Sabtu, 17 September 2011

20 Waduk di Indonesia Terancam Kering


20 Waduk di Indonesia Terancam Kering

Waduk berstatus waspada di antaranya adalah Saguling, Cirata dan Jatiluhur dan lain-lain.

JUM'AT, 16 SEPTEMBER 2011, 21:27 WIB
Muhammad Firman, Syahrul Ansyari
Waduk yang berstatus waspada antara lain: Saguling, Cirata dan Jatiluhur di Jawa Barat, Bili-Bili di Sumsel, Sermo di Yogyakarta, serta Song Putri, Nawangan, Sudirman, dan Rawapening di Jawa Tengah. (Antara/Siswowidodo)
VIVAnews - Meskipun musim kemarau dinilai cukup normal pada tahun 2011, namun ternyata kekeringan telah terjadi di beberapa daerah. Namun berdasarkan pantauan Kementerian PU terhadap 70 waduk di Indonesia, ketersediaan air masih mencukupi hingga Oktober 2011 mendatang.

Dari pantauan, menurut Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), diketahui bahwa 43 waduk kondisi normal, 20 waduk waspada, dan 7 waduk kering.

Seperti diketahui, kondisi waduk waspada artinya, elevasi muka air aktual lebih besar dari elevasi siaga kekeringan tetapi lebih kecil daripada elevasi normal. Sedangkan kondisi waduk kering artinya elevasi aktual lebih rendah daripada elevasi siaga kekeringan.

“Waduk besar yang berstatus waspada antara lain adalah Saguling, Cirata dan Jatiluhur di Jawa Barat, Bili-Bili di Sumsel, Sermo di Yogyakarta, serta Song Putri, Nawangan, Sudirman, dan Rawapening di Jawa Tengah,” kata Sutopo, 16 September 2011.

Sedangkan 7 waduk kering, kata Sutopo, terdapat di Jawa Tengah. “Misalnya seperti  Plumbon, Kedungguling, Ngancar, Lalung, Delingan, Botok dan Brambang,” ucapnya.

“Dibandingkan dengan tahun 2010, ketersediaan air di waduk pada tahun 2011 ini lebih sedikit,” ucap Sutopo. “Sebagai misal, tinggi muka air waduk Jatiluhur  lebih rendah 9,71 meter dan Waduk Sempor -8,23 meter,” ucapnya.

Saat ini, Sutopo menyebutkan, pola operasi waduk menggunakan pola kering. “Waduk dioperasikan dengan pola kering dengan prioritas pertama menyediakan air baku untuk kebutuhan pokok sehari-hari. Setelah itu, baru air untuk irigasi pertanian rakyat dan industri,” ucapnya.

Dengan pola operasi tersebut, kata Sutopo, realisasi tanam dan panen padi rending/gadu terealisasi lebih dari 95%.

“Beberapa langkah antisipasi yang dilakukan guna mengatasi kekeringan, antara lain melaksanakan efisiensi penggunaan air, meminimalkan kebocoran air di jaringan irigasi, pola tanam dan tata tanam, mendistribusikan 95 unit pompa air berkapasitas 25 liter/detik, dropping air bersih melalui mobil dan hidran umum dan sebagainya,” kata Sutopo.

Sutopo menyebutkan, pemerintah juga menyiapkan hujan buatan jika kondisinya ekstrem. “Tetapi saat ini hujan buatan belum terlalu mendesak dilakukan karena ketersediaan air masih mencukupi,” ucap Sutopo. “Diperkirakan musim hujan akan datang pada pertengahan Oktober 2011,” ucapnya.
• VIVAnews

Tidak ada komentar:

Posting Komentar