Sabtu, 25 September 2010

Merapi Bergejolak, Burung Merak Turun Gunung

Sabtu, 25/09/2010 18:36 WIB

Merapi Bergejolak, Burung Merak Turun Gunung
Merak-1-(parwito)-luar.jpg
Parwito - detikNews

Merak di lereng Merapi (Parwito/ detikcom)

Jakarta - Terjadinya gejolak di puncak Gunung Merapi ternyata mengusik habitat satwa di kawasan gunung yang berada di perbatasan Jawa Tengah dan Yogyakarta itu untuk turun gunung. Pasalnya seekor burung merak hijau (Green Pealow-red) beberapa minggu ini sering muncul di Lereng Gunung Merapi yang masuk wilayah Kabupaten Magelang.


Bahkan burung endemik Jawa sempat menggegerkan warga desa di sekitar lereng Gunung Merapi karena selama ini tidak ada habibat berjenis burung merak di Kawasan Taman Nasional Merapi. Selain itu, burung yang mempunyai bulu indah sampai saat ini hanya bisa ditemukan di Taman Nasional Alas Purwo (Jawa Timur), Taman Nasional Ujung Kulon ( Banten) dan Taman Nasional Meru Betiri (Jawa Timur).

Pernyataan itu disampaikan oleh Sarmin (56), warga Dusun Gemer, Desa Ngargomulyo, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang saat ditemui detikcom, Sabtu (25/09/2010).

”Seminggu terakhir burung merak Jawa ini muncul di sekitar Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM). Padahal sebelumnya tidak pernah ada burung merak di Merapi,” tegas Sarmin.

Sarmin menyatakan burung merak yang tergolong langka bahkan masuk ke perkampungan penduduk Desa Gemer yang merupakan desa terakhir di lereng barat Gunung Merapi. Jarak desa ini dengan Gunung Merapi sekitar delapan kilometer yang dibatasi ladang penduduk, hutan, dan jurang.

”Kami tidak tahu dari mana datangnya, namun seminggu terakhir burung itu masuk kampung kami. Warga sepakat untuk menjaganya agar jangan sampai ditangkap pemburu liar,”tegas Sarmin.

Menurut Sarmin burung merak berjenis kelamin betina tersebut berukuran cukup besar yakni sebesar ayam kalkun dewasa. Setiap hari burung tersebut berkeliaran di pekarangan dan ladang milik warga. Terkadang burung tersebut juga terbang ke atap-atap rumah.

Warga sengaja membiarkan burung berwarna hijau itu berkeliaran bebas untuk memakan biji-bijian, pucuk rumput, dedaunan, aneka serangga, dan berbagai jenis hewan kecil, seperti laba-laba, cacing, dan kadal kecil.

Sukisno (35) warga lainnya mengaku tidak pernah melihat burung merak hijau di kawasan hutan lereng Gunung Merapi maka dia bersama warga lainnya heran mengapa tiba-tiba muncul burung merak hijau atau merak Jawa.

“Saya duga ada yang sengaja melepaskannya di hutan Gunung Merapi karena bukan satwa endemik burung tersebut tersesat sampai ke perkampungan warga,” tegas Sukisno.

Namun Sukisno teringat jika saat ini puncak Gunung Merapi sudah mulai bergejolak dan meningkat statusnya dari aktif normal menjadi waspada sehingga pengaruh itulah yang menjadi dugaan kuat satwa turun gunung. “Mungkin faktor cuaca yang tidak menentu, panas atau bagaimana sehingga burung itu merasa gerah dan turun gunung mas,” tegas Sukisno.

Tidak Pernah Sengaja Dilepas

Kepala Seksi Wilayah I Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) Nuryadi S.Hut mengatakan, selama ini Balai TNGM tidak pernah melakukan pelepasan burung merak ke alam bebas..

“Burung berbulu indah itu juga belum terdata sebagai salah satu satwa langka yang hidup di kawasan Merapi,” tegas Nuryadi.

Nuryadi menyatakan naiknya status Gunung Merapi dari aktif normal menjadi waspada bisa menjadi pemicu turunya burung merak itu ke perkampungan warga sekitar lereng Gunung Merapi.

“Yang pasti burung merak itu bukan anggota ekosistem Merapi dan tidak tahu apakah burung itu semula milik orang yang sengaja dilepas atau liar,” terang Nuryadi.

Nuryadi menambakan, petugas TNGM selama ini hanya berhasil mencatat burung endemik Merapi seperti elang hitam, elang bido, anis gunung, sesat madu, kakak sungai, ayam alas, dan alap-alap. “Jika sekarang muncul burung merak, kami berjanji akan segera menugaskan tim untuk mengamati keberadaan burung itu,” tutur Nuryadi.

Nuryadi bahkan ingin memastikan apakah satwa langka itu memang asli hidup di Merapi ataukah sengaja dilepaskan seseorang.
“Yang pasti, TNGM merupakan wilayah konservasi sehingga semua satwa yang ada di dalamnya harus dilindungi.

(gah/gah)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar