Minggu, 04 Oktober 2009

Korban Gempa Tasikmalaya di Cilacap Masih Tidur di Tenda

Korban Gempa Tasikmalaya di Cilacap Masih Tidur di Tenda
Warga di Desa Jayapura, Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, mengungsi di tenda-tenda darurat, Rabu (2/9). Gempa yang terjadi pukul 14 . 55 berkekuatan 7,3 skala Richter dan berpusat di kedalaman 30 kilometer di bawah dasar Samudra Indonesia, atau 142 kilometer barat daya Kabupaten Tasikmalaya, terasa di sejumlah tempat di Indonesia dan mengakibatkan sejumlah rumah warga desa setempat hancur. Warga mengungsi di sejumlah tenda darurat karena masih trauma atas musibah ini.


    SABTU, 3 OKTOBER 2009 | 19:41 WIB

    CILACAP, KOMPAS - Ratusan jiwa warga Kabupaten Cilacap yang menjadi korban guncangan gempa berkekuatan 7,3 skala Richter yang berpusat di perairan Tasikmalaya pada 2 September lalu, masih tidur di tenda dan rumah kerabatnya terdekat. Mereka belum memperoleh bantuan perbaikan rumah hingga saat ini, meskipun curah hujan di sekitar Cilacap sudah mulai meningkat.

    Berdasarkan datan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Cilacap, tercatat ada 258 rumah roboh, 962 rumah rusak berat, dan 2.345 rumah rusak ringan. Kerusakan pada infrastruktur, antara lain satu balai desa roboh, empat balai desa rusak berat, enam balai desa rusak ringan, 11 sekolah rusak berat, 10 sekolah rusak ringan, sebuah tempat ibadah roboh, enam tempat ibadah rusak berat, dan empat bangunan pasar roboh. Total kerugian mencapai Rp 21,809 miliar.

    Setidaknya 10 keluarga korban gempa di Dusun Pasir Garu, Desa Bojongsari, Kecamatan Kedungreja, misalnya, sampai Sabtu (3/10), masih bertahan di tenda dan rumah semi permanen yang mereka bangun dari puing-puing rumah mereka yang roboh.

    Nidah (70) salah satunya mengaku, sangat berharap bantuan perbaikan rumah dapat segera dikucurkan agar dia bersama seorang anak dan cucunya dapat menjalani kehidupannya kembali dengan nyaman. Hingga sekarang, Nidah bersama anak dan cucunya tidur di tenda dan rumah semi permanen yang dibangun dari puing-puing rumahnya yang roboh akibat gempa.

    Dia mengaku, lebih sering tidur di rumah semi permanen yang didirikan anaknya itu, dibandingkan di tenda. Jika tidur di tenda, katanya, terasa sangat panas, meski sekarang sudah mulai turun hujan.

    "Tapi kalau tidur di dalam rumah pun tidak nyaman, karena seng yang dipasang tidak rapat. Kalau hujan turun, selalu kena tampias air hujan," katanya.

    Tetangganya, Ngadinem (45) juga berharap agar bantuan perbaikan rumah dapat segera disalurkan. Dengan demikian, dia bersama suaminya dapat segera mendirikan rumah, mengantisipasi datangnya musim hujan.

    Untuk mendirikan rumah sendiri, Ngadinem mengaku, tidak sanggup karena hingga sekarang dia belum bekerja lagi sebagai buruh tani. Hal itu karena belum ada sawah di desanya yang mulai tanam padi. Sementara dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari bersama lima anaknya, dia bertumpu pada bantuan dari Pemerintah Kabupaten Cilacap.

    "Bantuan makanan sampai sekarang masih lancar," ucapnya.

    Namun tak demikian halnya dengan korban gempa di Desa Cinyawang, Kecamatan Patimuan. Sejak dua minggu lalu, bantuan makanan untuk lebih dari 100 jiwa korban gempa di desa itu sudah berhenti. Seperti yang diutarakan Nabsiah (40), sejak tak ada lagi bantuan, kini dia hanya bisa berharap bantuan bahan makanan dari saudara dan tetangganya yang rumahnya tidak roboh.

    Kepala Desa Cinyawang, Tusiman mengatakan, warga yang rumahnya roboh dan rusak akibat gempa sudah lama menanyakan bantuan perbaikan rumah agar mereka bisa kembali hidup dengan nyaman. "Kalau meminta mereka mendirikan sendiri, sepertinya tidak mungkin. Sebab, mereka pun hanya buruh tani yang upahnya sangat kecil," katanya.

    MDN

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar