Kamis, 11 November 2010

Manisnya Salak Pondoh Akan Hilang Sejenak dari Lereng Merapi

Rabu, 10/11/2010 17:24 WIB
Manisnya Salak Pondoh Akan Hilang Sejenak dari Lereng Merapi video foto
Hery Winarno - detikNews





Jakarta - Selain berada di bawah kaki Gunung Merapi, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, terkenal dengan buah lokalnya yakni salak Pondoh. Perkebunan salak Pondoh kini rusak akibat letusan Gunung Merapi.

Rasanya yang manis, renyah serta tidak sepet membuat Salak Pondok menjadi buah tangan yang wajib dibawa dari Kota Gudeg. Sepanjang Jalan Kaliurang, para warga yang menjajakan salak Pondoh tidak terhitung jumlahnya.

Namun sejak Merapi meletus beberapa hari ini, para petani salak mulai resah akan keberadaan icon kota Sleman ini. Perkebunan salak yang berada di lereng Merapi semuanya rusak. Pohon-pohon salak patah, petani pun terpaksa memanen buah berduri ini sebelum waktunya.

"Bulan November memang musimnya, tapi masih satu dua minggu lagi. Tapi karena rusak semua harus segera dipetik daripada busuk," kata Pramono, warga Dusun Sedogan, Desa Merdikorejo, Kecamatan Tempel, Sleman, Yogyakarta, Rabu (10/11/2010).

Panen dini ini membuat para petani salak di lereng Merapi merugi. Sebab, harga salak yang belum matang turun drastis di pasaran.

"Per kilo kalau besar-besar dan matang bisa sampai Rp 3.500, tetapi nek masih muda kayak gini paling Rp 2.500. Ini masih krenyes-krenyes (renyah) agak asem dikit," kata Pramono saat memanen salak di kebun seluas 3.000 meter.

Namun bagi para petani, bukan sekadar harga panen salak yang membuat mereka khawatir, melainkan keberadaan salak pondok dalam setahun ke depan mungkin akan menjadi barang langka. Pohon yang tumbang terpaksa harus dipangkas semua menyisakan tunas-tunas muda yang tidak patah.

"Kalau pangkas salak tidak akan berbuah sebelum dahan atau batangnya tumbuh. Untuk tumbuh itu makan waktu sekitar 1 sampai 1,5 tahun. Itu berarti tidak panen salak lagi selama itu," papar dia.

Para petani salak seharusnya bulan ini panen melimpah, musim hujan di bulan Oktober dan September adalah jaminan bila pohon salak akan berbuah lebat dan besar-besar. Namun akibat daun dan batang tertimbun pasir dan abu, harapan itu justru berganti musibah.

"Besok-besok harga salak pasti mahal, karena cuma kebun yang tidak rusak yang bisa panen. Padahal di desa ini semua orang tanam salak dan rusak semua," kata dia.

Kecamatan Tempel, Pakem, Turi, dan Cangkringan memang penghasil salak paling besar di Kabupaten Sleman. Buah bersisik ini menjadi tanaman unggulan warga di lereng Merapi yang terkenal subur karena abu vulkanik ini.

"Kecamatan Tempel bagian utara, itu penduduknya mengandalkan perkebunan salak. Di sana hampir semua kebun ditanami salak, tapi kondisinya sekarang rusak semua," kata Camat Tempet, Heri Sutopo, saat berbincang dengan detikcom di kantornya.

Heri belum memiliki data berapa luas perkebunan yang rusak dan kerugian petani akibat erupsi Merapi terbesar sejak lebih dari seratus tahun terakhir ini. Namun dari data yang dimiliki di kecamatan, tidak kurang 3.000 Ha perkebunan baik besar maupun kecil milik warga dipastikan rusak.

"Ya gimana lagi, namanya juga musibah. Untuk satu dua tahun mungkin warga tidak bisa panen, tapi setelah itu biasanya panen meningkat karena tanah jadi subur," kata Heri.

(her/aan)

1 komentar:

  1. hati hati..bnyk makan salak,dubur bisa robek,wahahaha...tau sendiri kan,salak obat mencret,bikin e ek keras.folow ana dong bos www.broeda.blogspot.com

    BalasHapus