Senin, 21 Maret 2011

Jepang Pertimbangkan Untuk Timbun Reaktor Dengan Beton & Pasir

Jumat, 18/03/2011 14:09 WIB
Jepang Pertimbangkan Untuk Timbun Reaktor Dengan Beton & Pasir foto
Rita Uli Hutapea - detikNews
Jepang Pertimbangkan Untuk Timbun Reaktor Dengan Beton & Pasir
PLTN Fukushima (Reuters)






























































































Tokyo
- Krisis nuklir di PLTN Fukushima, Jepang sangat serius. Bahkan para teknisi Jepang mengakui, menimbun reaktor yang rusak dengan beton dan pasir mungkin satu-satunya cara untuk mencegah bencana kebocoran radiasi.

Metode tersebut digunakan untuk menutup kebocoran dahsyat di PLTN Chernobyl, Ukraina pada tahun 1986.

Opsi untuk menimbun reaktor dengan beton dan pasir saat ini masih dipertimbangkan. Namun otoritas Jepang kini masih berharap untuk bisa memperbaiki kabel listrik ke setidaknya dua reaktor guna memulai kembali pemompaan air yang diperlukan untuk mendinginkan batang-batang bahan nuklir yang kepanasan.

Para pekerja juga terus menyiramkan air ke reaktor No.3, salah satu reaktor yang paling kritis kondisinya.

"Bukan tidak mungkin untuk menimbun reaktor-reaktor dalam beton. Namun prioritas kami saat ini adalah mencoba dan mendinginkan (reaktor-reaktor) dulu," ujar seorang pejabat Tokyo Electric Power Co (Tepco), operator PLTN Fukushima, seperti dilansir Reuters, Jumat (18/3/2011).

Ini pertama kalinya Tepco mengakui bahwa menimbun reaktor tersebut merupakan salah satu opsi untuk mengatasi krisis nuklir.

Krisis nuklir Jepang ini telah memicu kekhawatiran global. Sejumlah negara, termasuk Jerman dan Prancis melakukan peninjauan kembali soal keselamatan di PLTN-PLTN yang mereka miliki.

Presiden Amerika Serikat Barack Obama juga telah memerintahkan peninjauan komprehensif atas semua PLTN domestik.

Sebelumnya, Graham Andrew, pejabat Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) mengatakan bahwa situasi di PLTN Fukushima sangat serius. "Situasi tetap sangat serius, namun tidak ada kondisi memburuk yang berarti sejak kemarin," tutur Andrew.

(ita/nrl)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar