Sabtu, 30 Oktober 2010

Pengungsi Keluhkan Minimnya Sarana MCK

Sabtu, 30/10/2010 18:47 WIB
Pengungsi Keluhkan Minimnya Sarana MCK video foto
Hery Winarno - detikNews



Jejeran bilik toilet darurat.
Jakarta - Sarni (29) berkalung handuk kecil menyusuri undakan tangga menuju tanah lapang di belakang balai desa Hargobinangun, Sleman. Tas kecil berisi perlengkapan mandi tak lupa dikepit diketiaknya.

Sebuah ember ukuran sedang dengan cap anti pecah segera diambil lalu diletakannya tepat di bawah keran tempat penampungan air. Tak lama ember tersebut lumber oleh limpahan air dingin dari bak penampungan.

Namun pengungsi korban letusan Gunung Merapi itu tidak kunjung beranjak dari tempatnya berdiri untuk melaksanakan niatnya mandi sore.

"Antri mas, dipakai semua toilet-nya," ujar Sarni lirih kepada reporter detikcom yang juga sedang menunggu giliran mandi, Sabtu (30/10/2010).

Sarana mandi cuci dan kakus (MCK) portable di tempat pengungsian yang berlokasi di Jl Kaliurang, Kecamatan Pakem, Sleman, Yogyakarta, itu berjumlah 10 unit. Tetapi tetap saja tidak mampu menampung 4 ribuan orang pengungsi yang tinggal di sana.

"Nek (waktu) pagi juga antri, wong sing ngungsi (sebab yang mengungsi) banyak. Tapi di sini cuma ada 10 WC-nya," terangnya.

Selain, ada beberapa ibu-ibu juga terlihat menunggu giliran masuk dalam bilik ruangan berukuran 90x90 cm ini. Toilet darurat ini terbuat dari kain parasit tebal dengan tinggi sekitar 2 meter dan sebelum menggunakannya warga harus membawa air dan gayung yang sudah disediakan di lokasi.

"Saya kan rumahnya jauh di Kaliurang Timur, jadi kalau mau mandi ya ke sini. Tapi nek sing rumahnya deket ya banyak yang mandi di rumah (tapi pengungsi yang rumahnya dekat, banyak yang memilih manti di rumahnya sendiri)," timpal Bu Pariyem yang antre di belakang Sarni.

Di desa Hargobinagun sendiri ada empat titik pengungsian, yakni di kantor Balaidesa, di SD N Purworejo, SMPN 2 Pakem dan di aula pengungsian. Keempat lokasi tersebut lokasinya bersebelahan namun hanya di balai desa yang terdapat banyak sarana MCK.

"Nek sing nginep (pengungsi yang tinggal) di SD mandi dan buang airnya di toilet sana, tapi cuma ada 3 tolilet. Di sini ada sepuluh, tapi harus bawa air sendiri karena tidak ada bak airnya," lanjut Pariyem yang menenteng gayung berisi perlengkapan mandi.

Setelah menunggu beberapa saat, Sarni pun mendapat giliran masuk toilet paling ujung. Dia menggantikan pemuda yang keluar dari bilik dengan mengenakan celana panjang dan bertelanjang dada.

"Nggih mpun (sudah ya) Mas," ujar Sarni mengakhiri pembicaraan.

Minimnya sarana MCK ini diperparah dengan minimnya penerangan di sekitar bilik toilet. Hanya ada tiga lampu tampak menggantung di area tersebut untuk menerangi warga yang hendak menggunakan kakus di saat malam.

"Jenengepun ngungsi, nggih sak entene mawon (kan di pengungsian, jadi yang seadanya saja) Mas," imbuh Bu Pariyem pasrah.


(her/lh)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar