Selasa, 21 Desember 2010

Cuaca Ekstrim Melanda Eropa dan Australia

Cuaca Ekstrim Melanda Eropa dan Australia
Inggris menilai cuaca dingin saat ini terparah dalam seratus tahun terakhir.
SELASA, 21 DESEMBER 2010, 21:34 WIB
Renne R.A Kawilarang, Syahid Latif, Denny Armandhanu

VIVAnews - Warga bumi akhir-akhir ini mengalami perubahan cuaca yang tidak biasa. Setelah Asia dilanda hujan terus menerus, sejumlah negara Eropa kini mengalami musim dingin ekstrim.

Peristiwa menarik terjadi di Australia. Tak begitu jauh dari garis katulistiwa, sebagian wilayah di timur Australia dalam beberapa hari terakhir mengalami cuaca dingin, bahkan sampai bersalju.

Bagi kalangan publik dan pengamat setempat, perubahan cuaca ini terbilang tak biasa. Sejumlah wilayah di Australia, seperti di New South Wales dan Victoria, umumnya menikmati musim panas di akhir tahun. "Ini agak di luar situasi normal," kata Dmitriy Danchuk, pengamat cuaca dari Biro Meteorologi Australia, seperti dikutip harian The Sydney Morning Herald.

Biasanya, suhu pada akhir Desember sekitar 30 derajat celsius. Tahun ini, suhu bisa mencapai hampir nol derajat celcius, dengan hujan salju. Di wilayah New South Wales dan Victoria, salju turun pada Minggu, 19 Desember 2010, setebal 10 sampai 30 sentimeter.

“Pagi hari terasa tenang, sangat damai, dan semuanya terselimuti salju tebal putih,” ujar manajer hotel Kosciuszko Chalet di Charlotte Pass, Michelle Lovius, seperti dilansir dari laman The Telegraph, Senin, 20 Desember 2010.

Di sejumlah bagian New South Wales, temperatur mencapai 4 derajat celsius. Menurut stasiun berita Weather Channel, ini adalah suhu terdingin di bulan Desember sejak 54 tahun terakhir. Sementara itu, di gunung Hotham dan Buller di Victoria, salju mencapai ketebalan hingga empat inci.

Suhu dingin bahkan mencapai Kota Sydney. Biasanya suhu paling rendah di kota itu hanya 13 derajat celcius. Dalam beberapa hari terakhir, suhu di Sydney mencapai 9,8 derajat celsius dengan kecepatan angin di daerah pesisir 100 kilometer per jam.

Menurut ahli cuaca di badan prakiraan cuaca Australia, Terry Ryan, cuaca tak biasa pada tahun ini terjadi akibat udara bertekanan rendah di laut selatan, yaitu dari perairan Antartika di Kutub Selatan. Ini menyebabkan cuaca dingin ekstrim yang sedang melanda Eropa terbawa hingga ke Australia. “Setiap dua atau tiga tahun kita pasti mendapatkan cuaca dingin seperti ini,” ujarnya.

Dia mengatakan kemungkinan salju di bulan Desember sangat kecil. Sebelumnya, salju dan udara hangat diperkirakan meliputi pegunungan Victoria pada Desember ini.

Ryan mengatakan, natal terdingin di Australia terjadi empat tahun lalu, saat tingkat mercury mencapai 14,5 derajat, yang membuat salju di pegunungan.

Perubahan cuaca aneh ini belum sampai mengganggu aktivitas penduduk setempat. Mereka memanfaatkan cuaca dingin, dan turunnya salju untuk bermain seluncur dan ski. "Kalau ini akibat dampak pemanasan global, maka saya justru menyukainya. Saya mau pergi main ski," ujar seorang warga Sydney seperti ditulis harian The Sydney Morning Herald.

Badai salju di Eropa

Situasi sebaliknya justru melanda sejumlah negara di Eropa. Dalam beberapa pekan terakhir, mereka mengalami musim dingin ekstrim. Badai salju terus turun, dan suhu udara turun drastis.

Kondisi ini mengganggu rutinitas warga di sana dan melumpuhkan sistem transportasi, yang sedang sibuk melayani jutaan calon penumpang dalam rangka libur Natal dan Akhir Tahun.

Kedutaan Besar Inggris di Jakarta mengungkapkan jadwal penerbangan di Prancis, Jerman, Irlandia, Italia, Belanda, Swiss, dan Inggris sendiri masih lumpuh. Transportasi di darat pun terganggu karena salju tebal menutup jalan sehingga membahayakan keselamatan berkendara.

"Jalan-jalan di Luksemburg dan Belgia tutup. Banyak kendaraan berat yang tersendat di jalan A30 dan A31 di Prancis bagian timur. Pihak berwenang Prancis menyarankan pengemudi kendaraan berat agar mencari rute alternatif," demikian ungkap siaran pers Kedubes Ingggris.

Bandara tersibuk se-Eropa, Heathrow, kemungkinan menunda banyak layanan penerbangan selama beberapa hari. Pengelola bandara di Inggris itu hanya membolehkan penerbangan tertentu hingga pukul 6 pagi, Rabu 22 Desember 2010 waktu setempat. Lembaga prakiraan cuaca mengkhawatirkan salju masih turun untuk beberapa hari ke depan.

Selain Heathrow, bandara di London lainnya, Gatwick, juga terganggu jadwal penerbangannya. Bandara itu tak beroperasi hingga pukul 6 pagi, Selasa 21 Desember 2010 waktu setempat. Di Birmingham, layanan komunikasi di bandara setempat Senin malam macet. Situs internetnya sementara tak menyajikan jadwal penerbangan.

Gangguan layanan transportasi juga melanda di sejumlah bandara di Inggris dan negara-negara Eropa lainnya. Di ibukota Belgia, Brussels, bandara setempat tutup hingga Rabu pagi, 22 Desember 2010, karena pihak pengelola masih kesulitan membersihkan tumpukan salju.

Sementara itu, gangguan layanan juga melanda kereta cepat Eurostar. "Eurostar tidak bisa mengoperasikan banyak kereta seperti biasa," demikian ungkap Kedubes Inggris.

Terparah satu abad terakhir

Badan prakiraan cuaca Inggris menilai cuaca dingin saat ini adalah yang terparah dalam lebih dari seratus tahun terakhir. Para ahli memperkirakan cuaca ekstrim ini berkaitan pemanasan global. Dengan iklim yang hangat membuat udara lebih lembab, yang dapat memicu badai salju yang lebih parah. Namun teori ini pun masih diperdebatkan.

Menurut kantor meteorologi Inggris, cuaca dingin ekstrim di Inggris dan kawasan barat dan tengah Eropa terkait pusat tekanan angin rendah yang berhembus dari Amerika melalui Lautan Atlantik hingga Baltik.

Pengamat meteorologi, CS Yuen, menilai situasi itu muncul akibat perbedaan tekanan udara berasal dari kawasan Arktik di Kutub Utara, hingga ke selatan. "Menurut Indeks Osilasi Arktik - yaitu indeks yang mengukur efek perbedaan tekanan - perubahan pertukaran massa udara ini akan berlanjut hingga beberapa pekan ke depan," tulis Yuen dalam analisis singkat di harian The Wall Street Journal.

Perbedaan tekanan udara dari kedua kutub membuat cuaca ekstrim di belahan utara dan selatan bumi itu masih belum dipastikan. Yang jelas, gempa bumi, gelombang panas, banjir, letusan gunung berapi, angin topan, badai salju, longsor, dan kekeringan mendominasi pemberitaan media sepanjang 2010.

Tercatat lebih dari seperempat juta orang di dunia meninggal akibat fenomena alam itu, atau lebih banyak dibandingkan korban tewas akibat serangan terorisme sepanjang 40 tahun terakhir.

"Ini terlihat seperti bencana terus-menerus terjadi, seperti ombak yang tak putus," kata Kepala Badan Manajemen Keadaan Darurat AS, Craig Fugate, seperti dikutip The Huffington Post, Senin 20 Desember 2010.

Manusia pun dinilai ikut andil membuat bencana alam menjadi semakin mematikan. Konstruksi rapuh membuat makin banyak nyawa melayang saat terjadi gempa bumi, angin topan, atau diterjang arus sungai.

Contoh sempurna adalah gempa bumi yang mengguncang Haiti pada Januari 2010. Lebih dari 220 ribu orang tewas akibat konstruksi buruk. Manusia juga turut berkontribusi dalam bencana terkait perubahan iklim, seperti gelombang panas dan banjir.(np)

• VIVAnews

Tidak ada komentar:

Posting Komentar