membersihkan tenda yang roboh dan barang dagang yang rusak. Simpang empat depan Hotel Melia Purosani dan sekitar Jalan Mataram juga ditutup oleh warga bersama aparat kepolisian.

Hingga saat ini belum ada laporan mengenai korban jiwa, hanya barang-barang milik warga yang rusak, namun belum bisa ditaksir kerugiannya.

(bgs/gah)

Selasa, 21 Desember 2010

Karyawan Pabrik di Magelang Juga Menyelamatkan Diri

Selasa, 21/12/2010 13:00 WIB
Gempa 5,8 SR di Yogya
Karyawan Pabrik di Magelang Juga Menyelamatkan Diri
Nala Edwin - detikNews


Jakarta - Gempa di DI Yogyakarta juga dirasakan di Magelang, Jawa Tengah. Karyawan pabrik di kota itu berhamburan keluar ruangan ketika gempa terjadi.

"Saat gempa terjadi saya sedang berada di lantai dua," kata Bagus Handoko, salah seorang pekerja di pabrik plastik di Jalan Tidar, Magelang, kepada detikcom, Selasa (21/12/2010).

Bagus menjelaskan, getaran di pabrik itu terasa cukup keras. "Cukup kencang, tapi cuma sebentar," katanya.

Bagus mengaku cukup trauma dengan gempa bumi karena pernah merasakan gempa bumi yang terjadi di Yogya pada 2006. "Saya maunya cepat lari kalau ada gempa, karena saya dulu merasakan gempa Yogya 2006," katanya.

Bagus menjelaskan, saat ini kondisi di Magelang sudah nulai normal. Para pegawai di pabrik tempatnya bekerja sudah kembali ke ruagannya masing-masing.

Situs BMKG mencatat, pusat gempa berada di 140 km tenggara Wonosari, Gunung Kidul, DI Yogyakarta. Gempa terjadi pada pukul 10.59 WIB dengan kedalaman 16 km.

(nal/nrl)


Karyawati Garmen di Klaten Terjatuh Saat Berebut Turuni Tangga

Selasa, 21/12/2010 11:28 WIB
Gempa 5,8 SR di Yogya
Karyawati Garmen di Klaten Terjatuh Saat Berebut Turuni Tangga
Nala Edwin - detikNews


Jakarta - Gempa yang terjadi di Provinsi DI Yogyakarta juga terasa di Klaten, Jawa Tengah. Ratusan karyawan di salah satu pabrik garmen di kota itu berlarian menuruni tangga ketika gempa terjadi.

"Getarannya cukup kencang, kita semua pada berlarian keluar pabrik," kata Hiday, salah seorang pekerja di pabrik garmen yang terletak di Jl Diponegoro, Klaten, Selasa (21/12/2010) pada detikcom.

Hiday menyatakan, saat gempa terjadi dirinya sedang bekerja di lantai tiga pabrik itu. Getaran yang cukup keras membuat mesin-mesin di pabrik itu bergeser. Para pekerja pun langsung berlarian ke arah tangga dan turun ke lantai bawah.

"Pekerjanya banyak yang wanita. Saat berlarian banyak yang terjatuh di tangga," katanya.

Hiday menyatakan, hingga kini para pekerja masih bertahan di luar ruangan. Mereka masih takut untuk masuk ke dalam pabrik. Ia menyatakan karyawan di pabrik-pabrik lain yang terletak di Jalan Diponegoro juga masih berada di luar ruangan.

"Kita masih trauma mangkanya ketika ada gempa langsung pada berlarian keluar," katanya.

Situs BMKG mencatat, pusat gempa berada di 140 km tenggara Wonosari, Gunung Kidul, DI Yogyakarta. Gempa terjadi pada pukul 10.59 WIB dengan kedalaman 16 km.


(nal/nrl)

Sabtu, 13 November 2010

Tak Ada Sejarah, 'Wedhus Gembel' Sampai Yogya

Tak Ada Sejarah, 'Wedhus Gembel' Sampai Yogya
"Minimal sejak 3.000 tahun yang lalu, tidak ada awan panas sampai kota Yogya."
SABTU, 13 NOVEMBER 2010, 10:00 WIB
Elin Yunita Kristanti

VIVAnews -- Lebih tiga pekan pasca erupsi pertama, Selasa 26 Oktober 2010, Gunung Merapi belum menunjukkan tanda-tanda bakal tenang. Ia terus memuntahkan awan panas 'wedhus gembel' dan lahar dingin ke sungai-sungai yang berhulu di puncaknya.

Staf Khusus Presiden Bidang Penanggulangan Bencana, Andi Arief dalam akun Twitternya, mengutip pendapat ahli vulkanologi, Ratdomopurbo, tentang situasi terakhir Merapi.

Sebagai gunung paling aktif di Indonesia, letusan Merapi berulang kali. Interval waktu antar letusan berkisar 1-6 tahun. Pada berupa letusan kecil, hanya menghancurkan kubah lava yang ada di puncak dan membentuk awan-panas ke salah satu atau dua hulu sungai.

Perkecualian, letusan yang terjadi pada tahun 1822, 1872 dan 1930, dan 1961 -- itu belum termasuk letusan lain yang tak tercatat dalam sejarah.

"Kalau kita cermati, proses awal dari letusan 2010 ini mirip seperti letusan 1822 dan 1872 yaitu tidak dimulai dengan muncul nya kubah lava," kata Andi Arief, Sabtu 13 November 2010.

Kemiripan letusan tahun ini dengan 1822 dan 1872 adalah timbulnya gemuruh sangat keras dan getaran yang dirasakan penduduk. Juga sama-sama eksplosif. "Tiga letusan besar tersebut masuk dalam kategori letusan Type-D," tambah Andi Arief.

Saat ini intensitas Merapi memang sedang menurun, namun masih tetap ada letupan-letupan yang tidak terlalu besar. Ini terjadi karena setelah letusan, magma yang ada di dalam naik ke permukaan dan membentuk kubah lava, dan kubah lava tersebut yang diletuskan dan membentuk kolom letusan.

Masyarakat diimbau tidak terlalu khawatir dengan kondisi Merapi. Berdasarkan pengalaman 1822 dan 1872, "Dalam sejarah geologi, minimal sejak 3.000 tahun yang lalu, tidak ada awan panas yang sampai melanda kota Yogyakarta."


****

Sementara, berdasarkan pantauan Merapi hari ini, secara visual asap Merapi terjadi sepanjang waktu dengan ketinggian maksimal 1.200 meter berwarna putih kecoklatan dengan intensitas pekat.

"Tampak api diam dari CCTV Deles pada pukul 01.16 WIB," kata petugas pemantau, Yuli Rahmatullah, Sabtu pagi.

Juga tampak lahar dingin mengalir dari Merapi ke 12 kali atau sungai yang berhulu di puncaknya. "Tampak lahar berwarna cokelat keruh membawa material sedimen, tanpa membawa material bolder, maupun kayu atau pohon di Jembatan Pogung Lor. Aliran air setinggi 2 meter," kata Yuli.

Berdasarkan pemantauan instrumental dan visual hingga pukul 07.00 WIB, menunjukkan aktifitas Merapi masih tinggi. Sementara, berdasarkan pantauan seismograf Jumat petang, awan panas mulai muncul dari puncak Merapi 17. 38 sampai 18.40 WIB.

"Status masih awas level 4," tambah Yuli.

Laporan: Erick Tanjung| Yogyakarta

• VIVAnews

Rabu, 03 November 2010

Bandara di Yogya & Solo Pakai Sistem Buka Tutup Hadapi Abu Merapi

Rabu, 03/11/2010 19:21 WIB
Bandara di Yogya & Solo Pakai Sistem Buka Tutup Hadapi Abu Merapi
Indra Subagja - detikNews


Jakarta - Bandara Adisutjipto, Yogyakarta dan Bandara Adisumarmo, Solo tidak akan ditutup permanen di tengah amukan Merapi. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) hanya memberlakukan sistem buka tutup menghadapi kemungkinan hujan abu.

"Kita pakai sistem buka tutup, jadi tidak ditutup permanen," kata Dirjen Perhubungan Udara Harry Bakti saat dihubungi detikcom, Rabu (3/11/2010).

Sampai saat ini, meski sore tadi sekitar pukul 15.30 WIB terjadi letusan besar, belum ada kebijakan menutup dua bandara tersebut.

"Belum ada laporan, masih normal. Tadi memang turun hujan, tapi kita monitor terus," tambahnya.

Namun dia mengakui, rute jalur penerbangan, ada yang diubah terkait Merapi ini. Penerbangan diminta melintas wilayah utara dan selatan.

"Jadi agar menghindari jalur tengah, atau tidak lewat jalur Merapi," tutupnya.


(ndr/mok)

Jumat, 29 Oktober 2010

Walikota Yogya dan Solo Raih Bung Hatta Anticorruption Award

Jumat, 29/10/2010 02:00 WIB
Walikota Yogya dan Solo Raih Bung Hatta Anticorruption Award
Nurvita Indarini - detikNews

Jakarta - Pedagang kaki lima kadang dipandang sebelah mata. Namun bila dikelola dengan baik tidak saja menambah pendapatan daerah namun juga bisa membuat daerah lebih tertib.

Bahkan dengan mengelola PKL, Walikota Solo Joko Widodo mendapatkan penghargaan Bung Hatta Anticorruption Award 2010. Memang bukan hanya pengelolaan PKL yang dilihat juri BHAA, namun hal itu telah menunjukkan bahwa pria yang akrab disapa Jokowi ini mampu melakukan reformasi birokrasi.

"Pendapatan asli daerah (PAD) dari pasar dan PKL yang dulu sekitar Rp 7,8 miliar sekarang jadi Rp 19,2 miliar," ujar Jokowi sebelum acara penyerahan penghargaan BHAA di Gedung Graha Niaga, Jl Sudirman, Jakarta Selatan, Kamis (28/10/2010).

Tidak hanya itu, dia pun meluncurkan program Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Solo (PKMS) sehingga masyarakat miskin dapat layanan kesehatan.

"Yang pegang gold itu untuk yang miskin digratiskan biaya pengobatannya," ucap Jokowi.

Bagi pria lulusan Fakultas Kehutanan UGM ini, seorang pemimpin yang baik adalah yang mengikuti keinginan orang yang dipimpinnya. Untuk dapat mengikuti keinginan itu maka butuh dialog dan pemaparan rencana yang jelas.

Senada dengan Jokowi, bagi Walikota Yogyakarta Herry Zudianto, komunikasi
juga sangat perlu untuk bisa mengetahui keinginan dan keluhan masyarakat. Karena itu dibuatlah Unit Pelayanan Informasi dan Keluhan (UPIK).

"Tidak hanya itu, talkshow, facebook, email, facebook, twitter, semua kita pakai untuk komunikasi dengan masyarakat," kata Herry yang juga meraih BHAA ini.

Terobosan dilakukan alumnus MM UII ini dalam pemberian perizinan satu pintu dengan pendirian Dinas Perizinan pada 2006. Bahkan dinas dengan sistem online itu mampu menaikkan nilai investasi setiap tahunnya.

Karena itulah Kota Yogyakarta dinilai yang terbaik di Indonesia dalam memberikan kemiudahan mendirikan usaha dan mengurus izin usaha. Dibanding 183 kota lain di dunia, Yogya bahkan menempati posisi ke-5.

"Tanpa semangat antikorupsi ini sulit direalisasikan," ucap dia.

Jokowi dan Herry terpilih mendapatkan BHAA karena dianggap bersih dari praktik suap dan menyuap. Mereka pun dinilai secara aktif melakukan pembersihan di lingkungannya.

"Dengan BHAA ini dapat jadi ujung tombak dalam pemberantasan korupsi dan dapat jadi sumber inspirasi daerah lainnya. Bisa mempatkan orang yang tepat di posisi kunci," kata salah seorang juri, Betti Alisjahbana.


(vit/ape)

Rabu, 11 Agustus 2010

Panasnya, Selama Ramadhan Suhu di Yogya akan Capai 33 Derajat Celcius

Rabu, 11 Agustus 2010, 14:00 WIB

 Panasnya, Selama Ramadhan Suhu di Yogya akan Capai 33 Derajat Celcius
Kota Yogyakarta di waktu malam. Selama Ramadhan, suhu di kota ini pada siang hari mencapai 33 derajat celcius.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA--Selama bulan Ramadhan ini, suhu udara di hampir seluruh wilayah di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) diprediksikan mencapai 33 derajat celcius pada siang hari. Hal itu lantaran pada bulan puasa tahun ini bertepatan dengan puncak musim kemarau di DIY dan sekitarnya.

Prakirawan Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) DIY, Sigit Hadi Prakoso, mengatakan, pada bulan Agustus hingga awal September 2010 ini merupakan puncak musim kemarau di DIY dan sekitarnya. Akibatnya, suhu udara pada siang hari cukup panas.

"Ada awan-awan di langit Yogya, tetapi bukan mendung sehingga udara akan terasa panas. Tetapi masih normal meskipun terasa agak menyengat," ujar Sigit saat dihubungi, Rabu (11/8).

Menurut Sigit, akibat pengaruh La Nina, musim kemarau yang terjadi di DIY dan sekitarnya hanya terjadi dalam waktu empat bulan. Yaitu sejak awal Juni hingga akhir September mendatang. Bahkan pada bulan Juni hingga Juli lalu, musim kemarau di DIY merupakan musim kemarau basah karenanya banyak curah hujan masih jatuh di atas udara Yogya meskipun kapasitasnya di bawah 50 milimeter per jam. "Suhu udara hingga September mendatang rata-rata 33 derajat celcius. Tetapi pada Oktober suhu udara bisa mencapai 35 derajat celcius," jelasnya.

Meskipun begitu, kata Sigit, pada akhir September musim hujan sudah mulai terjadi. Sehingga suhu udara hingga setinggi itu akan jarang terjadi karena awan-awan mendung akan banyak berkumpul pada bulan Oktober tersebut yang kemudian disertai hujan.

Karena musim kemarau yang hanya empat bulan, maka meskipun bersamaan dengan puncak musim kemarau pada bulan Ramadhan ini, masyarakat yang hidup di daerah tandus tidak akan kekurangan atau kesulitan air. Air hujan yang ditampung selama musim hujan kemarin diyakini masih mencukupi masyarakat di wilayah tandus seperti di Gunung kidul hingga akhir Ramadhan nanti.

Red: Endro Yuwanto
Rep: Yulianingsih